Selain membaca buku religius, novel, salah satu kesukaanku sekarang lain adalah nonton film bermutu dan sarat makna. Film 'Black Hawk Down', sebenarnya pernah ku tonton dua kali di televisi. Tapi aku tak merasa menghayati seperti kemarin ketika aku kembali menontonnya di Bekasi. Yang ini agak spesial. Adiknya iparku kebetulan mempunyai cd orisinalnya. Jadilah nomat (nonton hemat) sendiri. ^_^
Film ini mendapatkan penghargaan Academy Award baik versi best sound dan picture. Kutonton memang luar biasa effect-nya. Detail-detail peperangan benar-benar mencekam. Digambarkan bagaimana tubuh manusia terkena bazzoka dan hancuran tubuhnya berhamburan.
Namun bukan ini sebenarnya aku menghargai film ini. Lebih dari itu, film ini merupakan jawaban puzzle yang hilang dalam memori film dokumenter yang dibuat rekan Hizbut Tahrir Malaysia dan Denmark mengenai kondisi umat Islam di dunia. Film ini bukan rekayasa namun benar-benar dokumenter. Kata yang pernah nonton, bagi siapa saja yang pernah menontonnya, tak tergerak hati dan menangis karenanya, diragukan empatinya sebagai seorang muslim. Ada yang tertarik memiliki CD dan menontonnya? ^_^
Di film rekan Hizbut Tahrir tersebut disebutkan, Pasukan Amerika dikalahkan oleh umat Muslim di Somalia. Dalam hatiku bertanya gerangan apakah itu? Maka film Black Hawk Down ini menjawab sudah. Film ini memang berisi tentang kekalahan telak pasukan Ranger AS yang ingin ikut campur urusan dalam negeri Somalia. Semua ini berawal dari upaya AS untuk menculik pejabat tinggi Somalia yang katanya untuk menghentikan perang Somalia. Sayangnya, dalam misi tersebut dua helikopter Black Hawk milik AS berhasil dijatuhkan militan Islam Somalia (sutradara mendeskripsikan begitu). Kejatuhan ini anehnya malah di dukung oleh masyarakat kota Mogadisu, ibu kota Somalia.
Dengan bumbu manis propaganda bahwa niat mereka tulus untuk menegakkan demokrasi seperti yang diterapkan di Amerika, film ini malah membuka kedok As sendiri. Ini kalau teman-teman kritis dan jeli menontonnya. Semua ini akan terbaca dari dialog antara militan Islam dengan tentara AS.
Mirip sekali dengan yang dilakukan di Irak ya. Menurutku, film ini propaganda terselubung bahwa umat Islam (ada adegan azan bergema, militan yang shalat dipadang pasir, dan sorotan tajam sutradara melalui jawaban militan; perang adalah solusi yang diambil untuk terciptanya perdamaian negri Islam). Nampak juga black campaign hukum Islam mengenai diyat bagi pembunuh yang membunuh manusia lain. Hal ini terbaca dari dialog antara tentara yang mengatakan," Aku tidak mau membayar 100 unta kalau membunuh orang,"
Film ini makin mempertebal keyakinanku bahwa kekuatan fisik, sarana, senjata tak bisa mengalahkan semangat jihad kaum muslimin yang ingin membela kehormatannya. Jika menonton ini disarankan memberikan penilaian terbalik. He hehe Karena sutradara memang bermaksud menaikkan image positif dari kekalahan pasukan Ranger AS. Sebuah kekalahan terbesar yang dialami AS setelah perang Vietnam.