Nur's posts with tag: kenanganku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kenanganku
Blog EntryDear IBFMar 13, '07 3:22 AM
for everyone
Dear IBF

Menyapamu, Islamic Book Fair Istora Senaran Jakarta, aku ingin mengenang romantisme keenggananku untuk mengunjungimu Minggu kemarin. Sungguh, aku enggan untuk berkunjung ke IBF. Tak ada satu buku yang kutuju untuk dibeli. Kecuali aku mengada-adakannya.

Jika bukan karena memenuhi panggilan mbak Nafiis, aku tidak datang selamanya ke IBF Maret tahun ini. Sebenarnya mbak Nafiis menawarkan kalau tidak hari itu, berarti kita musti ketemu minggu depan. Padahal minggu depan ada Agrinex Ekspo di JCC dan kegiatan lain di Kampus. Duh, aku bingung dua-duanya sangat penting. Tambah puyeng kalau dikasih tiga alternatif. Fuihhh ndak deh.

Dengan keterpaksaan sangat, di hari terakhir, aku pun datang jua. Ketahuan deh terpaksa. Berangkat dari Bogor pukul 13.00 sampai di lokasi 15.30. Di sana, aku cuma muter-muteri stand dan lihat-lihat harga doang diantara sesaknya pengunjung. Nasyid heboh di panggung utama pun kulewati selintas. Ah, kemana sih mbak Nafiis. Oh, ternyata beliau baru di jalan. Setengah jam kemudian kita bertemu, bukannya ngobrolin tema utama. Beliau malah sibuk nyebarin leaflet dan stiker di sebuah stand. “Nunggu dulu ya, leaflet dan stikernya ampe abis,” katanya.

Ya ampun mbak, berapa lama lagi ku musti menunggumu. Aku dah tak tertarik dengan buku-buku ini. Kenapa begitu? Soalnya, bulan ini aku sudah beli buku, budget untuk beli buku sudah abis. Ya sudah muter-muter lagi seperti orang thawaf. Capek muter-muter, aku nangkring di jajaran tribun penonton, menunggu sambil dengerin nasyid. Tepat di depanku adalah stand MQS.

Setelah ku sms lagi, mbak Nafiis menghampiri tempat dudukku. Aku pun mendiskusikan ‘rencana’ bareng kita. Wah, dapet amanah lagi euy. Kayaknya menyenangkan, soalnya seputar dunia menulis lagi. Mewujudkan impian kita yang masih ditata. Pas kita ngobrol, mbak Nafiis setengah berteriak. “Ris, ris, ada mas Bambang Trim tuh! Yuk beli bukunya dan kita temuin,” seru Mbak Nafiis sambil menarik tanganku.

“Oh, yang di milis penulis lepas itu Mbak! - (aku juga ikut dimilis penulis lepas anaknya mas Bambang Trim juga)-,” seruku tak kalah bergairah. Bambang Trim selain Editor Senior Penerbit MQS, beliau mantan wartawan Kompas. Pernah saya mendapat surat balasan atas cerpen anak-anak yang pertama kali kubuat dan tidak dimuat. Di bawah surat pemberitahuan itu tertanda atas nama Bambang Trim.

Tanpa ba, bi, bu kita berlari menuju stand MQS. Khawatir buruan kita lari. Walah seperti apa saja. Kita langsung mencomot buku tipis, Berdakwah Melalui Tulisan karya mas Bambang Trim. Ngobrol perkenalan dan tak lupa tanda tangan serta bubuhna doa dari beliau. “Semoga Menjadi Penulis Hebat.” Duh senangnya, keterpaksaan pembawa nikmat, siapa yang nolak. ^_^

Selasa, 13/3/2007



Blog EntryBelajar Tampil Di Publik (Seri 2)Nov 20, '06 10:03 PM
for everyone

Usaha  Mengatasinya

 

Aku suka sekali menghadiri rapat dan meliput acara rapat. Walau aku seksi logistic msilanya, konsumsi atau seksi ecek-ecek., aku jarang absent rapat umum. Disitulah aku sering mengamati orang ngomong, mempertahankan pendapatnya, mendengarkan dan mencari solusi. Unik, menggairahkan, melihat orang memaparkan idenya orisinilnya, cara bertutur dan menguras pikiran untuk strategi.

 

Sesekali aku iseng ikut  menyumbang saran. Nah.. saat memberi saran kadang aku grogi, kupaksa juga mulut ini ngomong.

 

Ini nih yang membuat aku ngrogi dan nervous. Ketika giliran aku ngomong dan diberi kesempatan, tiba-tiba suasana menjadi diam, hening, sunyi senyap, semua orang tertuju padaku. Wah… aku bertanya padaku, what happen with me? What’s wrong with me? Please deh… kenapa sih suasananya jadi begini. Makin berdebar saja jantungku. Help me…

 

Aku tak biasa menjadi pusat perhatian, itu membuat aku kikuk, agak tegang dan malah mengoreksi diri kenapa ya dengan aku. Boleh orang membicarakan aku dibelakang, plis jangan dengan cara itu. Lebih enak menjadi inspirator dan motivator dibelakang layar.

 

Dengan sering banyak melontarkan pendapat di setiap rapat atau pertemuan, ini melatihku. Cara lain aku memperbanyak baca buku manajemen untuk meningkatkan kepercayaan diri.

 

Hidup bergulir, manusia membutuhkan tantangan baru untuk ditaklukkan. Maka saat panitia Jelita menelponku di pagi hari, 4 jam sebelum acara dimulai. Mereka memohon maaf dan meminta kesediaanku, aku bilang Insya Allah. Aku pikir jadi moderator tak lebih berat dibanding jadi pembicara. Kusiapkan bahan-bahan moderator sambil bertanya pada orang yang sudah  biasa tampil public, bagaimana seorang moderator harusnya tampil. Di sela-sela bekerja kususun ringkasan singkat.

 

Jam 11.00 aku berangkat ke tempat acara, terus menunggu para ikhwan meninggalkan kantin untuk shalat Jum’at dan membiarkan pengunjung para perempuan saja. Aku minta izin ke kamar mandi, kukatakan ke panitia, untuk menghilangkan ketegangan.

 

Eh.. ko mendekati acara, aku malah mengantuk, aku teringat pesan Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, itu ciri orang stress. He he he he he jadi aku stress nih ya. Lalu aku tertawa,  menertawakan diriku sendiri.

 

MC sejak tadi sudah mengajak kami untuk segera mendekati tempat acara. Agak ogah-ogahan aku mengikuti sarannya. Deg-degan mulai melanda. Duh.. piye tho ini.

 

Aku coba mengusai diriku, meyakinkan diriku. Sejak dulu aku ingin bisa tampil di publik, ini yang kuinginkan, aku ingin sekali, ini peluangnya, ini kesempatannya, jarang kesempatan itu hadir. Inilah saatnya, hatiku menguatkan. Toh, kesempatan itu sudah di depan mata, aku tak bisa menghindar. Aku harus menghadapi. Kata orang rasa takut membisikkan bahwa ketakutan itu ada dua :  sesuatu yang tak akan pernah terjadi dan tak bisa dihindari. Aku tak bisa menghindari ini, maka jadilah aku  berani karena tekadku sudah bulat.

 

Maka tampillah aku menuju tempat duduk di tengah kantin, menjadi pusat perhatian kanan-kiri, depan belakang pengunjung plus para pedagang. Menyebalkanya ternyata masih ada beberapa laki-laki yang belum pergi ke masjid, duh. Semua kata negative di benakku kurubah. Kuteriakkan dalam hati dan berjanji akan kuberikan yang terbaik, it’s me.

 

“Assalamu’alaikum wr wb” Sapaanku, belum mendapat sambutan dan menarik perhatian seluruh hadirin, “Hello, Assalamulaikum wr wb” . Terdengarlah balasan yang cukup keras di sekelilingku.

 

Kugemakan suaraku, kuberikan prolog dan kudekati pengunjung untuk mencari testimoni tentang tema acara hari itu “Agenda Terselubung di Balik Kedatangan Bush”. Namanya juga talkshow. Aku yang harus aktif mendekati pengunjung.

 

Eh.. ternyata pengunjungnya, malah menghindar. Walah.. mereka ternyata ada yang belum pede juga. Dalam hati, sama dong mbak. ^_^.

 

 Tiga menit kemudian, rasa grogi dll sebagainya hilang sama sekali. Aku enjoy dan menikmati. Ada sensasi yang berbeda dan mengalir dalam tubuhku, begitu hangat dan menyenangkan.

 

Acara berlangsung hingga satu jam, dan akhirnya selesai. Ada kelegaan besar dihatiku, aku bisa membuktikan diriku sendiri dan mengalahkan diriku, bahwa ternyata aku bisa tampil di publik juga.

 

Ah.. aku rindu kenyataan ini, aku ingin diberi kesempatan-kesempatan lain. Semoga Allah mengajariku cara menaklukan kelemahanku dengan banyak tantangan lain…

Karena aku rindu memenangkannya, menang atas diriku sendiri.

 

Mengakui kelemahan diri, awal proses perbaikan diri….

 November 2006

 

 

 

 


Blog EntryBelajar Tampil Di Publik (Seri 1)Nov 20, '06 10:01 PM
for everyone

Belajar Tampil di Publik

 

Kuseberangi ruang utama dan melewati kulkas di depanku, rasanya ada yang aneh di publikasi acara yang tertempel di sana. Sebentar, sebentar deh. Aku balik kembali mendekati kulkas, betapa terkejutnya aku di atas sebuah publikasi tempel tercantum: Siti Sohihat, SP (Pembicara) dan Aris Solihat, STP (moderator). Apa-apain ini? Tak ada konfirmasi sama sekali dan itu ko rasanya bukan namaku ya! Iya sih tempat kerjanya benar tempat kerjaku. Harusnya kan Aris Solikhah. Nama itu penting dan berharga.

 

Tak ada pemberitahuan dan permintaan dari panitia acara Talk Show Muslimah Jelita singkatan dari Muslimah Jenius Telaah Realita, nama acara itu. Padahal acara dua hari lagi, publikasi sudah tersebar. Apakah mereka tak bertanya dulu padaku jam 11-12.45, hari Jum’at, aku mempunyai acara atau tidak?

 

 Aku iseng, biarkan saja lah, kali saja mereka salah menunjuk.

Acara ini digelar di tengah-tengah Kantin Fakultasku dulu , tempat umum,  dimana semua orang yang lalu lalang, makan-minum, bisa sepuas hati mendengarkan dan memperhatikan pembicara. Bagiku, tak bisa dilakukan sembarang minimal penguatan mental dan persiapan sebelumnya. Sekali lagi aku bertanya, takkah, panitia menanyakan kesediaanku?

 

Dalam sepanjang keorganisasian yang pernah kuikuti, aku hampir selalu bekerja dan menjadi panitia di balik layar.  Menjadi seksi logistik, dana, kehumasan, konsumsi, pembinaan dan SDM, hampir-hampir tak pernah aku ditampilkan dipublik.

 

Aku dengan senang hati menerima bidang kepanitiaan itu walau menjadi seksi konsumsi sekali pun, menyenangkan sekali

 

Tapi tampil di publik, ngomong di depan orang banyak? Uh… itulah salah satu kekuranganku selama ini. Agak nervous, demam panggung, dan grogi.

 

Aku patut bersyukur dibanding waktu SMU, seorang aris yang pendiam kini lumayan crewet he hehe. Sama sekali waktu SMU, aku tak berani maju ke depan kecuali ditunjuk mengerjakan soal di papan tulis. Aku berharap sekali akulah yang ditunjuk guruku. Kompensasi atas kepercayaan setiap guruku itu, aku berusaha tak mengecewakan mereka.

 

 

Bagaimana rasanya menaklukkan kelemahan ini? Aku sudah terlalu bosen menjadi orang yang kurang bertambah skillnya, gitu-gitu saja. Kutananamkan dihatiku dalam-dalam, suatu saat aku ingin bisa menjadi pembicara  yang tak grogi dan percaya diri di depan umum. Lebih bagus lagi pembicara ulung.  Ini perlu proses panjang.

 


Photo AlbumProhumasi Gathering (1 photo)May 19, '06 6:28 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Anak Bungsu, begitu kadang seorang bapak di kantor menggelari aku. Si bungsu ini ditunjuk untuk menjadi ketua panitia Prohumasi Gathering. Karena nggak tega si bungsu bersedih atau bagaimana, acaranya berlangsung seru..... tapi aku ambil yang seriusnya aja.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help