| |
Nur's posts with tag: kisah
Celupan Agrinex
Jum’at (16/3), aku bangun pukul 3.30. Tas besar berisi pakaian telah kusiapkan. Baju yang akan dipakai hari ini juga telah ku seterika tadi malam. Semuanya telah siap. Yang tak kalah penting mempersiapkan mental untuk menghadapi hari ini. Aku membutuhkannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Perasaanku diliputi ketidakpastian. Jam 5.30 dengan naik bis IPB, seluruh rombongan panitia berangkat ke Jakarta Convention Center (JCC). Tiga hari berturut-turut kami menjadi panitia kegiatan Agrinex Conference & Expo.
Kepanitian yang gamang bagiku, karena hingga H-1, aku belum paham dan jelas job descriptionku. Briefing kemarin, menurutku terkesan kurang serius. Aku mendapat tugas membantu conference. Dalam sehari Agrinex menyelenggarakan 4 conference dengan pembicaraan yang bukan alang kepalang, pejabat menteri atau yang mewakili.
Acara dibuka oleh Menteri Perekonomian, Boediono dan didampingi Menteri Pertanian, Anton Apriantono berlangsung lancar. Sesi pertama conference mengangkat tema Biofuel yang mengundang tiga pembicara dari IPB, BPPT dan Sampoerna Agro pun berjalan sesuai harapan. Menginjak persiapan sesi kedua tentang industri pertanian, pak Fahmi Idris tak datang dan diwakili salah satu Dirjen. Aku yang bertugas merekap seluruh kegiatan conference di dalam membantu juga bagian registrasi. Tiba-tiba seorang asisten pejabat Kementrian BUMN menghampiri kami di bagian registrasi dan meminta susunan acara conference hari ini.
Kami berikan susunan acara dan sang asisten syok. “Mbak, kok, di susunan acara ini Menteri BUMN akan tampil esok (Sabtu). Padahal kami mendapat undangan pembicara dari panitia hari Jum’at (hari ini),” seru bapak itu sambil menunjukkan disposisi surat.
Kami juga tak kalah kaget.” Coba Pak, bolehkah saya melihat suratnya pa?,” tanyaku. Aku bersama mbak Yuni mengamati surat itu. Ya Allah, surat ini benar. Aku belum percaya, maka sekali lagi aku membacanya. Oh kesalahan fatal, dan kami panitia dari IPB tidak tahu sama sekali. Yah karena sebenarnya seluruh kegiatan ini di handle sebuah Event Organizer. Briefing pun cuma sekali. Apa yang ku khawatirkan pun terjadi.
Pa xxxx xxxx, yang mewakili menteri BUMN pun naik pitam. Mencak-mencak di hadapan kita. “ Kalian seenaknya sendiri, ini menteri, bukan mahasiswa. Saya tak rela menteri saya dibeginikan. Saya tidak mau jadi pembicara. Pokoknya saya tidak mau,” kata bapak itu pongah. Itu diucapkannya berulang kali dengan menampakkan mimik wajah marah dan kecewa teramat sangat. Apa yang bisa kami lakukan, ku hubungi koordinator conference, telponnya mati. Oh Rabb, hanya dia yang tahu semuanya.
Aku hanya bisa menyarankan, “Bapak maaf silakan duduk dulu. Kami akan mencoba konfirmasi dengan koordinator.” Kupikir dalam syariat Islam, kalau ada orang marah disarankan pindah posisi. Kalau dari berdiri menjadi duduk, kalau pun belum juga berwudhu. Ini untuk meredakan emosi. Tapi bapak itu menolak permohonanku. Kami semua bingung, kebetulan tidak ada panitia inti yang ada di registrasi. Bapak ini malah menghampiri kumpulan para wartawan dan terlibat berbincang dengan mereka. Oh tidak, jangan lakukan itu. Keluhku dalam hati, moment seperti itu bisa saja dimanfaatkan wartawan tanpa surat kabar (WTS) dan yang tidak proffesional untuk membuat berita sensasional yang meruntuhkan Agrinex.
Belum usai kasus ini, atas inisiatif kami karena peserta conference jumlahnya sangat sedikit. Seorang panitia menggabungkan kegiatan conference dan talk show dalam satu tempat. Hal ini karena, peserta lebih memilih menghadiri talk show Agrinex di hall A panggung utama. Di Talk Show itu menghadirkan Adi Sosono dan Aa Gym. Tentu pesona Aa Gym lebih menarik daripada conference kami yang kebanyakan bertema “berat”.
Atas inisiatif ini, kami mendapat complaint dari peserta yang benar-benar ingin menghadiri conference, pembicara dan lebih-lebih lagi dari wartawan. Suasana begitu crowded. Seorang asisten menteri dari Perindustrian menghampiri kami, dia meminta kembali handout yang sedang kami foto copy untuk conference. Dia berkata pembicara perwakilan Menteri Perindustrian megundurkan diri, karena tak siap dengan suasana acara berbentuk Talk Show. Oh, Rabb apalagi ini. Untung saja beliau tak semeledak wakil dari Kementrian BUMN.
Dalam hidupku aku paling benci dimarahi. Mungkin bukan hanya aku, hampir semua orang tidak suka dimarahi, apalagi pada sesuatu yang ia tidak tahu kesalahan apa yang ia lakukan. Aku dan teman-teman dari IPB sejak awal kurang mendapat informasi sejak awal mengenai conference ini. Koordinasi begitu terasa rumit. Namun karena panitia digabung, semua orang termasuk peserta, sama sekali tidak mau menerima kata: “maaf kami tidak tahu”. Dan kami memahami perkataan itu merupakan suatu kenaifan. Betapa membingungkan posisi hari itu. Betapa dalam selama hidupku, baru kali ini aku mengalami kepanitian yang ... ah aku harus berkata apa lagi.
Aku masih terbayang ekspresi para bapak wakil menteri itu dengan jelas. Yah kami akui kami memang salah, namun perlukah dia berkata searogan begitu pada kami yang juga warganegara Indonesia seperti dia. Posisi yang ia peroleh atas juga suara dari masyarakat. Conference ini pun diselenggarakan agar kami mengetahui apa saja program kerja di kementrian RI. Ah, andaikan Umar bin Abdul Aziz di sini, pasti Umar akan melayani kami bukan untuk minta dilayani.
Aku melihat, para pejabat pemerintah yang selama ini kadang sering disanjung, dilayani dengan pelayanan VIP, juga manusia biasa. Bilakah mereka sadar, pelayanan atas jabatan yang mereka duduki itu hanya sementara. Mereka bisa menduduki posisi itu kadang juga bukan karena skill tapi juga keterwakilan dari sebuah partai. Suatu ketika ia tak menjabat lagi, orang enggan mendengar suara dan perintahnya. Sebab, ia berbicara berkat posisi dan jabatan bukan keahlian. Mungkin bisa saja bila tak menjabat lagi, ia dicampakkan, tak mendapat fasilitas pertama seperti saat ini.
Pengalaman bagiku untuk ke depannya.
Kamis, 22 Maret 2007... hari ini pembubaran panitia Agrinex.
Rezeki Ada Hingga Mati
“Sekarang ini mencari kerja sulit ya!” Cari
yang haram saja sulit apa lagi yang halal? Berulang kali saya dengar orang-orang mengeluh demikian. Kenyataannya
memang mencari kerja itu sulit dan terbatas, namun apakah harus mengorbankan
sebuah idealisme apalagi iman?
Saya bersyukur selepas lulus langsung bekerja,
walau dengan gaji awal-awal yang kata
orang tak manusiawi. Gaji yang jauh dibawah standar lulusan S1. Dengan gaji
segitu, saya tak mengeluh. Tahu kenapa? Saya suka pekerjaan ini. Menulis
reportase. Intelektualitas saya tak pernah padam bahkan kian hari kian
kehausan. Ditambah, teman-teman yang baik hati serta menghargai prinsip hidup
saya. Sebuah harta tak ternilai bukan? Kini seiring dengan waktu, gaji saya merangkak
naik. Berlipat- lipat berkali-kali dari gaji awal.
Pernah
suatu ketika, mendekati di akhir-akhir bulan, tak ada uang sepeser pun di
kantong, persedian mie telur juga habis. Hari itu, saya tak tahu mau makan apa.
Teman-teman di rumah tak ada yang mengetahui hal ini, termasuk juga teman-teman
kantor. Saya tak ingin mengeluh pada mereka, disamping saya malu sudah bekerja
ko tidak bisa ngatur uang dan masih kelaparan. Sayangnya juga, karena saya lagi
mengikuti suatu kegiatan, jatah makan siang saya raib pula. Cara yang ampuh
tiada lain, Saya memohon sekali pada Tuhanku untuk dibantu. Dan tiba-tiba tak biasanya teman di lantai
atas menelpon.” Mbak Aris, saya punya makanan nih. Naik ke lantai atas ya, kita
makan bareng yuk,” kata Ibu Irma. Dengan senyum cerah dan syukur saya menuju
lantai dua, di sana telah tersedia nasi bersama sepotong ikan t untuk saya.
Alhamdulillah, rasanya nikmat sekali. Kenikmatan
akan terasa sangat sekali saat kita membutuhkan. Nasi dengan sepotong ikan mas
itu penyambung hidup. Untuk makan besok, saya tak terlalu memikirkannya, karena
saya yakin ada rezeki yang lain.
Ketika saya mau pulang, kembali saya
dikejutkan. Pak Waluyo memberi uang Rp 20 ribu. “ Ini uang ganti tranportasi
kemarin,” katanya. Setelah mengucapkan terima kasih, saya bertambah beryukur
sekali lagi. Esoknya, saya dipanggil Bu Iis, bagian
keuangan kantor. Kata beliau,” Mbak, untuk bulan ini pembayaran gaji kita
dimajukan. Ini uangnya, tanda tangan menyusul ya.” Percaya atau tidak. Sesungguh peristiwa
demikian, saya sering mengalaminya. Rezeki yang datang tiba-tiba. Tanpa saya harus
bekerja keras, tanpa tahu apa maksudnya
dan tepat sekali saat dibutuhkan, bahkan kadang berlebihan serta
membikin tak enak hati. Maksudku tak enak hati sama Tuhanku, baik banget,
padahal saya kadang khilaf melanggar perintah-Nya. ^_^
Saya memikirkan betapa kontradiksinya, keluhan
mencari pekerjaan VS rezeki. Menurut saya, pekerjaan dan jenis pekerjaan
bukanlah penentu utama jumlah atau besarnya rezeki. Tinggi rendahnya tingkat
pendidikan atau pun cacat atau lengkapnya tubuh kita, tak pasti berkorelasi
positif dengan besarnya rezeki. Bukankah Allah telah menetapkan besar rezeki
masing-masing makhluk hidup sebelum mereka hadir ke bumi. REZEKI BUKANLAH
PEKERJAAN. Rezeki bisa diterima manusia melalui usaha, bekerja, pemberian orang
tua, pemberian saudara, pemberian orang lain dan rezeki nomblok (mirip kasus
reality show dan undian berhadiah).
Seorang koruptor mengkorupsi uang Rp 1.3 trilyun. Sebenarnya sebesar
itulah rezekinya yang telah ditetapkan
Allah untuknya saat itu. Kalau dia mau menyongsong rezekinya dengan cara halal,
maka dia akan mendapatkan rezeki juga
sebesar Rp 1.3 trilyun. Jadi jumlah rezeki itu sudah ditetapkan, namun cara
menyongsong atau mengusahakannya pada
kondisi dimana kita bisa mengusahakannya (soalnya ada rezeki yang datang
tanpa usaha), tergantung pilihan kita. Mau pilih cara halal atau haram? Pilihan cara inilah yang akan dimintai
pertanggungjawabnya di hadapan Allah kelak. Bukan besarnya rezeki yang didapat.
Saya pernah mendengar hadis yang berbunyi “Belum mati manusia sebelum
sempurna rezeki yang ditetapkan baginya.” Kala manusia tertimpa musibah dan
bencana sehingga ludes habis hartanya, dan dia masih hidup, yakinlah rezekinya
masih dijamin Allah. Dia tak perlu bersedih hati berkepanjangan, putus asa
hingga mau bunuh diri segala. Karena yang Maha Pemberi Rezki masih ada dan
senantiasa siap sedia membantu. Kalau tahu rezeki itu sudah ditetapkan, lalu
masihkah kita tega memilih cara yang haram dan memilih cara menyongsongnya
dengan merugikan orang lain?
Saya teringat perkataan teman saya, kalau lagi butuh sesuatu,
sering-seringlah berbagi rezeki pada yang lain. Misalnya, shaqadah, infak,
memberi utangan, hadiah, berbagi ilmu, dll. Bukankah Allah melipat gandakan
enam kali, sepuluh kali bahkan sampai 700 kali balasan pemberian kita. Apa yang
diceramahkan Ustadz Yusuf Mansur itu benar adanya, Power of Infak. Kisah Ali bin Abi Thalib yang memberi orang kelaparan sebesar 1 dirham
dan mendapat balasan dari Allah, dengan 6 dirham dari keuntungan Ali menjadi
makelar menjual unta.
Terkait dengan rezeki, tips saya adalah yakinilah 100 persen Allah
telah menetapkan rezeki kita tanpa tertukar, rezeki baru terputus kalau kita
mati, maka berusahalah dengan memilih cara yang halal dan senantiasa membantu
orang lain agar berkah, berkecukupan dan
melimpah.
Bogor, 25 Januari 2007...Alhamdulillah ada rezeki tak terduga. Terima
kasih ya Rabb, Engkau baek sekali...
Sekeping Hati yang Tertinggal
“Aris, makanya nanti akhir Januari ke sini lagi, ada halal bihalal dan arisan keluarga besar. Orang masih single dan sudah kerja ngapain kalau tak berkunjung ke banyak saudara.,” kata Mbah Huri. Lontaran serupa juga diucapkan Lek Surati.
Kena deh aku. Ucapan mereka menohok sekali sekaligus menjadi renungan. Atas kesibukanku di kantor dan di ‘perusahaanku’ juga. Aku kira pilihan kerja di ikatan lembaga itu agak memasung kebebasan kepergianku silaturahmi. Enak ya menjadi wiraswastawan atau pengusaha seperti bulek Surati di sini, jadi wiraswasta jual beli gabah. Di sini pun, aku punya keluarga. Ini gara-gara, aku nggak gaul banget sama silsilah keluarga bapak, yang ya Ampun banyak sekali tinggal di Lampung. Ada Lek Sufyani, (adiknya bapak), mbah Huri, adiknya mbah kakung beserta anak, cucu cicitnya, ada mbah Amirah adeknya mbah putri, ada Lek Surdi anaknya kakaknya mbah kakung di Talang Padang. Ada juga keluarga di Metro.
Semua orang di sini memakai bahasa jawa. Beberapa adat patriarkal masih di pegang kukuh. Seperti mendahulukan waktu makan bagi laki-laki. Nah ini-nih aku yang sering protes. Lha iyalah, kenapa ndak makan bareng saja. Lha wong yang masak juga kami-kami yang perempuan ko ya mereka (kaum bapak) makan duluan. He he he. Nggak ding, ini gara-gara aku tak sabar menunggu karena sudah kelaparan.
Berungkali beberapa saudara di sana mengkoreksiku ketika aku menyebut mbak Siti (putrinya mbah Huri), lek atau yang lainnya. Harusnya disebut Bude, bulek atau mbah. Walah masih muda pun aku disebut mbah. Gubrak!.
Katanya sih untuk mengingat hubungan kekeluargaan diantara kami. Beda banget di kampungku, meski kita bersaudara rasanya jauh. Tak seakrab di sini. Ide membuat arisan keluarga dan kumpul-kumpul ini aku kira bisa contek untuk menyatukan kakak, sepupu, iparku deh.
Ada rasa indah tak terkatakan dari selain kebahagian materi, yaitu persahabatan dan persaudaraan yang hangat. Aku merasakannya. Meraka menerima aku apa adanya, dengan busanaku yang lengkap kemana-mana memakai busana muslimah rapat. Iya gimana atuh banyak bukan mahram di sini. Mereka juga kebanyakan juga memakai busana muslimah, walau kadang sebagai aksesoris saja kalau ada acara.
Sejak aku tiba di rumah lek Surati, aku langsung ikut terjun di bagian bungkus-bungkus kue untuk seribu orang. Never ending coking lah di sini. Tidur hampir selalu terlalu malam. Senin Paginya para tetangga banyak sekali yang datang, kue dan makan besar pun ludes. Banyak sekali tamunya ya.
Aku iseng nanya berapa biaya untuk semua persiapan naik haji plus embel-embel walimatussafar alhaj ini. Tersebutlah bilangan yang menbelalakkan mataku. Alamak, besar sekali. Bisalah uang segitu buat membeli rumah.
Belum lagi istirahat, aku diajak bapak, simbah dan bulek pergi ke Talang Padang berkunjung saudara di sana. Jauh nian perjalanan ini. Jam 6 sore sampai di Talang Padang. Kita langsung bersilaturahmi ke tiga tempat dan kemudian balik pulang. Sampai di Kalianda pukul setengah dua belas malam. Ampun deh... maraton gini. Ini belum lagi rayuan borbandir dari tiap rumah yang kami kunjungi. “Kenapa tidak menginap. Ayolah menginap!” tanya mereka.
Hari Rabunya kami melepaskan bulek Surati dan Lek Sumadi pergi untuk naik haji. Ini mirip upacara perpisahan yang mengharukan. Bersamaan itu kami sore itu juga pergi balik ke Jawa. Aku, bapak dan simbah pergi ke Bekasi. Bulek lain pergi kembali ke Cikampek. Pukul 20.00 aku di kapal Fery besar. Tak ada lumba-lumba, tak ada ikan terbang berkejaran. Tak bisa melihat pemandangan laut kecuali kerlap-kerlip lampu listrik dari jauh. Aku akan merindukan Lampung. Sekeping hatiku yang hangat tertinggal di sana. Sayonara Lampung, ku harap aku akan kembali menyinggahimu kembali suatu saat nanti.
Rindu Ke Lampung Minggu pagi (17/12) aku meninggalkan Hotel Permata Bogor. Aku meluncur lengkap dengan tas besar menuju Cikampek. Tak enak rasanya meninggalkan teman-teman kantor ditengah-tengah Sarasehan Pertanian yang sebenarnya aku juga panitia di sana. Sarasehan ini di selenggarakan dua hari, Sabtu Minggu.
Tubuhku masih terasa penat. Tadi malam jam 1 aku baru tidur dan kini harus ke Cikampek untuk kemudian bersama ketiga bulekku (Sri& Suami, Tri dan Siti beserta 3 ponakan) berangkat ke Lampung.
Beginilah kalau kita bersama orang lain, tak bisa memutuskan sendiri. Aku ingin langsung aja ke Merak , lebih efektif dan cepat. Tapi apa lacur, rute ke sana aku lupa-lupa ingat.
Baru 15 menit aku sampai di Cikampek, kami langsung berangkat naik bus ke Pelabuhan Merak.
Ini adalah ketiga kalinya aku ke Lampung. Pertama kali ketika aku berusia 8 tahun, kemudian saat pernikahan sepupu dan sekarang. Ada banyak kesan tertinggal setiap kali berkunjung ke sana. Aku merindukan deburan ombak dan perlombaan lumba-lumba yang mengiringi kapal Fery besar. Atau sekedar melihat pemandangan alam laut lepas sepuas hati.
Sayang, impian itu tak kesampaian, karena di buru waktu malam, kami memilih naik kapal Fery kecil cepat . Mahal sih. Tapi tak apalah. Dengan Kapal Fery besar jarak tempuh Merak Bakauheni bisa ditempuh 2 jam, sedangkan dengan kapal Fery kecil cuma 45 menit.
Di Bakauheni, kami menunggu jemputan. Sekitar 1 jam kami menunggu, sebuah Blazer hitam menghampiri kami dan kami pun dibawa ke Kalianda, Desa Cinta Mulya. Ah.. sudah berubah rupanya Desa CintaMulya, banyak rumah-rumah berdiri bagus.
Sepupuku, Yudi mengendarai mobil agak ngebut, para penumpang tampak miris. Aku sendiri menikmatinya, sama-sama darah muda kali ya. Suka sesuatu yang mengebut he he he. 1 jam kemudian kami sampai di rumah Lek Surati. Tiga hari lagi beliau mau naik haji, itulah maksud kedatanganku ke Cintamulya.
Kecoa Suka Tantangan
Hari ini aku mandi di rumah sebelah, rumah kita kran PAM-nya
macet. Sudah dua minggu lebih rumah sebelah ini tak di huni. Kalau bukan
terpaksa, ogah aku mandi di sini. Bersama empat kawan-kawanku yang manis, kita
menyalakan seluruh lampu plus membersihkan ruangan. Aku langsung tancap gas
menuju kamar mandi. Abis, telat mau masuk kerja sih.
Ada
yang unik di sini. Seekor kecoa. Binatang menjijikkan dan menyebalkan. Berwarna
coklat besar dengan antena panjang di kepala. Kakinya Masya Allah kekar sekali.
Tubuhnya seukuran jempol kaki orang. Makmur rupanya si kecoa ini.
Mandi bareng sama Kecoa! Ndak lah ya. Makanya, aku gencarkan
aksi menyiram air habis-habisan agar dia hanyut ke lubang pembuangan. Mengusirnya?
Bukan cara efektif, menurutku. Kecoa akan hinggap di tempat bersih lain, itu
pilihan yang buruk. Membunuh kecoa? Aku lagi ndak mood membunuhnya. Aku ingin
menyinggkirkannya saja.
Toh kalau dibunuh,
aku tak ingin melihat zombie di dekatku. Kecoa itu binatang yang sulit dibunuh.
Kecuali diremukkan seluruh body. Resikonya, ampun baunya …hiiiii. Kecoa akan tetap bertahan hidup meski
dipotong menjadi dua bagian.
Oh, ya ada satu hal yang membuat kecoa mati perlahan-lahan.
Buat dia pada posisi kaki di atas. Dia paling benci posisi itu dan berusaha
meronta-ronta kembali tengkurap. Paling-paling 4 hari dia akan mati kecapean. Uh…
sadis man!
Nah waktu ku guyur air bergayung-gayung, dia terus saja
bertahan bahkan malah menuju arah dimana air itu dialirkan, terus begitu. Terus
merangkak melawan arus. Ini yang menjadi
perhatianku. Aku iseng terus mengguyurnya dengan air pada kecepatan lebih tinggi.
Eh.. dia berusaha bertahan, mensejajarkan tubuhnya ke arah air mengalir. Dan
berjalan menuju kakiku. Ih ini bandel amat sih! Menyebalkan! Akhirnya aku malah
kasihan, kelelahan dan membiarkan dia mojok di ruangan
ini.
Ah kecoa ini, walau mengesalkan dia makhluk detritrivor,
pengurai sampah yang dibutuhkan. Hebatnya dia hidup diantara kebencian manusia.
Mana ada orang yang suka dengan kecoa. Makanan yang tak sengaja disinggahinya
akan langsung dibuang. Tempat bersih yang dijejakinya akan segera dibersihkan
ulang.
Aku respek ama
perjuangannya untuk bertahan menerima serangan luar yang begitu dahsyat. Paling
sulit untuk dihancurkan dan dibunuh. Semangat hidupnya tinggi di antara
kebencian semua orang. Seakan-akan dia berbicara,”Kehidupanku sangat berarti
bagi kalian. Aku hidup untuk kebaikan lingkungan. Oleh karenanya, kenapa aku
diciptakan, masa bodoh kebencian kalian.”
Satu-satu kelemahan si kecoa adalah dirinya sendiri. Kalau
dia terjungkal pada posisi terlentang. Ia tak bisa kembali posisi semula,.
Itulah kiamat baginya.
Mirip seperti manusia, penghancur utama hidupnya adalah
dirinya sendiri. Persepsi dan pikiran di dalam dirinya. Apakah positif atau negative.
Ketika dia berpikir negative, menganggap segala sesuatu dari luar adalah
serangan dan dia merasa tak berdaya , ia akan kalah.
Namun ketika ia
berpikir positif segala serangan dari luar merupakan masukan yang berharga untuk
mengevaluasi langkahnya dan menjadi cambuk kemajuan. Dia akan menjadi orang
yang luar biasa di tengah deras ketidaksukaan.
Les Giblin mengatakan kebanyakan diri kita berharap dan
mencari cara agar orang lain beranggapan
baik terhadap diri kita. Segala upaya diusahakan untuk menarik perhatian orang
lain. Supaya kita dianggap orang sholih, sholihah, baik, ramah, dll. Kita bahkan
memanipulasi diri kita. Menipu diri.
Namun sebenarnya
bukan begitu caranya, semua berawal dari pikiran dan persepsi kita. Kala kita
berkata pada diri kita, bahwa aku orang ramah, aku sangat mencintai diriku,
mensyukuri karunia Allah, aku orang yang terbuka dan baik hati. Tanpa disadari
semua aktivitas dan perbuatan kita dikendalikan sesuai apa persepsi dan pikiran
kita tentang diri kita tersebut. Maka yang terjadi adalah orang-orang di
sekitar kita pun beranggapan seperti yang kita inginkan dan mencintai kita.
Percaya tidak? Saat kita bilang kita orang ramah setiap hari
di depan cermin, dan kita meyakini hal
itu. Tanpa kita sadari tiap kali berjumpa orang lain ita lemparkan senyum
tulus, orang pun membalas hal serupa. Seyuman yang tulus juga. Lalu bagaimana
kalau kita berpikir kita adalah orang sukses?
Terima kasih kecoa, Sungguh kamu diciptakan tanpa sia-sia…
Jum’at, 1 Desember 2006
Doa untuk Sekeranjang Tempe
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu
penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai
penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari
bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti
mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya..." demikian dia
selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang
bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang
dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe
yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian
berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya
lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang,
untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali
menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika
meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di
tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau
tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina
ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe.
Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah
akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia
rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih
berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus
tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah.
Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi,
dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang
"memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah
tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,
dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil
bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain
berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku,
kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun
pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan
berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum
sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang
tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin,
"tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas
tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali
dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan
keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan.
Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama
seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak
dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak
adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya
berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di
atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada
keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba
merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,
batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat
berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan
pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual
tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya
mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai
memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak
pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu
terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia
memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah
tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah
jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang
menjualnya. Ibu punya??"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa
menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau
kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi,
jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi,
setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi
tempe..."
"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan
itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya
Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan
gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang
dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe
yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok
Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"
"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di
Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa
sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,
saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi
semuanya berapa, Bu?"
Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita
acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita
paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita
merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang
paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.
(dikisahkan ulang oleh AWL/SMCN)
http://www.suaramerdeka.com/
Semoga mas Harry Surjadi ndak marah aku menulis ini, karena aku terkesan dengan emailnya hari ini.
Kukira aku sudah cukup puas dengan sedikit kemampuan menulisku, apalagi adek-adek kos selalu bilang mbak, " Saya pengen bisa menulis seperti mbak." Sebuah es dingin merembes ke dadaku, sejuk. Tenyata rasa puas itu adalah penghancur segalanya, pelena hati dan pembuat rasa sombong muncul.
Kenapa aku bisa sesombong ini, yah karena beberapa tulisanku keluar di Sabili, Republika dan tulisan rilisku hampir setiap hari dimuat media masa. Meski tanpa nama asliku. Tidak bukan begitu, aku menipu diriku sendiri dan malas untuk belajar....
Selama ini aku selalu berharap punya guru menulis yang baik, membimbingku dengan sabar dan memperhatikan semua hasil karyaku, dikritik habis. Aku kadang berharap sekali menjadi muridnya mas Farid Gaban (yah waktu di Jakarta School mas Sulak menanyakan siapa penulis yang bagus menurutku, aku menyebut salah satunya beliau). Tapi mas Farid seperti sesuatu yang sulit aku mintai bantuan. Beliau seperti di menara gading milis Jurnalisme. Orang terkenal memang sulit disentuh. :((.
Mas Sulak sendiri adalah guru yang baik dalam membuat metafora dan fiksi. Beliau seperti mas Farid, kadang sulit tersentuh, sedih sekali, beberapa emailku tak dijawab Mas Sulak. Sibuk sekalikah?
Dahulu saking aku pengennya punya guru menulis, aku kirimi email meminta dikritik tulisanku pada semua wartawan relasi IPB. Hanya satu yang peduli, wartawan Republika mas Erwin M Akbar (dia sekarang pasti lagi membaca ini ^_^). Aku senang sekali. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku menginginkan kemampuan lebih.
Kini ada mas Harry, beliau berbeda, mantan wartawan Kompas. Beliau memberikan banyak kritikan tanpa aku pinta, mengarahkan aku menulis baik dikala aku sendiri sudah merasa puas. Mentor menulis yang unik, guru yang telaten. Mengkoreksi tulisanku untuk menjadi benar-benar tulisan yang enak dan menarik. Walau jujur kukatakan standar tulisan beliau tinggi, aku kadang hampir putus asa mencari data yang kurang. Tapi aku pengen bisa lebih bisa dan punya kemampuan lebih. Bidang jurnalistik telah memikat hatiku.
Email dari aris untuk beliau:
Maaf lho mas, terima kasih sekali atas bantuannya. Dan kesediannya jadi mentor saya. ^_^
salam hangat Aris
Mas Harry menulis:
Aris, terima kasih untuk masukkannya. Aku perlu masukan seperti ini. Mungkin salahku juga terlalu tinggi memasang portalnya. Mungkin karena ukuran diri sendiri digunakan untuk orang lain.
Aku sendiri merasa tidak terlalu "kejam" dalam mengomentari dan meminta revisi karena aku berusaha agar tulisan teman-teman menjadi semakin sempurna. Terus terang kalau di media sungguhan, teman-teman sudah ditinggal editor. Dan pengalamanku lebih kejam lagi mereka dibandingkan aku.
Sekarang munkin para editor sudah lebih lunak, sudah beda generasi. Ketika aku masih baru di Kompas juga mengalami perlakuan serupa. Tapi karena itu aku belajar banyak. Bahkan senior-seniorku di Kompas cerita, zaman mereka masih cub reporter (reporter yang ikut-ikut reporter lainnya, cub dalam bahasa Inggris artinya anak singa yang masih belum disapih oleh induknya) lebih kejam lagi para editor. Sudah menulis naskah dengan mesin ketik, ketika diperiksa kalau masih jelek oleh editor langsung diremet-remet naskahnya lalu dibuang ke tempat sampah. Si reporter diminta menulis lagi sampai betul-betul sesuai dengan keinginan editor.
Aku biasanya mentargetkan tiga kali revisi. Kalau pada revisi ketiga masih belum sesuai, aku akan mengeditnya. Paling tidak sudah lebih sempurna dari draft pertama.
Dengan senang hati aku mau jadi mentor-mu menulis. Tapi jangan kapok dan putus asa. Satu nasihat yang selalu aku sampaikan: "Jangan mengirim naskah yang belum diedit atau dibaca ulang atau direvisi sendiri ke editor."
Okey, mungkin aku akan turunkan standar kualitas untuk pustaka tani. Lagi pula ada masukan dari para pengguna, katanya masih terlalu sulit memahami tulisan di pustakatani. Aku pikir bukan tulisannya yang sulit, mungkin karena topiknya bukan yang mereka butuhkan.
Salam, Harry Surjadi
Dalam satu hal makna hidup yang kuperoleh hari ini.. jangan pernah puas untuk belajar atau menghentikan belajar pada siapa pun... kalau itu terjadi .... ada senyawa kesombongan di hati. Maka jika dibiarkan saja, tunggulah ketertinggalanmu dan kehancuran masa depanmu. Itulah yang terjadi padaku... aku harus bangkit kembali.
Bila kulihat bintang diatas
Aku yakin diatasnya lagi ada bintang yang lebih terang
diatasnya lagi ada bintang lebih terang dari bintang terang
hingga ajal menjemput....bintang-bintang itu tetap beredar
jadilah salah satu bintang itu
Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Untuk hidup, orangtuaku bertani. Ia harus membajak tanah kering kuning dengan punggung menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda usianya dariku.
Di dusun kami, semua anak gadis membawa saputangan. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan aku mencuri uang ayahku lima puluh sen. Ayah segera menyadari uangnya hilang. Akibatnya beliau memaksa adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya sedikit berteriak.
Aku diam terpaku, terlalu takut untuk berkata-kata apalagi mengaku.
Karena ayah tidak mendengar ada yang mengaku, Beliau berkata, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Sebelum tongkat bambu itu terayun, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang mencurinya!"
Jadilah tongkat bambu panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Karena marahnya sudah memuncak, ia memukul, memukul, memukul, sampai kehabisan nafas.
Setelah itu, Beliau masih juga memarahi adikku, "Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan nanti? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Meskipun tubuhnya penuh dengan luka pukul, ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Aku mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih terus membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi kejadian tersebut masih terasa seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia delapan tahun. Aku 11 tahun.
Ketika adikku lulus SMP dan diterima masuk ke SMA di kabupaten, aku diterima masuk ke sebuah universitas provinsi.
Malam itu, ayah sambil menghisap rokok tembakaunya, batang demi batang, aku mendengarnya berkata kepada ibu, "Kedua anak kita berhasil lulus sekolah. Aku bangga."
Ibu mengusap setitik air matanya dan menghela nafas, "Apa gunanya keberhasilan itu? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai sekolah keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya memukul wajah adikku. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Saya akan menyekolahkan kalian berdua, meskipun saya mesti mengemis di jalanan atau harus meminjam uang."
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang sedikit membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku telah memutuskan untuk tidak akan meneruskan ke universitas.”
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan hanya membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Diam-diam ia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas bertulisan di atas bantalku. "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang," demikian isi pesan yang ditulis di kertas itu.
Aku memegang kertas dan menangis bercucuran air mata sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun dan aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.
Suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamarku teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana."
Ada apa seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar dan melihat adikku di kejauhan. Seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku bertanya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab sambil tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terharu, air mataku tak terbendung lagi. Aku membersihkan debu-debu yang menempel di wajah dan tubuh adikku, dan sambil tesedak aku berkata, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikan jepitan itu dikepalaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir Kakak juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan seluruh rumah kelihatan bersih. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi kata ibuku sambil tersenyum, "Adikmulah yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka di tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam kamar adikku. Melihat tubuh dan mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada luka tersayat kaca dan membalutnya.
"Sakit?" aku bertanya.
"Tidak, tidak sakit. Kakak tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Rasa sakit itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku memunggunginya. Air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa.
Adikku juga tidak setuju. "Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku direktur pabrik. Kami ingin adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan di pabrik itu. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku harus masuk rumah sakit karena tersengat listrik ketika memperbaiki kabel. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukanya begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami?"
Dengan wajah serius, ia membela keputusannya, "Pikirkanlah, kakak ipar baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan beredar?"
Mata suamiku berkaca-kaca.
"Tapi… kamu… kurang… pendidikan… juga… karena …aku!" kataku terbata-bata karena sambil menangis tersedu-sedu.
"Mengapa kita membicarakan masa lalu?" tanya adikku sambil menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun kami. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa berpikir ia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan jawaban itu dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika kami bersekolah di SD yang berada di dusun yang berbeda, setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.”
“Suatu hari di musim yang dingin ketika pulang sekolah, aku kehilangan satu dari dua sarung tanganku. Kakakku memberikan kepunyaannya satu. Ia hanya memakai satu saja. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan resepsi. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
(Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times")
Contoh Tulisan narasi.
HP Aris Hilang dan Ujian CPNS
Pagi, 11 Februari 2006, kos sepi semua orang pergi tinggal aris dan seorang adek kelas. Aris saat itu lagi konsentrasi belajar soal CPNS untuk hari ini. Karena bentuknya berupa file di CD aris pinjam komputer adek kelas. HPku ku charge di kamar kakak kelas.
Iseng-iseng ku cek untuk melihat apakah sudah penuh baterainya. Lha... ko tinggal charge-nya aja, kemana HP-nya. Maka spontan ku miscall via telpon kost. Dan.....terdengar suara perempuan :” Nomor yang ada hubungi tidak aktif, cobalah sekali lagi.” Berulang kali kucoba ngebel tapi yah.... . HP-ku diambil orang. Ini kejadian kedua setelah tetangga kamar aris.
Tidak-tidak ya Allah sama sekali tak ada syak wasangka terhadap warga kost ini. Aris mengenal mereka, Insya Allah tidak. Aris yakin ada orang yang masuk dengan cepat ke kost kami yang sepi dan mengambilnya. Semua terjadi begitu saja. Mudah nian ya Allah, engkau mengambil kembali segala sesuatu. Aris belajar untuk menerima qadha-MU. Unik sekali kenapa yang diambil HP yang Sony Erricson tipe T210 itu, kenapa tidak yang lain. Kasihan tuh pencuri.. Kenapa ngambil yang murahan. Paling kalau dilego cuma 200-300 ribu atau bahkan lebih rendah. Aneh... padahal HP itu kuletakkan di samping komputer, ada juga kalkulator merek Casio disitu, ada juga TV di ruang tamu dimana pasti sang pencuri melewatinya lebih dahulu sebelum ke kamar kakak kelas itu. Atau kulkas mini yang buntut disebelahnya.
Yah... kenapa HP kesayanganku. Kata kenapa itu yang kemudian aris menginsyafi itulah Qadha-Mu ya Allah. Aris hanya sedikit menyesal, bahwa cah bagusku waktu lebaran di kampung kemarin sangat meminta HP itu untuk ditukar dengan miliknya. Katanya, dia pengen punya sesuatu dari mbaknya, disamping HP-ku lebih komplit dari HP Siemen-nya dia. Oh..Cah Bagus kalau tahu gini mendingan aris kasih dan tukeran HP ama adekku. He he he he , penyesalan mesti diakhir ya. Yah.. untuk sementara ini aris tak bisa berkomunikasi via HP hingga waktu yang tak bisa ditentukan, (semoga Allah menggantikannya dengan lebih baik). Aris menyayangkan semua nomor relasiku disitu hilang sudah. Aris pasti merindukan suaranya itu lho yang khas.
Pukul 9.30 aris pergi ujian CPNS. Apakah aris berkeinginan jadi CPNS? Ah... aris merasa antara iya dan tidak. Sungguh ya Allah, aris tidak tahu yang terbaik untuk kehidupan aris. Aris hanya menjalani semua kesempatan yang ada. Untuk tahun 2005 ini, ini IPB staf pranata humas belum ada formasinya. Namun kebijakan IPB menetapkan hendaknya semua honorer ikut ujian CPNS.
Secara gradual, menurut informasi yang terbaru IPB akan mengangkat pegawai honorernya hingga tahun 2009 yakni bertepatan dengan akhir masa transisi BHMN. Tentu saja bagi yang lulus ujian CPNS. Seluruh honorer diminta ujian CPNS sekali ini saja, sehingga tahun-tahun berikutnya pegawai honorer tiak perlu ikut ujian CPNS lagi di IPB. Aris berusaha menjalani konsep usaha, latihan soal CPNS. Masya Allah, latihan yang aris fotokopi dan beli sangat sulit nian. Sejak malam harinya kepala ini pusing sekali, ada sinonim, akronim, korelasi, bahasa Indonesia, matematika, bahasa inggris, ketatanegaraan dsb.
Ya Allah mudahkanlah hamba dalam mengerjakan soal (begitulah hati berdoa). Dan ketika soal dibuka....a ris tersenyum-senyum sendiri. Seratus soal isinya pribadi, integitas, loyalitas, kewarganegaraan, ketaatan dsb. Alhamdulillah.. aris tidak tahu hasilnya. Mungkin banyak salahnya kali. Semoga tidak, Semoga Allah memberi hasil terbaik. Ujian CPNS-nya mirip muhasabah diri. Ah... aris sering beristighfar dalam hati jika aris menjawab tak sesuai kata hati.
Aris selalu membayangkan aris jadi pegawai negeri sipil bangsa Indonesia yang bernaung khilafah Islamiyah. Contoh soalnya gini, menurut saya bagaimanakah sikap kesatria dalam bekerja itu.....pilih a, b, c, d dan e. Konsisten dalam bekerja menurut saya adalah, pilih a, b, c, d dan e. Terus, jika atasan saya memberi suatu intruksi kedinasan apa yang saya lakukan.... hi hi hi hi hi (aris geli ini pertanyaan atau ngetes pribadi sih). Terus ada lagi nih, menurut anda apakah yang dimaksud keteguhan hati dalam bekerja? Pilih a, b, c, d dan e. Ya aris jawab sejujur mungkin sesuai kata hatiku, aris tak begitu memperdulikan salah atau tidak. Semua soal yang kupelajari tadi malam dengan sangat senut-senut, ternyata amat sedikit banget yang keluar di ujian kali ini ^_^. Akhirnya Alhamdulillah............., aris serahkan hasilnya pada-MU ya Allah. Apapun dari Mu itu yang terbaik untukku. Kebahagian itu absurd kecuali pemberian dari-MU. Sungguh!
My dear friend, untuk sementara kontak rumah di (0251) 627320 dan kantor (0251) 420635.
Selasa (25/1), aris mengikuti workshop ‘Keamanan Pangan Mie basah : Mencari Jalan keluar dari Masalah Formalin dan Boraks.” Workshop yang bagus dan rasanya aris dibahagiakan karena bisa bersua dengan para guru-guruku di Departemen Ilmu Teknologi Pangan (ITP). Workshop ini merupakan kerjasama antara IT, PT ISM Bogasari Flour Mills, Australian Wheat Board dan Jejaring Intejen Pangan BPOM RI.
Ah…. sayangnya setelah mengikuti semua itu aris jadi tahu dan semangat aris lunglai. Sesampai di kost aris lebih suka mendekam di tempat tidur, pusing, rasa bersalah dan ah entahlah…. Teman sekamarku menyapa,” Mbak lagi sakit ya.” Aku hanya diam. Terlalu banyak yang ingin kukatakan sehingga aku terdiam lama.
Pagi ini baru aris bisa mengeluarkan uneg-unegku pada beberapa teman kantorku.
I am very guilty. Booming isu chitosan yang mungkin dianggap berkah sebagian orang itu, akulah salah satu yang berkontribusi dalam melakukan kesalahan. Tapi sungguh aris hanya ingin membantu mencari jalan keluar. Ketika temanku sekantor dulu bilang, “Ris kira-kira apa solusi pengawet yang bisa menggantikan Formalin?”. Aris menjawab,” Pa klo tidak salah di Fakultas Perikanan sedang meneliti chitosan, dulu sih katanya harga produksinya mahal. Itu lho chitosan yang berasal dari chitin kerang, udang dan ranjungan.” Kebetulan setahun silam pasca mengikuti presentasi hasil penelitian para peneliti muda dan mewancarai salah satunya.
Yah, aris nggak tahu, secara insting satu-satunya peneliti muda yang kuwawancari itu ya peneliti dibidang chitosan itu seorang. Aris begitu tertarik saat itu dan membuat rilisnya, sayang rilis itu hanya tembus di Pikiran Rakyat. Itu Setahun lalu.
Aris tiada menyangka obrolon itu dijadikan referensi Bapak ini untuk menyelidiki siapa sesungguhnya pakar chitosan dan membuat press conference. Aris kemudian bingung kenapa yang keluar nama peneliti chitosan bu Linawati, sedang dulu aris mewancarai seorang bapak-bapak. Tanda Tanya itu hanya kusimpan dalam hati. Ada apa ini? Yah mungkin beliau adalah pembimbing penelitiannya kali atau something like that lah.
Hingga pasca press conference, boominglah Chitosan diberbagai media termasuk tv. I am very glad. Aku ikut bahagia bisa membantu.
Keesokannya, arislah yang terpilih untuk pergi ke CV.Dinar Tangerang dimana produksi chitosan bersama rekan wartawan dari Bogor. Aris senang sekali melihat aneka rupa hewan laut. Subhanallah indah nian, wah luar biasa macam-macem coraknya dan rupa-rupanya. Lebih indah lagi lihat terumbu karang atau coral. Ko bisa ya di laut melambai-lambai lunak berwarna-warni dan mempesona, tapi kalau diangkat ke darat serta mati jadi keras, membatu dan jelek banget. Harganya pun mahal. Coral itu untuk diekspor.
Tengah hari banyaklah wartawan berdatangan. Mereka tidak tahu apa yang kita dilakukan sebelumnya. Temanku yang biasa menyiapkan conference press telah membuat suatu scenario. Salahkah dia, tentu tidak!. Sebagai seorang humas dia harus bisa mengangkat nama IPB dengan mempersiapkan rekontruksi pembuatan chitosan, bukankah itu tujuan PR IPB? Aris hanya menyayangkan keterburuan pakar IPB tentang Chitosan itu, jika belum mengantongi izin dari menteri Kesehatan kenapa mengatakan CV.Dinar siap memproduksi. Kenapa malu untuk berkata tidak! Aris tahu semua rekayasa ini. Hatiku terluka pakar ini belum siap untuk meluncurkan chitosan. Dan banyak hal lain yang aku tak bisa ungkapkan.
Memang kata beliau chitosan bisa memperlama waktu simpan bakso, mie basah dll. tapi Amankah Chitosan buatan beliau inih? Kenapa teman-teman wartawan ndak menanyakan ini. Sedih lagi, kenapa ada wartawan yang menulis ini temuan IPB. That’s the big mistake. Klo orang luar negeri baca tuh berita tertawalah dunia. Chitosan tuh sudah digunakan lama di dunia, Indonesia yang gaptek aja. Maaf! Aris merasa aris ikut berkontribusi dalam kesalahan “konspirasi public” yang membuat pedagang tahu, bakso dll berbesar hati. Adakah yang bisa merasakan mereka, dagangan mereka nggak laku, gulung tikar. Mereka butuh hidup. Butuh solusi segera. Berulangkali Ibu Lina melayani permintaan dari pedagang kapan chitosan beredar. Bagaimana bisa beredar! Pertama surat izin belum keluar, kedua produksi aja baru perdana, ketiga amankah buatan beliau itu.
Aris jadi tahu waktu di Workshop hari Selasa itu. Memang ada rasa jealous antara ITP dan THP (teknologi hasil Perikanan) tapi bisakah ini diselesaikan. Untuk mengetahui produk itu aman atau tidak, perlu uji penelitian yang membutuhkan waktu minimal 1 tahun. Chitosan akan diransumkan kepada bayi tikus atau bayi kelinci, kemudian dibedah dan diteliti effect mengkonsumsi chitosan. Kalau bayi tikusnya belum ada, kita harus mengkawinkan tikusnya dulu dan menunggu bayinya lahir. Lebih lama lagi kan. terus itu baru hewan percobaan apakah effeknya sama dengan manusia. Ini butuh waktu lama lagi. Keburu, kelaparan perut para anak istri pedagang kecil dan UKM kita.
Salah satu pembicara dari ITP merekomendasikan tentang perbaikan sanitasi produksi UKM dan pedagang dll. Itu betul, tapi ah… bagaimana mereka mau memikirkan sanitasi lha wong mereka bingung apa yang mau dimakan. Sanitasi akan difikirkan bila perut mereka sudah kenyang. Aris lihat berita di TV, ada penduduk di Sukabumi makan sehari dengan singkong mentah karena nggak bisa beli minyak dan beras. Duh gusti……… adakah para pejabat pemerintah mau merelakan Volvo dan mercy mereka untuk dijual buat mereka.
Para pembicara dan peserta workshop kemudian membuat rekomendasi pada pemerintah. Pemerintah lagi, pemerintah lagi, apa nggak kapok. Maukah pemerintah peduli pada rakyat, sedang DPR saja dalam voting angket impor beras kalah suara. Nggak bisa membuat impor beras ditolak. Melengkapi keputusan Pemerintah yang sejak awal sangat seuju impor beras.
Andai pemerintah sejak dulu peduli, maka tak perlu ada bahan pengawet akibat sanitasi yang buruk dan produk makanan kita nggak tahan lama. Soalnya sudah terkontaminasi mikroba dulu sebelum dijual dan dikonsumsi. Pengawet makanan kan tujuannya untuk memperlama dan mempertahankan kualitas produknya. Kalau produk pangan bersih dan higeinis maka mikroba yang tumbuh sedikit, kita tak perlu pengawet. Yah… peningkatan sanitasi dan fasilitas butuh dana. Emang pemerintah mau kasih ya? Mengaharapkan pemerintah lagi…… apa nggak salah. Bisa kalau sistemnya nggak sekarang. Andai pemerintah peduli pendidikan masyarakatnya, pasti memurahkan pendidikan. Sehingga masyarakat tahu apa itu formalin, boraks dan pewarna tekstil serta bahayanya. Pasti mereka tak mau pakai bahan-bahan kimia berbahaya itu. Semua ini akumulatif dari masalah.
Aris kadang lelah mendengar, pakar-pakar di Indonesia selalu berusaha keras mencari solusi setiap akibat dari masalah. tapi tak berusaha keras untuk mencegah termasuk pemerintah. Ah… benarlah kita terlalu banyak berkata-kata yang kurang mumpuni mengubah masyarakat.
Pesankan Saya Tempat di Neraka !!!
Sebuah kisah di musim panas yang sangat menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkan. Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi. Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan social. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogative seseorang. “Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!” Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus mengumamkan kalimat-kalimat Allah. Detik-detik berikutnya suasana pun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap |
|