Nur's posts with tag: fiksiku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fiksiku
Blog EntryLelaki Langit dan Perempuan Paruh BayaOct 24, '05 5:52 AM
for everyone
Tersiar kabar seorang lelaki turun dari langit. Dia bukan berupa bayi tapi laki-laki dewasa. Para ibu tak punya putra kecewa, lantaran hilang impian mengadopsi anak langit. Gadis-gadis pun juga penasaran mematutkan diri berbaju sutra hijau, kalau-kalau dia jadi pilihan. Sayangnya, lelaki ini telah memilih satu kuntum bunga teratai segar di tepi danau tempat dia turun langit. Bunga yang suci, tersembunyi, mewangi dan terlihat menanti di danau. Mendengar kabar ini aku langsung teringat kisah Nawang Wulang dan Jaka Tarub. Bidadari cantik dan lelaki tampan. Tidak ketampanan lelaki langit itu kasat mata. Ketampanan lelaki langit bisa nampak jelas dilihat dari hati jeli.

Bedanya lagi ini kenyataan. Danau tempat lelaki ini tak mudah di jumpai, hanya orang yang faqih saja yang bisa menyelam dan menjumpainya. Danau kesturi dan misik yang sangat harum. Hanya orang-orang yang bisa melihat danaulah yang menjadi sahabat lelaki misteri ini. Konon danau itu dekat daerah rumah gadang. Toh seberapa dekat atau jauh bukan persoalan utama. Jauh dekat ongkos transportasinya sama.

Wartawan televisi, koran, majalah dari politik hingga dunia gendruwo memburunya. Ladang empuk untuk berita. Dia sulit untuk ditemui bila sekedar untuk diekspos. Aku juga belum pernah menjumpai lelaki langit itu. Atau juga temen-temannya. Aku hanya mendapat berita valid dari sebuah situs yang membuatku terharu, merindu dan terbakar semangat di dada.

Selain juga cerita-cerita heroik dari ibu tanpa anak yang bertemu dengannya. “ Lelaki itu membawa misi menyelamatkan dunia dari ancaman para lelaki berhidung belang, berhidung palsu, berhidung besar, berhidung merah kalau melihat hijaunya tambang emas, minyak, mesiu, dan debu proton, neutron beradikal bebas dari Uranium,” kata Ibu berbalut kerudung hijau. “Bagaimana nasib perempuan yang juga berhidung belang, berpipi merah tebal, bergincu, berlenggak-lenggok mirip ikan mas koki. Bagaimana mereka?” buruku.
“Dia tak pandang bulu, bulu apapun bila tersentuh dengan kata-katanya akan takjub.”
“Apakah dia seorang penyihir?” tanyaku
Ibu itu melototkan matanya. “Dia bukan penyihir! Dia lelaki langit. Dia merubah lelaki dan perempuan berupa anekaragam hewan seperti dirinya. Tak seperti kau yang egois.”

Tandas ia menusuk, sengit. Wajahku tertampar, sakit, geram. Perempuan ini telah berubah menjadi kaca bening dalam sekejap mata. Ketika menyadari wajahku menunduk, perempuan ini kembali pada wujud semula. “Kau hanya membeli dan menabur minyak wangi setiap hari. Berharap semua orang mencium harummu yang palsu. Sedang dia menabur minyak wangi ke setiap orang. Menjadikan mereka tetap wangi sepanjang masa,” ucap ia merendahkan suara, melembut.
“Lihatlah aku, dulu aku tak lebih binatang jalang mengais-ngais makan di jalan. Hidupku bebas, berkelana. Menyalak apa saja. Mengecat dan menulis tembok-tembok kota suka-suka. Tapi apa yang ku dapat setelah tua. Sepi, kumal, berdebu, semua orang tak mau peduli dan lara,” keluh perempuan setengah baya . Siapa suruh memilih hidup seperti binatang. Sesuai selera, suka-suka, kemana-mana saja tanpa pranata. Bumi ini bukan miliknya. Dia dan aku hanya numpang. Singgah. Batinku berbisik menimpali.

Lalau ibu itu menceritakan kisah pertemuannya dengan lelaki langit. Suatu malam di gubuknya bergading gajah, beralas porselen beratap keramik dan bertingkat dua. Seorang lelaki dan sekuntum bunga teratai mengetuk pintu. “Tahukah kau, dia adalah tamuku yang pertama datang tanpa tendensius,” ujarnya menerawang. Setiap kali orang yang datang padaku selalu berharap kata dariku. Dengan kata itu dia minta dikukuhkan jabatannya. Kalau tidak, perempuan-perempuan mengaku kaum modis berbalut kain setengah meter merayu agar aku berbicara di podium. Menghujat perempuan-perempuan “tradisional” yang menghambakan pernikahan, suami, anak, dan pengekangan baju. Mencemooh gadis-gadis “kuper” yang tak mau menikmati clubbing, samba, cha-cha, mambo, tango di lantai dansa. Atau gadis-gadis yang sok jual mahal kulit dan tubuhnya tersentuh cipratan pria. Sebagai gantinya perempuan-perempuan modis itu membelikan aku kucing, anjing, perabotan lux, lencana-lencana bintang emas. “Iyah agar aku tak kesepian lagi. Karena bagiku dulu pernikahan adalah penjara feodal struktural,” tuturnya berlinangan air mata. Aku tersentak mundur ke belakang dan terpesona. Air mata itu tiba-tiba mengental, mengeras, membatu mirip berlian namun beraroma melati. Melihat keterkejutan itu, ibu ini tersenyum. “Lelaki langit itu yang merubahnya. Sehingga aku tak perlu lagi menerima perempuan modis dan lelaki berhidung macam-macam. Aku kini sebenar-benarnya jadi kaya.”

Tutur lelaki langit itu tak seperti lelaki biasa. “Dia menyebutku ibu, panggilan yang akhir-akhir ini aku rindukan saat ada perayaraan apa pun. Saat aku sakit. Saat aku melihat anak-anak menyebut kata itu. Terlebih saat bunga merah Desember mekar. Dia mengenalkanku dengan Tuan-ku dan Tuan-nya lewat jari-jemari, bibir, teratai dan bahasa asing yang dulu tak ku mengerti. Kami berbincang-bincang lama seperti ibu dan anak. Bunga teratainya ketika kusentuh bergoyang halus dan menghilangkan penat dipikiranku.”

Sebelum pergi lelaki langit memberikan sebuah kertas berisi surat dan berpesan padanya agar tak memberitahu kemana dia pergi. Dia akan berusaha datang pada semua orang sebisa kakinya melangkah. Jangan menunggunya dan jangan pula menyiarkannya ke wartawan. Karena bila dia bertemu dengan wartawan saat itu dia harus kembali ke langit. Sudah perjanjian dengan Tuan-nya jika nama dia tersohor di bumi di saat misi belum usai dia harus pulang. Yakni ketika lelaki dan perempuan bumi ingin mencari, mencintai, memuja, mencela, mencaci, memaki, memenjarakan dan membunuh raganya.

Aku sendiri tak tahu mengapa harus begitu. Tapi mungkin karena dia tak lebih pesuruh yang menjalankan misi di planet bumi dan harus pindah ke planet lain bila lelaki dan perempuan bumi beberapa diantaranya melangit. Tapi yang kudengar juga dia punya rasa malu sangat tinggi. Melebihi tikus-tikus gemuk pemakan keju seharga jutaan dolar yang ketahuan pemilik perusahaan dan diberitakan selama setahun di media masa. Ah tapi sayangnya, tikus-tikus itu binatang licik. Setahun berlalu. Mereka mengumpulkan tikus-tikus lain, berkerumum membentuk tubuh manusia. Sehingga pemilik perusahaan keju mengiranya cleaning service berbaju gelap yang sedang mencicipi keju kue. Laki-laki langit sangat benci tikus, babi, anjing, ular, kalajengking. Di tempat asalnya, binatang itu tak ada.
Dia juga meninggalkan sebuah kain hijau dari serat batang teratai pada ibu itu. Meminta agar menutupkan kain itu ke seluruh rambut ibu. Karena kini ia bukan perempuan biasa, tapi perempuan tua berbau harum langit. Ia juga dilarang menangis sembarangan karena air matanya sangat berharga. Dengan menangis dia bisa menghibur diri. Cukup satu butir air matanya dia bisa membeli air mata anak-anak jalan terlantar menggantinya dengan senda gurau. Cukup dengan air matanya dia bisa makan tenang bersama mereka.

Suatu hari lelaki langit memutuskan menetap tujuh hari di danau pelangi. Lelaki langit meninggalkan bunga teratai di tengah danau. Serta-merta bunga teratai membelah diri menutupi seluruh danau dengan bunga-bungan menawan. Di hari ke tujuh, lelaki langit beranjak pergi menuju keramaian dangau, kota dan metropolitan. Mengajak delapan sahabatnya berparade konvoi roda dua. Bersembilan mereka menyanyikan lagu langit. Sebuah lagu yang menggema, menggetarkan sendi-sendi manusia. Di sepanjang jalan masing-masing tangan kanan peserta konvoi mengibarkan panji-panji Tuan sang lelaki langit. Bersepakat apa pun yang terjadi panji black and white Arroya Al liwa’ tetap terpegang kukuh meski badai metropolitan menyongsong. Benar saja, semua kuli bangunan, kuli pabrik, kuli makanan, kuli uang, kuli tinta menyerbu mereka. Penasaran kebenaran isu keberadaan lelaki langit. Seperseratus para kuli mengekor di belakang konvoi, ikut bersenandung nyanyian langit. Berurai air mata permata karena kegembiraan menyala. Rindu terpuaskan.

Sembilanpuluhsembilan persen bertolak arah menghujat, mencaci, menyelipkan pisau beracun di mulut-mulut mereka. Bahkan ada yang menggengam gaman pusaka empu gandring untuk mengusir konvoi itu. Kuno memang tapi mungkin putus asa, merasa pamornya takut terlangkahi. Dua kubu itu berbenturan di perempatan jalan.

Dalam aura pergolakan itu seberkas sinar pelangi membelah langit, menyambar lelaki langit. Diiringi teriakan histeris penonton. Sinar pelangi membawa lelaki langit ke udara dan menghilang diantara awan cirus. Menyisakan bau semerbak kesturi. Seperti apakah bau kesturi itu tanyaku pada salah seorang penonton suatu waktu ketika aku menjumpainya di dangau. Aku selalu telat mengejar informasi lelaki langit ini. ”Harusnya kau di sana. Bau itu menyegarkan kesadaran siapa pun orang yang menghirupnya. Menimbulkan magisme kedamaian tingkat tinggi,” ungkap lelaki pemilik bertubuh Michael Jordan ini seraya menghirup nafas dalam-dalam dengan mata terpejam. Seolah-olah bau kesturi itu masih melingkupi dada.
Kubu seperseratus menangis pilu. Membuat kubu sembilanpuluhsembilan perseratus terpaku. Terliputi rasa salah yang terukir di sepanjang hayat. Esoknya tiada rumah tanpa memperbincangkan tutur manis lelaki langit. Senyum memikat sang lelaki langit. Kepribadian sebagai orang langit yang unik dan mencuri hati siapa saja.

Manusia bumi menyanjungnya sebagai pahlawan tak dikenal yang mengembalikan kesucian manusia. Koran, tv, majalah meledak dengan headline tentang pahlawan tanpa nama ini. Tapi sebelum pergi lelaki langit itu bilang pada bunga teratainya, dia tak datang sendiri ke bumi. Di setiap negeri ada saudara kembarnya. Lelaki dan perempuan langit. Jika lelaki dia selalu membawa bunga kemana dia pergi. Bila perempuan langit dia selalu menyampirkan selendang hijau sutra di kepala dan dadanya. Hanya saja kebanyakan lelaki dan perempuan bumi tak mengenal mereka. Karena terlalu banyak sekarang lelaki membawa bunga dan perempuan bersampir hijau sutra. Atau semuanya telah menjadi manusia langit ? Tak mungkin itu melanggar sunnatatullah. Sungguh sulit mencari mana yang asli karena semuanya telah abu-abu. Tak lagi black and white.



Special for Al Baghdady Riau, Semoga penduduk langit menerimamu suka cita
Darmaga, 2 hari menjelang ultahku (2005)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help