Nur's posts with tag: hikmah
Memuliakan Anak Perempuan Oleh : Aris Solikhah ''Barangsiapa mempunyai anak perempuan, tidak dikuburkannya anak itu hidup-hidup, tidak dihinakannya, dan tidak dilebihkannya anaknya laki-laki dari perempuan itu, maka Allah memasukannya ke dalam surga dengan sebab dia.'' (HR Abu Dawud). Di masa Rasulullah, ada seroang ibu miskin membawa kedua putrinya ke hadapan Aisyah. Aisyah kemudian memberinya tiga kurma. Ibu miskin ini membagikan masing-masing satu kurma untuk anaknya dan sisanya untuk dirinya. Kedua anaknya makan dengan sangat lahap. Ketika sang ibu hendak memakan kurmanya, tiba-tiba kedua anaknya mencegahnya. Melihat kedua putrinya masih lapar, ibu miskin itu tidak memakan kurmanya dan malah membagi kurma menjadi dua bagian untuk masing-masing anaknya. Aisyah mengadukan hal ini pada Rasulullah yang lalu bersabda, ''Barangsiapa yang ada padanya tiga orang anak perempuan dia bersabar dalam mengasuhnya, dalam susahnya dan dalam senangnya, dia akan dimasukkan Allah ke dalam surga, karena rahmat Allah terhadap anak-anak itu.'' Seorang laki-laki kemudian bertanya, ''Bagaimana kalau hanya dua, ya Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Dan berdua pun begitu juga.'' Datang pula seorang laki-laki bertanya, ''Bagaimana kalau hanya satu orang?'' Beliau menjawab, ''Satu orang pun begitu juga!'' (HR Al Hakim dari Abu Hurairah). Dari hadis Rasulullah kita memahami betapa Islam sangat memuliakan anak perempuan. Seorang anak perempuan yang diasuh, dididik, dibina, diberikan penghidupan layak, tak dibedakan dengan anak laki-laki, tumbuh menjadi sosok solihah mampu membawa kedua orang tuanya ke surga. Rasulullah secara khusus bersabda pada umatnya tentang keberuntungan anak perempuan dan memiliki saudara atau kerabat perempuan. ''Barang siapa yang mengeluarkan belanja untuk dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, atau kaum kerabat perempuan yang patut disediakan belanja untuk keduanya, sehingga keduanya diberi Allah kecukupan atau kemampuan, jadilah keduanya itu dinding (pelindung) dari neraka.'' (HR. Ibnu Hibban dan At Thabrani). Memang Islam sudah mengangkat harkat martabat perempuan, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat, terkadang sebuah keluarga dianggap belum sempurna tanpa kehadiran anak laki-laki. Anak perempuan masih dipandang sebelah mata. Menurut sebuah data, 1,4-2,1 juta perempuan Indonesia bekerja di luar negeri. Sering terdengar penganiayaan terhadap mereka. Belum lagi, sebanyak 240 ribu bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK). Saatnya menebar peduli bagi mereka. Dimuat di Republika: 5 Juli 2007
Hak Pekerja
''Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka mempergunakan sebagian yang lain...'' (QS Az-Zukhruf [43]: 32).
Allah telah menetapkan rezeki manusia di dalam Lauful Mahfudz (Kitab yang Terpelihara). Perbedaan besar kecilnya rezeki menunjukkan bukti keadilan Allah, agar sebagian manusia mempergunakan jasa sebagian lainnya.
Bentuk transaksi atau penyewaan tenaga di dalam Islam dikenal dengan istilah ijarah (perburuhan). Ajiir adalah orang yang melakukan pekerjaan dengan kompensasi atau gaji tertentu. Sedang musta'jir adalah orang yang menggunakan jasa ajiir.
Aisyah pernah berkata, ''Rasulullah SAW dan Abu Bakar pernah mengontrak (tenaga) orang dari Bani Dail sebagai petunjuk jalan, sedangkan orang tersebut beragama seperti agama orang kafir Quraisy. Beliau kemudian memberikan kedua kendaraannya kepada orang tersebut. Beliau lalu mengambil janji orang tersebut (agar berada) di gua tsur setelah tiga malam, dengan membawa kedua kendaraan beliau pada waktu subuh pada hari yang ketiga.''
Agama Islam sangat melindungi hak-hak para buruh. Hal ini terlihat dalam rukun ijarah yang mencakup kejelasan bentuk pekerjaan, waktu kerja, upah, dan tenaganya. Bila ketentuan tersebut tak terpenuhi maka transaksi ijarah tersebut statusnya fasad (rusak) dan batal. Hendaknya juga seorang musta'jir memberi batasan tenaga yang dicurahkan seorang pekerja. Jangan sampai pekerja bekerja di luar batas tenaga, sehingga merasa terdzalimi.
Bila seorang ajiir telah menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkan, maka ia berhak memperoleh gaji atau kompensasi sesuai kesepakatan, tidak boleh dikurangi sedikit pun. Nabi SAW bersabda, ''Hati-hatilah kalian terhadap qasamah! Kemudian para Sahabat bertanya, qasamah itu apa? Beliau menjawab, ''Sesuatu (yang disepakati sebagai bagian) di antara manusia, kemudian bagian tadi dikurangi.''
Rasulullah juga mengecam keras musta'jir yang mengelak atau menahan gaji ajiir-nya. ''Tiga orang yang aku musuhi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang telah memberikan karena aku, lalu berkhianat; orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.'' (HR Imam Bukhari, dari Abu Hurairah). Wallahu'alam bishawab.
(Aris Solikhah )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=291295&kat_id=14
Hak Pekerja
''Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka mempergunakan sebagian yang lain...'' (QS Az-Zukhruf [43]: 32).
Allah telah menetapkan rezeki manusia di dalam Lauful Mahfudz (Kitab yang Terpelihara). Perbedaan besar kecilnya rezeki menunjukkan bukti keadilan Allah, agar sebagian manusia mempergunakan jasa sebagian lainnya.
Bentuk transaksi atau penyewaan tenaga di dalam Islam dikenal dengan istilah ijarah (perburuhan). Ajiir adalah orang yang melakukan pekerjaan dengan kompensasi atau gaji tertentu. Sedang musta'jir adalah orang yang menggunakan jasa ajiir.
Aisyah pernah berkata, ''Rasulullah SAW dan Abu Bakar pernah mengontrak (tenaga) orang dari Bani Dail sebagai petunjuk jalan, sedangkan orang tersebut beragama seperti agama orang kafir Quraisy. Beliau kemudian memberikan kedua kendaraannya kepada orang tersebut. Beliau lalu mengambil janji orang tersebut (agar berada) di gua tsur setelah tiga malam, dengan membawa kedua kendaraan beliau pada waktu subuh pada hari yang ketiga.''
Agama Islam sangat melindungi hak-hak para buruh. Hal ini terlihat dalam rukun ijarah yang mencakup kejelasan bentuk pekerjaan, waktu kerja, upah, dan tenaganya. Bila ketentuan tersebut tak terpenuhi maka transaksi ijarah tersebut statusnya fasad (rusak) dan batal. Hendaknya juga seorang musta'jir memberi batasan tenaga yang dicurahkan seorang pekerja. Jangan sampai pekerja bekerja di luar batas tenaga, sehingga merasa terdzalimi.
Bila seorang ajiir telah menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkan, maka ia berhak memperoleh gaji atau kompensasi sesuai kesepakatan, tidak boleh dikurangi sedikit pun. Nabi SAW bersabda, ''Hati-hatilah kalian terhadap qasamah! Kemudian para Sahabat bertanya, qasamah itu apa? Beliau menjawab, ''Sesuatu (yang disepakati sebagai bagian) di antara manusia, kemudian bagian tadi dikurangi.''
Rasulullah juga mengecam keras musta'jir yang mengelak atau menahan gaji ajiir-nya. ''Tiga orang yang aku musuhi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang telah memberikan karena aku, lalu berkhianat; orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.'' (HR Imam Bukhari, dari Abu Hurairah). Wallahu'alam bishawab.
(Aris Solikhah )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=291295&kat_id=14
Kamis, 09 Nopember 2006
Kematian
Oleh : Aris Solikhah
Ibnu Umar RA berkata, ''Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10
orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas
dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak
mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang
yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.'' (HR
Ibnu Majah)
Manusia yang senantiasa mengingat kematian akan memendekkan angan-angannya, lebih
menyegerakan berkarya, dan gemar berbuat kebajikan. Dia menginsyafi diri bahwa
setiap manusia, baik kaya atau miskin, memiliki jabatan tinggi atau rendah,
pintar atau bodoh, dan fisik sempurna atau cacat, semuanya akan kembali menyatu
dengan tanah. Sendiri dalam kegelapan menghadapi malaikat maut.
Allah berfirman dalam surat Al Jumu'ah (62) ayat 8, ''Katakanlah
sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian
itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan.''
Perbedaan terbesar orang yang mengingat kematian dengan tidak ialah terletak
pada kehati-hatian bersikap, kerendahan hati, keikhlasan, amal kebaikan, dan
kezuhudannya. Harta, tahta, kata, dan cinta dunia yang ia miliki tak
memerngaruhi pandangannya terhadap semua manusia. Ia memahami manusia sama-sama
sebagai makhluk ciptaan Allah yang akan kembali pada-Nya dan
mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Hanya tingkatan takwa yang
membedakan kedudukan masing-masing manusia.
Ia tak segan menguras harta untuk membantu kesusahan orang lain. Jabatan
atau tahta, ia fungsikan sebesar-besarnya untuk memaslahatan seluruh rakyat dan
bukannya malah membebani hidup rakyat. Cinta, kata, serta popularitas, ia
gunakan untuk melakukan banyak pencerahan agar kehidupan masyarakat terangkat
lebih baik.
Mengingat kematian akan melembutkan hati yang keras, kaku, dan beku. Syafiah
RA mengisahkan seorang perempuan mengadu kepada Aisyah RA tentang kekesatan
hatinya, lalu Aisyah berkata, ''Perbanyaklah mengingat kematian niscaya hatimu
menjadi lembut.'' Kemudian perempuan itu melakukannya sehingga hatinya menjadi
lembut.
Ka'ab sahabat Rasulullah mengungkapkan bahwa siapa yang mengetahui kematian
pasti segala penderitaan dan kesusahan dunia menjadi ringan baginya. Sebab,
kematian adalah kafarat bagi setiap Muslim. Sungguh manusia cerdas ialah yang
bisa memaknai kematian dengan benar dan mengantarkannya pada kemulian hakiki.
Orang Tua Sebagai Cermin
"Tidaklah balasan bagi kebaikan itu melainkan kebaikan juga" (Ar-Rahman: 60).
Anak bagi orang tua adalah permata hati yang tidak ternilai harganya.
Hal itu merupakan kebahagian tersendiri, memiliki anak saleh, taat pada
orang tua, dan menyayangi orang tuanya sampai akhir menutup mata.
Namun, Kepiluan, kekesalan, kesedihan, dan kekecewaan menyatu bila sang
anak setelah dewasa tidak peduli orang tuanya dengan menyepelekan
panggilan orang tua yang sakit dengan alasan sibuk, atau cukup
menyediakan fasilitas mewah buat menghabiskan sisa-sisa usia. Rumah
indah bak istana tidak akan menggantikan kasih sayang dan perhatian
orang tua pada anaknya.
Cara mendidik anak dan perlakuan orang tua kepada anaknya akan memberi
kesan yang kuat untuk membentuk karakter atau kepribadian anak ketika
dewasa kelak. ''Orang tualah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani,
atau Majusi'' (hadis riwayat Bukhari
Gaya orang tua dalam mendidik tecermin dalam cara anak tersebut
memperlakukan orang tuanya. Dengan kata lain, bila orang tua mengajari
cara menghargai orang lain, maka anak akan berlatih menghargai manusia.
Misalnya, orang tua yang sering memberikan ungkapan kasar melihat
anaknya melakukan kesalahan, seperti kata malas, tolol, nakal, dan
bodoh. Kata-kata tersebut akan menjadi memori sepanjang hidup, dan anak
akan mewarisi untuk setiap kesalahan sama.
Dahulu, seorang laki-laki menghadap Umar bin Khatab mengadukan
kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar kemudian memanggil anak yang
dikatakan durhaka itu dan mengingatkan bahaya durhaka kepada orang tua.
Ketika ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu berkata, "Wahai Amirul
Mukminin, tidaklah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan
oleh orang tuanya".
"Ya," jawab Khalifah.
"Apakah itu?"
"Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik, dan mengajarinya Alquran."
''Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari tiga perkara itu yang
ditunaikan oleh ayahku. Ibuku Majusi, namaku Jaklan, dan aku tidak
pernah diajar membaca Alquran walau satu huruf," jawab sang anak.
Umar kemudian menoleh kepada bapak itu dan berkata, "Kamu datang
mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata kamu telah mendurhakainya
sebelum ia mendurhakaimu. Kamu telah berbuat tidak baik terhadapnya
sebelum dia tidak berbuat baik padanya.''
Kisah tersebut patut menjadi renungan bahwa sebelum menuntut kebaikan
pada diri anak, hendaknya kita terlebih dahulu memberikan sesuatu yang
terbaik buat anak, mengajari agama, memberikan makanan halal. Bila
kemudian sudah telanjur melakukan kesalahan, dan anak berkeinginan
memperbaiki diri dengan belajar agama, berikanlah motivasi. Dengan
mendalami agama, anak akan mengerti hak dan kewajibannya.
(Aris Solikhah) http://www.republika.co.id/detail.asp?id=123474 (file lama aku ingin menyimpannya)
''Nanti pada hari kiamat ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus perutnya dan beputar-putar di dalam neraka sebagaimana berputarnya kedelai yang sedang berada dalam penggilingan.
Lantas, para penghuni neraka berkumpul seraya berkata, ''Wahai Fulan, mengapa Anda seperti itu? Bukankah Anda dulu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang berbuat mungkar?' Ia pun segera menjawab, ''Benar, saya dulu menyuruh untuk berbuat baik, tapi saya sendiri tidak mengerjakannya dan saya melarang dari perbuatan mungkar, tapi saya sendiri malah melakukannya.''
Merupakan kemestian, bagi seorang Mukmin mengikat kata-kata yang ia ucapkan dan tuliskan dengan amal. Setiap kata yang keluar darinya cermin kemurnian, keikhlasan dan ketulusan hati, pikiran serta keimanannya. Lisan dan tulisan sejalan perbuatannya. Ketika ia menyuruh orang lain melakukan kebaikan, maka dialah yang pertama melakukannya. Pun ketika melarang berbuat mungkar, ia sendiri melakukannya.
''Mengapa kalian menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri. Padahal kalian membaca Alquran (Al Kitab). Apakah kalian tidak berpikir?'' (QS Al-Baqarah (2): 44). Rasulullah SAW contoh paling nyata dalam hal ini. Setibanya hijrah di Madinah, Rasulllah memerintahkan para sahabat untuk mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan umat.
Tak sekadar menyuruh, Rasulullah ikut terjun langsung dalam pembangunannya. Bersama sahabat, beliau memecah batu, memikul, dan menyusunnya. Beliau bukan hanya pandai memerintah, melainkan juga melakukan pertama kali apa yang beliau serukan.
''Barangsiapa yang mula pertama melakukan kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahala kebaikan itu sendiri dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mula pertama melakukan kejahatan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.'' (HR Imam Muslim).
Wibawa dan kepercayaan seseorang jatuh hanya karena kata-kata. Imam Ali Zainal Abidin meriwayatkan hadis Rasullulah, ''Jauhilah berkata bohong, baik untuk hal sepele maupun hal yang besar, baik serius maupun bergurau. Karena seseorang jika ia telah berani berbohong untuk hal-hal kecil, ia akan berani berbohong untuk hal yang besar.''
Begitu pula kewibawaan umat Islam runtuh salah satunya, karena mayoritas umat cakap berkata-kata namun tak mengikatnya dalam amal perbuatan keseharian. ''Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.'' (QS Ash-Shaff (61): 2-3).
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=14
Semoga Allah mengampuni aku atas kekhilafahan bila aku tiada bisa mengikatkan setiap kata dan tulisanku dengan amal. Terima Kasih Allah mengizinkan tulisan ini hadir, semoga menjadi pengingat bagi penulisnya.
Zina dan Penyakit Menular
''Wahai kaum Muhajirin. Ada lima perkara jika telah menimpa kalian, maka tidak ada kebaikan lagi bagi kalian. Dan aku berlindung kepada Allah SWT semoga kalian tidak menemui zaman itu.
Lima perkara itu ialah (salah satunya) tidak merajalela praktik perzinaan pada suatu kaum, sampai mereka berani berterus-terang melakukannya, melainkan akan terjangkit penyakit menular dengan cepat, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang lalu.'' (HR Ibnu Majah).
Ketika Islam turun, Rasulullah SAW telah memperingatkan akan bahaya zina dan akibatnya. Perbuatan zina biasanya terjadi tak serta-merta. Ada aktivitas taqrabu zina (mendekati zina) atau muqadimatu zina (pembukaan zina) terlebih dulu. Misalnya, memunculkan hasrat pada lawan jenis seperti bersentuhan, menggoda lawan jenis, berciuman, pelukan, gerakan erotis, dan sebagainya.
Perilaku ini sering dilakukan kebanyakan kaum muda masa kini yang sedang pacaran. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ma'iz --ketika ia ingin disucikan (dihukum rajam) karena telah melakukan perbuatan zina-- dengan ucapan, ''Sebelumnya engkau mungkin telah menciumnya.''
''Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji dan tindakan yang buruk.'' (QS Al-Isra (17): 32). Thabrani dan Al Hakim meriwayatkan, Rasulullah SAW pernah berkata bahwa bila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah SWT atas mereka sendiri.
Perbuatan serupa tapi lebih berbahaya dari zina ialah liwath (homoseksual). Dampak negatif yang ditimbulkan perbuatan homoseksual, sebagaimana perkataan jumhur ulama ijma' dari para sahabat dikatakan, ''Tidak ada satu perbuatan maksiat pun yang kerusakannya lebih besar dibanding perbuatan homoseksual. Bahkan, dosanya berada persis di bawah tingkatan kekufuran, bahkan lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan tindakan pembunuhan.''
Sekarang wabah penyakit AIDS menular begitu cepat. Dalam jangka waktu maksimal sepuluh tahun, pengidap AIDS dipastikan berkalang tanah alias mati. Belum ada obat ampuh penyembuh penyakit akibat human immuno deficiency virus (HIV) ini. Tidakkah kita menyadari bahwa penyakit menular yang belum pernah dijumpai umat masa-masa dahulu itu kemungkinan besar di antaranya AIDS, karen a saat ini diakui atau tidak zina dan liwath telah merajalela.
Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan hubungan di luar nikah dan hubungan sesama jenis. Penyakit menular dan bencana lain yang merupakan azab Allah SWT bisa dicegah bila dalam masyarakat tampak geliat aktivitas amar ma'ruf nahi munkar. Jika seruan kebaikan dan pencegahan kemungkaran terabaikan, maka azab Allah SWT siap menanti.
(Jamaludin Wahid )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=251575&kat_id=14&kat_id1=&kat_id2=
Jamaludin Wahid S, Dia adalah masku (kakakku) tersayang........^_^
Bapak....
Ketika luka itu kadang terasa
Duniaku merana
Bapak.....
Ketika sekarang engkau berubah
Aku pun berubah
Telah kumaafkan masa laluku,
Nyuwun ngapunten segala kalepatanipun kula nggih Bapak
Menawi kula mboten saged dados priyayi ingkang panjenengan karepaken
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anak Cermin Orang Tuanya
Oleh : Aris Solikhah
Suatu hari, seseorang menghadap Khalifah Umar bin Khattab dengan membawa anak lelakinya. Ia mengadukan betapa durhaka dan kurang ajar anaknya. Khalifah mendengar dengan seksama pengaduan orang tua itu. Umar mengingatkan beberapa hak anak, seperti, memilihkan ibu si anak dari golongan baik-baik, memberi nama yang baik, memberi nafkah sepantasnya, mendidik dengan akhlak yang baik, dan mengajari ilmu untuk bekal hidupnya.
Seketika itu juga si anak menyahut uraian Umar. ''Tak satu pun dari hak-hak itu yang diberikan. Ibu saya itu tidak jelas asal-usulnya dan berperangai sangat buruk. Dari kecil saya dipaksa mencari nafkah dengan menggembala ternak, dan saban hari diberi contoh akhlak yang buruk, dengan pertengkaran yang tiada henti, perkataan yang kotor, dan tindak kekerasan.''
''Jangankan diajari ilmu, yang ada hanya dampratan dan perlakuan kasar. Dalam hatiku hanya ada dendam dan menunggu saat bisa membalasnya,'' kata si anak. ''Apa benar demikian,'' tanya Umar dengan wajah marah. ''Jika demikian, sungguh engkau telah merusak anakmu dengan tanganmu sendiri. Engkaulah yang pantas mendapat hukuman atas kesalahan ini,'' tegasnya.
Maraknya remaja tersangkut tindak kriminalitas, seperti tawuran, miras, pembunuhan, narkoba, pergaulan bebas, tidak punya sopan santun, durhaka kepada orang tua, boleh jadi karena didikan orang tuanya sejak kecil demikian. Anak merupakan cermin orang tua. Bagaimana orang tua berperilaku, demikian pula anak meniru. Bila setiap hari mendapat caci maki, maka si anak akan belajar serupa terhadap orang lain. Demikian pula sebaliknya. ''Berbuat baiklah kamu terhadap ibu dan bapakmu, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik terhadapmu.'' (HR Thabrani).
Seorang pegawai menemui Umar. Ia kaget dan memperlihatkan keheranannya mendapati Khalifah sedang berbaring dengan beberapa anak kecil asyik bermain-main di sekitarnya. Umar bertanya, ''Jadi, bagaimana keadaanmu dengan keluargamu?'' Ia menjawab, ''Begitu melihatku, keluargaku yang berbicara langsung diam.''
Umar berkata, ''Kalau begitu, kamu turun saja dari jabatanmu. Soalnya kalau terhadap keluarga dan anakmu saja kamu tidak bisa berlaku lembut, bagaimana kamu bisa berlaku lembut terhadap umat Rasulullah SAW?'' Lumrah, Umar memutuskan memberhentikan jabatan orang itu ketika didapati ia tak menyayangi keluarganya. Amanah kecil saja ia lalai, apalagi mengurusi urusan yang lebih besar. Allah SWT akan memberi balasan bagi orang tua yang bersabar menahan penderitaan dan bersusah payah mendidik putra-putrinya.
''Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.'' (HR. Bukhari-Muslim)
Kamis, 19 Januari 2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=231555&kat_id=14
 | Tajassus | Nov 30, '05 11:58 PM for everyone |
Tajassus adalah aktivitas memata-matai orang lain. Orang yang melakukan tajassus atau spionase ini disebut jaasus (mata-mata). Pegawai intelijen, biro rahasia, dan semacamnya yang bertugas mencuri informasi untuk mencari kesalahan pihak lain atau mengetahui strategi negara lawan termasuk dalam kategori jaasus.
Tersebut dalam Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad SAW pernah mengutus Abdullah bin Jahsiy bersama delapan orang dari kalangan Muhajirin. Kemudian, Rasulullah SAW memberikan surat kepada Abdullah bin Jahsiy, dan beliau menyuruhnya agar tidak melihat isinya. Ia boleh membuka surat itu setelah berjalan kira-kira dua hari lamanya.
Selanjutnya mereka bergegas pergi. Setelah dua hari, Abdullah bin Jahsiy membuka surat dan membaca isinya yang bunyinya, ''Jika engkau telah melihat suratku ini, berjalanlah terus hingga sampai kebun kurma antara Makkah dan Thaif, maka intailah orang-orang Quraisy, dan kabarkanlah kepada kami berita tentang mereka (orang Quraisy).''
Rasulullah SAW memperbolehkan bahkan mewajibkan aktivitas tajassus kepada kaum Quraisy, Romawi, Persia, dan Yahudi yang mereka memusuhi serta menghalang-halangi aktivitas dakwah Islam. Sebaliknya, Rasulullah SAW memerintahkan membunuh mata-mata negara asing yang ketahuan mencari informasi mengenai keadaan dalam negeri Islam dan menjadikan informasi itu sebagai strategi untuk menyerang Muslimin.
Dalam kisah lain diungkapkan, Rasulullah SAW pernah memerintahkan untuk membunuh seorang mata-mata dari kafir Quraisy yang kedapatan mencari-cari informasi di lingkaran Rasulullah SAW. Salamah bin Al-Akwa, sahabat Rasul SAW bercerita, seorang mata-mata dari orang-orang musyrik mendatangi Rasulullah SAW, sedangkan orang itu sedang safar. Lalu, orang itu duduk bersama para sahabat dan ikut berbincang-bincang. Kemudian orang itu pergi. Nabi SAW berkata, ''Cari dan bunuhlah dia!'' Lalu, Salamah bin Akwa' berhasil mendapatkannya lebih dahulu dari para sahabat lain dan membunuhnya. Rasulullah SAW bersabda, ''Janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling menyelidiki, janganlah kalian berlebih-lebihan, janganlah kalian saling membuat kerusakan,'' (HR Ibnu Majah). Hadis ini menyeru sesama Muslim untuk tidak saling memata-matai.
Menyadap pembicaraan, mencuri dengar, dan mencari-cari kesalahan itu termasuk aktivitas memata-matai. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa orang yang menyadap pembicaraan Muslim lain dan mendengarkan apa yang mereka tidak akan suka bila tahu ia telah mendengarnya, di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan tembaga. Allah SWT menegaskan dalam Surat Al Hujurat [49] ayat 12, ''Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus).'' Tak layak seorang mukmin mencurigai mukmin lain. Kecurigaan tanpa bukti nyata bisa terkategori perdurhakaan terhadap amanah kaum Muslimin. Hadis riwayat Abu Dawud dan Abu Umamah menyatakan bahwa sungguh, seorang amir (pemimpin) akan mendurhakai rakyatnya, bila ia memburu kecurigaan pada mereka.
Note : Aris paham ini kehendak Allah, tulisan ini asli banyak mengutip dari beberapa referensi. Syukron ya Rabb
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=14
Mu'az bin Jabal ra berkata Rasulullah saw bersabda, ''Penghuni surga itu tidak akan pernah merasa menyesal terhadap sesuatu pun kecuali terhadap waktu yang meninggalkan mereka yang tidak mereka isi dengan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla.'' [HR At-Thabrani].
Manusia tumbuh mulai dari kandungan sampai dewasa melalui lintasan-lintasan waktu. Ketika tua manusia mulai sadar bahwa hidupnya tinggal menunggu beberapa tahun. Dengan kondisi seperti itu, ia mulai giat beribadah, menyesali betapa sedikit amal yang bisa dilakukan.
Semuanya cukup terlambat untuk memperbaiki diri atau mencari ilmu walaupun hadis Rasulullah mengatakan, ''Carilah ilmu dari sejak buaian sampai liang lahat.'' Memang usia tidak membatasi seseorang dalam melakukan perbaikan diri dan menuntut ilmu, namun akan sedikit ilmu yang teraih dibandingkan menuntut ilmu sejak dini.
Waktu memiliki sifat irreversible [tidak pernah kembali], untransfersible [tidak bisa dipindahkan kepada orang lain], unsubstitution [tidak tergantikan oleh apa pun], dan unpayable [tak dapat dibeli].
Seorang yang sudah tua tidak bisa menjadi remaja lagi. Barang hilang bisa diganti dengan uang. Kekayaan dan kemewahan hancur dapat diperoleh kembali dengan usaha. Tapi waktu pergi hendak ke mana dicari penggantinya? Kepemilikan harta dari orang mati dapat dipindahkan kepada hak warisnya. Namun waktu hanya dimiliki tiap individu di mana masing-masing berbeda tak mungkin dipindahtangankan kepemilikannya. Baju dicuri akan 'kembali' dengan membeli yang baru. Namun, tak ada seorang pun yang dapat membeli masa mudanya yang sudah pergi.
Satu-satunya aset terbesar yang dimiliki manusia hanyalah waktu. Waktu atau kesempatan tidak terjadi dua kali. Mumpung berkesempatan masih muda, mempunyai jabatan tinggi dan uang banyak marilah kita beramal. Kelak ketika mata telah kabur, usia telah uzur, dekat liang kubur janganlah segalanya menjadi bubur.
Rasulullah mengingatkan, ''Ada dua nikmat yang banyak di antara manusia itu justru merasa merugi karenanya; kesehatan dan kekosongan.'' [HR Bukhari]. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. (Aris Solikhah) Republika, 19 Januari 2002. Tulisanku pertama, ekspresi tak terperikan. Ternyata aku bisa nulis......Ya Rabb ajari aris bersyukur, ajari aris mengenal-Mu, ajari aris memuja-Mu dan mencintai-Mu. Allaahummar zuqnii hubbaka wa hubba yanfa'nii hubbuhu 'indaka (ya Allah karuniakan aku cinta kepada-MU, dan cinta orang yang dengan cintanya menghantarkan aku pada cinta-Mu)
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah pernah berkata, ''Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi dari amal yang keluar dari setiap desah napas kita.''
Lewat kalimat tersebut Ibnul Qayyim ingin menekankan bahwa ilmu itu hadir untuk menciptakan amal. Ilmu yang tidak menghasilkan amal, sama sekali tidak berguna. Allah SWT mewajibkan manusia untuk selalu beramal. ''Beramallah kamu, sesungguhnya Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin akan melihat amal kamu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui perkara ghaib dan nyata. Maka Allah akan memberitahukan apa yang telah kamu kerjakan.'' (QS At Taubah:105).
Allah juga membenci orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Dalam Surat Ash Shaff ayat 2-3 Allah mengungkapkan, ''Wahai orang-orang beriman, mengapa kau mengatakan apa yang tidak kau perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kau menyatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.''
Amal yang lahir dari setiap ilmu, haruslah amalan yang baik. Ali bin Abi Thalib RA meyakini bahwa orang-orang yang mengumpulkan ilmu untuk membuat kekacauan dan mengembuskan fitnah, sangatlah dimurkai Allah SWT. Orang-orang yang seperti itu tidak sehari pun hidup dalam keselamatan ilmu, meski ia bersegera mencari ilmu dan menyebarkannya. Maka, seikat ilmu pengetahuan tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi disia-siakan.
Orang-orang demikian layaknya orang buta yang membawa lampu. Mereka mempunyai ilmu penerang hidup, namun hidupnya tetap dalam kegelapan abadi. Dia tidak akan menjadi ahli ilmu sebenar-benarnya. Dia hanya ingin mendapatkan kemuliaan dunia sesaat berupa pujian sebagai seorang ilmuwan dan posisi atau jabatan semata.
Tak jarang, ilmu yang dimilikinya bahkan malah membuat kekacauan, fitnah, dan membuat masyarakat merana. Nabi Isa AS pun pernah bersabda, ''Bagaimana bisa menjadi ahli ilmu, saat kebanyakan orang perjalanannya ke akhirat sedang dia ke jalan dunia? Bagaimana bisa menjadi ahli ilmu, orang mencari ilmu kalam untuk diceritakan bukan untuk diamalkan.'' Tingkat ilmu seseorang tergantung dari amal saleh yang ia kerjakan. Semakin banyak ilmu yang diamalkan maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah SWT.
Allah memberikan pahala berlipat-lipat kepada orang yang beramal saleh. Dalam Surat Al-Bayyinah ayat 7-8 Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah Surga Adn (tempat tinggal yang tetap) yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha pada mereka dan mereka pun ridha (serta syukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut melanggar perintah Tuhannya.'' (Aris Solikhah) Republika, 12 September 2005. Gara-gara seorang temen di milis mediadakwah protes ama footnote emailku. Ya sudah cari yang lain tapi apa. Dan oh... akhirnya sebuah kata mutiara kutemukan di website dudung. Menohok, dalam dan membuat aku ... ah...entahlah..thax for ur inspiration
'Cabang iman ada enam puluh lebih, atau tujuh puluh lebih, yang paling utama adalah ucapan 'Laa ilaha illallaah' (tidak ada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Sedangkan malu adalah sebagian dari iman.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Menurut riwayat Abul Qosim Al Junaid, malu adalah kemampuan untuk memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu. Amat jarang kini, menemukan orang yang tergolong pemalu. Yakni, orang yang malu bila mengetahui dirinya telah berbuat kezaliman dan kemaksiatan.
Orang pemalu terlihat dari budi pekertinya yang senantiasa mengajak meninggalkan keburukan dan mencegah mengurangi hak orang lain. Rasa malu melahirkan sikap amanah. Orang yang kehilangan rasa malu, tak layak dirinya diberi amanah untuk mengurusi urusan umat, karena akan berakibat fatal. Orang yang bermuka tebal seperti itu akan merampas hak orang lain tanpa malu-malu.
Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa apabila Allah menghendaki untuk membinasakan seseorang, maka Allah cukup mencabut dari orang itu rasa malu. Jika telah tercabut darinya rasa malu, seseorang akan terus bergelimang dosa. Orang yang bergelimang dosa itu juga telah dicabut oleh Allah darinya sifat amanah. Sungguh mengerikan dan menyedihkan nasib orang bermuka tebal. Mereka tak mendapatkan rahmat Allah. Apalah artinya hidup tanpa rahmat dari Allah. Walau hidup bergelimang harta, jabatan tinggi, dikaruniai surga duniawi, jiwanya akan tetap merana.
Orang yang tidak dirahmati akan terus gelisah, cemas, dan takut semua kenikmatannya direnggut orang lain. Maka, yang dilakukan orang yang bermuka tebal itu adalah mengumpulkan semua kekuatan demi melanggengkan kebahagian semu. Tak segan dia mengkhianati sahabat dan orang-orang tercinta. Rasulullah SAW pernah menegur seorang Anshor yang sedang memberi nasihat pada saudaranya yang pemalu. Beliau bersabda, ''Biarkan ia pemalu. Sungguh malu itu sebagian dari iman.'' Di kesempatan lain, Rasul SAW bersabda, ''Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.'' Beliau sendiri terkenal sangat pemalu, melebihi seorang gadis pingitan.
Rasa malu yang muncul dari keimanan kepada Allah menyebabkan manusia menjadi sangat berhati-hati dalam bertindak dan menentukan langkah. Orang yang memiliki perasaan malu seperti itu menganggap bahwa setiap jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Jabatan tidak dianggap sebagai kesempatan untuk mencari popularitas atau meraih kekuasaan demi kepentingan pribadinya.
Dia akan memberikan segala yang menjadi hak orang lain dan melindungi dirinya supaya tidak berkhianat pada rakyat. Sosok seperti itu juga selalu berusaha menetapkan kebijakan publik yang bermanfaat bagi seluruh warganya. Sekuat tenaga, dia juga akan menghindari keputusan yang merugikan serta membawa kesengsaraan hidup rakyat banyak. Sedangkan orang yang bermuka tebal akan berbuat sebaliknya. Wallahu 'alam. (Aris Solikhah) Republika, 23 Juli 2005. Malu itu indah ya.....
Rasulullah bersabda, ''Carilah aku di antara orang-orang lemah kalian. Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan kemenangan karena orang-orang lemah kalian.'' (HR. Abu Daud) Orang lemah yang dimaksud adalah mereka yang tak berdaya karena suatu musibah. Atau, mereka yang fakir miskin, anak telantar, dan yang terzalimi, baik disebabkan ketidakadilan atau berjuang di jalan Allah.
Rasulullah sangat menekankan menolong serta membantu orang-orang seperti mereka. Di antara mereka itulah umat Islam bisa menjumpai kebaikan, rezeki, dan kemenangan. Kata beliau, ''Sesungguhnya Allah telah memenangkan umat ini dengan adanya kaum dhu'afa, karena doa-doa, shalat, dan keikhlasan mereka.'' (HR An Nasai'i). Tak hanya menolong, Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Al-Hasan juga menganjurkan mencintai orang lemah, terutama fakir miskin, layaknya mencintai diri sendiri. ''Cintailah (kasihinilah) fakir miskin umatku sebab sesungguhnya mereka memiliki negara kelak pada hari kiamat,'' sabda beliau.
Dalam hadis lain riwayat Al Hasan disampaikan pula bahwasanya Rasullullah SAW bersabda, ''Banyak-banyaklah mengenal fakir miskin dan bantulah mereka, sesungguhnya mereka memiliki negara.'' Para sahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apa gerangan negara mereka?'' Beliau menjawab, ''Jika kelak di hari kiamat diserukan (pada fakir miskin), lihatlah orang yang pernah memberi kalian makan (meski) pecahan-pecahan roti, meminumi kalian meski hanya seteguk, dan memberi pakaian kalian meski hanya sehelai baju, lalu gandenglah tangannya dan berlalulah ke surga.''
Seberapa pun pertolongan dan bantuan yang kita berikan bila diniatkan ikhlas mencari ridha Allah, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat. Tak terbatas pada individu, tapi juga kelompok, organisasi, lembaga, termasuk pemerintah. Bahkan yang terakhir ini, perannya sangat penting, karena merekalah (pejabat negara) yang bisa mengoordinasi, mengatur, memelihara, memperhatikan kebutuhan warganya tepat sasaran, sempurna, dan berkesinambungan.
Maka, jabatan pemerintahan harus difungsikan sebenar-benarnya demi memperhatikan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan. Ketika negara (pemerintah) menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, kewajiban yang lain (rakyat) untuk membantunya. Dengan begitu akan terjadi bahu-membahu, tolong-menolong antara rakyat dan pemimpinnya. Dan dari sinilah akan tercipta persaudaraan yang hakiki.
Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, ''Rasullulah SAW bersabda, 'Sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya dan jangan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan sesama Muslim, niscaya Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya di hari kiamat. Siapa saja yang menutupi kejelekan seorang Muslim, Allah akan menutupi kejelekannya pada hari kiamat'.'' (HR. Bukhari-Muslim). (Aris Solikhah) Republika, 13 Januari 2005. Cinta iitu ternyata sangat sederhana..... dan rumit
''Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS al-Hadiid: 22). Pada suatu ketika Ibrahim bin Adam melihat seorang laki-laki yang sedang bersedih. Dia berkata kepada lelaki itu, "Wahai saudara, aku ingin menanyakan kepadamu empat pertanyaan dan aku harap engkau menjawabnya." Lelaki itu menjawab, "Baiklah."
Ibrahim pun bertanya, "Apakah ada hal yang terjadi di alam ini yang tidak dikehendaki Allah?" Lelaki itu menjawab, "Tentu tidak." Ibrahim bertanya lagi, "Apakah akan berkurang suatu tempo waktu yang ditetapkan bagimu dalam kehidupan ini." Sekali lagi dia menjawab, "Tidak." Setelah terjawab empat pertanyaan, Ibrahim bin Adam berkata, "Kalau begitu mengapa engkau masih bersedih?" Terkadang manusia dalam menjalani hidupnya tak selalu mendapatkan keinginan yang dicita-citakan. Rencana dan impian tertata apik terburai percuma. Usaha keras sekuat tenaga pun seakan tak berdaya apa-apa, menyisakan kepingan-kepingan duka dan kekecewaan.
Banyak juga di antara manusia merasa hidup tak beruntung. Memiliki masa lalu kelam dan pengalaman pahit. Atau, setidaknya dalam perjalanan hidup kita, pernah mengalami masa yang menyesakkan dada, terhimpit beban berat, membuat kesedihan tak berujung. Misalnya bisnis yang merugi karena kesalahan mengambil keputusan, studi berantakan, keluarga broken home, himpitan ekonomi, bencana alam melanda, dan sebagainya.
Mengingat peristiwa lampau tersebut terkadang membuat orang tersebut merasa lemah, terus terbelenggu dan tak berdaya. Karena itu, Rasulullah melarang seseorang menyesali berlebihan dengan mengandai-andai. Rasulullah bersabda, "Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan, 'Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini.' Katakanlah, 'Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki maka itu terjadi.' Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan." (HR Bukhari).
Lebih jelas dalam surat at-Taubah ayat 51, Allah berfirman, "Katakanlah, sekali-kali tidak ada menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." Manusia itu begitu lemah. Segala marabahaya dan bencana, semuanya telah ditetapkan Allah sebelum penciptaan manusia. Dengan meyakini hal ini, semata-mata manusia akan merasa takjub pada kebesaran dan kekuasaan-Nya. Bukan berarti kemudian kita pasrah menyikapi bencana yang menimpa. Karena, kebahagian dan kesedihan yang datang silih berganti bukan tanpa suatu maksud. Namun, agar kita lebih bersyukur, berempati pada orang lain, meraup hikmah dan amal tiada terkira. Sungguh, tak patut manusia berputus asa karna derita yang bertubi-tubi. Serta tak layak pula dia berubah sombong bila menerima suatu keberhasilan dan kesuksesan. (Aris Solikhah) Republika, 29 Desember 2004... Bersabarlah saudara-saudara di Aceh. Allah cinta kalian sungguh
| |