Nur's posts with tag: jurnalisme

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jurnalisme
Blog EntryAlamat_alamat Media NasionalMay 12, '08 10:58 PM
for everyone
1. ANTARA
Wisma ANTARA Lt 19-20,
Jl Medan Merdeka Selatan No. 17, Jakarta 10110
Telp. (021) 3459173, 3802383, 3812043, 3814268.
Fax. (021) 3840907, 3865577
Email : redaksi@antara.co.id,
letter@antara.co.id,
newsroom@antara.co.id

2. BERITA KOTA
Delta Building Blok A 44-45,
Jl Suryopranoto No 1 – 9 Jakpus 10160.
Telp. (021) 3803115.
Fax. (021) 3808721
Email : berikot@biz.net.id

3. BISNIS INDONESIA
Wisma Bisnis Indonesia, Lt 5 – 8,
Jl. KH Mas Masyur No. 12 A Jakpus 10220
Telp. (021) 57901023.
Fax. (021) 57901025
Email : redaksi@bisnis.co.id.
SMS : 021-70642362

4. DETIK.COM
Aldevco Octagon Building - Lantai 2
Jl. Warung Buncit Raya No.75, Jakarta Selatan 12740
Telp. (021) 794.1177.
Fax. (021) 794.4472
Email : redaksi@staff.detik.com

5. HARIAN TERBIT
Jl. Pulogadung No. 15,
Kawasan Industri Jaktim 13920.
Telp. (021) 4603970.
Fax. (021) 4603970
Email : terbit@harianterbit.com.
Sms Korupsi : 0817-9124842

6. SENTANA
Jl. Rawa Teratai II/6, Kawasan Industri
Pulo Gadung, Jakarta Timur 13930.
Telp. (021) 4618318
Fax. (021) 4609079
Email : redaksi_sentara@plasa.com,
harianumumsentana@yahoo.com

7. INDOPOS
Gedung Graha Pena Indopos,
Jl Kebayoran Lama No 12 Jakarta.
Telp. (021) 53699556.
Fax. (021) 5332234
Email : editor@indpos.co.id,
indopos@jawapos.co.id.
Sms Anti Korupsi : 08121945429

8. INVESTOR DAILY
Jl. Padang No. 21 Manggarai, Jakarta Selatan.
Telp. (021) 8311326-27,
Fax. (021) 8310939
Email : koraninvestor@investor.co.id

9. KOMPAS
Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta 10270
Telp. (021) 5347710/20/30, 5302200.
Fax. (021) 5492685
Email : kompas@kompas.com.com

10. KORAN TEMPO
Kebayoran Centre Blok A11-A15,
Jl. Kebayoran Baru Mayestik, Jakarta 12240
Telp. (021) 7255625.
Fax. (021) 7255645, 7255650
Email : koran@tempo.co.id,
interaktif@tempo.co.id

11. MEDIA INDONESIA
Kompleks Deta Kedoya,
Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Jakarta Barat.
Telp. (021) 5812088.
Fax. (021) 5812102, 5812105
Email : redaksi@mediaindonesia.co.id,
Opini : redaksimedia@yahoo.com

12. NON’STOP
Graha Pena, Lt 8 – 9,
Jl. Kebayoran Lama No. 12 Jaksel 12210
Telp. (021) 53699507 ext 20 & 40.
Fax. (021) 53671716, 5333156

13. POS KOTA
Jl. Gajahmada No. 100 Jakarta 11180
Telp. (021) 6334702.
Fax. (021) 6340341, 6340252
Email : redaksi@harianposkota.com

14. RAKYAT MERDEKA
Gedung Graha Pena Lt 8,
Jl. Kebayoran Lama No 12 Jaksel 12210Telp.
(021) 53699507.
Fax. (021) 53671716, 5333156
Email : redaksi@rakyatmerdeka.co.id.
Sms Rakyat Merdeka : 0818167256
Email : dprm_online@plasa.com
BISNIS HARIAN
Telp. (021) 53699534.
Fax. (021) 53699534
Email. : bisnisharian@yahoo.com

15. REPUBLIKA
Jl Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510
Telp. (021) 7803747.
Fax. (021) 7983623
Email : sekretariat@republika.co.id

16. SEPUTAR INDONESIA
Menara Kebon Sirih Lt. 22
,Jl. Kebon Sirih Raya No. 17-19 Jakarta 10340.
Telp. (021) 3929758.
Fax. (021) 3929758, 3927721
Email : redaksi@seputar-indonesia.com.
SMS Sindo : 08888010000

17. SINAR HARAPAN
Jl. Raden Saleh No. 1B-1D Cikini, Jakarta Pusat 10430
Telp. (021) 3913880.
Fax. (021) 3153581
Email : redaksi@sinarharapan.co.id,
info@sinarharapan.co.id, opinish@sinarharapan.co.id

18. SUARA KARYA
Jalan Bangka Raya No 2 Kebayoran Baru Jakarta 12720
Telp. (021) 7191352 dan 7192656.
Fax. (021) 71790746
Email : redaksi@suarakarya-online.com

19. SUARA PEMBARUAN
Jl. Dewi Sartika 136 D Jakarta 13630
Telp. (021) 8014077, 8007988.
Fax. (021) 8007262, 8016131
Email : koransp@suarapembaruan.com.
Sms Forum Warga : 0811130165
E : komentarsp@suarapembaruan.com

20. THE JAKARTA POST
Jl. Palmerah Selatan 15, Jakarta 10270, Indonesia
Telp. (021) 5300476, 5300478.
Fax. (021) 5492685
Email : editorial@thejakartapost.com

21. WARTA KOTA
Jl. Hayam Wuruk 122 Jakarta 11180
Telp. (021) 2600818. Fax. (021) 6266023
Email : mailto:warkot@indomedia.com,
Sms Curhat : 081585490313
Sms Unek-Unek : 081514302389
Sms Kate Aye : 081584317364

22. KCM,
Fax. (021) 5360678,
kcm@kompas.com

23. FORUM KEADILAN
Jl. Palmerah Barat No 23C,
Jakarta Barat 12210
Telp. (021) 53670832.
Fax. (021) 53670832
Email : redaksi@forum.co.id

24. GATRA
Gedung Gatra,
Jl. Kalibata Timur IV No. 15 Jakarta 12740
Telp. (021) 7973535.
Fax. (021) 79196941 - 42
Email : redaksi@gatra.com

25. INVESTOR
Jl. Padang No. 21 Manggarai Jakarta 12970.
Telp. (021) 8280000.
Fax. : (021) 8311329, 83702249
Email : redaksi@investor.co.id

26. KONTAN
Gedung Kontan,
Jl. Kebayoran Lama No 1119 Jakarta 12210.
Telp. (021) 5357636.
Fax. (021) 5357633
Email : red@kontan-online.com

27. PROSPEKTIF
Gedung Teja Buana Lt.2,
Jl Menteng Raya No 29 Jakarta 10340
Telp. (021) 3101427.
Fax. (021) 3102310
Email : info@prospektif.com

28. SWA
Jl. Taman Tanah Abang III/23
Jakarta Pusat 10160
Telp. 3523839.
Fax. (021) 3457338, 3853759
Email : swaredaksi@cbn.net.id

29. TEMPO
Jl. Proklamasi No. 72 Jakarta 10320
Telp. (021) 3916160.
Fax. (021) 3921947
Email : tempo@tempo.co.id

30. TRUST
Jl. KH Wahid Hasyim No. 24 Menteng,
Jakarta 10350
Telp. (021) 3146061.
Fax. (021) 31464111
Email : redaksi@majalahtrust.com

31. WARTA EKONOMI
Gedung Warta, Jl Kramat IV No. 11 Jakarta 10430
Telp. (021) 3153731. Fax. (021) 3153732
Email : redaksi@wartaekonomi.com

32. LAMPUNG POST
Jl. Soekarno Hatta 108 Rajabasa Bandar Lampung
Email : redaksilampost@yahoo.com

33. RADAR LAMPUNG
Jl. Sultang Agung 18 Kedaton Bandar Lampung
Email : radar@lampung.wasantara.net.id

34. SUARA MERDEKA
Jl. Raya Kaligawe KM.5 Semarang
Email : humainia@yahoo.com

35. WAWASAN
Jl. Pandanaran II / 10 Semarang 50241
Email : redaksi@wawasan.co.id

36. BERNAS(Mimbar Bebas)
Jl. IKIP PGRI Sono SewuYogyakarta 55162
Email : bernasjogja@yahoo.com

37. KEDAULATAN RAKYAT
Jl. P. Mangkubumi 40-42 Yogyakarta
Email : redaksi@kr.co.id

38. JAWA POS
Gedung Graha PenaJl. Ahmad Yani 88 Surabaya 60234
Email :

39. PONTIANAK POS
Email : mailto:redaksi@pontianakpost.com

41. PIKIRAN RAKYAT.
Email : mailto:redaksi@pikiran-rakyat.com

42. KALTIM POST
Email : redaksi@kaltimpost.net

43. BALI POST
Email : balipost@indo.net.id

46. SOLO POS
Griya Solo PosJl. Adi Sucipto 190 Solo
Email : redaksi@solopos.net

47. SURYA
Jl. Margorejo Indah D-108 Surabaya
Email : surya1@padinet.com

48. SRIWIJAYA POST
Jl. Jend Basuki Rahmat 1608 BCD Palembang 30129
Email : sripo@mdp.net.id

49. RIAU POS
Jl. Raya Pekanbaru Bangkinang KM 1,5
Email : redaksi@riaupos.co.id

50. BANJARMASIN POST
Gedung Palimasan Jl. Mt. Haryono 143/54Banjarmasin, Kalsel
Email : bpost@indomedia.com

51. MANADO POST
Email : mdopost@mdo.mega.net.id


Blog EntryTujuh Elemen Tulisan MemikatJan 11, '07 10:47 PM
for everyone
Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa — personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas.

Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok. Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.

Tujuh Elemen
Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.

Informasi
Adalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. “Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,” kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat — bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.

Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Fokus
Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. “Less is more,” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.

“Don’t write about Man, write about a man,” kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.

Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.

Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa — trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan — dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.

Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.

“Don’t say the old lady screamed — bring her on and let her scream,” kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.

Bentuk
Tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan –sekaligus — mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.

Suara
Kita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.

Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.

Tulisan Memble: Tujuh Kegagalan

* Gagal menekankan segala yang penting — seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.

* Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.

* Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.

* Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik — organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.

* Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.

* Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.

* Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik — dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah — jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.
Sumber nyontekan:
http://asep.wordpress.com/2006/12/26/tips-penulisan-tujuh-elemen-tulisan-memikat/

LinkALAMAT MEDIADec 15, '06 9:50 PM
for everyone
Link: http://www.alamat-media.blogspot.com/

Alamat-alamat media kucuri dari blog lain he he he

Blog EntryApa Pentingnya Bahasa?Nov 9, '06 2:59 AM
for everyone


Surabaya Post, 11 Desember 2004

Apa Pentingnya Bahasa?


Oleh: Sirikit Syah

Seseorang ditembak mati karena penggunaan bahasa. Seorang menteri di pemerintahan Israel itu sebelumnya  berpidato yang dikutip media massa, bahwa “Bangsa Arab itu adalah two-legged beasts (binatang berkaki dua). Bahkan melihat caranya beranak pinak,
mereka sama dengan lice (kutu).”

Tak berapa lama kemudian, dia ditembak mati oleh gerilyawan Palestina.

Tak terhitung perang antar suku, antar bangsa, kerusuhan di kota besar yang plural, disebabkan oleh penggunaan bahasa. Hate speech. Pernyataan kebencian.

Di Pasuruan, misalnya, tahun 1996, seorang pendeta menerbitkan selebaran gereja yang mengatakan “Nabi Muhammad adalah buta huruf penghuni goa.” Maka terjadilah kerusuhan dan pembakaran sejumlah gereja di wilayah Pasuruan hingga ke Situbondo, yang tentu saja pemberitaannya tak seheboh di era reformasi karena Kami para redaktur- dipanggil Bakortanasda dan diwanti-wanti untuk tidak melaporkannya. Atau kalau
terpaksa dimuat, muatlah di halaman belakang, tanpa foto. Crew TV, jangan ekspos wajah sang pendeta, dst.

Sampai sekarang surat kabar prestisius The Christian Science Monitor tak mau menggunakan kata “insurgent” untuk me-label gerilyawan Irak. Kata redakturnya,
“Insurgent itu artinya pemberontak pada pemerintahan yang sah. Lha, di Irak ini, mana pemerintahannya yang sah?”

Sementara itu, ketika terjadi serangan 9/11 2001, CNN dalam pemberitaannya menggunakan banner “America under Attack”. Ketika menyerang Afghanistan, CNN menggunakan banner “War on Terrorism”. Betapa tidak adilnya. Mengapa tidak “America Attacks Back”, atau “Afghanistan under Attack too”.

Kalau saja semua media berperilaku santun dan menghormatti bahasa seperti the Christian Science Monitor, mungkin Jake Lynch dan Annabel McGoldryck tak perlu meneruskan kampanye Johan Galtung tentang perlunya Peace Journalism. Dalam ajaran mereka (kami telah melatih lebih dari 200 wartawan di wilayah konflik di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2002), penggunaan bahasa merupakan salah satu faktor penting pemicu konflik. Peace Journalism menganjurkan wartawan menghilangkan sterotye (seperti contoh di atas tentang bangsa Arab), membuang label (Tomy Winata marah besar kepada Tempo ketika disebut pemulung), menghilangkan kata sifat, tidak menggunakan kata-kata konotatif atau bermakna ganda, tidak hiperbola, dan seterusnya.

Media massa suka menulis adanya massacre (pembantaian) untuk sebuah pertempuran antar suku atau bahkan sekadar pembunuhan. Padahal yang dimaksud pembantaian
hanya bila korban berjumlah banyak, dan para korban itu sedang tidak sadar akan diserang, dan tidak membawa senjata. Kalau para korban itu tengah berjaga-jaga dengan membawa senjata, itu bukan pembantaian, itu pertempuran. Apalagi kalau sopir angkot Kristen berkelahi dengan preman Islam, lalu keduanya terbunuh. Ini bukan pembantaian Islam atas Kristen atau sebaliknya (kasus konflik Ambon).

Media massa juga suka menggunakan kata `sadis’. Misalnya, “Perempuan itu membunuh pemerkosanya dengan sadis.” Perempuan itu korban perkosaan dan dia membunuh karena membela diri. Tentu tidak sama dengan perbuatan yang dapat dikatagorikan `sadis’, seperti membunuh karena merampok, mencuri, atau balas dendam, melakukan
mutilasi pada tubuh korban dengan penuh kesadaran, menikmati proses pembunuhan, dst.

Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka Jakarta divonis bersalah oleh pengadilan dan dihukum penjara hanya karena penggunaan bahasa yang ceroboh (menggunakan
metafor untuk tokoh riil). RM menulis “Mulut Mega Bau Solar” dan “Mega Lebih Kejam daripada Sumanto”.

Bahasa dan logika

Salah satu syarat utama menjadi wartawan seharusnya penguasaannya atas bahasa, bukan sekadar ketrampilannya melakukan wawancara (lihat hasilnya ditalk show TV dan radio, bagaimana mereka menjadikan diri mereka pusat perhatian dengan kelincahannya
`menginterogasi’ narasumber). Masih sering kita baca “Pencuri itu berhasil ditangkap polisi”. Siapa yang berhasil? Kalau pencuri berhasil, dia tak akan ditangkap polisi, bukan? Pernah juga saya dengar di televisi: “Sistem lalu lintas yang baru ini dapat
memperlancar kemacetan.” Kemacetan kok diperlancar?

Beberapa suratkabar menuai gugatan hanya karena menulis “koruptor”, bukannya “diduga korupsi”. Untuk kasus Laksamana Sukardi, beberapa media menulis
“Lari”, atau “Kabur”. Harian Nusa menulis judul “Laks, Diisukan Kabur”. Bahasa yang digunakan Nusa sudah benar, tapi karena Laks terlanjur marah, Nusa digugat juga.

Noam Chomsky, linguist yang sangat kritis terhadap  media barat, terus menerus mencatat penggunaan bahasa yang menyesatkan oleh media barat. Salah satu bukunya
“International Terrorism” banyak mengupas pilihan kata media barat yang justru menimbulkan kekisruhan dunia. Dia menandai bagaimana seorang anak pelempar batu di
Palestina disebut “teroris” dan tentara Israel menggempur kamp pengungsian disebut “tindakan pencegahan”. Siapa pula yang diberi label “Negara Arab Moderat” (tentu saja yang setuju dengan kebijakan AS!) dan siapa yang “fundamentalis”.

Filsuf China Kong Hu Cu (Confusius, 1551-479 SM), ketika ditanya “Apa yang pertama kali dilakukan, seandainya terpilih menjadi pemimpin negara?”, menjawab, “Tentu saja meluruskan bahasa.” Jawaban ini mengejutkan. Lalu dia menjabarkan: “Jika bahasa tidak
lurus, apa yang dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat tidak diperbuat. Jika tidak diperbuat, moral dan seni merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tidak jelas arahnya, rakyat hanya berdiri dalam kebingungan yang tak tertolong. Maka, tak boleh ada kesewenang-wenangan dengan apa yang dikatan. Ini paling penting di atas segala-galanya.”

Pada akhir tahun 2002, sebuah perhelatan Miss World membuat 200 orang tewas dan puluhan bangunan hancur di Nigeria. Pasalnya, publik yang mayoritas Islam telah
menolak penyelenggaraan Miss World itu. Apalagi di bulan Ramadhan. Namun pemerintah tetap mengizinkan pelaksanaanya.

Mengkritik para pemrotes kontes Miss World itu, seorang penulis menulis di harian Today. “Seandainya, Nabi Muhammad masih hidup, mungkin dia akan memilih
satu di antara kontestan untuk menjadi istrinya.” Rakyat marah, terjadi kerusuhan, bentrokan dengan tentara, 200 orang tewas, puluhan mobil dan bangunan dibakar. Contoh ini menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh Kong Hu Cu. Kepala negara, penulis yang berpengaruh, jurnalis, mesti hati-hati menggunakan bahasa. Bila bahasa tidak lurus (Nabi Muhammad tidak pernah memperistri orang karena daya tarik fisik!),
dunia kisruh dan porak poranda. Nigeria telah mengalaminya.

Seorang kawan mengatakan, “Bahasa adalah dasar peradaban. Pembentuk karakter. Alat ukur logika. Persoalan pendidikan di Indonesia adalah lemahnya pengajaran bahasa. Tanpa penguasaan bahasa, sains dan tehnologi mustahil berkembang.” Anda tentu mengira kawan saya itu seorang ahli atau sarjana bahasa. Bukan. Dia seorang insinyur.

Menurutnya, insinyur adalah manager, dan manager mesti menggunakan bahasa yang benar agar komunikasi efektif dan pekerjaan berjalan lancar. Tulisan ini saya persembahkan untuk dia sebagai penghormatan saya atas penghormatannya terhadap bahasa.

Sirikit Syah
Waka Stikosa-AWS

Sejak sekolah dasar kita semua diajari bahwa "Bahasa menunjukkan bangsa". Namun tak pernah kita diingatkan bahwa "Bahasa menunjukkan siapa Anda."

 


Blog EntryTips menulis Populer sekali lagi......Aug 1, '06 6:09 AM
for everyone

Dari mas FG milis Jurnalisme


Menulis populer sebenarnya mudah. Menulis populer nampak sulit karena
kita sering terjebak cara berpikir dan kebiasaan yang keliru. Kita
sering keliru menganggap bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan yang
bisa menunjukkan kepintaran penulisnya. Biar kelihatan pintar, kita
memasukkan banyak istilah teknis, istilah asing atau kosakata
sulit--yang ironisnya sering kita sendiri tidak memahaminya.

Penyakit seperti itu mudah menghinggapi kalangan akademisi dan
orang kampus. Tapi, bahkan kini sudah banyak menular ke kalangan
pejabat, aktivis LSM serta wartawan--orang-orang yang sebenarnya punya
kewajiban untuk berkomunikasi secara mudah dan menyebarkan informasi
kepada khalayak luas. Bahasa mereka justru makin sulit dipahami.

Sekadar contoh, belum lama ini saya membaca sebuah judul yang ditulis
oleh Antara, kantor berita paling banyak dikutip di Indonesia:

- Tiga Primata Endemik Indonesia Lahir di TSI Cisarua Bogor
- Kualitas Infrastruktur Jalan di Kalteng Terjadi Degradasi

Judul dan isi tulisan itu meruwetkan hal-hal yang sebenarnya
sederhana. Pada judul pertama si penulis sebenarnya hanya ingin
mengabarkan kelahiran "tiga kera langka di Taman Safari". Dan pada
judul kedua, si wartawan sebenarnya hanya perlu mengatakan "banyak
ruas jalan di Kalimantan Tengah rusak".

Kita bisa menemukan banyak contoh serupa dalam berita koran.

Kenapa kita memakai istilah "korban dievakuasi" padahal yang kita
maksudkan adalah "korban di bawa ke rumah sakit" atau "korban
diungsikan"?

Kenapa kita memakai "kejadian luar biasa (KLB)" untuk "wabah flu
burung" atau "bencana kelaparan"?

Kenapa memakai "stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU)" untuk
sesuatu yang kita kenal sehari-hari sebagai "pompa bensin".

Di samping istilah teknis, kita terlalu sering menggunakan
jargon—istilah dan kosakata yang hanya dipahami di lingkungan tertentu
(di pemerintahan, dan itupun dalam departemen tertentu, di kampus, di
lingkungan akademis tertentu, di lembaga LSM tertentu).

PEMBACA, PEMBACA DAN PEMBACA

Salah satu langkah terpenting dalam menulis populer adalah menyadari
untuk siapa tulisan kita dibaca dan apa tujuannya. Kuncinya: kita
harus paham siapa mereka dan berempati kepada mereka. Berempati
artinya "memudahkan pembaca" bukan menyiksa pembaca, orang-orang yang
telah menyediakan waktu dan mengabaikan kesibukan lain untuk membaca
tulisan kita.

Pembaca media sangat beragam. Tapi, bahkan pembaca koran seperti
Kompas atau majalah seperti Tempo yang relatif terpelajar, harus kita
anggap awam. Maksud saya, pembaca koran dan majalah itu mungkin
seorang bergelar doktor, tapi seorang doktor belum tentu memahami soal
di luar bidang kajiannya. Seorang doktor ekonomi, misalnya, akan awam
dalam bidang hukum atau genetika.

Ukuran awam yang paling mudah: siswa SMA, atau pedagang rokok pinggir
jalan. Ketika Anda menulis, bayangkan apakah tulisan Anda itu bisa
mereka pahami?

Cobalah eksperimen: berikan tulisan yang sudah jadi pada pembantu di
rumah Anda. Bisakah dia memahaminya? Eksperimen ini agak ekstrem, tapi
memacu Anda untuk benar-benar menulis populer.

Eksperimen lain: cobalah menulis panduan "cara memasak nasi goreng
udang" untuk istri/suami atau pacar Anda yang tidak pernah memasak,
dan amati apakah mereka bisa menjalankan panduan itu.

SEDERHANA, SEDERHANA DAN SEDERHANA

Ketika menulis, pakailah kalimat dan paragraf sederhana. Jangan
terlalu panjang, jangan kalimat beranak-cucu. Makin panjang kalimat,
makin mudah kita sendiri sebagai penulis tersesat, dan apalagi pembaca.

Masihkah Anda bisa menunjuk mana subyek, mana predikat dan mana obyek
dalam kalimat itu? Jika tidak bisa, sederhanakan kalimat. Pecah
kalimat panjang menjadi dua atau mungkin tiga.

Pakailah bahasa sederhana yang kita ambil dari kehidupan sehari-hari
di sekeliling kita. Berbicara dan menulis adalah hal yang sama pada
dasarnya, tapi kita sering memandang bahwa menulis harus berbeda dari
ketika kita bicara sehingga justru mempersulit kita, dan mempersulit
pembaca juga.

Tapi, bukan slang, bahasa untuk komunitas tertentu. Hindari ungkapan
bahasa daerah jika kita menulis untuk publik Indonesia. Hindari
"bahasa gaul" yang dipahami oleh kalangan remaja Jakarta. Keren abis?
Kool banget? Lagi bete gue?

Pakailah struktur tulisan yang sederhana yang memudahkan pembaca
mencernanya.

Struktur PROBLEM-SOLUSI (pertama Anda memaparkan problem, dan
setelahnya menggelar pemecahannya), atau

Struktur SEBAB-AKIBAT (Anda bisa mulai dari AKIBAT dulu, sebuah
fenomena yang memiliki dampak kepada pembaca, lalu memaparkan
sebab-sebab kenapa itu terjadi).

HINDARI ISTILAH ASING

Makin hari media kita dipenuhi oleh bahasa asing, terutama Inggris.
Sebagian tak terhindarkan; dunia kita makin sempit dan bahasa
internasional yang paling banyak lalu-lalang memang bahasa Inggris.
Tapi, kita harus sadar bahwa kita sedang berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia untuk orang Indonesia.

Carilah padan kata dalam bahasa Indonesia, tapi tetap yang populer dan
mudah dipahami. Saya akan tetap memilih efektif dan efisien ketimbang
"sangkil" dan "mangkus". Saya juga cenderung lebih suka memakai kata
men-"download" ketimbang "mengunduh"; saya akan memakai kata
"mengunduh" jika sudah populer kelak.

Tapi, padan kata saja tidak cukup. Kita harus mencari tahu pengertian
dasar sebuah istilah dan mencoba menjelaskan dalam bahasa kita sendiri
sehingga mudah dimengerti. Seorang penulis populer, misalnya, akan
menghindari kata "inflasi" (karena takkan dipahami pedagang rokok
pinggir jalan), dan cenderung memilih "naiknya harga barang dan jasa".

Seorang penulis populer harus berusaha keras, membaca lebih banyak,
dan mencari tahu lebih gigih. Dia harus menguasai setiap istilah yang
dia pakai. Memakai istilah asing tidak hanya menyulitkan pembaca, tapi
bahkan sering menjadi persembunyian seorang penulis yang malas; mereka
asal mengutip saja istilah yang dia sendiri tidak memahaminya.

HINDARI JARGON, SINGKATAN DAN AKRONIM

Jargon, seperti sudah saya sebut, adalah istilah atau kosakata yang
hanya dipakai dan dipahami di lingkungan tertentu.

Lembaga pemerintah adalah salah satu yang paling banyak memproduksi
jargon, yang biasanya dikaitkan pula dengan pemakaian singkatan serta
akronim. Tapi, kebiasaan buruk ini kini telah menyebar luas ke
kalangan akademisi, lembaga swadaya dan bahkan wartawan.

Jargon, akronim dan singkatan paling umum datang dari lingkungan
militer dan polisi—lembaga yang pada umumnya tidak akuntabel. Mereka
memakai jargon, singkatan dan akronim agar kelompok masyarakat lain
tidak paham apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan.

Kita sering mendengar banyak istilah seperti ini tanpa tahu apa makna
sebenarnya: senpi, curas, curat dan sejenisnya. Bahkan jika kita tahu
"curat" adalah akronim dari "pencurian dengan pemberatan" dan "curas"
adalah "pencurian dengan kekerasan", kita tidak bisa membedakannya.
Dalam hidup sehari-hari kita lebih mudah memahami: pencopetan,
perampokan, pembegalan.

Jargon, akronim dan singkatan mempersulit komunikasi yang lancar
antar-berbagai komponen masyarakat. Masing-masing kelompok berbicara
dengan bahasa dan istilah yang hanya dipahami anggotanya. Masyarakat
terpecah dalam pulau-pulau sendiri yang saling asing. Masyarakat sulit
saling-memahami dan sulit mengerahkan upaya bersama untuk keluar dari
kiris mereka.

Jargon, akronim dan singkatan juga sering menjadi tempat persembunyian
kebohongan serta kejahatan. Masyarakat akan lebih mudah memahami
krisis ekonomi yang melanda negeri ini, misalnya, jika kita mengganti
kata "obligasi rekap" (jargon ekonomi) dengan "rakyat Indonesia yang
miskin menyumbang Rp 700 triliun untuk para bankir dan konglomerat".

Penulis populer harus berusaha keras menghindari jargon, akronim dan
singkatan. Mereka perlu bekerja keras untuk memakai bahasa dan istilah
yang dipahami secara relatif universal oleh pemakai bahasa Indonesia.

SPESIFIK DAN KONGKRET

Tulisan populer perlu menyajikan sesuatu yang nyata dan spesifik,
bukan pernyataan-pernyataan yang abstrak dan kabur.

Dalam beberapa contoh di atas, kita juga bisa melihat bahwa pemakaian
jargon sering mencegah kita untuk mengungkapkan sesuatu yang kongkret
dan spesifik. Singkatan KKN, misalnya, adalah sesuatu yang abstrak dan
ambigu. Kenapa kita tidak menulis "mencuri uang publik", "berkomplot
membobol duit rakyat" dan "membiarkan anak dan istri terlibat bisnis
pemerintah".

Belakangan ini kita sering mendengar seorang pejabat polisi mengatakan
"kasus ini sedang kami kembangkan". Kita tidak tahu persis apakah yang
dimaksud adalah "tersangka sudah ditahan", "saksi sudah diperiksa"
atau "bukti sedang dicari dan diuji di laboratorium forensik"?

Salah satu cara menyajikan tulisan spesifik adalah dengan meniadakan
kata sifat dan mengambil prinsip "tunjukkan/lukiskan, bukan katakan".

Tinggi. Seberapa tinggi: dua meter, setinggi menara Monas?
Kaya. Seberapa kaya: punya sedan Jaguar lima biji?

Kita juga sering mendengar para pejabat atau akademisi mengatakan,
misalnya, "BUMN perlu direstrukturisasi". Istilah "restrukturisasi"
ini bersifat abstrak. Apakah maksudnya "beberapa perusahaan pemerintah
perlu ditutup", "karyawannya dikurangi" atau "sahamnya dijual kepada
pengusaha swasta"?

Banyak pertanyaan pejabat, politikus dan akademisi di media
mengucapkan jargon untuk menghindar dari membuat janji yang kongkret
dan spesifik, atau justru melakukan sesuatu yang sebaliknya.

Kita belum lama ini mendengar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
meluncurkan kebijakan "New Deal". Tak hanya ini problem karena memakai
bahasa Inggris, lebih dari itu kita tidak paham kebijakan kongkret apa
sebenarnya yang terkandung dalam istilah itu.

Kebijakan "New Deal" diperkenalkan Presiden Amerika Franklin Delano
Roosevelt menyusul "Great Depression", krisis ekonomi 1930-an, yang
memicu pengangguran dan kemiskinan hebat. Roosevelt "membangun
kesepakatan baru" dengan rakyatnya lewat kebijakan kongkret memperluas
lapangan kerja, memperbanyak anggaran publik dan mengencangkan peran
negara dalam membela hak-hak orang miskin.

Benarkah "New Deal" Yudhoyono memang isinya kebijakan kongkret
bagaimana mengurangi kemiskinan, memperluas langan kerja dan
memperbesar anggaran publik terutama dalam membantu orang miskin?

DETIL YANG RELEVAN

Menulis populer adalah menulis jelas. Untuk menjadi jelas kita kadang
harus menyajikan sesuatu secara rinci atau mendetil. Tapi, kita harus
ingat bahwa terlalu banyak detil justru sering mengganggu pemahaman
dan kelancaran membaca.

Kita harus memilih detil yang relevan. Tulisan yang penuh
detil-tak-relevan adalah seperti pohon yang terlalu banyak cabang,
sehingga pembaca tidak melihat pohon.

Apakah kita harus menyebut RT/RW tempat terjadinya pembunuhan? Apakah
kita relevan menulis nomor polisi sebuah bus yang bertabrakan di jalan
toll dan menewaskan 25 orang? Haruskah kita menulis pasal dan ayat
serta sub-ayat dalam Kitab Hukum Pidana yang dibacakan jaksa dan hakim
di pengadilan?

Jarak Anyer-Panarukan mungkin tepatnya 1.023 km. Tapi, bukankah kita
bisa menulis "jarak Anyer-Panarukan sekitar 1.000 km"?

Tingkat kemiskinan di suatu kabupaten mungkin tepatnya 51%. Tapi,
bukankah tidak salah jika kita menulis "sekitar separo penduduk
Kabupaten Wonosobo miskin"?

Detil memang kadang penting. Tapi, jangan sampai detil itu
menyulitkan, seperti sebuah paragraf dalam berita Harian Kompas di bawah:

"Bali pada tahun 2004 memiliki lahan sawah produktif 142.971 hektar,
menyusut sekitar 1.306 hektar dari tahun sebelumnya (2003) yang total
arealnya 144.277 hektar. Tahun 2000 areal sawah Bali seluruh seluas
153.228 hektar."

Paragraf ruwet yang terlalu banyak angka ini bisa ditulis lebih
sederhana tanpa menghilangkan pesan utamanya:

"Lima tahun terakhir Bali kehilangan lahan sawah sekitar 10.000 hektar."

BUAT ANALOGI

Beberapa konsep dan angka yang abstrak dan ruwet bisa disederhanakan
dalam analogi yang mudah dicerna pembaca.

Lahan pekarangan seluas 3 ha misalnya bisa dianalogikan dengan "lahan
seluas tiga kali lapangan sepakbola".

Banyak kabupaten di Kalimantan memiliki ukuran sangat luas. Kabupaten
Kasongan di Kalimantan Tengah, misalnya, seluas 17.800 km2. Tapi, kita
bisa menulis untuk pembaca di Jawa dengan begini: "Kabupaten Kasongan
memiliki luas sekitar separo Propinsi Jawa Tengah".

(Ingat: di sini penulis harus menambah riset, mencari tahu berapa luas
Propinsi Jawa Tengah. Menulis populer memang memerlukan usaha lebih
keras.)

KESIMPULAN

Menulis populer adalah menulis dengan kesadaran penuh akan pembaca.
Penulisnya mampu ber-EMPATI kepada pembaca, tidak mempersulit atau
bahkan menyiksa pembaca.

Penulisnya mampu berpikir sederhana. Dia memilih bahasa dan istilah
sederhana dengan tujuan orang memahami apa yang dia tulis, bukan
mengakui kepintarannya.

Tulisan populer justru menuntut penulis untuk benar-benar menguasai
persoalan (dia harus belajar dan membaca lebih banyak) dan bekerja
lebih keras (dia perlu berusaha menyederhanakan sajian, mencari
analogi dan sebagainya).

[SEKIAN]


Blog EntryMenghindari Kata SifatJul 26, '06 2:43 AM
for everyone

Menghindari Kata Sifat
Farid Gaban | 16 May 2006
Tulisan yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata-kata sifat seperti tinggi, kaya, cantik, dan kata tak tidak spesifik, cukup besar, lumayan heboh, keren abis.

Kuncinya: ”Show it…. Don’t tell it”

Contoh:

1. Konser Peterpan itu heboh banget.

Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200 sudah habis ludes sebulan sebelum pertunjukan.
Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu ”Ada Apa Denganmu”.

2. Bangunan itu cukup tinggi

Hotel berbintang lima itu terdiri atas 25 lantai, tinggi totalnya menyamai Menara Monas

3. Ahmad seorang petani miskin.

Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap rumbia.
Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.

4. Rumah Haji Kalla sangat luas.

Rumah Haji Kalla berarsitektur Jawa dibangun di atas tanah seluas 0,5 hektar, atau setengah lapangan bola.

5. Mak Eroh marah besar.

”Pemerintah zalim!” kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kanaikan harga solar.*

 


Blog EntryTips: Non Fiksi Kreatif (4)Jul 26, '06 2:21 AM
for everyone

Teknik Penulisan Non-Fiksi-Kreatif untuk Pemula (4)
Farid Gaban | 7 April 2006
Menggunakan Elemen Fiksi (Tulisan ke-3 dari 7 tulisan)

Kunci kreativitas non-fiksi terletak pada kreativitas tulisan itu sendiri, yakni penggunaan elemen-elemen dalam cerpen dan novel secara imajinatif untuk menghidupkan tema-tema non-fiksi.

Teknik sama yang memberi energi untuk cerpen atau novel bisa digunakan untuk memperkaya tulisan non-fiksi.
Bayangkan menggunakan latar (setting) dalam karya non-fiksi dengan cara yang sama Anda gunakan dalam karya fiksi. Bagaimana dengan pengembangan karakter? Bayangkan bagaimana percakapan yang Anda tulis dalam esai akan kelihatan lebih riil jika Anda mendramatisasinya dalam adegan, seperti dalam fiksi.

Pada bagian ini, kita akan melihat latar, penokohan (karakterisasi), dialog dan dramatisasi, dan plot. Kita juga akan mengulas secara singkat teknik-teknik lain.

Latar (Setting)

Dalam fiksi, kita cenderung berpikir bahwa latar hanyalah sekadar ruang dan waktu tempat cerita berlangsung. Kejadian harus berlangsung di suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu (hari, musim, tahun). Tapi, latar sebenarnya bisa lebih dari sekadar dimana dan kapan cerita berlangsung.

Latar bisa memperkaya suasana (mood) dan atmosfer cerita, yang akan mempengaruhi apa yang dicerap pembaca. Latar bisa bersifat simbolik. Cerita tentang perjalanan seorang tokoh di tengah gurun mencari oasis, misalnya, bisa disimbolkan sebagai perjalanan dari neraka ke surga, dan mungkin juga mencerminkan perjalanan emosional si tokoh. Latar pun bisa bertindak sebagai sebuah karakter, mempengaruhi pilihan karakter-karakter lain dan mempengaruhi plot.

Tulisan non-fiksi bisa memiliki satu latar, atau mungkin beberapa latar (multi-setting). Ketika Anda merencanakan menulis non-fiksi-kreatif, pertimbangkan baik-baik dalam penulisan latar bahwa apa yang Anda tulis akan segera terjadi atau sudah ada sebelumnya (bukan khayalan Anda).

Bagaimana Anda memaparkan sebuah latar yang bertujuan menciptakan mood tertentu? Pertimbangkan bahwa latar yang sama tapi dideskripsikan dengan cara berbeda, menggunakan kata-kata berbeda, ternyata bisa memberikan mood yang berbeda. Mood seperti apa yang Anda inginkan dalam cerita? Jika Anda menulis tentang polusi, misalnya, Anda mungkin ingin menciptakan mood yang menakutkan, bagaimana polusi sebenarnya seperti setan atau monster yang mengancam hidup kita. Atau, jika sudut yang ingin Anda ambil adalah memberikan harapan bagi dunia, Anda mungkin akan memilih mood yang positif, bagaimana orang-orang bisa bekerja sukarela membersihkan sumber-sumber air untuk secara perlahan-lahan memerangi polusi. Dapatkah Anda menangkap mood yang berbeda di sini?

Cara Anda menggunakan latar mesti selaras dengan cara Anda menciptakan mood tertentu yang Anda inginkan.

Bagaimana latar bisa berfungsi sebagai sebuah karakter? Dalam contoh di atas, latarnya adalah para korban akibat keganasan polusi, atau pasien sakit yang harus disembuhkan dengan aksi orang-orang yang membersihkan polusi. Bagaimana agar latar bisa berpartisipasi aktif dalam kejadian ini? Pikirkan tentang cuaca, kebakaran hutan, atau bencana besar yang timbul.

Juga pikirkan memberikan potensi simbolik pada latar ini (beberapa simbol ini bisa dikaitkan dengan mood juga). Tapi Anda harus hati-hati dengan simbolisme, karena dengan mudah bisa menjadi berlebihan, sehingga tulisan Anda tidak lagi bisa dikategorikan sebagai non-fiksi. Terkadang, jauh lebih baik menempelkan simbol belakangan sampai Anda menyelesaikan naskah—lihat dulu apa yang akan muncul dari tulisan Anda secara alamiah daripada memaksakan simbol ke dalam tulisan Anda.

Bacalah lebih banyak novel dan cerpen, serta galilah lebih jauh cara-cara penggunaan latar seperti dalam fiksi, dan Anda akan menemukan sumber inspirasi yang kaya untuk digunakan dalam tulisan non-fiksi Anda. Bereksperimenlah, dan Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan muncul dari eksperimen Anda.

Penokohan (Karakterisasi)

Salah satu unsur terpenting dari karya fiksi yang bagus adalah pengembangan karakter, dan hal yang sama juga bisa diterapkan dalam non-fiksi. Pikirkan tentang sebuah novel yang Anda baca dan bagaimana Anda “bertemu” dengan tokoh-tokoh utamanya. Apakah semua hal tentang seorang tokoh dideskripsikan sekaligus dalam satu waktu? Ataukah Anda secara bertahap mengenali watak sang tokoh secara lebih baik semakin dalam Anda membaca novel tersebut?

Agar karakter-karakter bisa dipercaya, penulis menggunakan sejumlah metode karakterisasi. Penulis mungkin secara langsung mengatakan:

“John memiliki perangai yang buruk.”

Atau penulis mungkin menggunakan tokoh lain untuk mengatakan watak seorang tokoh lain (saling memberi tahu satu sama lain):
“Hati-hati dengan John,” ujar Sam. “Dia memiliki perangai yang buruk.”

Terutama dalam non-fiksi, cara paling efektif dan dipercaya untuk mengembangkan sebuah karakter adalah dengan memperlihatkan tindakan-tindakan si tokoh dan mengutip ucapannya. Kita belajar lebih banyak tentang orang lain melalui apa yang mereka katakan dan lakukan daripada apa yang dikatakan orang lain tentang mereka. Kita harus melihatnya sendiri agar bisa benar-benar percaya.

Baik dalam karya fiksi maupun non-fiksi yang bagus, penulis akan menggunakan semua teknik, tapi menggunakan teknik memperlihatkan (deskripsi ketimbang narasi) adalah yang paling penting dan efektif.
“To show, not to tell”. Dan ini penting terutama dalam tulisan non-fiksi.

Perlihatkan kepada pembaca seperti apa tokoh-tokoh tulisan Anda, juga perlihatkan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Dan yang terpenting, perlihatkan pada pembaca tindakan-tindakan yang dilakukan tokoh-tokoh itu, dan kutip perkataan mereka sehingga pembaca bisa memutuskan sendiri seperti apa watak tokoh-tokoh itu.

Sama seperti latar, Anda memiliki kontrol atas apa yang penulis pikirkan tentang tokoh yang Anda tulis. Dengan memilih tindakan yang diperlihatkan dan mengutip ucapan tokoh cerita Anda, Anda bisa menciptakan beragam karakter: sekejam-kejamnya, atau justru semanis-manisnya; hanya sekadar lembut atau kasar.

Cara Anda mengungkapkan tokoh cerita, karakter-karakter Anda, tergantung pada fokus tulisan Anda (sama halnya dengan latar tadi). Menggunakan contoh polusi lagi, jika Anda ingin menunjukkan dampak limbah industri, Anda bisa menunjukkan pemilik pabrik pulp sebagai orang yang tidak peduli lingkungan. Padahal bisa saja si pemilik pabrik pulp sebenarnya ayah yang penuh kasih dan lembut pada anak-anaknya dan juga suami yang romantis pada istrinya, tapi Anda harus mempertimbangkan pengaruh apa yang ditimbulkan detail ini pada tulisan yang Anda buat.

Anda juga bisa menggunakan teknik karakterisasi ketika Anda mencoba memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang sang tokoh (daripada hanya sekadar memperlihatkan beberapa aspek yang pas dengan angle cerita Anda). Ketimbang memilih hanya beberapa hal yang menarik dan berbicara, perlihatkan saja pilihan yang bisa mewakili sang tokoh. Dengan cara itu pembaca bisa melihat sang tokoh sebagai seseorang dengan tiga dimensi dan kadang penuh kontradiksi (seperti yang biasa dilakukan dalam fiksi yang bagus).

Dialog dan Dramatisasi

Kita sudah bicara sedikit tentang mengutip kata-kata dari tokoh yang sedang Anda tulis. Bagaimana jika kita tidak sekadar mengutip, tapi justru menggunakan dialog? Memasukkan sebuah percakapan yang utuh antara dua atau lebih orang (dengan memotong bagian yang membosankan, tentunya) memperlihatkan bagaimana mereka berinteraksi. Memberikan pada pembaca keduanya—tentang apa yang dikatakan tokoh dan apa yang membuat si tokoh mengatakannya—atau apa yang orang lain katakan untuk menjawabnya, juga akan memberikan pandangan yang lebih luas tentang orang-orang yang terlibat. Dialog yang kontekstual kelihatan lebih riil pada pembaca daripada potongan kalimat yang terpisah (meskipun bagian ini juga memiliki kegunaan sendiri).

Jika Anda bermaksud mengutip sebuah percakapan, mengapa tidak mengambil satu langkah lebih jauh dan mendramatisirnya dalam sebuah adegan? Perlihatkan tindakan-tindakan tokoh saat dia berbicara, deskripsikan tingkah laku tokoh, kegugupan, atau ekspresi wajah. Dramatisasi adegan akan membuat hidup sang tokoh.

Ingatlah bahwa setiap penggalan dialog atau tindakan perlu dipilih dan ditekankan (artinya didramatisasi). Tidak semuanya harus dikatakan atau dilakukan dengan cara yang sama pentingnya. Gunakan dramatisasi hanya untuk percakapan yang paling signifikan dan buatlah percakapan itu benar-benar memikat sehingga terus lekat di benak pembaca.

Plot

Bagaimana plot digunakan dalam karya non-fiksi? Bukankah Anda berurusan dengan hal-hal yang riil, jadi Anda tidak bisa memanipulasi kejadian? Benar, tapi ingatlah bahwa cerita adalah kejadian yang bergerak, dan plot adalah kejadian yang sengaja diciptakan penulis. Jadi Anda bisa mengambil sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, dan mengungkapkannya kepada pembaca dengan cara apapun yang Anda sukai. Anda bisa mendeskripsikan kejadian dengan cara yang memungkinkan Anda bisa menyampaikan pesan secara lebih baik kepada pembaca.

Kilas balik atau flashback (atau bahkan kejadian di masa depan) dapat digunakan sama efektifnya dalam karya fiksi maupun non-fiksi. Anda yang memegang kendali atas tulisan Anda, jadi Anda bisa memilih bagaimana menyajikannya kepada pembaca.

Teknik-teknik Fiksi Lainnya

Elemen-elemen fiksi di atas adalah bagian yang paling berguna untuk non-fiksi kreatif, tapi sebenarnya setiap teknik fiksi bisa saja digunakan untuk non-fiksi. Bagaimana, misalnya, dengan sudut pandang? Apakah cerita dengan sudut pandang orang pertama cocok dengan tulisan Anda? Jika kejadian yang Anda tulis merupakan kejadian yang terjadi pada Anda sendiri, sudut pandang orang pertama mungkin akan baik. Tapi mungkin kejadian itu terlalu menyedihkan atau terlalu memalukan bagi Anda; kalau ini yang terjadi, Anda bisa memilih memberi jarak pada diri Anda sendiri dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Tone (nada cerita) juga alat lainnya yang berguna. Haruskah Anda menulis dengan nada suara Anda sendiri, atau mengadopsi suara yang lain? Jika Anda menulis sesuatu yang bernuansa akademik, nada suara yang kedengarannya seperti seorang profesor mungkin akan lebih berhasil. Atau mungkin jika Anda menginginkan nada suara yang intim, suara rahasia, untuk sebuah tulisan rahasia; atau nada suara yang berjarak, obyektif untuk tulisan tentang hukuman mati (atau mungkin suara yang sangat personal untuk tulisan tentang hukuman mati—pertimbangkan bagaimana dua kemungkinan ini akan mempengaruhi nuansa tulisan Anda).

Sekali lagi, galilah elemen dan teknik-teknik fiksi yang Anda pikir bisa berguna untuk tulisan non-fiksi. Struktur, jenis prosa, bahasa, metafora, dan semua hal yang bisa digunakan untuk tulisan non-fiksi kreatif.

Menghidupkan Karya Non-Fiksi Anda

Seperti Anda bisa menghidupkan tokoh, latar, dan kejadian, Anda juga bisa menghidupkan subyek—orang, tempat, objek, atau apapun itu—dalam non-fiksi kreatif. Pinjamlah teknik fiksi secara imajinatif untuk menulis non-fiksi. Bacalah lebih banyak novel dan cerpen, amati penggunaan elemen-elemen yang ada di situ, dan jika Anda menilainya berhasil, , cobalah menggunakannya lain kali saat Anda menulis non-fiksi.
Teruslah kreatif dan imajinatif.

--
Naskah Asli: "Creative Writing for Teens" by Mary NicoleSilvester
Sumber: www.about.com
Penerjemah: Uly Siregar/Agnes Nauly Sianipar
Editor: Farid Gaban
Tulisan ini juga dimuat di www.penaindonesia.com
--


Non-Fiksi-Kreatif untuk Pemula (3) - Bentuk Jarang Dipakai
Farid Gaban | 9 March 2006
Non-Fiksi-Kreatif untuk Pemula (3)

Bentuk-Bentuk Lain yang Relevan
(Tulisan ke-3 dari 7 tulisan)

*Pengantar

Pada bagian sebelumnya kita sudah membahas beberapa bentuk-bentuk yang bisa Anda gunakan ketika menulis non-fiksi-kreatif.
Kini kita akan melihat beberapa bentuk yang jarang dipakai namun bukan berarti Anda tak boleh mencobanya.

Ada beberapa format non-fiksi yang paling kurang kreatif—yakni, artikel jurnalistik, artikel ilmiah, dan buku-buku referensi. Di bawah nanti juga ada beberapa bentuk yang jarang digunakan dalam non-fiksi-kreatif, namun lebih potensial—yaitu biografi dan surat.

*Artikel Jurnalistik

Membaca artikel di surat kabar (kecuali dalam rubrik seperti “seni” atau “kehidupan”), Anda akan menemukan kesamaan: informasi disusun secara hati-hati dalam struktur sedemikian sehingga pembaca mendapatkan fakta-fakta utama sesaat setelah membaca: yakni tentang siapa, apa, kapan, dan dimana; biasanya pada kalimat pertama. Setelah itu, artikel jurnalistik meluas secara bertahap, menambahkan unsur-unsur mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi. Ini dilakukan sedemikian rupa sehingga seberapa banyak pun dipotong agar muat dalam ruang koran, artikel tersebut akan tetap memuat informasi yang penting.

Tentu saja ada beberapa jenis jurnalisme disamping berita koran. Cerita feature dan artikel majalah cenderung tidak terstruktur secara kaku, dan memberikan ruang bagi kreativitas. Artinya ada tumpang-tindih antara jurnalisme dan non-fiksi-kreatif, dan batasan itu tergantung pada pendapat Anda.

*Artikel Ilmiah

Seperti artikel jurnalistik, artikel ilmiah disusun untuk secara efektif menyajikan informasi. Mirip seperti esai, artikel ilmiah umumnya dibuka dengan ringkasan tentang apa yang hendak disampaikan, kemudian menyertakan bukti dan argumentasi atau informasi yang mendukung, yang diakhiri dengan ringkasan dan kesimpulan.

Artikel ilmiah biasanya ditemukan dalam jurnal ilmiah, yang dipublikasikan untuk kalangan terbatas maupun masyarakat umum. Contohnya, Medika, jurnal kedokteran di Indonesia. Jurnal seperti ini umumnya diterbitkan oleh asosiasi ilmuwan dan profesi.

Karena artikel-artikelnya ditujukan untuk pembaca dari kalangan terbatas dan ditujukan untuk menyampaikan informasi secara spesifik, hanya ada sedikit ruang untuk kreativitas (meskipun masih memberikan kesempatan untuk tulisan yang baik). Seperti halnya artikel koran dan breaking news, artikel ilmiah yang kreatif hanya digunakan untuk mengkomunikasikan isi artikel.

*Buku Referensi

Buku-buku referensi muncul dalam berbagai bentuk, dari kamus hingga studi bidang-bidang tertentu. Beberapa buku referensi hanya menyediakan sedikit ruang untuk kreativitas ketimbang buku-buku lain. “Buku-buku referensi” sejati—seperti kamus, thesaurus, ensiklopedi, dan sejenisnya—memiliki masalah komunikasi yang sama seperti karya jurnalistik atau ilmiah: informasi harus jernih, dan kreativitas dikhawatirkan mengaburkan kejelasan informasi. Kamus, misalnya, harus memberikan informasi singkat dengan cara yang sudah baku; tidak banyak ruang untuk non-fiksi-kreatif di sana (meskipun bisa saja seseorang meminjam format kamus dan bermain-main dengan cara menyajikan informasi secara menarik).

Tapi bagaimana dengan buku yang mendiskusikan tentang sebuah topik secara mendalam? Jelas ada ruang untuk non-fiksi-kreatif di sana. Buku tentang “Asal Muasal Pohon Durian”, misalnya, bisa dianggap buku referensi namun sekaligus disajikan dengan cara kreatif. Buku ini bisa menyajikan berbagai jenis informasi yang berbeda, seperti halnya karya buku referensi, tapi tidak disajikan dengan cara yang biasa dipakai buku referensi yang biasanya memudahkan pembaca mencari bagian spesifik. Buku ini bisa memadukan kekayaan informasi dan cara penyajian yang menarik, bahkan untuk pembaca yang tidak memiliki antusiasme tentang pohon durian.

Bagaimanapun, karena bertujuan menyajikan informasi secara spesifik, sebuah buku referensi tidak terlalu berguna sebagai bentuk non-fiksi-kreatif.

*Biografi

Biografi adalah karya tulis tentang kehidupan orang lain (bukan kehidupan Anda sendiri, yang dikenal sebagai otobiografi). Umumnya biografi berisi kisah tentang orang terkenal—bintang film, tokoh sejarah penting, ilmuwan yang mengubah dunia, dan sebagainya—tapi beberapa penulis sukses juga menyajikan cerita orang-orang biasa.

Otobiografi lebih gampang dibuat dalam bentuk non-fiksi-kreatif dibandingkan biografi. Otobiografi bisa dengan mudah memasukkan banyak hal seperti menyelipkan puisi karya Anda sendiri, menyalurkan kemampuan Anda menulis, atau melakukan apapun yang pantas, hal-hal yang tidak bisa dilakukan ketika Anda menulis tentang orang lain. Anda juga tidak bisa benar-benar menciptakan dialog atau adegan dramatis (yang dalam otobiografi Anda bisa memilih adegan dan dialog dari kehidupan Anda sendiri). Biografi mengandung keterbatasan karena ketersediaan materi, dan bukan karena bentuknya.

Dalam biografi mungkin-mungkin saja Anda menciptakan adegan dan dialog, tapi itu artinya Anda menulis novel biografi. Sebuah novel biografi sebenarnya sebuah fiksi yang berdasarkan materi non-fiksi, bukannya sebuah karya non-fiksi yang menggunakan teknik penulisan fiksi. Di sisi lain, jika Anda merekam dialog atau tindakan, Anda bisa menerjemahkannya ke dalam karya non-fiksi tanpa membuatnya menjadi fiksi. Semua itu tergantung materi yang ada.

*Surat Pembaca

Surat, termasuk surat pembaca di koran atau majalah, adalah bentuk tulisan yang jarang digunakan penulis, meskipun kita sering sekali melihat surat. Mengambil bentuk surat dan memadukan subjek non-fiksi di dalamnya mungkin kedengaran terlalu artifisial dan terlalu memalukan (atau terlalu menarik perhatian). Sepertinya surat tidak akan menjadi bentuk karya tulis yang populer lebih dari sekadar tujuan awal ditemukannya surat, tapi terkadang surat bisa berubah menjadi sebuah karya non-fiksi-kreatif secara tidak sengaja. Ada beberapa surat yang bisa diklasifikasikan ke dalam kelas non-fiksi-kreatif. Tulisan itu sangat memikat dan menarik sehingga kita tidak sadar kalau sebenarnya kita membaca sebuah surat yang dimaksudkan untuk dimuat di kolom surat pembaca koran.

*Penutup

Meski semua bentuk di atas kecil kemungkinan bisa “dimainkan” sebagai karya non-fiksi-kreatif, bukan berarti Anda tidak boleh mencobanya. Inti dari non-fiksi-kreatif adalah kreativitas menggunakan bentuk dan isi. Menulis artikel jurnalistik, artikel ilmiah atau buku referensi dalam bentuk non-fiksi-kreatif memang sangat sulit, dan mungkin tidak pas untuk tujuan format tersebut (tapi lakukan saja, jika Anda merasa harus mencobanya).

Di sisi lain, biografi dan surat lebih memungkinkan untuk ditulis dalam bentuk non-fiksi-kreatif. Tapi jangan terlalu dipikirkan apa yang saya katakan, coba saja bentuk-bentuk ini dalam lihat apa yang bisa Anda lakukan.

--
Naskah Asli: “Creative Writing for Teens” by Mary NicoleSilvester
Sumber: www.about.com
Penerjemah: Uly Siregar/Agnes Nauly Sianipar
Editor: Farid Gaban
Tulisan ini juga dimuat di www.penaindonesia.com
--


Blog EntryTips: Non-Fiksi-Kreatif bagi Pemula(2)- BentukJul 26, '06 2:14 AM
for everyone

Non-Fiksi-Kreatif bagi Pemula (2) - Bentuk
Farid Gaban | 22 February 2006


Karya non-fiksi-kreatif dapat mengambil berbagai bentuk. Anda bisa, misalnya, menulis sebuah karya non-fiksi-kreatif dalam bentuk novel (akan dibicarakan lebih lanjut pada tulisan ke-4). Anda bahkan juga dapat menulis puisi non-fiksi, meski karya non-fiksi-kreatif umumnya dianggap sebagai karya prosa.

Meskipun kemungkinannya hampir tak terhingga, ada beberapa bentuk yang lazim dan lebih baik digunakan untuk karya non-fiksi-kreatif, dan kita akan melihat bentuk-bentuk itu di bawah nanti.

Perlu dicatat, kata “bentuk” di sini adalah penyederhanaan, untuk memudahkan diskusi. Beberapa “bentuk” yang dimaksud di sini sebenarnya lebih terkait dengan topik atau mungkin genre.

Di bawah ini, kita akan mengeksplorasi esai, sketsa, sejarah singkat, memoar, dan buku non-fiksi. Bentuk-bentuk ini tidak sepenuhnya milik non-fiksi-kreatif, tapi inilah bentuk yang sering dipakai oleh penulis non-fiksi-kreatif. Bentuk-bentuk ini juga digunakan dalam karya non-fiksi yang non-kreatif; tapi menjadi kreatif ketika penulis secara imajinatif membuatnya lebih dari sekadar “penuturan fakta secara apa adanya”.

ESAI

Anda mungkin masih ingat tipe esai yang pernah dibicarakan dalam kelas bahasa di sekolah. Tapi, di sekolah itu cenderung diajarkan sebagai bentuk tulisan non-fiksi saja. Padahal, esai dapat menjadi bentuk tulisan non-fiksi yang luar biasa kreatif.

Di koran atau majalah, kita menemukan esai dalam tulisan-tulisan opini para pakar, kolom para budayawan dan editorial (tajuk rencana) yang ditulis redaksi media bersangkutan.

Meskipun berbeda, beberapa jenis esai tadi sebenarnya memiliki kesamaan bentuk dasar: mereka selalu dimulai dengan pengantar, yang mengatakan apa yang akan dibahas, kemudian dilanjutkan rangkaian paragraf yang padat dengan bahan-bahan, lalu diakhiri dengan kesimpulan yang menjelaskan semua dalam sebuah keutuhan. Ingat: ”Pengantar > Tubuh > Kesimpulan”.

Bahkan esai kreatif pun memakai bentuk dasar semacam ini. Pertama, biarkan pembaca mengetahui topiknya, kemudian jelaskan intinya (sedikit) dan mengapa itu penting.

Esai mungkin bentuk paling umum yang bisa ditemukan dalam karya non-fiksi-kreatif. Struktur esai kreatif tidak sekaku struktur esai formal, karena ini memang caranya menjadi kreatif.
Anda bisa menyelipkan, misalnya, beberapa baris puisi atau dialog untuk tulisan eksposisi. Atau Anda bisa mengubah urutan tampilan bahan-bahan—menggunakan teknik kilas-balik, atau membuat pembaca penasaran tentang apa yang akan terjadi nanti. Selama Anda tetap menjaga bentuk dasar “pengantar–tubuh–kesimpulan”, Anda tetap bisa membuatnya menjadi esai (atau sesuatu yang mirip dengan esai).

Sebuah esai kreatif, sebagaimana karya kreatif lainnya, bisa membahas beragam topik. Tentang sesuatu yang betul-betul aneh, atau membuat sesuatu yang sangat biasa menjadi aneh. Tulis saja apapun yang Anda inginkan.

Satu cara yang lebih memperkaya pendekatan Anda adalah dengan menggabungkan berbagai jenis isi yang berbeda secara bersamaan. Anda bisa menulis esai tentang pelangi di senja hari, misalnya, yang mengombinasikan sains, mitos, dan pengalaman pribadi.

SKETSA TOKOH

Sketsa tokoh adalah profil singkat dari seseorang yang sangat menarik (atau seorang yang biasa-biasa saja namun beberapa aspek kepribadiannya menarik untuk ditampilkan). Panjangnya sekitar 500 kata atau kurang. Tulisan ini bisa menjadi artikel tambahan atau pendamping dari tema yang lebih panjang. Tentu saja, sketsa tokoh juga dapat berdiri, tapi mereka diperkaya oleh semua hal lain yang terkait dengannya.

Karena umumnya sangat pendek, seringkali sketsa tokoh terfokus hanya pada satu aspek dari tokoh bersangkutan. Misalnya: Ayahku sebagai pahlawan; tetanggaku si pemalas, atau Eros Djarot sebagai politisi (meski dia juga sutradara dan penggubah lagu).

Tidak semua detil tentang Eros Djarot perlu ditampilkan dalam sketsa. Detil-detil perlu dipilih, diambil hanya yang relevan saja dengan tema dia sebagai politisi. Kapan dan kenapa dia tertarik pada politik, misalnya, atau kenapa dia memilih mendirikan Partai Nasional Bung Karno; bukan detil tentang penyakitnya pada masa kanak-kanak. Sekali lagi: detil yang relevan.

Penulisan sketsa tokoh sangat ketat. Sangat singkat. Ukurannya yang pendek tidak memberi ruang untuk kata-kata yang mubazir. Menulis sketsa tokoh adalah seperti menulis cerita pendek mini; merupakan latihan yang bagus bagi penulis yang sering berlama-lama dan menggambarkan terlalu banyak detail. Bentuk penulisan ini memaksa penulis agar lebih fokus. Dibutuhkan disiplin ketat di sini, tapi sketsa tokoh juga bisa bahan bacaan yang sangat menyenangkan dan menghibur.

SEJARAH SINGKAT

Sejarah singkat sebenarnya lebih merupakan topik atau tema ketimbang bentuk. Struktur penulisan sejarah singkat umumnya sama dengan penulisan esai (dan memang bisa berbentuk esai). Karya non-fiksi-kreatif ini menampilkan sejarah dari obyek, tempat atau peristiwa yang khas. Bahkan tempat yang sangat khas (spesifik), misalnya sebuah kamar dalam bangunan besar.

Seperti sketsa tokoh, detil-detil dalam sejarah singkat harus dipilih dan diambil hanya yang relevan saja.

Banyak koran komunitas atau koran lokal, dan bahkan koran besar dan majalah, biasa memuat artikel tentang “sejarah lokal” yang ditulis ringkas dan ketat. Misalnya: Kota Tua Jakarta, Riwayat Taman Surapati, atau Kamar Nyai Roro Kidul di Samudera Beach Hotel.

MEMOAR

Memoar adalah catatan fakta-fakta sederhana tentang masa lalu si penulis. ”Memoar Bung Hatta” adalah salah satu contohnya. Memoar merupakan salah satu jenis non-fiksi, namun umumnya tidak ditulis secara imajinatif.

Jika melibatkan teknik kreatif—misalnya dengan mengambil elemen fiksi atau puisi, serta teknik penuturan cerita rakyat (folklore)—memoar bisa dimasukkan dalam kerajaan karya non-fiksi-kreatif.

Memoar seringkali bisa sepanjang sebuah buku, terutama ketika merekam seluruh hidup penulisnya. Namun, umumnya merupakan cukilan pendek dari hidup penulis, hanya kurun tertentu atau aktivisme tertentu dalam hidupnya,

Memoar bahkan bisa hanya berbahan kumpulan buku/catatan harian tentang peristiwa tertentu atau catatan perjalanan ke tempat tertentu yang ditulis dengan gaya ”aku” (orang pertama).

BUKU NON-FIKSI

Ada beberapa buku non-fiksi yang terfokus pada topik spesifik, seperti kisah perjalanan keliling Jawa dengan sepeda, misalnya, atau cerita mengubah peternakan tua menjadi kebun yang indah. Buku dengan tema seperti itu, sama halnya memoar, bisa menjadi non-fiksi-kreatif, bisa juga bukan, tapi potensi ke arah kreatif sangat besar.
Umumnya, semakin kreatif suatu buku non-fiksi, semakin menarik dibaca.

Tema buku non-fiksi-kreatif bisa apa saja, meski cenderung untuk fokus pada tema spesifik, seperti suatu tempat, atau tentang binatang tertentu.

[BERSAMBUNG]

--
Naskah Asli: “Creative Writing for Teens” by Mary NicoleSilvester
Sumber: www.about.com
Penerjemah: Uly Siregar dan Agnes
Editor: Farid Gaban
Tulisan ini juga dimuat di www.penaindonesia.com
--

 


Blog EntryCara Nulis di HTMLJun 2, '06 12:20 AM
for everyone

Nulis pakai HTML..... lumayan kan..dari Mas Harry Surjadi. Suatu saat aku membutuhkannya

 

HTML Quick Reference V 1.2

(Including HTML 3.2, IE, and Netscape Extensions.)

(For 4.0 extensions, See here)



Basic Structure:

  • <!-- ..... -->
    Specifies a comment. Anything between these tags will be skipped by the browser.

  • <!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 3.2 //EN">
    This is the necessary first element of any HTML 3.2 compliant document.

  • <HTML>.....< /HTML>
    Encloses the entire document.

  • <HEAD>.....< /HEAD>
    Encloses the head of the document. The following optional tags are placed inside the head.
    1. <TITLE>.....< /TITLE>
      Indicates the title of the document that is used as the window caption. This is the second of the two required tags for any HTML 3.2 compliant document.

    2. <BASE href= "http://some.network/file.html">
      Specifies the base URL of the document. This is used when dereferencing relative URLs in the page.

    3. <META attribut1 attribute2>
      This element can be used to specify name/value pairs describing various properties of the document. Below are some examples:
      To have your page automatically reloaded every X seconds, use the following:

      To have a different page automatically loaded after X seconds, use the following:

      To specify an expiration date for the page so that it will be reloaded after a certain date, use:



    4. Currently this tag is not widely supported, however in the future browsers will use a list of these tags to generate a navigation bar for the site. Without browser support, this tag can still be useful for site maintenance.
        Attributes:
      1. REL="..."--Specifies the type of relationship of the link to this page. Possible values are: "home", "toc" (table of contents), "index", "glossary", "copyright", "bookmark", "up", "next", "previous", and "help".
      2. REV="..."--Used instead of REL, this specifies a reverse relationship from this page to the link. Possible values are: "made" (author, set HREF=email address) and all the ones used in REL.
      3. HREF="..."--Specifies the address of the link.
      4. TITLE="..."--Specifies a title for the link.


  • Encloses the main body of the document.
      Attributes:
    1. ALINK="..."--Specifies the color of the activated links in the page.
    2. BACKGROUND="..."--Specifies an image to be tiled as background.
    3. BGCOLOR="..."--Specifies the background color.
    4. BGPROPERTIES=FIXED--Fixes the background image so that it doesn't scroll. (IE)
    5. LEFTMARGIN="n"--Specifies the left margin for the entire page. (IE)
    6. LINK="..."--Specifies the color of the links in the page.
    7. TEXT="..."--Specifies the color of the text in the page.
    8. TOPMARGIN="n"--Specifies the top margin for the entire page. (IE)
    9. VLINK="..."--Specifies the color of the followed links in the page.

      NOTE:Color is always expressed as RGB (Red Green Blue), where each color has a value between 0 and 255 expressed in hex notation. For example, BGCOLOR=#FFFF00 sets the background color to yellow. For more information check out Colors of the Web.

  • <BASEFONT attribute=">
    Sets the default font properties for the entire page.
      Attributes:
    1. SIZE="..."--Sets the size of the font to any number between 1 and 7 with 3 being default. Relative sizes also work, e.g. SIZE=+2 .
    2. COLOR="..."--Specifies the default font color for the page.
    3. Name="..."--Specifies the typeface of the default font.

  • <Hn>...< /Hn>
    Makes the enclosed text a heading of various sizes where n is any number ranging from 1 to 6, and 1 creates the biggest heading while 6 creates the smallest.

  • <ISINDEX>
    Displays a text box indicating the presence of a searchable index. Simply adding this tag will not create a searchable page. The server must be set up to support it.
      Attributes:
    1. ACTION="..."--Specifies the location of the gateway program to which the search string should be passed.
    2. PROMPT="..."--Specifies an alternate prompt for the text box.


Multimedia:

  • <IMG attribute1 attribute2>
    Places an inline image into the document.
      Attributes:
    1. SRC="..."--Specifies the URL of the image.
    2. DYNSRC="..."--Specifies the URL of a video clip or VRML world. An image can also be specified first using SRC= to cover for browsers that do not support videos. (IE)
    3. CONTROLS--Adds a set of controls under the video clip. (IE)
    4. LOOP="n"--For video clips, specifies the number of times to loop the clip. A value of "-1" or "INFINITE" makes it loop indefinitely. (IE)
    5. START="..."--Specifies when the video clip should start playing. Possible values are "FILEOPEN" (default), "MOUSEOVER", or both.(IE)
    6. USEMAP="#map1" --Tells the browser that the image is a client-side clickable image map defined under the name "map1".
    7. ISMAP --Tells the browser that the image is a server-side clickable image map.
    8. ALT="..."--Specifies a text string to be displayed on browsers that do not support inline images.
    9. BORDER="..."--Specifies the width of the border drawn around the image. If BORDER is set to "0", there will be no border even around pictures that are links.
    10. LOWSRC="..."--Specifies the URL of an image to be loaded first, before the image specified in SRC is loaded. LOWSRC usually reefers to a smaller image.
    11. ALIGN="..."--Specifies the alignment of the image.
        Values:
      1. RIGHT or LEFT--Aligns the image to the specified side of the page, and all text is wrapped around the image.
      2. TOP, MIDDLE, BOTTOM, TEXTTOP, ABSMIDDLE, BASELINE, and ABSBOTTOM--Specifies the vertical alignment of the image with other items on the same line.
    12. VSPACE="..."--Specifies the space left between the edge of the image and the items above or below it.
    13. HSPACE="..."--Specifies the space left between the edge of the image and the items to the left or right of it.
    14. WIDTH="..."--Specifies the width of the image. If the width is not the actual width, the image is scaled to fit.
    15. HEIGHT="..."--Same as above ,except it specifies the height of the image.

  • <MAP attribute>...< /MAP>
    Specifies a collection of hot spots that define a client-side image map. The AREA tag can be used inside to define the hot spots.
      Attributes:
    1. NAME="..."--Specifies the name of the map so that it can be referred to later.

  • <AREA attribute1 attribute2>...< /AREA>
    Specifies the shape and size of a hot spot to be used in the definition of a client-side image map. Used inside the MAP tag.
      Attributes:
    1. SHAPE="..."--Specifies the shape of the hot spot. Possible values are RECT, RECTANGLE, CIRC, CIRCLE, POLY, or POLYGON.
    2. COORDS="..."--Specifies the coordinates that define the hot spot's position. Two pairs of coordinates are needed for RECT, three or more pairs for POLY, and one pair of coordinates and a radius for CIRC.
    3. HREF="..."--Specifies the URL that this hot spot points to.
    4. NOHREF--Indicates that this hot spot points to nothing.
    5. TARGET="..."--Specifies which window the link will be loaded into. The target can be a name of a frame that you specified in the FRAME tag or one of the following:
        Values:
      1. "_blank"--Loads the link into a new blank window.
      2. "_parent"--Loads the link into the immediate parent of the document the link is in.
      3. "_self"--Loads the link into the same window. (default)
      4. "_top"--Loads the link into the full body of the current window.

  • <BGSOUND attribute1 attribute2> (IE)
    Specifies a background sound to be played whenever the page is loaded. This "soundtrack" can be either a sample (.wav or .au) or midi (.mid) file.
      Attributes:
    1. SRC="..."--Specifies the URL of the sound to be played.
    2. LOOP="n"--Specifies the number of times the sound will loop. Values of "-1" or "INFINITE" make the sound loop indefinitely.

  • <MARQUEE attribute1 attribute2>...< /MARQUEE> (IE)
    Places a scrolling text marquee into the document.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."-- Possible values of "TOP", "MIDDLE", or "BOTTOM". Specifies the alignment of the text around the marquee with respect to the marquee.
    2. BEHAVIOR="..."--Possible values of "SCROLL" (default), "SLIDE", or "ALTERNATE". Specifies the behavior of the marquee text. "SCROLL" is the default, "SLIDE" makes the text start from off the screen and then stick, "ALTERNATE" makes the text alternate back and forth repeatedly.
    3. BGCOLOR="..."--Specifies the background color of the marquee.
    4. DIRECTION="..."--Possible values are "LEFT" (default) or "RIGHT". Specifies the direction for the text to scroll.
    5. HIGHT="..."--Specifies the height of the marquee in number of pixels or % of screen.
    6. HSPACE="n"--Specifies the left and right margins of the outside of the marquee in pixels.
    7. LOOP="n"--Specifies the number of times the marquee will loop. Values of "-1" or "INFINITE" make the marquee loop indefinitely.
    8. SCROLLAMOUNT="n"--Specifies the number of pixels between each successive draw of the marquee text.
    9. SCROLLDELAY="n"--Specifies the number of milliseconds between each successive draw of the marquee text.
    10. VSPACE="n"--Specifies the top and bottom margin for the outside of the marquee.
    11. WIDTH="..."--Specifies the width of the marquee either in pixel or in a percentage of the screen.

  • <APPLET attribute1 attribute2> parameter1 parameter2 ... < /APPLET>
    Inserts a Java applet in the HTML document. Any text placed between the opening and closing APPLET tags will be displayed by browsers that do not support JAVA.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."-- Possible values of "TOP", "MIDDLE", or "BOTTOM". Specifies the alignment of the text around the object with respect to the object.
    2. ALT="..."--Specifies the text to be displayed by browsers that recognize the tag but cannot show applets.
    3. CODE="..."--Specifies the name of the Java applet.
    4. CODEBASE="..."--Specifies the base address of the applet. The directory in which the applet is located.
    5. HIGHT="..."--Specifies the height of the applet in number of pixels or % of screen.
    6. HSPACE="n"--Specifies the left and right margins of the outside of the applet in pixels.
    7. NAME="..."--Specifies the name of the applet instance, in case there are more than one of the same applet on the page.
    8. VSPACE="n"--Specifies the top and bottom margin for the outside of the applet.
    9. WIDTH="..."--Specifies the width of the applet either in pixel or in a percentage of the screen.
        Parameters:
        These are the applet-specific parameters that are passed as arguments to the program. They are specified as tags within the APPLET tag as follows: <PARAM NAME="..." VALUE="..." >

  • <EMBED attribute1 attribute2>< /EMBED>
    Inserts an embedded multimedia object, such as a sound file or video, into the page. In the future, when the OBJECT tag becomes finalized and well supported, this tag will be obsolete.
      Attributes:
    1. AUTOSTART="..."--Specifies whether the file starts playing right away or not. Possible values are "TRUE" or "FALSE".
    2. HIGHT="..."--Specifies the height of the display in number of pixels or % of screen.
    3. LOOP="..."--Specifies whether the file repeats or not. Possible values are "TRUE" or "FALSE".
    4. NAME="..."--Specifies the name of the object, in case there are other objects that refer to this one.
    5. SRC="..."--Specifies the location of the object file.
    6. WIDTH="..."--Specifies the width of the display either in pixel or in a percentage of the screen.

  • <SCRIPT attribute> ...script statements... < /SCRIPT>
    Encloses scripting language statements to be executed by the browser. To ensure backward compatibility, enclose the script statements in comment tags (<!-- ... -->)
      Attributes:
    1. LANGUAGE="..."--Specifies which language is being used in the script such as "_VBScript" or "_JavaScript".

  • <NOSCRIPT> ... < /NOSCRIPT>
    Encloses anything you want displayed by browsers that do not support inline scripts. These go inside the SCRIPT tags.

Links:

  • <A attribute="...">...< /A>
    When used with the HREF attribute, the enclosed text and/or graphic becomes a link to another document or anchor. When used with the NAME attribute, the enclosed text and/or graphic becomes an anchor.
      Attributes:
    1. HREF="..."--Specifies the URL of the document to be linked to.
    2. NAME="..."--Specifies the name of the anchor you are creating.
    3. REL="..."--Specifies a relative relationship.
    4. REV="..."--Specifies the reverse relationship.
    5. TARGET="..."--Specifies which window the link will be loaded into. The target can be a name of a frame that you specified in the FRAME tag or one of the following:
        Values:
      1. "_blank"--Loads the link into a new blank window.
      2. "_parent"--Loads the link into the immediate parent of the document the link is in.
      3. "_self"--Loads the link into the same window. (default)
      4. "_top"--Loads the link into the full body of the current window.
    6. TITLE="..."--Specifies the title that appears when the link is selected, but not yet clicked.

Lists:

  • <LI attribute>
    Used to mark text as a list item in any of the following list types: <DIR>, <MENU>, <OL>, or <UL>.
      Attributes:
    1. TYPE="..."--Specifies the type of bullet used to label the item. Possible values are: DISC, CIRCLE, SQUARE, A, a, I, i, 1.
    2. VALUE="..."--Specifies the number assigned to the item.

  • <DIR>...< /DIR>
    Puts the enclosed items marked with <LI>, in a directory listing.

  • <MENU>...< /MENU>
    Puts the enclosed items marked with <LI>, in a menu list.

  • <OL attribute>...< /OL>
    Puts the enclosed items marked with <LI>, in a numbered list.
      Attributes:
    1. TYPE="..."--Specifies the type of numbering used to label the item. Possible values are: A, a, I, i, 1.
    2. START="..."--Specifies the starting value for the numbering.

  • <UL attribute>...< /UL>
    Puts the enclosed items marked with <LI>, in a bulleted list.
      Attributes:
    1. TYPE="..."--Specifies the type of bullet used to label the item. Possible values are: DISC, CIRCLE, SQUARE.

  • <DL>...< /DL>
    Creates a definition list. Within this container, <DT> specifies a definition term and <DD> specifies the definition.

Frames:


  • Defines a set of frames that will make up the page. The FRAME, and NOFRAMES tags go inside this. The FRAMESET tag is used instead of the BODY tag. You can, however, include a BODY tag inside the NOFRAMES tags for browsers that do not support frames.
      Attributes:
    1. BORDER="..."--Specifies the width (in pixels) of the border drawn around the frames.(Netscape)
    2. COLS="..."--Creates the frames as columns and specifies the width of each column. Width of the columns can be set using percentages (%), pixels, or relative size (*). For example, if you want your frames to be 3 equally sized columns, you would use: COLS=33%,33%,*
    3. FRAMEBORDER="..."--Specifies whether or not a 3-D border is displayed around the frames. possible values are 0 (no border) or 1 (default).(IE)
    4. FRAMESPACING="..."--Specifies in pixels, the amount of space between the frames.
    5. ROWS="..."--Creates the frames as rows and specifies the width of each row. width of the rows can be set using percentages (%), pixels, or relative size (*). For example, if you want a small frame at the top of your page and one large frame below that, you might use: ROWS=15%,*
    6. SCROLLING="..."--Determines whether or not scroll bars are displayed on all the frames. Possible values are "yes", "no", and "auto".


  • Defines a single frame within a frameset.
      Attributes:
    1. BORDER="..."--Specifies the width (in pixels) of the border drawn around the frame.(Netscape)
    2. FRAMEBORDER="..."--Specifies whether or not a 3-D border is displayed around the frame. possible values are 0 (no border) or 1 (default).(IE)
    3. MARGINHEIGHT="..."--Specifies the top and bottom margins of the frame in pixels.
    4. MARGINWIDTH="..."--Specifies the right and left margins of the frame in pixels.
    5. NAME="..."--Defines a target name for the frame.
    6. NORESIZE="..."--Prevents the frame from being resized by the user
    7. SCROLLING="..."--Determines whether or not scroll bars are displayed along the frame. Possible values are "yes", "no", and "auto".
    8. SRC="..."--Specifies the source file for the frame.

  • <IFRAME attribute1="..." attribute2="...">< /IFRAME> (IE)
    Defines a floating frame. Does not need to be placed within a FRAMESET.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the alignment of the floating frame and surrounding text. Possible values are TOP, MIDDLE, BOTTOM, LEFT, and RIGHT.
    2. FRAMEBORDER="..."--Specifies whether or not a 3-D border is displayed around the frame. possible values are 0 (no border) or 1 (default)
    3. MARGINHEIGHT="..."--Specifies the top and bottom margins of the floating frame in pixels.
    4. MARGINWIDTH="..."--Specifies the right and left margins of the floating frame in pixels.
    5. NAME="..."--Defines a target name for the floating frame.
    6. NORESIZE="..."--Prevents the frame from being resized by the user
    7. SCROLLING="..."--Determines whether or not scroll bars are displayed along the frame. Possible values are "yes" and "no".
    8. SRC="..."--Specifies the source file for the floating frame.

  • <NOFRAMES>...< /NOFRAMES>
    Placed inside the FRAMESET, anything between the beginning and ending of this tag is viewable only by browsers that do not support frames. This tag is used to create pages that are compatible with older browsers that do not support frames.

Tables:

  • <TABLE attribute1="..." attribute2="...">...< /TABLE>
    Creates a table that can include any number of rows.
      Attributes:
    1. BORDER="..."--Specifies the width of the border around the table. If set to 0, there will be no border.
    2. BACKGROUND="..."--Specifies the address of an image to be tiled as background.(IE)
    3. BGCOLOR="..."--Specifies the background color of the table.
    4. BORDERCOLOR="..."--Specifies the border color of the table.
    5. BORDERCOLORLIGHT="..."--Specifies the lighter color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    6. BORDERCOLORDARK="..."--Specifies the darker color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    7. WIDTH="..."--Specifies the width of the table on the page.
    8. CELLSPACING="..."--Specifies the amount of space between the cells in the table.
    9. CELLPADDING="..."--Specifies the amount of space between the edges of the cell and the text inside.
    10. FRAME="..."--Specifies which sides of the outer border of the table are displayed.(IE)
        Possible types:
      1. VOID--No outside borders are displayed.
      2. ABOVE--Displays a border on the top side of the table.
      3. BELOW--Displays a border on the bottom side of the table.
      4. HSIDES--Displays the top and bottom borders of the table.
      5. LHS--Displays the left-hand side border.
      6. RHS--Displays the right-hand side border.
      7. VSIDES--Displays the right and left side borders.
      8. BOX--Displays a border on all sides of the table.
      9. BORDER--Displays a border on all sides of the table.

    11. RULES="..."--Specifies which inner borders of the table are displayed.(IE)
        Possible types:
      1. NONE--No inside borders are displayed.
      2. GROUPS--Displays inner borders between the various table groups such as THEAD, TFOOT, TBODY, and COLGROUP groups.
      3. ROWS--Displays inner borders between the table rows.
      4. COLS--Displays inner borders between the table columns.
      5. ALL--Displays inner borders between all rows and columns.

  • <CAPTION attribute1="...">...< /CAPTION>
    Specifies the caption of the table.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the position of the caption. Possible values are LEFT, RIGHT, BOTTOM, or TOP.

  • <TR attribute1="..." attribute2="...">...< /TR>
    Specifies a table row. It can enclose the table heading and table data.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the horizontal alignment of the row contents. Possible values are LEFT, RIGHT, and CENTER.
    2. BGCOLOR="..."--Specifies the background color for the row.
    3. BORDERCOLOR="..."--Specifies the border color of the row.
    4. BORDERCOLORLIGHT="..."--Specifies the lighter color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    5. BORDERCOLORDARK="..."--Specifies the darker color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    6. VALIGN="..."--Specifies the vertical alignment of the row contents. Possible values are TOP, MIDDLE, BOTTOM, and BASELINE.
    7. HEIGHT="..."--Specifies the height of the cell.

  • <TH attribute1="..." attribute2="...">...< /TH>
    Makes the cell a table heading.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the horizontal alignment of the cell contents. Possible values are LEFT, RIGHT, and CENTER.
    2. NOWRAP--Prevents word wrapping within the cell
    3. BGCOLOR="..."--Specifies the background color for the cell.
    4. BACKGROUND="..."--Specifies the address of an image to be tiled as background.(IE)
    5. BORDERCOLOR="..."--Specifies the border color of the cell.
    6. BORDERCOLORLIGHT="..."--Specifies the lighter color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    7. BORDERCOLORDARK="..."--Specifies the darker color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    8. VALIGN="..."--Specifies the vertical alignment of the cell contents. Possible values are TOP, MIDDLE, BOTTOM, and BASELINE.
    9. ROWSPAN="..."--Specifies the number of rows the cell will span.
    10. COLSPAN="..."--Specifies the number of columns the cell will span.
    11. WIDTH="..."--Specifies the width of the cell.
    12. HEIGHT="..."--Specifies the height of the cell.

  • <TD attribute1="..." attribute2="...">
    These go inside the TR tags and they define the data in a cell. End tag may be used.
      Attributes:
    1. BACKGROUND="..."--Specifies the address of an image to be tiled as background. (IE)
    2. BGCOLOR="..."--Specifies the background color for the individual cell.
    3. BORDERCOLOR="..."--Specifies the border color of the cell.
    4. BORDERCOLORLIGHT="..."--Specifies the lighter color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    5. BORDERCOLORDARK="..."--Specifies the darker color used in creating the 3D borders independently.(IE)
    6. ALIGN="..."--Specifies the horizontal alignment of the cell contents. Possible values are LEFT, RIGHT, and CENTER.
    7. NOWRAP--Prevents word wrapping within the cell
    8. VALIGN="..."--Specifies the vertical alignment of the cell contents. Possible values are TOP, MIDDLE, BOTTOM, and BASELINE.
    9. ROWSPAN="..."--Specifies the number of rows the cell will span.
    10. COLSPAN="..."--Specifies the number of columns the cell will span.
    11. WIDTH="..."--Specifies the width of the cell.
    12. HEIGHT="..."--Specifies the height of the cell.

  • <COLGROUP attribute1="..." attribute2="...">(IE)
    Specifies the properties of one or more columns. This tag generally goes right after the opening TABLE tag.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the position of the text within the cells of the Columns. Possible values are CENTER, LEFT, RIGHT, BOTTOM, or TOP.
    2. SPAN="..."--Specifies the number of columns for which these attributes will apply.

  • <COL attribute1="..." attribute2="...">(IE)
    Used with the COLGROUP tag, this specifies the properties of one column. This tag overrides any attributes specified in the COLGROUP tag that comes right before it.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--Specifies the position of the text within the cells of the Column. Possible values are CENTER, LEFT, RIGHT, BOTTOM, or TOP.
    2. SPAN="..."--Specifies the number of columns for which these attributes will apply.
  • <TBODY>...< /TBODY>(IE)
    Encloses the body of your table. This tag is optional unless you are using the THEAD or TFOOT tags. It used to separate the rows in the table from those in the header or footer.
  • <TFOOT>...< /TFOOT>(IE)
    Encloses the table rows that are to be used as a footer. It is an optional tag and comes right after the ending TBODY element.
  • <THEAD>...< /THEAD>(IE)
    Encloses the table rows that are to be used as a header. It is an optional tag and comes before the opening TBODY element.

Forms:

  • <FORM attribute1="..." attribute2="...">.....< /FORM>
    Specifies a form. Forms can be used to send user input to the server in the form of NAME/VALUE pairs.
      Attributes:
    1. ACTION="..."--Specifies the address to be used in carrying out the action of the form. Usually the address of the CGI file. You can also specify a mailto address to have the contents of the form emailed to you instead of getting passed to the server. (in future browsers)
    2. METHOD="..."--Specifies the method used by the server in sending the form information. Possible values are POST or GET. When GET is used, the server simply appends the arguments to the end of the action address. With POST, the information is sent as an HTTP post transaction.
    3. TARGET="..."--Specifies which window the result of the form will be loaded into. The target can be a name of a frame that you specified in the FRAME tag or one of the following:
        Values:
      1. "_blank"--Loads the result into a new blank window.
      2. "_parent"--Loads the result into the immediate parent of the document the form is in.
      3. "_self"--Loads the result into the same window. (default)
      4. "_top"--Loads the result into the full body of the current window.
    4. ENCTYPE="..."--For future browser. Specifies the type of encoding to use on the form information.

  • <INPUT attribute1="..." attribute2="...">
    Specifies a control or input area for a form, from which a NAME/VALUE pair will be returned to the server.
      Attributes:
    1. ALIGN="..."--If the TYPE is IMAGE, then this specifies the alignment of the surrounding text with the image. Possible values are TOP, MIDDLE, BOTTOM, LEFT, or RIGHT.
    2. CHECKED--Use this attribute in a RADIO or CHECKBOX type, and it will be pre-selected when the form loads.
    3. MAXLENGTH="..."--Specifies the maximum number of characters that can be entered in a text input.
    4. NAME="..."--Specifies the name of the control or input area. (Part of the NAME/VALUE pair)
    5. SIZE="..."--Specifies the size of the text entry area that is displayed by the browser.
    6. SRC="..."--If the TYPE is IMAGE, then this specifies the address of the image to be used.
    7. VALUE="..."--Specifies the value to be submitted along with the corresponding name(Part of the NAME/VALUE pair). Specifies the default text string for TEXT. For RESET and SUBMIT, this specifies the text string to be displayed on the 3-D button.
    8. TYPE="..."--Specifies the type of control being used.
        Possible types:
      1. CHECKBOX--Creates a checkbox. If the user checks it, the corresponding name/value pair is sent to the server.
      2. HIDDEN--Nothing is displayed by the browser, but the information is still sent to the server.
      3. IMAGE--Like the SUBMIT type, you can have the form sent immediately when the user clicks on an image. Along with the normal information, when a from is submitted by clicking on an image, the coordinates of the clicked point (measured in pixels from the upper-left corner of the image) are also sent. The x-coordinate is submitted with a ".x" appended to the name and the y-coordinate has a ".y" appended to the name.
      4. PASSWORD--Creates a single line entry text box just like the TEXT type, however, user input is not echoed on the screen.
      5. RADIO--Creates a radio list of alternatives of which only one can be selected. Each alternative must have the same name, but different values can be assigned to each.
      6. RESET--Creates a 3-D button that clears the entire form to original values when clicked. You can give the button a name by using the VALUE attribute.
      7. SUBMIT--Creates a 3-D button that submits the form when clicked. You can give the button a name by using the VALUE attribute.
      8. TEXT--Creates a single line text entry box. You can specify the size of the text box by using the SIZE attribute.

  • <SELECT attribute1="..." attribute2="...">< /SELECT>
    Creates a drop-down list of items. The list items are defined by the OPTION tags placed inside the opening and closing SELECT tag.
      Attributes:
    1. MULTIPLE--Specifies that multiple items may be selected.
    2. NAME="..."--Specifies the name of the list(Part of the NAME/VALUE pair).
    3. SIZE="..."--Specifies how many items should be visible.

      <OPTION value="...">item
      Specifies an item in the drop down list. Placed within the opening and closing SELECT tags. Any text following the OPTION tag is what the user will see in the list.
      1. VALUE="..."--Specifies the value to be returned (Part of the NAME/VALUE pair).
      2. SELECTED--This item will already be highlighted when the page loads.

  • <TEXTAREA attribute1="..." attribute2="...">...< /TEXTAREA>
    Creates a multi-lined text entry box. Any text placed in between the tags is used as the default text string that is displayed when the page is loaded.
      Attributes:
    1. COLS="..."--Specifies how wide the text box will be.
    2. ROWS="..."--Specifies how high the text box will be.
    3. NAME="..."--Specifies the name of the text box for use by the program that is processing the form.

Style Sheets:

    Style Sheets are a new way to easily and effectively customize web pages in ways that were not possible before. You will be able to specify margins, indents, font faces, and other features to gain control over the exact presentation of your document.

    Style Sheet, as designed by the World Wide Web Consortium, are new to HTML and so far only supported be Microsoft's Internet Explorer 3.0. However, Netscape and other browsers will definitely support these new elements in future releases so it is a good idea to get started on using Style Sheets now.

    There are three ways to add style to your documents: Linking to a style sheet, Adding a style block, or using inline style attributes. In fact, you can use all three if you like. If there is a conflict, the browser will use the most recent style definitions for that occurrence.

  • Linking to a Style Sheet
    You can create a separate text file with a .css file extension and place all your style definitions (explained below) in that file. Then, using the LINK tag, you can link the style definitions to your current document.
    Using this method, you can have one style sheet for the entire site that is linked to each page. That way you can alter the look of all your documents be simply editing the .css file. See syntax below.

    Inside the HEAD tag, add something like this:

    Your Style Sheet might contain something like this:
    H1 {font-size: 20pt; font-weight: bold}
    H2 {font-size: 16pt; font-weight: bold}
    P {margin-left: -20px; margin-right: -20px; margin-top: 30px}
    BODY {background: URL(http://my.server.com/pictures/back.gif); text-indent: 2cm}

  • Adding a Style Block
    To set the style for an entire page, you can place all the style definitions (explained below) inside the <STYLE>.....< /STYLE> tag. This tag goes inside the HEAD of your document. Make sure to enclose the definitions within comment tags so that older browsers do not display them. See example below.

    <HEAD>
    .
    .
    <STYLE TYPE="text/css" >
    <!--
    BODY {font-family: Arial; font-size: 12pt; font-style: italic}
    P {margin-left: 30px; margin-right: 30px; margin-top: 10px}
    -->
    < /STYLE>
    < /HEAD>

  • Inline Style Attributes
    If you simply want to change the style of a particular section of your document, you can do so with the STYLE attribute. You can place this new attribute inside just about any HTML tag, and the style definitions will be in effect until the closing of that tag. Below are some examples.

    To change the color and indent of a certain paragraph, you could do the following:
    <P STYLE="margin-left: 1in; margin-right: 1in; color: #0000FF">
    This text would be indented and blue.
    < /P>

    To change the style for an entire portion of your document, you might do the following:
    <DIV STYLE="margin-left: 0.5in; margin-right: 0.5in; font-family: Arial">
    This whole division of the page will be indented and any text will be displayed in the Arial font.
    < /DIV>

  • Style Definitions
    All three methods of adding style to a document use the same syntax for style definitions. Except for inline attributes, a style definition consists of a tag followed by a list of specifications enclosed in curly braces. You can define styles for any tag in HTML. Once you have specified styles for a certain tag, every time the tag is used, the styling will be in effect. Below is a list of all the style definitions and their possible values.

    1. background -- Specifies a background color or image.
      • Values:  URL|RGB triplet
      • Example:  BODY {background: #FFFFFF}
    2. color -- Specifies the color of the text.
      • Values:  RGB triplet
      • Example:  H4 {color: #000000}
    3. font-family -- Specifies the typeface.
      • Values:  typeface name or list of names
      • Example:  P {font-family: Arial, Helvetica, "Courier New"}
    4. font-size -- Specifies the size of the text.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)|% (percentage)
      • Example:  A:visited {font-size: 14pt}
    5. font-style -- Specifies the style of the text.
      • Values:  italic|normal|oblique|small caps
      • Example:  H3 {font-style: italic}
    6. font-weight -- Specifies the thickness of the text.
      • Values:  extra-light|light|demi-light|medium|demi-bold|extra-bold
      • Example:  H2 {font-weight: bold}
    7. line-height -- Specifies the distance between lines.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)|% (percentage)
      • Example:  DIV {line-height: 20pt}
    8. margin-left -- Specifies the left margin.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)
      • Example:  BODY {margin-left: 3cm}
    9. margin-right -- Specifies the right margin.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)
      • Example:  BODY {margin-right: -0.5in}
    10. margin-top -- Specifies the top margin.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)
      • Example:  BODY {margin-top: 20px}
    11. text-align -- Specifies the justification of the text.
      • Values:  left|center|right
      • Example:  H1 {text-align: center}
    12. text-decoration -- Specifies certain text effects.
      • Values:  none|italic|underline|line-through|overline|blink
      • Example:  A:link {text-decoration: none}
    13. text-indent -- Specifies the text indentation.
      • Values:  pt (points)|in (inches)|cm (centimeters)|px (pixels)
      • Example:  P {text-indent: 0.5in}

  • Additional Options
    1. Grouping
      Certain style definitions can be grouped together in one statement. Instead of using three statements to specify all three margins, you could use the following:
      P {margin: 20px 3cm 3cm}
      The order is top, right, and left.

      You can also group all the font statements together like this:
      A:active {font: bold italic 15pt/22pt Arial, serif}
      The weight and style must be specified first, and the first number represents the size, while the second number represents the line height.
    2. Classes
      You can also define more than one instance of a tag. For example, say you wanted two H1 headings; one that was red and one that was blue. You could define the two tags like this:
      H1.redh {color: #FF0000; font-size: 20pt}
      H1.blueh{color: #0000FF; font-size:20pt}
      Later you could use them like this:
      <H1 CLASS=redh>This will be red< /H1>
      <H1 CLASS=blueh>This will be blue< /H1>


General Formatting:

  • <ADDRESS>.....< /ADDRESS>
    Encloses the signature file of the author of the page. Text is displayed in italics.

  • <B>...< /B>
    Boldfaces the enclosed text.

  • <BIG>...< /BIG>
    Makes the enclosed text one size larger.

  • <BLINK>.....< /BLINK>
    Makes the enclosed text blink continually.

  • <BLOCKQUOTE>.....< /BLOCKQUOTE>
    Encloses a long quote. Both the left and right margins are indented.

  • <BR>
    Inserts a line break.
      Attributes:
    1. CLEAR="..."--Causes the text to stop flowing around any images.
      Possible values are RIGHT, LEFT, or ALL.

  • <CENTER>.....< /CENTER>
    Centers the enclosed elements. This tag will center everything including images, text, tables, forms, etc.

  • <CITE>.....< /CITE>
    Encloses a citation such as the title of a book or paper.

  • <CODE>.....< /CODE>
    Encloses a sample of code. The text is rendered in small font.

  • <COMMENT>.....< /COMMENT>
    Encloses a comment. Text inside the tags is ignored unless it contains HTML code.