Usaha Mengatasinya
Aku suka sekali menghadiri rapat dan meliput acara rapat.
Walau aku seksi logistic msilanya, konsumsi atau seksi ecek-ecek., aku jarang
absent rapat umum. Disitulah aku sering mengamati orang ngomong, mempertahankan
pendapatnya, mendengarkan dan mencari solusi. Unik, menggairahkan, melihat
orang memaparkan idenya orisinilnya, cara bertutur dan menguras pikiran untuk
strategi.
Sesekali aku iseng ikut
menyumbang saran. Nah.. saat memberi saran kadang aku grogi, kupaksa
juga mulut ini ngomong.
Ini nih yang membuat aku ngrogi dan nervous. Ketika giliran
aku ngomong dan diberi kesempatan, tiba-tiba suasana menjadi diam, hening,
sunyi senyap, semua orang tertuju padaku. Wah… aku bertanya padaku, what happen
with me? What’s wrong with me? Please deh… kenapa sih suasananya jadi begini.
Makin berdebar saja jantungku. Help me…
Aku tak biasa menjadi pusat perhatian, itu membuat aku
kikuk, agak tegang dan malah mengoreksi diri kenapa ya dengan aku. Boleh orang
membicarakan aku dibelakang, plis jangan dengan cara itu. Lebih enak menjadi inspirator
dan motivator dibelakang layar.
Dengan sering banyak melontarkan pendapat di setiap rapat
atau pertemuan, ini melatihku. Cara lain aku memperbanyak baca buku manajemen
untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Hidup bergulir, manusia membutuhkan tantangan baru untuk
ditaklukkan. Maka saat panitia Jelita menelponku di pagi hari, 4 jam sebelum
acara dimulai. Mereka memohon maaf dan meminta kesediaanku, aku bilang Insya
Allah. Aku pikir jadi moderator tak lebih berat dibanding jadi pembicara.
Kusiapkan bahan-bahan moderator sambil bertanya pada orang yang sudah biasa tampil public, bagaimana seorang
moderator harusnya tampil. Di sela-sela bekerja kususun ringkasan singkat.
Jam 11.00 aku berangkat ke tempat acara, terus menunggu para
ikhwan meninggalkan kantin untuk shalat Jum’at dan membiarkan pengunjung para
perempuan saja. Aku minta izin ke kamar mandi, kukatakan ke panitia, untuk
menghilangkan ketegangan.
Eh.. ko mendekati acara, aku malah mengantuk, aku teringat
pesan Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, itu ciri orang stress. He
he he he he jadi aku stress nih ya. Lalu aku tertawa, menertawakan diriku sendiri.
MC sejak tadi sudah mengajak kami untuk segera mendekati
tempat acara. Agak ogah-ogahan aku mengikuti sarannya. Deg-degan mulai melanda.
Duh.. piye tho ini.
Aku coba mengusai diriku, meyakinkan diriku. Sejak dulu aku
ingin bisa tampil di publik, ini yang kuinginkan, aku ingin sekali, ini
peluangnya, ini kesempatannya, jarang kesempatan itu hadir. Inilah saatnya,
hatiku menguatkan. Toh, kesempatan itu sudah di depan mata, aku tak bisa
menghindar. Aku harus menghadapi. Kata orang rasa takut membisikkan bahwa
ketakutan itu ada dua : sesuatu yang tak
akan pernah terjadi dan tak bisa dihindari. Aku tak bisa menghindari ini, maka
jadilah aku berani karena tekadku sudah
bulat.
Maka tampillah aku menuju tempat duduk di tengah kantin,
menjadi pusat perhatian kanan-kiri, depan belakang pengunjung plus para
pedagang. Menyebalkanya ternyata masih ada beberapa laki-laki yang belum pergi
ke masjid, duh. Semua kata negative di benakku kurubah. Kuteriakkan dalam hati
dan berjanji akan kuberikan yang terbaik, it’s me.
“Assalamu’alaikum wr wb” Sapaanku, belum mendapat sambutan
dan menarik perhatian seluruh hadirin, “Hello, Assalamulaikum wr wb” .
Terdengarlah balasan yang cukup keras di sekelilingku.
Kugemakan suaraku, kuberikan prolog dan kudekati pengunjung
untuk mencari testimoni tentang tema acara hari itu “Agenda Terselubung di
Balik Kedatangan Bush”. Namanya juga talkshow. Aku yang harus aktif mendekati
pengunjung.
Eh.. ternyata pengunjungnya, malah menghindar. Walah..
mereka ternyata ada yang belum pede juga. Dalam hati, sama dong mbak. ^_^.
Tiga menit kemudian,
rasa grogi dll sebagainya hilang sama sekali. Aku enjoy dan menikmati. Ada sensasi yang berbeda
dan mengalir dalam tubuhku, begitu hangat dan menyenangkan.
Acara berlangsung hingga satu jam, dan akhirnya selesai. Ada kelegaan besar
dihatiku, aku bisa membuktikan diriku sendiri dan mengalahkan diriku, bahwa
ternyata aku bisa tampil di publik juga.
Ah.. aku rindu kenyataan ini, aku ingin diberi
kesempatan-kesempatan lain. Semoga Allah mengajariku cara menaklukan
kelemahanku dengan banyak tantangan lain…
Karena aku rindu memenangkannya, menang atas diriku sendiri.
Mengakui kelemahan diri, awal proses perbaikan diri….
November 2006