Nur's posts with tag: cakrawalaku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cakrawalaku
Blog EntryLiberalisme dan Mitos-mitosnyaDec 7, '06 4:52 AM
for everyone

Di bawah adalah tulisan dan analisa mas Farid Gaban (moderator milis jurnalisme), salah satu penulis favorit saya. Beliau, menurut saya, salah satu penulis unik dan langka. Saya menyimpan tulisan ini berharap suatu saat berguna untuk bahan analisa politik kekinian. Keren kan...

Inti Pandangan Neoliberalisme

PASAR YANG BERKUASA
Mempreteli peran dan kewajiban pemerintah, serta membebaskan
perusahaan "swasta" dari setiap ikatan yang dikenakan oleh pemerintah
tak peduli seberapa besar kerusakan sosial yang bisa disebabkannya.

PANGKAS ANGGARAN PUBLIK UNTUK LAYANAN SOSIAL
Kurangi anggaran sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan air bersih,
semua itu atas nama pengurangan peran negara.

DEREGULASI
Memangkas hukum dan aturan yang bisa mengurangi penciptaan laba,
termasuk ukuran-ukuran untuk melindungi hak buruh dan pelestarian
lingkungan hidup.

PRIVATISASI
Menjual perusahaan, barang dan layanan milik negara kepada investor
swasta. Walaupun dilakukan atas nama efisiensi yang lebih besar, yang
seringkali memang dibutuhkan, privatisasi mengkonsentrasikan
kemakmuran kepada segelintir tangan dan membuat rakyat miskin tak bisa
mendapatkan barang serta layanan yang mahal.

MENGENYAHKAN KONSEP "THE PUBLIC GOOD" (Kemaslahatan Bersama)
Mengurangi tanggungjawab bersama dan menggantikannya dengan "kewajiban
individu". Membiarkan kaum termiskin untuk menemukan solusi sendiri
atas mahalnya layanan kesehatan, pendidikan dan keamanan sosial serta
menyebut mereka "malas" jika mereka gagal.

GLOBALISASI KAPITALISME: Mitos dan Realitas

MITOS 1: Demokrasi dan kapitalisme berjalan seiring

REALITAS: Demokrasi dan ekonomi pasar yang sehat memang merupakan
cita-cita bagus karena merupakan basis bagi berkembangnya masyarakat
yang mampu mengorganisasikan diri dan memperlakukan anggotanya secara
setara.

Tapi, kapitalisme adalah pembunuh maut bagi keduanya. Kapitalisme
menciptakan ilusi di dalam pikiran mereka yang berkuasa bahwa ideologi
ini merupakan mesin kemakmuran, sementara faktanya merupakan mesin
perusak dan pencipta ketimpangan. Dalam definisi, desain dan praktek,
kapitalisme adalah sistem yang akan mengkonsentrasikan kekuasaan
ekonomi ke tangan segelintir orang dan mengesempingkan banyak orang,
artinya: tidak demokratis.

MITOS 2: Globalisasi akan mengakhiri kemiskinan

REALITAS: Globalisasi ekonomi menciptakan kemakmuran, tapi hanya untuk
segelintir elit yang diuntungkan oleh konsolidasi kapital, merger,
teknologi skala global, dan aktivitas finansial seperti bursa saham
dan bursa uang. Pasang naik perdagangan bebas dan globalisasi
semestinya "mengangkat semua kapal" dan mengakhiri kemiskinan. Tapi,
dalam setengah abad setelah diperkenalkan, lebih banyak kemiskinan di
dunia ketimbang sebelumnya, dan situasinya terus memburuk.

MITOS 3: Globalisasi akan mengakhiri kelaparan dunia

REALITAS: Globalisasi pertanian telah gagal dalam mengatasi krisis
kelaparan di dunia. Pada kenyataannya, justru telah memperburuk
krisis. Selama dua dasawarsa terakhir, jumlah pangan di dunia terus
meningkat, namun meningkat pula jumlah kelaparan. Sebuah studi PBB
belum lama ini menunjukkan bahwa dunia sebenarnya cukup akan pangan.
Problemnya ada dalam distribusi yang tak merata. Globalisasi produksi
pangan telah meminggirkan petani kecil dari tanahnya dan menggantinya
dengan industri pertanian kimiawi yang padat mesin. Globalisasi
produksi pangan memproduksi pangan yang salah dalam suatu proses yang
membuat jutaan petani kehilangan tanah, tak punya rumah, miskin uang,
dan bahkan tak bisa memberi makan sendiri.

MITOS 4: Globalisasi baik untuk lingkungan

REALITAS: Globalisasi secara inheren bersifat merusak alam karena
menuntut produk dan jasa bergerak ribuan kilometer keliling dunia,
melonjakkan ongkos lingkungan yang demikian mahal dalam bentuk polusi
uadara dan air, peningkatan konsumsi energi, dan penggunaan bahan
kemasan serta pengawet kimiawi yang tak terurai. Kemakmuran yang
diperoleh dari perdagangan dunia sangat sedikit yang dibelanjakan
untuk program perbaikan lingkungan. IMF dan Bank Dunia justru praktis
memastikan perusakan lingkungan.

MITOS 5: Globalisasi ekonomi tidak bisa dihindari

REALITAS: Para pendukung globalisasi ekonomi cenderung melukiskan
globalisasi sebagai proses yang tak terhindarkan, atau merupakan muara
logis dari seluruh benturan gaya ekonomi dan teknologi yang berjalan
selama berabad-abad. Mereka melihat globalisasi sebagai hukum alam.

Tapi, globalisasi ekonomi bukanlah evolusi yang natural.
Lembaga-lembaga dunia seperti IMF, Bank Dunia, GATT, NAFTA dan WTO
menempatkan nilai ekonomi di atas nilai-nilai lainnya, serta menindas
kemampuan tiap negara untuk melindungi lingkungan, buruh, dan
konsumen. Globalisasi semacam itu bahkan cenderung menolak kedaulatan
serta demokrasi sebuah negeri jika negeri itu nampak merintangi
"perdagangan bebas". Tapi, tak satupun dari itu tak bisa dihindari.
Menyebut globalisasi sebagai tak terhindarkan adalah upaya
menghipnotis orang untuk meyakini bahwa tak ada yang bisa dilakukan
untuk mencegah globalisasi, sehingga menciptakan sikap pasrah dan
pasif.***


Blog EntryDari Resensi Karya Hernowo dan Ibnu QayyimOct 1, '06 11:44 PM
for everyone

Dari Resensi Hernowo  dan Ibnu Qayyim

 

 Dua penulis yang membawa nilai plus lain bagi kehidupanku adalah Hernowo dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Menonjolkan keduanya bukan berarti yang lain tak bernilai, namun lebih karena saat ini aku ingin membahasnya. Karya keduanya memikat hati dan otakku. Tulisan Hernowo yang renyah bak diary  teralur membuat aku seakan berbicara langsung dengan beliau. Aku seakan menjadi murid yang patuh, menyusuri lembar per lembar. Buku karya tak membuatku bosan.

 

 Pertemuan dengan karyanya tak sengaja terjadi dua tahun silam saat aku pulang lebaran. Bosan di rumah melulu dengan rutinitas yang bisa dibuat rumus, aku mengajak adikku untuk ke Gramedia Solo. Tak ingin pulang hampa, aku terpesona judul buku “Mengikat Makna”.

 

Mulai saat itu, aku ingin melahap buku-buku karya Hernowo. Buku yang menurutku paling pas untuk mengubah beberapa kebiasaan burukku. Daftar buku Hernowo selanjutnya mampir di rak bukuku, “Quantum Reading”, “Andaikan Buku adalah Sepotong Pizza” dan “ Vitamin T”.  Kelebihan buku Hernowo adalah kejujurannya dalam mengurai kesan pribadi pada sebuah buku dan jumlah buku-buku yang ia baca.  Referensi Hernowo yang kaya di dalamnya. Aku ingin membaca apa yang ia baca di buku itu.

 

 

Keunggulan karya Ibnu Qayyim adalah lagam bahasa ‘romantisme’nya dan kejujuran beliau. Aku membaca dua karya beliau yaitu ‘Taman-taman orang Jatuh Cinta” dan buku yang paling bagus untuk referensi memenangkan hidup “ Shaidul Khaatir” (Cara cerdas, Manusia menang dalam hidup). Khusus Shaidul Khaatir, Dr Aid Al Qarni memberikan testimoninya.BUku ini lebih mewah isinya dibanding La Tahzan. Dua buku ini cukup menarikku untuk mengkoleksi atau minimal membaca karyanya yang lain seperti Roh dll. Jujur saja kata-kata ‘asmara’ didalam jalinan kalimatnya, membuat  hatiku tersentuh rasa jatuh cinta.

 

Buku memang mengkayakan hidupku. Seminggu ini aku dibanjiri teks buku, melihat keangkuhanku bisa menghabiskan The Da Vinci Code selama 2, 5 hari, adek-adek kelasku menawari buku-buku yang lain. Ah.. sayangnya aku tak cepat mengikat kesan maknanya dalam tulisan, sehingga makna itu sering berputar di kepalaku, memusingkan dan menguap.

 

 Membaca Da Vinci Code akan ditemukan prinsip hidup baru ketika aku mengkolaborasikan buku “Huru-Hara Akhir Zaman”, “Armageddon” dan “Yahudi Menggenggam Dunia” karya William Garr, plus Surat Maryam dalam Al Quran.

Aku ingin menuliskan kesanku, tapi saat ini aku hanya bisa berkata, Subhanallah Allah telah menciptakan Bangsa Israel Yahudi dengan kejeniusannya dan Islam sebagai tandingan kejahatan dari kejeniusannya.

 

Buku-buku lain yang menuggu daftar adalah “ Roma Menantimu” Khoirul Anam dari Matla Institute, “Rich Dad, Rich Poor” Robert  T Kiyosaki, “Mengasah Kreatifitas Otak” dan mungkin sebentar lagi aku ditawari apalagi. Oh ya bukunya Ali Syari’ati tentang Imamah dan Ummat…., memikatku. Aku baru membaca resensi dan beberapa daftar isinya. Didalamnya dia menguraikan imamah sebagai kata lain khilafah, kepemimpinan umat adalah memang wajib. Syari’ati dalam buku itu dikatakan Syiah yang Sunni.. aku tak sabar ingin melahapnya. Ehm… nyam..nyam..nyam, ruhaniku lagi lapar makanan bergizi berupa vitamin Teks dan pengetahuan.

 

2 Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 


LinkPustaka TaniJul 21, '06 1:08 AM
for everyone

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help