Dari Resensi Hernowo dan Ibnu Qayyim
Dua penulis yang membawa nilai plus lain bagi kehidupanku adalah Hernowo dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Menonjolkan keduanya bukan berarti yang lain tak bernilai, namun lebih karena saat ini aku ingin membahasnya. Karya keduanya memikat hati dan otakku. Tulisan Hernowo yang renyah bak diary teralur membuat aku seakan berbicara langsung dengan beliau. Aku seakan menjadi murid yang patuh, menyusuri lembar per lembar. Buku karya tak membuatku bosan.
Pertemuan dengan karyanya tak sengaja terjadi dua tahun silam saat aku pulang lebaran. Bosan di rumah melulu dengan rutinitas yang bisa dibuat rumus, aku mengajak adikku untuk ke Gramedia Solo. Tak ingin pulang hampa, aku terpesona judul buku “Mengikat Makna”.
Mulai saat itu, aku ingin melahap buku-buku karya Hernowo. Buku yang menurutku paling pas untuk mengubah beberapa kebiasaan burukku. Daftar buku Hernowo selanjutnya mampir di rak bukuku, “Quantum Reading”, “Andaikan Buku adalah Sepotong Pizza” dan “ Vitamin T”. Kelebihan buku Hernowo adalah kejujurannya dalam mengurai kesan pribadi pada sebuah buku dan jumlah buku-buku yang ia baca. Referensi Hernowo yang kaya di dalamnya. Aku ingin membaca apa yang ia baca di buku itu.
Keunggulan karya Ibnu Qayyim adalah lagam bahasa ‘romantisme’nya dan kejujuran beliau. Aku membaca dua karya beliau yaitu ‘Taman-taman orang Jatuh Cinta” dan buku yang paling bagus untuk referensi memenangkan hidup “ Shaidul Khaatir” (Cara cerdas, Manusia menang dalam hidup). Khusus Shaidul Khaatir, Dr Aid Al Qarni memberikan testimoninya.BUku ini lebih mewah isinya dibanding La Tahzan. Dua buku ini cukup menarikku untuk mengkoleksi atau minimal membaca karyanya yang lain seperti Roh dll. Jujur saja kata-kata ‘asmara’ didalam jalinan kalimatnya, membuat hatiku tersentuh rasa jatuh cinta.
Buku memang mengkayakan hidupku. Seminggu ini aku dibanjiri teks buku, melihat keangkuhanku bisa menghabiskan The Da Vinci Code selama 2, 5 hari, adek-adek kelasku menawari buku-buku yang lain. Ah.. sayangnya aku tak cepat mengikat kesan maknanya dalam tulisan, sehingga makna itu sering berputar di kepalaku, memusingkan dan menguap.
Membaca Da Vinci Code akan ditemukan prinsip hidup baru ketika aku mengkolaborasikan buku “Huru-Hara Akhir Zaman”, “Armageddon” dan “Yahudi Menggenggam Dunia” karya William Garr, plus Surat Maryam dalam Al Quran.
Aku ingin menuliskan kesanku, tapi saat ini aku hanya bisa berkata, Subhanallah Allah telah menciptakan Bangsa Israel Yahudi dengan kejeniusannya dan Islam sebagai tandingan kejahatan dari kejeniusannya.
Buku-buku lain yang menuggu daftar adalah “ Roma Menantimu” Khoirul Anam dari Matla Institute, “Rich Dad, Rich Poor” Robert T Kiyosaki, “Mengasah Kreatifitas Otak” dan mungkin sebentar lagi aku ditawari apalagi. Oh ya bukunya Ali Syari’ati tentang Imamah dan Ummat…., memikatku. Aku baru membaca resensi dan beberapa daftar isinya. Didalamnya dia menguraikan imamah sebagai kata lain khilafah, kepemimpinan umat adalah memang wajib. Syari’ati dalam buku itu dikatakan Syiah yang Sunni.. aku tak sabar ingin melahapnya. Ehm… nyam..nyam..nyam, ruhaniku lagi lapar makanan bergizi berupa vitamin Teks dan pengetahuan.
2 Oktober 2006