Nur's posts with tag: my scientific

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag my scientific
Blog EntryTulisanku di Koran Tempo Hari iniJul 6, '06 11:23 PM
for everyone

Ini sekilas tentang tulisanku... ah sebuah perjuangan yang lumayan. Untuk tulisan ini sungguh.. aku merasakan  arti usaha yang serius.

 Sirih Merah, Penurun Glukosa Darah
 
 Sirih merah atau bahasa latinnya Piper crocatum, kini hadir
tidak hanya sebagai tanaman hias, tapi juga tanaman obat tradisional
penderita kencing manis (diabetes mellitus/DM).
 
Ciri khas tanaman tropis ini,berbatang bulat hijau keunguan
dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian
atasnya meruncing. Permukaan daun mengkilap dan tidak merata.
Seperti sirih hijau, tanaman sirih merah juga tumbuh merambat di
pagar atau pohon. Daunnya berasa pahit getar, namun beraroma lebih wangi
dibanding sirih hijau. Bila disobek, daun sirih merah
akan berlendir.
 
Tanaman sirih merah menyukai tempat teduh, berhawa sejuk dan
sinar matahari 60-75 persen.  Tanaman sirih merah tumbuh subur
dan bagus di daerah pegunungan. Bila tumbuh pada daerah panas,
sinar matahari langsung, batangnya cepat mengering. Selain itu, warna merah
daunnya akan pudar. Padahal kemungkinan khasiatnya terletak pada  senyawa kimia yang
terkandung dalam warna merah daunnya.

 Masyarakat Sleman, Yogyakarta khususnya, telah memanfaatkan
khasiat daun sirih merah ini turun temurun. Secara empiris, selain 
kencing manis, daun sirih merah sering dimanfaatkan sebagai obat
alternatif ambeien, peradangan, kanker, asam urat, hipertensi (darah tingi),
hepatitis, kelelahan dan maag.
 
Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah yakni
alkoloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Menurut  Ivorra, M.D dalam buku A
Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,  senyawa
aktif  alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun
kadar glukosa darah. Hara (1993) menyatakan senyawa tanin dan saponin
dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri dan virus).

Aman dikonsumsi

Peneliti muda  dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Mega Safithri dan
Farah Fahma telah meneliti toksisitas ekstrak air daun merah dan kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa
darah tikus.
     
Pembuatan ekstrak daun sirih merah sangatlah mudah. 
Sebanyak 200 gram daun sirih merah direbus bersama  1 liter air sampai
volumenya tinggal 100 ml. Perbandingan berat daun sirih merah dengan volume
ekstrak rebusan yang diminum adalah 200 g : 100 ml atau 2 : 1.
 
 
Untuk mengetahui tingkat keamanan dan efek samping daun yang
bersifat antiseptik ini, Mega melakukan uji toksisitas. Ekstrak dengan
konsentrasi 0, 5, 10, 20 g/kg bobot badan diberikan secara oral pada
masing-masing enam ekor tikus Sparague dawley. Setelah 7 hari
pencekokan,bobot tubuh ke-24 tikus tersebut bertambah dan sehat wal
alfiat. Berarti, pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat
badan aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik (beracun).
 
Menurunkan 34 persen Glukosa Darah Tikus DM
 
 Dosis tepat sebagai obat DM, bisa ditentukan melalui uji
antihiperglikemik pada 6 kelompok tikus. Masing-masing kelompok terdiri
dari 4 ekor tikus. Kelompok A terdiri tikus yang mendapat induksi NaCl 0,9 %
(b/v) dan cekok akuades. Kelompok B berisi tikus yang diinduksi aloksan
dosis 150 mg/kg BB dan cekok akuades. Dalam percobaan, tikus disengaja agar
menderita penyakit DM, dengan pemberian aloksan dosis 150 mg/kg BB.
Kelompok C berisi tikus yang diinduksi aloksan dosis 150 mg/kg BB dan
cekok obat antidiabetes komersial, daonil 3,22 ml/kg. Kelompok D, E, F berisi
tikus yang diinduksi aloksan dosis 150 mg/kg BB dan berturut-turut cekok
ekstrak daun sirih merah 100 x dosis daonil, 1000 x dosis daonil, dan 20 g/kg
BB.
 
 Perlakuan tersebut berlangsung selama 10 hari dan selanjutnya
dilakukan  pengukuran kadar glukosa darah masing-masing kelompok.
Hasilnya, kadar glukosa darah kelompok tikus  E dan F menunjukkan tidak berbeda nyata atau sama dengan
kelompok tikus normal.  Ekstrak daun sirih merah dosis 20 g/kg BB mampu
menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34, 3 %. Lebih tinggi
penurunnya dibanding pemberian obat anti DM komesial daonil 3,22 ml/kg  
yang hanya menurunkan 27 persen glukosa darah tikus.
 
”Walau pengujiannya menggunakan tikus, akan tetapi bisa
diaplikasikan pada manusia penderita DM. Dosisnya ialah berat badan
penderita dikalikan dengan 20g/kg BB,” jelas Staf  Pengajar Departemen Biokimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB ini. Dia menyarankan,
kalau penderita DM memiliki berat badan 50 kg maka ia membutuhkan 1 kg
daun sirih merah segar atau 500 ml ekstrak air rebusan. Ektrak ini bisa
diminum dua kali sehari setiap pagi dan sore sebanyak 250 ml. Meski demikian, uji klinis
langsung pada penderita kencing manis belum pernah dilakukan.

Penulis : Aris Solikhah *) Staf Prohumasi IPB, Alumni Departemen Ilmu
dan Teknologi Pangan FAteta IPB

Koran Tempo, Jum'at 7 Juli 2006 halaman B5

Oh Ya Rahman... Betapa Engkau sangat baik padaku, duhai Tuhanku... bantulah aku mensyukuri nikmat-MU dengan lebih banyak berbakti pada-Mu. Tiada kata yang terucap selain bahagia hatiku. Bergetar hatiku... ini adalah tulisanku pertama yang dimuat media masa Nasional atas nama asliku sendiri dan nama kantorku sendiri. Koran Tempo,ya Allah Engkau kabulkan satu impianku di tahun 2006 ini. Popular Scientific writing in mass media.Ya Allah Thank U so much.....


Blog EntryLawan Kencing Manis dengan BuncisJun 2, '06 1:05 AM
for everyone

Aku tak akan pernah melupakan tulisan ini. Tulisan ini keluar di Pikiran Rakyat, Radar Bogor, Republika, Sriwijarya pos, waspada, BPOM  etc . Tulisan ini menuai kritik sang peneliti karena aku  tak konfirmasi dulu. Kantor kami didamprat ^_^. Padahal sudah kesepakatan tanpa konfimasi pun kami berhak mempublikasikannya.

Kepala kantor dan editorku menanggapinya dengan sangat baik. (Aku banyak belajar dari mereka tentang manajemen konflik). Aku dipanggil pada kasus ini. Satu-satunya kesalahan terbesarku adalah karea aku jeli melihat potensi penelitian tersebut sehingga dua senyawa kimia dibawah seharusnya  tidak boleh di publikasikan.

Nasi sudah jadi bubur, editorku membuatnya lebih manis. Editor yang kemudian mempromosikan aku untuk selanjutnya banyak nulis di bidang ilmiah atau penelitian..aku  tak percaya... benarkah aku bisa?

 Kadang aku ingin focus saja menulis di dua bidang ilmiah populer dan keislaman.. hanya saja saat ini tak memungkinkah..aku banyak terfocus di mana-mana he he he, tapi satu hal yang kupelajari bahwa dunia menulis itu sangat menantang, menyenangkan dan menggairahkan terutama kalau aku lagi mood ... ......kalau lagi down walah...,

Aku sangat terkesan dengan tulisan ini...dengan tulisan ini aku akan selalu ingat bahwa aku bisa!

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1003/08/0108.htm

Lawan Kencing Manis dengan Buncis

PENYAKIT kencing manis atau bahasa keren-nya diabetes melitus banyak diidap orang Indonesia. Seorang penderita diabetes melitus memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi sehingga si penderita harus hati-hati dalam menerapkan pola makan. Dokter pun sering menganjurkan agar penderita disiplin dalam mengonsumsi obat, berdiet, dan melakukan olah raga, serta menjauhi stres. Banyak memang obat yang beredar di pasaran untuk mengobati diabetes tersebut, namun sering harganya mahal karena bahan-bahannya haruslah diimpor. Bagaimana mau menjauhi stres jika untuk membeli obat yang harganya selangit saja susah.

Beruntung, kini telah ditemukan obat yang murah meriah dan dapat diperoleh dengan mudah. Di pasar-pasar tradisional yang becek ketika hujan dan penuh debu saat musim kemarau, "obat" ini bisa dengan mudah didapatkan. Di supermarket-supermarket pun ada, tapi kalau mau lebih murah memang lebih baik memilih di pasar tradisional. Kalau malas bepergian, kita cukup menunggu tukang sayur yang lewat depan rumah.

Lalu "obat" apa yang murah meriah itu?

Buncis. Ya, tepat. Tanaman yang buahnya mirip kacang panjang, tapi lebih pendek dan gemuk itu ternyata mampu mengobati penyakit diabetes melitus. Hal tersebut terungkap dalam disertasi Yayuk Andayani, yang telah mempresentasikan penelitiannya berjudul "Mekanisme Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Buncis pada Tikus Diabetes dan Identifikasi Komponen Aktif" untuk memperoleh gelar doktor di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, beberapa waktu lalu.

Dalam penelitiannya, Yayuk menggunakan tikus putih sebagai binatang percobaan. Tikus putih berusia tiga bulan itu oleh Yayuk diberi perlakuan induksi diabetes. Artinya, "dengan sengaja" si tikus putih dibuat mengidap diabetes melitus. Sebelum diinjeksi dengan diabetes, tikus tersebut telah diberi ekstrak buncis. Ternyata dalam waktu 30 menit setelah "dengan sengaja" dibuat menderita diabetes, tekanan gula darah tikus-tikus percobaan kembali normal, tanpa mengalami penurunan pada tingkat hipoglikemik (di bawah kadar gula normal-red.).

Timbul pertanyaan, apa sih "kesaktian" buncis sehingga hanya dalam waktu setengah jam bisa menurunkan kadar gula dalam darah hingga batas normal. Berdasar analisis Yayuk, di dalam buncis terkandung zat yang dinamakan B-sitosterol dan stigmasterol. Kedua zat inilah yang mampu meningkatkan produksi insulin.

Insulin adalah suatu hormon yang dihasilkan secara alamiah oleh tubuh kita dari organ tubuh yang dinamakan pankreas. Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Seseorang mengalami diabetes melitus bila pankreas hanya sedikit menghasilkan insulin atau tidak mampu memproduksi sama sekali. Ternyata dua zat tadi mampu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulinnya.

Selain dua zat tadi, Yayuk memperoleh data bahwa dari 100 gram ekstrak buncis terkandung karbohidrat 7,81 persen, lemak 0,28 persen, protein 1,77 persen, serat kasar 2,07 persen, dan kadar abu 0,32 persen.

Bagi dunia kedokteran dan farmasi, penemuan Yayuk ini tentu bisa dijadikan referensi untuk membuat obat diabetes dengan mengekstrak buncis. Tentunya banyak keuntungan yang diperoleh, terutama bagi masyarakat, karena obat diabetes akan lebih murah dan mudah didapat dengan banyaknya bahan yang tersedia.

Bagi masyarakat, terobosan Yayuk itu bisa melegakan hati banyak orang pengidap diabetes melitus, khususnya mereka dari kalangan tidak mampu. Cukup membeli sayur buncis dan memakannya secara teratur, kadar gula dalam darah bisa turun. Pengolahannya pun tidak sembarangan. Manfaat buncis lebih terasa bila dimakan sebagai lalapan. Kalau dimasak dalam bentuk oseng-oseng, dengan tambahan daging, tentunya sama saja.

Berbahagialah mereka yang kerap makan lalapan buncis. Ternyata selain manis, buncis juga bisa mencegah dan menghilangkan penyakit kencing manis. Mau coba? (Esge/"PR")***


Blog EntryGempa YogyaJun 2, '06 12:12 AM
for everyone

Aku simpan ini... ilmu yang sangat bermanfaat...

Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@Gmail.com> wrote:

JAWABAN/PEDOMAN PRAKTIS-ILMIAH

TENTANG GEMPA YOGJA – JATENG 27 MEI 2006

Oleh:

PERHIMAGI (Persatuan Himpunan Mahasiswa Geologi
Indonesia) YOGJA

IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) DIY/Jateng

Yayasan Harinjing Lestari AMC (Adventurers & Mountain
Climbers) Malang/Jakarta





APA YANG MENYEBABKAN GEMPA YOGJA-JATENG 27 MEI 2006
KEMARIN?

•KEGIATAN GUNUNG MERAPI (Komisi Tektonik PP-IAGI)

•GERAKAN LEMPENG BUMI DI LAUT SELATAN YOGJA (BMG)

•GERAKAN PATAHAN LAPISAN BUMI YANG MEMANJANG DARI
BANTUL SAMPAI KLATEN (BG-ESDM)


KOQ YOGJA BISA KENA GEMPA TO?

• Daerah-daerah Indonesia di sepanjang Pantai Barat
Sumatra, Pantai Selatan Jawa, Bali, Nusa-Tenggara,
Maluku, Sulawesi, utara Papua, semuanya pernah dan
selalu punya peluang terkena gempa, termasuk Yogja

• Hal tersebut disebabkan oleh posisi tektonik
sebagian besar daerah Indonesia yang berada di
pertemuan lempeng-lempeng besar dunia yang selalu
bergerak satu dengan lainnya; dan juga berada pada
jalur gunung api aktif dunia.

APAKAH KEJADIAN GEMPA TERSEBUT SUDAH DIKETAHUI
SEBELUMNYA MELALUI ILMU PENGETAHUAN? (1)

• "PELUANG" UNTUK TERJADI SUDAH DIKETAHUI OLEH PARA
AHLI

•"KAPAN WAKTU TEPATNYA" UNTUK TERJADI =è ILMU
PENGETAHUAN HANYA DAPAT MENGIRA-NGIRA DALAM RENTANG
WAKTU PANJANG (50 TAHUNAN, 100 – 300 TAHUNAN)

APAKAH KEJADIAN GEMPA TERSEBUT SUDAH DIKETAHUI
SEBELUMNYA MELALUI ILMU PENGETAHUAN? (2)

•SAMPAI SAAT INI DI SELURUH DUNIA: TIDAK ADA SATUPUN
AHLI KEBUMIAN YANG DAPAT MENENTUKAN TAHUN BERAPA SUATU
GEMPA BESAR AKAN TERJADI DI SUATU TEMPAT, APALAGI
SAMPAI MENYEBUTKAN BULAN, TANGGAL, DAN JAM

• JADI KALAU ADA ISU YANG MENYEBUTKAN URAIAN RINCI
SEPERTI ITU BERARTI ITU ADALAH ISU YANG TIDAK BERDASAR
PADA ILMU PENGETAHUAN KEBUMIAN YANG BENAR JANGAN
DIPERCAYA !!!



APAKAH GEMPA BESAR SEPERTI KEMAREN ITU BISA TERJADI
LAGI DI YOGJA-JATENG ? (1)

•KECIL SEKALI PELUANGNYA UNTUK TERJADI LAGI DALAM
WAKTU KURANG DARI 50 TAHUN MENDATANG

•Sejarah kejadian gempabumi merusak di Wilayah
Yogyakarta:

–1867: 372 rumah roboh, 5 orang meninggal

–1943: 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096
orang luka

–1981: dinding Hotel Ambarukmo retak-retak

–2006: 6.234 orang meninggal, > 50.000 luka-luka, >
70.000 bangunan rusak/ambruk

APAKAH GEMPA BESAR SEPERTI KEMAREN ITU BISA TERJADI
LAGI DI YOGJA-JATENG ? (2)

•Terjadinya gempa-gempa besar di lokasi yang sama
berulang dalam rentang waktu > 50 tahun (bahkan bisa
100-300 tahunan) sehingga seringkali "terlupakan" oleh
individu perorangan, kelompok, bahkan oleh negara yang
harusnya melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan
"jangka sangat panjang"

• Ceritakan ini semua ke anak-cucu sehingga generasi
mendatang (50-100 tahun lagi) lebih waspada dan
berhati-hati dalam mencegah bencananya (bukan mencegah
gempa-nya, karena gempa tidak bisa dicegah)

KAPAN RANGKAIAN GEMPA DI YOGJA & JATENG INI SELESAI ?

•Gempa susulan di Aceh (yang gempa utama-nya s/d skala
9.1 SR) berlangsung sampai dengan 2-3 bulan

•Karena gempa utama Yogja-Jateng ini skalanya lebih
kecil (5.9 - 6.1 SR), maka tentunya gempa-gempa
susulan-nya diharapkan berlangsung lebih singkat dari
yang terjadi di Aceh. Kemungkinan kurang dari 2 bulan.

• Kalau ingin memperbaiki rumah menjadi permanen:
jangan dulu dilaksanakan dalam 2 bulan kedepan.
Setelah 2 bulan: cukup aman untuk membangun kembali
rumah/bangunan yang rusak

• Untuk sementara waktu tinggal / beraktifitas di
bangunan-bangunan sementara

• Oleh karenanya, pemerintahkan mencanangkan kondisi
darurat selama 3 bulan dari 27 Mei 2006 kemarin.

TSUNAMI APA BENAR BISA TERJADI DI YOGJA-JATENG ? (1)

•Untuk gempa 27 Mei 2006 yang lalu Tsunami TIDAK
TERJADI, demikian pula dengan gempa-gempa susulan s/d
2 bulan ke depan: TIDAK AKAN ADA TSUNAMI yang
menyertainya.

•Tsunami bisa terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa
Tengah dan Yogja apabila ada gempa besar (> 7 SR) di
Laut Selatan yang diakibatkan oleh gerakan lempeng
yang diikuti oleh "patahan naik"

TSUNAMI APA BENAR BISA TERJADI DI YOGJA-JATENG ? (2)

• KAPAN?? … sampai sekarang tidak ada yang dapat
meramalkan, tergantung dari terjadinya kembali
gempa-gempa besar di selatan Jawa Tengah / Yogja
tersebut

•Karena tidak bisa meramalkan secara tepat WAKTU-nya,
maka yang paling benar adalah MEMPERSIAPKAN DIRI
(Lingkungan, Kabupaten, Provinsi, Negara) untuk
menghadapinya sewaktu-waktu dengan:

–Perencanaan pembangunan wilayah yang benar dan aman

–Penerapan kode bangunan yang benar dalam pembangunan
infrastruktur

–Penelitian gempa – tsunami yang intensif

–Terus menerus menceritakan / sosialisasi tentang cara
pencegahan bencana – peneyelamatan diri di berbagai
lingkungan (pendidikan, masyarakat, pemerintahan dsb)

APAKAH GEMPA 27 MEI 2006 BISA MEMICU GN.MERAPI MELETUS
(LEBIH KUAT)?

•KEMUNGKINAN-NYA 50-50

•SESAAT SETELAH GEMPA 27 MEI, S/D 3 HARI KEMUDIAN
MERAPI MENUNJUKKAN AKTIFITAS GUGURAN LAVA YANG MAKIN
MENINGKAT

•APABILA AKTIFITAS TERSEBUT MAKIN MENINGKAT DALAM 7
HARI KEDEPAN, MAKA MEMANG LETUSAN MERAPI HARUS
DIWASPADAI ==è CARI INFORMASI SEGERA DARI BPPTK YOGJA
(PAK RATDOMO PURBO DKK)

•APABILA DALAM 7-10 HARI KEDEPAN ADA KECENDERUNGAN
MENURUN, MAKA BERARTI MAGMA YANG AKAN DIMUNTAHKAN
MERAPI DIPINDAHKAN DI BAWAH PERMUKAAN BUMI MENGISI
RUANGAN-RUANGAN KOSONG YANG DICIPTAKAN OLEH GEMPA YANG
LALU





NOMER-NOMER TILPUN YANG BISA DIHUBUNGI UNTUK
PERTANYAAN SEPUTAR GEOLOGI-GEOFISIKA GEMPA 27 MEI 2006



•PERHIMAGI (Persatuan Himpunan Mahasiswa Geologi
Indonesia) YOGJA:

–Adeni (081332052852)

–Purnama (081578771832)

–Farid (08522836510)

•IAGI (IKATAN AHLI GEOLOGI) DIY/JATENG

–Dr. Sari Bahagiarti (08122782595)

–Dr. Dwikorita Karnawati (0811286756)

–Agus Hendratno, ST., MT. (08156868523)

–Hill Gendoet Hartono, ST., MT (08164222011)

•YAYASAN HARINJING LESTARI AMC MALANG – JAKARTA

–Ir. Agoes Tirto BSc., MT (085234599669)

–Dr. Andang Bachtiar (0816743904)


Category:Other
ITP-IPB Sosialisasikan Formulasi Mie Basah Yang Aman
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Tenologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) mensosialisasikan formulasi mie basah dengan tambahan pangan yang aman dikonsumsi dalam Workshop ’Keamanan Pangan Mie Basah : Mencari Jalan Keluar dari Masalah Formalin dan Boraks’ Selasa (24/1) di Kampus IPB Gunung Gede. ”Formulasi mie basah hasil penelitian Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan mempunyai komposisi 25 kg terigu, 8.5 kg air, 0.075 % (25 gram) Ca-propianat, 2.5% Na-Asetat (35 gram), 0.025 % (8.5 gram) Paraben. Formulasi ini aman untuk dikonsumsi dan memiliki daya awet 2 hari,” ungkap Staf Pengajar ITP Dr.Ratih Dewanti Hariyadi. Daya keawetan mie basah ini sesuai dengan permintaan produsen mie yang menginginkan lamanya waktu simpan 2 hari saja. Normalnya, mie basah hanya bisa bertahan 16 jam.
Penggunaan formalin berdasarkan hasil kajian ITP, malah merusak mutu produk mie basah itu sendiri. Seringkali, dalam proses pembuatan mie basah jumlah mikroba yang tumbuh sudah melebihi ambang batas kesehatan dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yakni satu juta mikroba. ”Sedangkan jumlah mikroba dalam mie basah sering dijumpai sudah lebih dari 10 juta, ” tutur Ratih. Pertumbuhan mikroba seperti kapang, kamir, kapang, bakteri dan virus yang tinggi menyebabkan pangan cepat rusak dan busuk. ”Yang menjadi akar persoalan penggunaan formalin dan boraks dalam proses pembuatan makanan khususnya mie basah saat ini bukanlah menemukan pengawet yang aman. Namun membenahi kondisi sanitasi proses produksi, peralatan produksi, perilaku pekerja dan distribusi pangan,” urai Ratih panjang lebar sambil menunjukkan foto-foto proses pembuatan mie di salah satu usaha kecil menengah.
Dalam foto tersebut terlihat para pekerja yang melepaskan baju sehingga keringat mereka menetes bercampur dengan adonan mie. Peralatan yang digunakan untuk produksi pun tampak kurang terjaga kebersihannya. Bahan baku berceceran tak teratur dan mengotori ruang produksi. Air sebagai bahan baku pembuatan mie basah berasal dari sumur yang tak terawat kebersihannya. ”Sanitasi buruk menjadi kontaminan produksi mie basah, sehingga memacu pertumbuhan mikroba pembusuk,” kata Ratih.
Workshop yang dihadiri pengusaha mie basah, perwakilan BPOM se-Indonesia, kalangan industri dan lemabaga pemerintahan ini terselenggara berkat kerjasama Departemen ITP IPB dengan PT ISM Bogasari Flour Milss, Australian Wheat Board (AWB) dan Jejaring Intelijen Pangan-BPOM RI. Target utama kegiatan ini adalah memberi solusi yang berkelanjutan dengan strategis bisnis yang sehat. ”Hal ini tentu saja sejalan dengan misi kami untuk memberikan solusi-solusi jangka panjang dalam menyelesaikan permasalahan pangan di Indonesia. Kami sadar bahwa pendekatan-pendekatan instan dan jangka pendek, misalnya dalam bentuk sekedar pencarian bahan pengawt pengganti bukanlah setategi yang optimal,” jelas Ketua Panitia Workshop Dr. Dahrul Syah dalam sambutan awalnya. Oleh karena itu menurut Dahrul yang juga Ketua Depertemen ITP itu, IPB berupaya melakukan upaya pendekatan-pendekatan teknologi pangan yang tersedia mulai dari praktek-pratek sanitasi dan hygiene yang sederhana, penerapan tatacara produksi yang baik, penggunaan bahan tambahan pangan legal hingga stategi pengembangan bisnis yang selaras dengan prinsip keamanan pangan.
Sementara Deputi 3 Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya-BPOM RI, Prof.Dr.Ir. Dedi Fardiaz dalam keynotespeechnya mengutarakan bahwa upaya pembongkaran makanan berformalin, boraks dan pewarna tekstil itu sudah dilakukan BPOM sejak lama. Namun boomingnya baru sekarang. ”Program BPOM yang akan ditingkatkan akan meliputi 4 poin yakni pengaturan tata niaga bahan berbahaya, pembinaan (public education), pengawasan dan penyelamatan UKM,” tegasnya. (ris)


ReviewReviewReviewPicung, Pengawet Alami Ikan SegarJan 23, '06 12:03 AM
for everyone
Category:Other
Picung, Pengawet Alami Ikan Segar

Pohon picung atau kluwak (jawa) banyak tersebar di seluruh nusantara. Selain sebagai bumbu masak dapur, biji buah picung juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet alami ikan segar. “Kombinasi 2 % biji buah picung dan 2% garam dari total berat ikan telah mampu mengawetkan ikan kembung segar selama 6 hari tanpa merubah mutu,” ungkap Prof John Haluan, Guru Besar Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Senin (16/ 1) di Kampus IPB Darmaga.

Normalnya, ikan kembung segar yang disimpan di suhu kamar tanpa penambahan picung atau es hanya bisa bertahan 6 jam. Lebih dari itu, ikan tersebut akan busuk dan rusak. Hasil penelitian R.A Hangesti Emi Widyasari, mahasiswa S2 Program Studi Teknologi Kelautan Sekolah Pasca Sarjana IPB ini merupakan terobosan dalam mengatasi kesulitan pemerolehan dan menekan harga es batu. Disamping menghindari penggunaan larutan formalin yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Seorang nelayan untuk mempertahankan mutu ikan hasil tangkapannya membutuhkan es batu minimal 1 :1 berat ikan segar. “Bila ikan yang ditangkap 50 kg, maka nelayan membutuhkan es batu minimal 50 kg pula. Namun dengan memanfaatkan cacahan biji buah picung, nelayan hanya membutuhkan 1 kg cacahan biji buah picung untuk 50 kg ikan segar,” kata Hangesti.

Di pasaran 1 kilogram buah picung dihargai sekitar Rp 3000- Rp 4000,-. Pemanfaatan biji buah picung sudah dikenal secara tradisional nelayan Banten. Mereka melumuri ikan hasil ikan tangkapannya dengan cacahan biji buah picung. Setelah penyimpanan 6 hari ikan tersebut dapat langsung dimasak tanpa perlu penambahan bumbu.

Mekanismenya sederhana, pertama pengupasan biji picung, kedua dilakukan pencacahan daging biji picung, ketiga pencampuran picung dengan garam, keempat pelumuran (campuran picung & garam pada ikan kembung segar, kelima pengemasan (dalam ember plastik tertutup, setiap hari dibuka selama 5 menit), keenam penyimpanan dalam suhu kamar. “Biji picung mengandung senyawa antioksidan dan golongan flavonoid. Senyawa antioksidan yang berfungsi sebagai antikanker dalam biji picung antara lain : vitamin C, ion besi, dan B karoten. Sedangkan golongan flavonoid biji picung yang memiliki aktivitas antibakteri yakni asam sianida, asam hidnokarpat, asam khaulmograt, asam gorlat dan tanin,” jelas Hangesti.

Khusus senyawa asam sianida dan tanin, kedua senyawa inilah yang mampu memberikan efek pengawetan terhadap ikan. Asam sianida biji picung ini sangat beracun. Oleh karena itu, Hangesti mewanti-wanti agar tak melakukan proses pengawetan dihadapan ayam atau binatang ternak. Sebab bila asam sianida ini terhirup langsung hewan ternak bisa mengakibatkan kematian. “Meskipun asam sianida biji picung sangat beracun, tetapi mudah dihilangkan karena sifatnya mudah larut dan menguap pada suhu 26 derajat C, sehingga aman sebagai pengawet ikan,” kata tandas Hangesti (ris).




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help