Aneka Rupa

ReviewReviewReviewReviewReviewCyber Rektorat IPB Dijarah MalingNov 30, '06 2:20 AM
for everyone
Category:Other
Cyber Rektorat IPB Dijarah Maling

Kantor Pengembangan Sistem Informasi (KPSI) Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk sementara tidak membuka layanan di cyber Rektorat. Pasalnya, sebanyak 15 unit CPU dan monitor, yang menjadi fasilitas cyber yang berada di lantai 2 Gedung Rektorat kampus IPB Darmaga raib diangkut oleh maling, Rabu (29/11) pagi.

Ke-15 unit CPU dan monitor tersebut seluruhnya berada di ruang cyber staf dan Ruang Program/Kabid Pengembangan dan Layanan. Kepala Kantor KPSI, Ir. Julio Adisantoso, M.Komp., yang ditemui di ruangannya menuturkan, ia mengetahui peristiwa ini sekitar pukul 06.30 WIB saat hendak mengajar, setelah mendapat kabar dari seorang cleaning service.

“Yang jadi pertanyaan, kok bisa ya dia (maling) mengambil semua itu dengan tanpa meninggalkan kerusakan di ruangan. Semua tampak rapi. Saya perhatikan tidak ada pemaksaan saat dia harus melepas kabel-kabel yang ada di CPU, melainkan dia melepas satu-persatu kabelnya. Padahal, untuk menyelesaikan satu CPU saja membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit,” papar Julio yang didampingi Kepala Bidang Infrastruktur dan Jaringan, Heru Sukoco, S.Komp, M.Komp.

Saat ditanya berapa kerugian yang dialami oleh KPSI, Julio mengatakan, harga satu CPU Rp 6-7 juta. Namun, kerugian yang tidak ternilai adalah hilangnya program-program yang tengah dikembangkan, yakni sistem akademik, kepegawaian dan keuangan.

“Kita harus mulai lagi dari awal, mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan. Dan itu membutuhkan waktu lama,” ujar Julio seraya mengatakan, tidak tahu kapan cyber Rektorat akan kembali aktif.

Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Unit Kemananan Kampus (UKK) IPB, Drs. Subagyo, MM., mengatakan, saat ini kasus tersebut telah ditangani oleh pihak kepolisian Polsek Darmaga. Selain itu, lanjutnya, 2 buah CPU berhasil ditemukan di semak-semak dekat Pintu II IPB, dan 1 buah monitor di luar jendela KPSI.

“Mungkin mereka kelelahan, karena harus mengangkut satu persatu barang yang dijarahnya. Ketiga barang yang diketemukan saat ini ada di kantor UKK,” kata Subagyo yang menduga aksi ini dilakukan minimal oleh tiga orang.

Lebih jauh Subagyo menjelaskan, pada pagi itu pengamanan kampus masih berjalan. Bahkan sebagaimana diperkuat oleh satpam Jayadi, pihaknya melakukan kontrol terakhir pada pukul 03.30 WIB dan 05.30 WIB. Karenanya, Jayadi memperkirakan, komplotan maling ini beraksi sekitar pukul 04.00 WIB.

Pada bagian lain, Jayadi bertutur, penemuan 2 buah CPU tersebut diketahui pertama kali oleh seorang pejalan kaki sekitar pukul 06.00 WIB, yang kemudian melaporkannya pada satpam Aeng Haeruddin yang bertugas sift pagi.

Sementara itu, dari pantauan Pariwara di Tempat Kejadian Perkara (TKP), masih terlihat sebuah bangku panjang yang disandarkan pada tiang awning, tempat yang diduga menjadi pijakan awal maling untuk dapat memasuki ruang KPSI. (nm)



Category:Other
ITP-IPB Sosialisasikan Formulasi Mie Basah Yang Aman
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Tenologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) mensosialisasikan formulasi mie basah dengan tambahan pangan yang aman dikonsumsi dalam Workshop ’Keamanan Pangan Mie Basah : Mencari Jalan Keluar dari Masalah Formalin dan Boraks’ Selasa (24/1) di Kampus IPB Gunung Gede. ”Formulasi mie basah hasil penelitian Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan mempunyai komposisi 25 kg terigu, 8.5 kg air, 0.075 % (25 gram) Ca-propianat, 2.5% Na-Asetat (35 gram), 0.025 % (8.5 gram) Paraben. Formulasi ini aman untuk dikonsumsi dan memiliki daya awet 2 hari,” ungkap Staf Pengajar ITP Dr.Ratih Dewanti Hariyadi. Daya keawetan mie basah ini sesuai dengan permintaan produsen mie yang menginginkan lamanya waktu simpan 2 hari saja. Normalnya, mie basah hanya bisa bertahan 16 jam.
Penggunaan formalin berdasarkan hasil kajian ITP, malah merusak mutu produk mie basah itu sendiri. Seringkali, dalam proses pembuatan mie basah jumlah mikroba yang tumbuh sudah melebihi ambang batas kesehatan dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yakni satu juta mikroba. ”Sedangkan jumlah mikroba dalam mie basah sering dijumpai sudah lebih dari 10 juta, ” tutur Ratih. Pertumbuhan mikroba seperti kapang, kamir, kapang, bakteri dan virus yang tinggi menyebabkan pangan cepat rusak dan busuk. ”Yang menjadi akar persoalan penggunaan formalin dan boraks dalam proses pembuatan makanan khususnya mie basah saat ini bukanlah menemukan pengawet yang aman. Namun membenahi kondisi sanitasi proses produksi, peralatan produksi, perilaku pekerja dan distribusi pangan,” urai Ratih panjang lebar sambil menunjukkan foto-foto proses pembuatan mie di salah satu usaha kecil menengah.
Dalam foto tersebut terlihat para pekerja yang melepaskan baju sehingga keringat mereka menetes bercampur dengan adonan mie. Peralatan yang digunakan untuk produksi pun tampak kurang terjaga kebersihannya. Bahan baku berceceran tak teratur dan mengotori ruang produksi. Air sebagai bahan baku pembuatan mie basah berasal dari sumur yang tak terawat kebersihannya. ”Sanitasi buruk menjadi kontaminan produksi mie basah, sehingga memacu pertumbuhan mikroba pembusuk,” kata Ratih.
Workshop yang dihadiri pengusaha mie basah, perwakilan BPOM se-Indonesia, kalangan industri dan lemabaga pemerintahan ini terselenggara berkat kerjasama Departemen ITP IPB dengan PT ISM Bogasari Flour Milss, Australian Wheat Board (AWB) dan Jejaring Intelijen Pangan-BPOM RI. Target utama kegiatan ini adalah memberi solusi yang berkelanjutan dengan strategis bisnis yang sehat. ”Hal ini tentu saja sejalan dengan misi kami untuk memberikan solusi-solusi jangka panjang dalam menyelesaikan permasalahan pangan di Indonesia. Kami sadar bahwa pendekatan-pendekatan instan dan jangka pendek, misalnya dalam bentuk sekedar pencarian bahan pengawt pengganti bukanlah setategi yang optimal,” jelas Ketua Panitia Workshop Dr. Dahrul Syah dalam sambutan awalnya. Oleh karena itu menurut Dahrul yang juga Ketua Depertemen ITP itu, IPB berupaya melakukan upaya pendekatan-pendekatan teknologi pangan yang tersedia mulai dari praktek-pratek sanitasi dan hygiene yang sederhana, penerapan tatacara produksi yang baik, penggunaan bahan tambahan pangan legal hingga stategi pengembangan bisnis yang selaras dengan prinsip keamanan pangan.
Sementara Deputi 3 Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya-BPOM RI, Prof.Dr.Ir. Dedi Fardiaz dalam keynotespeechnya mengutarakan bahwa upaya pembongkaran makanan berformalin, boraks dan pewarna tekstil itu sudah dilakukan BPOM sejak lama. Namun boomingnya baru sekarang. ”Program BPOM yang akan ditingkatkan akan meliputi 4 poin yakni pengaturan tata niaga bahan berbahaya, pembinaan (public education), pengawasan dan penyelamatan UKM,” tegasnya. (ris)


ReviewReviewReviewPicung, Pengawet Alami Ikan SegarJan 23, '06 12:03 AM
for everyone
Category:Other
Picung, Pengawet Alami Ikan Segar

Pohon picung atau kluwak (jawa) banyak tersebar di seluruh nusantara. Selain sebagai bumbu masak dapur, biji buah picung juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet alami ikan segar. “Kombinasi 2 % biji buah picung dan 2% garam dari total berat ikan telah mampu mengawetkan ikan kembung segar selama 6 hari tanpa merubah mutu,” ungkap Prof John Haluan, Guru Besar Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Senin (16/ 1) di Kampus IPB Darmaga.

Normalnya, ikan kembung segar yang disimpan di suhu kamar tanpa penambahan picung atau es hanya bisa bertahan 6 jam. Lebih dari itu, ikan tersebut akan busuk dan rusak. Hasil penelitian R.A Hangesti Emi Widyasari, mahasiswa S2 Program Studi Teknologi Kelautan Sekolah Pasca Sarjana IPB ini merupakan terobosan dalam mengatasi kesulitan pemerolehan dan menekan harga es batu. Disamping menghindari penggunaan larutan formalin yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Seorang nelayan untuk mempertahankan mutu ikan hasil tangkapannya membutuhkan es batu minimal 1 :1 berat ikan segar. “Bila ikan yang ditangkap 50 kg, maka nelayan membutuhkan es batu minimal 50 kg pula. Namun dengan memanfaatkan cacahan biji buah picung, nelayan hanya membutuhkan 1 kg cacahan biji buah picung untuk 50 kg ikan segar,” kata Hangesti.

Di pasaran 1 kilogram buah picung dihargai sekitar Rp 3000- Rp 4000,-. Pemanfaatan biji buah picung sudah dikenal secara tradisional nelayan Banten. Mereka melumuri ikan hasil ikan tangkapannya dengan cacahan biji buah picung. Setelah penyimpanan 6 hari ikan tersebut dapat langsung dimasak tanpa perlu penambahan bumbu.

Mekanismenya sederhana, pertama pengupasan biji picung, kedua dilakukan pencacahan daging biji picung, ketiga pencampuran picung dengan garam, keempat pelumuran (campuran picung & garam pada ikan kembung segar, kelima pengemasan (dalam ember plastik tertutup, setiap hari dibuka selama 5 menit), keenam penyimpanan dalam suhu kamar. “Biji picung mengandung senyawa antioksidan dan golongan flavonoid. Senyawa antioksidan yang berfungsi sebagai antikanker dalam biji picung antara lain : vitamin C, ion besi, dan B karoten. Sedangkan golongan flavonoid biji picung yang memiliki aktivitas antibakteri yakni asam sianida, asam hidnokarpat, asam khaulmograt, asam gorlat dan tanin,” jelas Hangesti.

Khusus senyawa asam sianida dan tanin, kedua senyawa inilah yang mampu memberikan efek pengawetan terhadap ikan. Asam sianida biji picung ini sangat beracun. Oleh karena itu, Hangesti mewanti-wanti agar tak melakukan proses pengawetan dihadapan ayam atau binatang ternak. Sebab bila asam sianida ini terhirup langsung hewan ternak bisa mengakibatkan kematian. “Meskipun asam sianida biji picung sangat beracun, tetapi mudah dihilangkan karena sifatnya mudah larut dan menguap pada suhu 26 derajat C, sehingga aman sebagai pengawet ikan,” kata tandas Hangesti (ris).




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help