Nur's posts with tag: nada kecamuk

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nada kecamuk
Blog EntryBintang JatuhJun 10, '08 2:58 AM
for everyone

Kutatap langit

Bintang merah akan jatuh

 

Aku suka bintang biru hijau

Jatuh dalam pelukanku

Lama menunggu, tak jatuh jua

 

 

 

Tak apalah bila bintang merah

Sinarnya lebih redup

Tapi ia  tetaplah bintang

 

Mendongak mata tak berkedip

Sungguh aku pinta satu bintang

Bintang merah pun tak apa

 

Maka demi itu

Kurapalkan matra berbagai doa

Merayu masyuk  kyusuk

Hanya Pemiliknya mampu belokkan  sang bintang

Agar jatuh kepelukanku

 

Aku ingin seperti empu gandring

Yang bisa menempa material bintang

Menjadi keris ampuh adidaya

Untuk membunuh kejahatan  mayapada

 

 

Aku ingin bintang merah itu

Sungguh.. tidak ada yang tidak mungkin

Bagi Pemilik bintang merubah arah jatuh

Wahai sang Bintang kemarilah..

 

Biarlah kusentuh,

kusepuh

Kutatah

sepenuh kasih

 

Ya Allah, hamba Mohon kabulkan doa hamba, sebuah bintang merah....hamba sudah lelah, lelah,  lelah sekali....


Blog EntryMerenungi Fragmen Malam..Jun 6, '08 1:33 AM
for everyone

Hari ini menginjak hari ketiga, aku belajar bahasa inggris lagi di CIA Merdeka Bogor. Biaya pendidikannya ditanggung seorang dermawan yang menginginkan aku bisa berbahasa Inggris dengan baik. (semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan rezki barokah).  Tiap malam pukul 19.30-21.30 WIB selama 1,5 bulan Insya Allah pelajaran bahasa Inggris kujalani. Usai kerja tentunya. Aku baru sampai di kos sekitar jam 22.30 WIB. Ya Allah berilah hamba ilmu bermanfaat, mudahkanlah aku menguasai bahasa Inggris dan berilah hamba kekuatan fisik, kesehatan, semangat.

 

 

Aku ngantuk, capai, tapi inilah hidup. Ada banyak hal yang belum kulakukan. Yang menarik dan tak kulewatkan adalah fragmen dunia malam di Bogor .

 

Tadi malam, di angkot, ada pemandangan menarik dihadapanku. Seorang perempuan memaksa naik angkot. Sopirnya menolaknya. Awalnya aku tak tahu kenapa perempuan ini masih juga maksa dan duduk di dalam angkot. Ia menutupi wajahnya, seolah narapidana kelas berat yang melakukan kejahatan. Ia duduk mojok, meringkuk tubuhnya. Baru kutahu, ia tak memiliki tujuan. Jika orang hidup tak punya tujuan ia tak menemukan akhir perjalanannya. Ia orang yang maaf kurang waras. Sopir ini rupanya sudah mafhum keadaannya. Dan aku bertanya, ya Allah, gerangan apakah yang menyebabkan perempuan rapih ini kehilangan akal sehatnya. Beratkah cobaan yang ia derita..

 

Belum lagi selesai rasa penasaranku. Masuk suami istri bersama anaknya naik angkot ini. Mereka ya Allah keduanya gagap, bisu. Betapa aku takjup melihat keduanya bersama anaknya. Gerak tangan,  bahasa tubuh , suara cercauan tak jelas (seolah-olah marah bagi orang normal) adalah komunikasi canggih keduanya. Mereka memiliki dunia komunikasi sendiri yang aku tiada pahami. Dengan komunikasi terbatas tersebut, sang ibu bisu nan gagap menunjukkan kasihnya yang tulus pada buah hatinya yang terus menerus merengek. Digaruk-garuknya paha sang anak yang kegatalan (atau meminta perhatian), diselimutinya sang anak dengan jaket dan disusuinya. Ketika mereka turun di tujuan akhir yang sama denganku, sang sopir menolak pembayaran mereka. Bapak sopir yang baik ini bilang: ”Nggak usah, Nggak usaha.”Ya Allah, kasih-Mu menjaga setiap orang yang memiliki keterbatasan.

 

Melihat keduanya aku ingat suami istri tetanggaku yang buta. Sama-sama buta. Ketiganya dirawat oleh bibinya yang hingga kini belum menikah juga. Bibi ini makin menua dan mulai susut tenaganya. Allah Maha Besar. Ia berikan anak normal untuk menjaga keduanya kelak. Allah berikan kemampuan memijat yang dengan kemampuan itu mereka bertahan hidup. Kontras banyak pemuda normal di desaku yang pengangguran. Mereka tidak bisa melihat, tapi Allah Maha melihat setiap kebutuhan hamba dan makhluknya. Allah selalu memberikan sentuhan kasih, pendampingan, penjagaan dengan skenario-Nya yang elok dan hanya Ia yang tahu.

 

Aku malu ya Allah. Dan betapa aku harus banyak bersyukur... dan ya Allah jadikanlah hamba yang pandai bersyukur atas setiap inci karunia-Mu padaku.


Blog EntrySakit Gigi Vis Sakit HatiMay 18, '08 8:09 AM
for everyone

Mulutku di rongrong empat gigi langsung. Dua Gigi geraham atas tinggal separo. Satu gigi geram kanan mau berlubang. Satu gigi geraham kiri lagi berlubang, lagi ditambal sementara dan menunggu penambalan permanent. Kata dokter, aku diperbolehkan mengunyah dengan gigi sisi  kanan saja. Wah, ini agak menyiksa. Setiap sisi kanan bergerak. Sisi kiri juga ikut. Kunyahanku kurang optimal. Aku tak bisa makan dengan cepat lagi. Tak bisa memamah sempurna. Ini lumayan mending dibanding beberapa waktu lalu. Wuih, sakitnya seperti kepala hilang separo. Masya Allah, cuma satu syaraf ‘nakal’ tersentuh. Luar biasa sakitnya.

 

Tapi.. sakit gigi ini apa harus kuratapi. Jika kuhitung, karunia Allah itu sangat amazing bagiku. Hidupku. Semuanya. Aku punya pekerjaan. Penghasilan. Makan minum masih bisa. Belum lagi...tulisan yang dimuat. Itu prestasi bagiku. Bukankah aku harus menghargai diriku sendiri?

 

 Ditambah.....aku bisa belajar gratis bidang lain. Ada yang mau bayarin aku. Tanpa aku minta. Gratis tis. Malah aku selalu didesaknya menerima uang untuk pembayaran awal demi peningkatan skillku. Suma Subhanallaah. Rezeki yang tak disangka-sangka, dan memang aku membutuhkan skill itu masa-masa ini. Ya Allah... bagaimana aku harus berkata untuk setiap kejutan istimewa dalam hidupku.

 

 Orang-orang lain? Apakah juga seberuntung aku? Hampir setiap hari aku pilih jalan melewati tempat pembuangan sampah dekat sawah dan kolam ikan.  Rona-rona wajah orang-orang pemulung itu berganti. Jumlah mereka bertambah. Mengorek-ngorek sampah. Memilah organik anorganik, demi hidup. Baju seadanya. Bercampuraduk sampah dan hewan putih kecil yang kubenci.

 

Aku masa kecil dulu juga melakukannya. Bukan kekurangan. Karna mencari kesenangan. Adakah mereka makanan esok?  BBM naik.. adakah mereka bisa membeli sebungkus nasi saja sehari. Belum lagi orang gila yang bertambah di jalan menuju kampus.

 

  Rasa sakit gigi dan empati ini muncul bertabrak dengan sakit hatiku.

 

Kenapa aku masih belum bisa memaafkan dia, temanku. Di amanah yang sekali lagi baru ini, aku bersua dengannya. Kenapa dia ya Allah? Jujur ya Allah, aku masih sakit hati. Tusukan belakang yang ia katakan pada orang lain. Semua reaksi tubuh dan perkataan yang ia keluarkan, yang menyakiti hatiku. Kenapa ia...?.. Apakah aku juga bisa memberontak, tak bisa menerima, memaafkan. Belajar ketiga hal ini adalah sesuatu yang agak sulit.

 

Hanya saja selalu ku ingat, mungkinkah dengannya ini, aku akan memperbaiki yang rusak.  Selalu saja ya Allah, pembelajaran yang kau berikan memberikan makna indah bagiku. Meski terkadang diawal aku kurang bisa terima semua keputusan yang Kau rencanakan. Ini mirip episode kemarin dulu, amanah baru bertemu kawan konflik lam. Seorang teman lama yang dulu ”berkonflik”. Mengatakan jujur,” Kau berbeda jauh aris, ku berubah lebih baik.”

 

Lalu ku katakan padanya,” Tahukah kau, sejak dulu aku menyayangimu, hanya saja aku tak mampu mengepresikan sesuai harapanmu.” Lalu kita tersenyum manis. Memaafkan. Ini juga butuh proses.  Semoga kerjasama dan amanah baru ini, menyembuhkan hati yang tergores. Yakni hatiku sendiri. Yah, aku juga paham tanpa sakit hati.. hidup lebih lega, tenang dan damai..


Free writing di sekretariat... lagi bete ngerjain tugas negara.

Blog EntryTangisan SunyiMar 28, '08 1:43 AM
for everyone

Tangisan Sunyi

 

Bukanlah nyanyian sunyi yang akan tulis, karena aku kurang suka menyanyi atau mendengarkan lagu-lagu roman picisan. Aku sejak dulu lebih menyukai lagu-lagu yang bermakna, sarat pesan dan aku sendiri nggak tahu kenapa begitu.

 

Sebuah sisi hatiku yang lain, gambaran perasaan, luapan jiwa dan pikiranku yang tak pernah berhenti bergejolak. Aku sesekali ingin memadamkannya atau sering melarikan diri darinya dengan menyibukkan diri, tidur atau nonton film, asal aku tidak sendiri berpikir dan merenung, tapi aku tak mampu. Kala kesendirian di kamar tidurku atau saat detik-detik menuju lelap tidur, semua realita hari ini atau kemarin terpapar kembali. Kadang aku menangis sendiri tanpa tahu kenapa. Aku hanya ingin menangis. Dan menangis bagiku kadang indah…, kadang menyesakkan dan kadang kurindukan.

 

Sejak tanggal 19 Mei 1991, Aku mulai biasa menangis diam-diam. Sebulan minimal empat kali. Sekarang saja yang mungkin agak jarang atau kadang lebih dari itu. Tahu kenapa aku menangis, aku kangen banget sama ibu. Biasanya kulakukan di kamar mandi atau di tempat tidur, dulu sambil menanyakan diam-diam pada Tuhanku. Kenapa ya Tuhan orang yang paling kucinta, baik hatinya luar biasa diambil paksa dari sisiku. Hingga Engkau memberikan pemahaman Islam, akhirnya aku ridho dan tidak menangis lagi untuknya, tapi menggantikannya dengan doa.

 

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang, aku kadang menangis untuk hal-hal yang aku tak mengerti. Seorang tukang bakso yang kehujanan, lelaki tua berkepala botak, berperut buncit, di pinggir jalan, aku menangis diam-diam.Aku teringat Bapak.  Teringat bahwa apa kebaikan yang kulakukan untuknya. Apakah aku sudah menjadi anak yang membanggakan baginya.  Aku tahu dahulu Bapak sering memarahiku, tak sedikit pun pujian terlontar untuk setiap prestasiku, memukuli dengan lidi yang menyakitkan,  melemparkan sandal ke mulutku sehingga pecah bibir dan goyah dua gigiku. Tapi bagaimana pun, ia hendak mendidikku dengan caranya, yang sekali lagi tidak kumengerti. Aku tahu kini, Bapak lebih keras mendapatkan didikan dari kakek.

Dan anehnya, kakek lebih memilih rumah Bapak  dibandingkan rumah anak-anak lainnya sebagai tempat bernaung, menghabiskan sisa-sisa usianya.

 

Nonton film yang menyentuh hatiku, nonton The Last Samurai, saat adegan samurai memacu kudanya menyongsong hujan peluru dan meriam, aku menangis teringat Rasulullah dan para Sahabat. Saat nonton film-film lain yang mengharukan aku menangis. Saat aku membaca Ayat-Ayat Cinta aku menangis, begitu pula Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Andrea Hirata. Aku menangis pula saat membaca Sheila, Gadis yang Hilang. Aku juga menangis pula kala membaca Sirah Nabawiyah atau pun mendengarkan lantunan murothal Irfan Hawariyah atau pun Syeikh Ar Rifai.

Ketika seorang bercerita tentang kisah hidup yang memilukan dan perjuangannya, aku menangis. Film, kisah dan buku-buku membuatku menangis.

 

 

Kini ketika aku melihat mind map Tifa di pelatihan Madina Society, aku sedih, ingin menangis diam-diam, mentorku mungkin tak mengerti aku telah membaca kebalik. Slogan kerja Tifa di Aceh bukan dibaca Menuju Aceh Baru olehku, tapi Menuju Kehancuran Aceh Baru. Aku membayangkan masa depan Aceh yang diatur bukanlah dengan syariat Islam membuatku ngilu. Membayangkan Indonesia dimasa depan pun aku tak sanggup.

 

Aku ingin menangis  lagi untuk orang-orang yang baik, hatinya ikhlas, tulus, ibadahnya banyak sekali, akhlaknya luar biasa, namun apolitis dan aideologis, mereka merancang kebijakan, pilihan hidup, perbuatan yang menduakan dan mengkhianati syariat Tuhannya atas nama agama Tuhannya sendiri.  Kemudian mereka mengatakan orang-orang yang lemah, jauh pemahamannya seperti aku namun perindu syariah dan khilafah, dengan perkataan NATO, terlalu melangit. Nihil aplikasi. Menandaskan kata : Jangan bawa-bawa syariat Islam dan khilafah. Aku terhenyak dan tergugu. Tuhanku, andai mereka merasakan apa yang aku rasakan, andaikan mereka memahami semuanya dengan sudut pandangku. Kerinduan yang kadang aku tidak mengerti, betapa mereka sesama saudara muslimku sendiri, yang banyak diantaranya memiliki hati bening dan baik hati sekali.

 

Aku lebih ingin menangis lagi diam-diam atas semua ketidakberdayaanku, kelemahan, kekurangan dalam mendidik diriku sendiri , kemalasan  yang membuatku tidak segera maju, keegoisan  dan keangkuhanku yang membuat ilmu-Mu tak jua masuk dalam diriku. Kebenaran yang sulit merasuk. Yang membuat aku gelisah dan terhalang dari semua karunia-Mu.

 

Tuhanku, izinkanlah aku mencintai-MU, jadilah aku orang yang mencintai-Mu.Bukakan jalan untukku, berilah kesabaran, kelembutan, ketegasan, keberanian, pertemukanlah aku dengan orang-orang yang senantiasa  bisa mendekatkan aku dengan-Mu dari mana pun asalnya.

 

Tuhanku kenapa aku mudah menangis..menangis dalam sunyi. Kutulis ini dengan tangisan tanpa suara dan bahasa.

 

Allahumma inni as aluka ladzata nadri wajhika kariimi wa syauki illaa lika ika

(Ya Allah, berikanlah aku karunia memandang wajahmu yang Agung dan senantiasa rasa rindu untuk bertemu dengan-MU).


Blog EntrySang Pemimpi.....Jan 28, '08 12:15 AM
for everyone

 

Kali ini aku ingin berbagi tulisan soal mimpi, impian atau cita. Setelah membaca Sang Pemimpi, salah satu judul buku karya Andrea Hirata, aku semakin berhati-hati dalam menoreh impian dan juga makin yakin impian besar sekali pun bisa terwujud. Buku berisi kisah nyata  Andrea ini sangat inspiratif bagi orang-orang yang berani bermimpi.

 

Sekarang, aku merasa lebih menghargai mimpi orang meski  dianggap mustahil. Aku juga lebih sering suka memotivasi impian positif seseorang agar bisa menjadi kenyataan. Senang dan bahagia rasanya jika aku bisa membuat orang bergairah menggapai cita-citanya. Seperti memandang ikan sekarat yang menemukan air jernih melimpah. Mata-mata yang berbinar, senyum mekar berkembang, wajah memerah ceria dan bahasa tubuh penuh semangat.

 

Berani memiliki impian, berarti ia memiliki gambaran cita, peta hidup. Amat sedikit orang mau berani bermimpi, akibatnya aktivitasnya monoton, stagnan, berputar, rutin, pada kehidupan itu-itu saja hingga ajal menjelang. Ia tak mengalami kemajuan dan memperbaiki diri. Aku ketika membayangkan diriku terjerat dalam kehidupan seperti itu pun, sudah jenuh. Banyak orang mengeluh hidupnya itu-itu saja, tapi ia sendiri tak memulai dirinya sendiri, yakni memulai berpikir tentang sebuah impian masa depan.

 

Kenapa orang tidak mau membuat pemetaan impian? Karena itu mengandung sebuah konsekuensi dan komitmen terhadap diri kita sendiri. Menyakitkan jika impian itu hanyalah khayalan semata tanpa mengejawantahkan melalui alur perbuatan. Atau jika tak berhasil, impian itu menimbulkan rasa iri pada seseorang yang bisa meraihnya. Komitmen impian  seperti janji yang akan menagih jika tak dipenuhi. namun, impian  menjadi mata air kekuatan kala jatuh, menembus semua keterbatasan, mendobrak semua ketabuan, pembasuh kesedihan, dan memfokuskan perhatian.

 

Lalu bagaimana jika aku punya impian, dan orang lain punya impian. Sedangkan impian orang lain itu didalamnya meminta komitmenku. Menyertakan dan mengharuskan aku didalam impiannya. Terbayangkah rasa nyerinya itu dua kali? Pertama, karena impianku belum tergapai. Kedua aku punya kriteria keberhasilan impian tersendiri dan orang itu  belum bisa memenuhi kriteria itu.  Eh ketiganya, aku merasa diuji akan komitmen untuk memberikan motivasi pada orang itu, sedangkan saat ini aku tak bisa memenuhi impiannya. Lebih-lebih lagi, kita mempunyai impian masa depan yang sama. Yah, kita sama-sama memiliki impian charity untuk membantu masyarakat menengah ke bawah. Makin tak karuan hatiku, ngilu lambungku pun terasa, Ya Rabbi tolonglah bantu aku. Kabulkanlah permohonan impianku ........sebab, my dreams like star in the sky. It’s like the sun for the earth, it’s like light in darkness. I always wish U dan ur dreams come be true….

 

 

 

 

 


Blog EntryMeresapi Silaturahmi Sampai Ke Dasar HatiJan 1, '08 11:26 PM
for everyone

Silaturahmi memperluas rezeki, memanjangkan usia dan raga. Tetirah  menggiat orang  tuk saling hangat menyambung rasa persaudaraan. Dan aku menemukan banyak kunci istimewa dari kata silaturahmi, di penghujung  tahun ini. Dua kali libur panjang. Dua kali dengan sengaja bersilaturahmi. Satu ekspedisi ke Lampung. Satu lagi ekspedisi belajar  diri di area ‘asing’.

 

Tiap bulan Haji, sanak handai tolan Bani Abdul Qasim dan Muthmainah berkumpul. Aku menyeringai geli menatap tujuh lembar kertas berurai nama buyut, anaknya buyut, cucu buyut dan cicit buyut terangkai disana. Namaku tertulis dalam salah satu klan  cicit buyut Bani  AbdulQasim.  Celaka, aku baru tahu Abdul Qasim adalah nama ayahnya nenekku.  

 

Hanya senyum sungging, diikuti anggukan kepala dan  disambung bengong, ketika sanak saudara bertukar sapa. Ini siapa ya? Itu siapa? Duh, banyak nian saudaraku di Lampung ternyata. Mirip bedol desa.

 

Mereka yang mencoba mencari peruntungan hidup lebih baik di pulau lain. Rata-rata mereka memilih profesi saudagar dan beberapa diantaranya berhasil termasuk Bu Lek tempat aku singgahi.

 

Aku tak bisa bercerita banyak karena diantaranya akan berisi tetek bengek masalah keluarga, problem hidup, hal-hal yang berkaitan rahasia keluarga dan sukses  story. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh mengayakan khasanah kosakata hidupku. Ada kata positif ada pula kata negatif. Secara pribadi segalanya layak dinilai positif.

 

Aku makin yakin diantara masalah-masalah itu, semua bisa terurai dan disederhanakan bila kita berpatok nilai agama. Agama yang sekarang itu dupayakan dianaktirikan, dibiaskan sesungguhnya obat mujarab. Sebab, ada timbangan baik buruk didalamnya. Ada panduan bagaimana hak  kewajiban suami, hak kewajiban istri, hak kewajiban ayah, hak kewajiban ibu, hak kewajiban anak, bertetangga, mertua, menantu, saudara, seorang hamba, pekerja, warganegara dan sebagainya. Bukankah itu pula makna orang berkeluarga dan menikah. Menyempurnakan agama. Yaitu menggenapi seluruh label hak dan kewajiban manusia di dunia akhirat. Hal itu berarti pula ketika menapaki sebuah keluarga baru, seluruh hak kewajiban yang tertulis dalam kitab suci mulai dipikul sejak itu.

 

Membiaskan agama sama dengan membuang garisan jelas hak dan kewajiban, memburamkan timbangan baik buruk. Lalu kalau sudah begitu manusia akan berjalan tanpa arah...hingga terperosok jurang hina, sengsara selamanya.

 

 

Ah... saya kira aku telah berhasil menjawab pertanyaamu Meli. Pertanyaan yang juga menggelayut dalam pikiranku: Kenapa menikah disebut menyempurnakan agama? Pertanyaan yang kau tanyakan padaku tepat detik-detik menunggu ’hari bahagia’ mu. Aku kini berhasil menjawabnya dan kau berhasil memamahnya dengan baik hingga muncul Syah. Putramu. Kau genapi pula hak dan kewajibanmu sebagai ibu.

 

Dan silaturahmi merupakan  hak dan kewajiban dalam subbab berkeluarga. Apalagi jika itu terbesit dari undangan agar berkunjung. Aku datang ke Lampung atas ajakan dan undangan. Aku datang dengan harapan semoga ini mendewasakanku dan aku bisa menghayati serta mencintai keluarga.

 

Benar, silaturahmi yang dibingkai ikhlas akan membawakan ’kesegaran’ hikmah. Pantas, kita akan merasa dekat, sebab dikunjungi sanak. Ia yang datang dengan membawa diri, menempuh perjalanan jauh, dengan ongkos sendiri, datang karena kasih, karena hubungan rahim. Melintasi laut, padang gembala penuh serigala, padang pasir kering kerontang. Yang tidak tahu apakah selamat atau tidak diperjalanan.

 

Disertai sejumput oleh-oleh sederhana  untuk saudara sebagai tanda cinta dan sayang yang ditenteng dan memberati bekal. Maka  Insya Allah, Allah mengganti dengan meluaskan rezeki, memanjangkan usia dan membaikkan nama kita sebagai pembalasannya.

 

2 Januari 2008..

 

Ditulis Untukmu bulek. Terima kasih atas tanda cinta; sebuah cincin baru 2,6 gram murni 24 karat, satu kardus penuh oleh-oleh dan ongkos mencukupi yang kubawa kembali ke Jawa. Hanya satu kata ketika itu, kulbalas sambil malu-malu dan mata berbinar; Jazakumullah khoir katsir, semoga Allah membalas kebaikanmu jauh lebih baik dan memudahkan segala urusan hidupmu.

 

Ya Allah jadikanlah hamba orang yang mencintai silaturahmi..sebagai ungkapan pengamalan sabda Hamba Termulia:

 

” Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma’ruf nahi munkar, dan paling gemar bersilaturahmi. (Muhammad SAW).

 


Blog EntryPemimpin itu Susah GampangSep 17, '07 1:48 AM
for everyone

Tak pernah kepikiran aku mimpi jadi seorang pemimpin. Tak punya pula ambisi demikian. Dulu sewaktu jadi mahasiswa, kalau ada acara di kampus aku paling enggan kalau diminta jadi koordinator. Kecuali koordinator ngatur-ngatur anak-anak TPA he he he. Mereka lucu-lucu, jadi malah menggemaskan sih. Dipaksa-paksa pun tetap saja ogah. Terbayangnya sih yang berat-berat dulu sih, tuntutan dari bawah. Kritikan dari atas bawah belakang, semuanya nuntut. Seiring waktu baru aku paham menjadi leader itu Subhanallah. Keren.

 

Banyak hal yang bisa kita lakukan saat menjadi leader terutama meningkatkan kapasitas diri. Ini semua karena dorongan dan motivasi tanggungjawab yang berat. Tekanan, tuntutan itu seperti sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Konflik manajemen malah membantu belajar banyak, sesuatu yang selama ini belum dipelajari. Malah makin sadar diri deh, ternyata banyak kekurangan. Dan menyadari pula setiap orang itu ternyata memiliki keunggulan unik menganggumkan. Hasil Ciptaan-Mu ya Allah. Ini baru satu per satu orang, bagaimana kalau sebuah tim. Tentu kekuatan yang unik itu dikumpulkan satu. Makin dahsyat deh kekuatannya. Oleh karena itu, untuk pressure sosial dan perubahan sosial orang tak bisa bekerja sendiri. Nah leader berperan penting merekatkan potensi-potensi berserakan tersebut....


Blog EntryMasak pun Bikin Kreatif Sep 17, '07 1:20 AM
for everyone

Sudah sebulan aku pindah di rumah baru. Lebih jauh dari kampus IPB sih. Lebih sederhana dari rumah semula. Selalu, di rumah baru ada kebiasaan baru yang dibangun. Di sini suasanannya masih asri, udaranya segar. Batuk ku pun sudah jauh reda. He he he. Maklum aku alergi debu, rokok dan juga alergi dingin. Penyakit aneh ini datang dua tiga tahun silam.

 

Nah, di sini aku mengasah kembali kemampuan memasak. Memasak? Di Bogor aku agak enggan memasak, kecuali kalau ada event organizer yang membuatku terpaksa memasak. Lebih mahal memasak daripada beli masakan jadi. Bisakah aku memasak? Ehmm sebenarnya itu kewajibanku kalau pulang kampung. Kadang aku iri sendiri sampai gigit jari.  Kalau orang-orang pulang kampung merasakan nikmatnya masakan ibu dan keluarga, beda dengan aku. Keluarga malah menikmati masakanku he he he. Fuihhh. Bapak selalu menyuruhku memasak kalau di rumah. Hampir tiap hari. Ibu juga punya cara unik agar aku tak bisa mengelak dari tugas ini. Biasanya ibu membantu menyalakan kompor dan memasak nasi. Lalu aku ditinggal sendirian berkutat dengan peralatan dapur.

 

Terpikir dalam benakku memasak di dapur itu mirip masuk laboratorium pangan di kampus dulu. Kita belajar campur-campur bahan makanan, meneliti gizi dan cara pengolahannya lalu hasilnya dibuang ha ha ha. Lha iyalah mana ada mau makanan yang dicampuri bahan kimia anekaragam. Apalagi di Laboratorium meski pakai alkohol agar  steril, itu malah menunjukkan lab itu nggak layak untuk tempat santap.

 

Karena jarang masak, kemarin aku masak sayur asem. Bumbu sudah disiapkan bawang putih, merah, kemiri, asam jawa, laos, gula jawa semua dah disiapkan. Menurutku memasak itu tidak ada rumus baku, satu resep masakan orang bisa berimprovisasi baik bumbu atau bahan pangannya. Nah ini yang unik. Aku lupa bahwa kalau masak nangka muda itu musti dilakukan dua kali. Pertama memasak nangkanya dulu hingga empuk.  Terus airnya dibuang. Lalu kita memasak lagi air mendidih dan semua bahan sayur asem kita campurkan. Aku lupa. Semua bahan kucampurkan satu termasuk si nangka muda. Alamat bukannya sayur asem yang nikmat tapi sayur getar-getar pahit asem he he he. Ampun deh. Eksperimenku gagal deh. Tapi inilah nilai kreatifitas. Aku jadi mengevaluasi apa yang salah dengan resepku.

 

Terus ada kreatifitas sambal tomat yang beranekaragam. Hasilnya pun jadi berbeda-beda. Ada yang semua bahan sambal direbus dulu, lalu dihancurkan dan digoreng. Ada yang digoreng dulu semua bahan lalu dihancurkan. Ada pula diiris-iris dulu, dihancurkan lalu digoreng. Semua akan menimbulkan cita rasa yang berbeda dan keawetan yang berbeda. Untuk keluargaku di kampung mereka suka sambal cara ketiga. Untuk rumah baruku suka cara yang pertama. Menurutku dari sisi keawetan cara pertama dan ketiga paling awet. Kenapa demikia sebab pada proses pertama, tomat mengalami blancing atau inaktifasi enzim. Sedangkan cara ketiga, tomat dan bumbu mengalami dehidrasi dengan minyak.

 

Sambal Tomat Rumah Kampungku

 

Bahan:

  1. Tomat buah merah
  2. bawang putih
  3. bawang merah
  4. cabe merah besa
  5. cabe merah kecil
  6. garam
  7. gula jawa
  8. penguat rasa
  9. kadang kutambahi petai (soale di rumah banyak buah petai) kadang juga  bingung euy, karena petai makruh nggak ya.

 

Jumlahnya biasanya kulakukan kira-kira (kebiasaan mengira tapi tepat he he he)

 

Cara membuatnya:

Tomat merah diiris menjadi delapan buah

Semua bumbu dihaluskan menjadi satu. Petai dipotong kecil-kecil.

Panaskan minyak goreng, gongso semua bumbu yang dihaluskan sehingga airnya tidak ada, terus dicampurkan petai, aduk sebentar, terus tomat dicampurkan, dan tambahkan gula jawa yang diiris halus. Bolak-balik sambal hingga tomat meleleh dan melebur dengan bumbu, tak ada air dan muncul minyak goreng bersari sambel yang berwarna merah. Sambal ini bisa bertahan dua hari. Selamat mencoba

 

 

 

 Yang disukai seorang perempuan adalah.... jika masakannya dihargai, bagaimana caranya? Makanan yang dibuat dimakan lahap dan habis sampai tuntas.

 

 


Blog EntryRindu RasulSep 13, '07 2:25 AM
for everyone

Rindu Rasul

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah ayat 128)

 

 

Engkaulah Rasul Mulia

Pembawa pelita jiwa

Engkaulah Rasul idola

Tauladan umat sedunia

Shalawat ku kepadamu yang merindu syafaatmu

Di hari yang tak menentu

 Ya Rabb, kabulkan harapanku

X 2

 

 

Duhai kekasih ilahi

Kekasih hati imani

Hadirlah engkau di sini

Walau sekedar dalam mimpi

Kutahu engkau bimbangkan

Umatmu  yang kau tinggalkan

 Terjerembabkan dalam ujian.

Ridhokan seruan syetan

 

Engkaulah Rasul Mulia

Pembawa pelita jiwa

Engkaulah Rasul idola

Tauladan umat sedunia

Shalawat ku kepadamu yang merindu syafaatmu

Di hari yang tak menentu

 Ya Rabb, kabulkan harapanku

 

 

Nasyib By Suara Persaudaraan.... untuk kesekian kali kuulang di kompie. Liriknya enak. My favorit nasyid in this month

 

Attachment: sp5 - 12. rindu rasul.MP3

 

 

Alhamdulillah, konferensi khilafah internasional telah berakhir. Tiada yang sempurna dalam kehidupan ini, begitu pun dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku mengenai proses penyelenggaraan konferensi ini. Konferensi ini penuh tantangan. Tak seperti konser dangdut, musik, kegiatan olah raga yang mudah menyedot massa. Kegiatan ini tak semudah dirasa ketika melihat kesuksesannnya.

 

Dan izinkan aku menuliskannya.........

 

Inilah konferensi yang paling membuat kepalaku berdenyut-denyut tinggi sehari sebelum pelaksanaannya. Denyut-denyut di kepala lumayan berkurang di pagi harinya. Bus kami datang telat. Bus ini didatangkan dari Jakarta. Karena bus Bogor telah habis stocknya. Sopir bus Mayangsari jurusan Bekasi-Kampung Rambutan ini tak tahu jalan menuju lokasi kami berada. Padahal sejak sebelum subuh kami telah berkumpul, agar nanti tidak menyebabkan macet di jalan. Kami pun shalat subuh berjamaah di tempat parkir.

 

Saya diamanahi menjadi Koordinator Keamanan Daerah di salah satu bus. Mengkoordinir bagaimana supaya peserta tak tercecer, tak membawa senjata tajam, terjaga kesehatannya dan  semangatnya. Harapan kami konferensi ini dilaksanakan damai, tak ada keributan dan masalah yang mengacaukan. Semua elemen panitia bertanggung jawab untuk hal ini. Bukan alasan semata kami ingin dianggap cinta damai. Namun metode dakwah Rasulullah dalam upaya penyadaran umat terkait syariah dan khilafah memang harus tanpa kekerasan. Jika kami melanggarnya, kami berdosa.

 

Satu persatu, peserta kami cek. Baik logam apa pun yang berpotensi dijadikan sarana kekerasan kami meminta keridhoan peserta untuk kami simpan sementara. Banyak sekali yang kami ’sita’ termasuk sendok, bros besar, peniti, kunci dll. He he he Ya Ampun. Saya sampai geleng-geleng kepala, beginilah teman-temanku  mengantisipasi agar tak terjadi kekerasan dan kericuhan apa pun  di tempat kegiatan. Setiap peserta pun diberikan name tag kelompok bus kami, nama dan nomor Hpku.

 

Hal ini mengantisipasi agar jika mereka tersesat atau kehilangan kelompoknya mereka tahu kemana hendak menghubungiku. Yah bayangkan saja, 100 ribu masa banyaknya, satu orang pasti akan kebingungan mencari dimana parkir bus dan tempat duduknya. Kami pun menandai bus kami dengan jambul merah muda yang dipasang tinggi, sehingga dari kumpulan ribuan bus, kami mudah mencarinya.

 

 

Tak semua pesertanya adalah internal. Di bus kami bahkan hampir semuanya adalah peserta dari berbagai latar belakang, lembaga dan ormas. Kami muslim. Kami bersaudara. Kami satu tujuan berharap umat Islam bersatu.

 

Sungguh, tak ada dana sponsor. Ini dana swadaya, panitia tidak ada yang dibayar. Jika saya membandingkan kepanitian di kantor, di setiap kegiatan pasti ada uang lelah. Ini tidak sama sekali, karena bukan itu tujuan kami. Yah, setiap penyelenggaraan HT tak pernah menggunakan sponsor. Hal ini supaya pemikiran Islam yang disampaikan murni, tak dikotori oleh kepentingan sponsor. Yah, lumayan berat memang. Tak jarang panitia nombok sendiri.Tapi bukankah Allah selalu membuka jalan bila kita bersungguh-sungguh.

 

 Selalu saja, orang yang berhati baik memberikan bantuan dana karena mereka juga merindukan persatuan umat dan syariah, tanpa minta balasan apa pun.

 

Ketika kami berdiskusi dengan peserta lain di luar daerah, lebih hebat pengorbanan mereka. Demi menghadiri acara ini ada yang menjual baju pernikahannya, menjual mas kawinnya,  berjualan asongan (kacang, keripik dll), berjualan peralatan rumah tangga dan sebagainya.

 

Ada ibu-ibu dari Jogya berdiri menggendong anak hingga ke Jakarta. Kata sang ibu, sampai kaku tangannya.  Berita duka juga mengiringi pra kegiatan ini. Koordinator lapangan akhwat  dari Pasuruan meninggal tertabrak truck ketika mengambil Arroya dan Al liwa di seberang jalan. Beliau meninggal dengan kondisi mendekap bendera mulia tersebut, Subhanallah. Kisah suka duka ini akan disampaikan di Jurnal Al Waie edisi minggu depan.

 

 Al Liwa adalah bendera putih bertahtakan tulisan Laillahaillallah, Muhammadur Rasululllah. AL Liwa adalah bendera  negara Islam semasa Rasulullah dan khilafah Islamiyah. Sedangkan Ar Royya adalah bendera hitam dengan tulisan putih senada. Bendera ini dibawa ketika Rasulullah berjihad. Kedua bendera ini sering dianggap masyarakat sebagai bendera HT. Padahal bukan. HT tak mempunyai bendera sebagai simbol dan juga lagu mars. He he he.

 

Saya menulis ini, karena Teh Nunung, seorang aktivis Fatayat NU dan teman sekantorku suka iseng nanya  bendera HT  dan lagu mars. Kadang secara tiba-tiba beliau mengarang-ngarang mars HTI dan menyanyikannya. Walah... parah juga menyindirnya hehe he. HT tak menyeru as shobiyah, sehingga HT tak memiliki bendera simbol maupun lagu. Namun dalam acara konferensi tersebut sangat diperbolehkan berbagai ormas membawa benderanya masing-masing.

 

Acara semarak

 

Acara yang ditunggu telah tiba, luar biasa. Penuh benar Gedung Gelora Bung Karno. Acara yang telah dipersiapkan 6 bulan sebelumnya ini. Bukan tak mengalami kendala. Sungguh ya Allah, kesuksesan acara ini bukan karena semata profesionalisme kami, bukan pula curahan tenaga, pikiran, harta, usaha kami, namun semata pertolongan-Mu yang Indah.

 

Pembicara yang tak hadir diantaranya  K.H Hasyim Muzadi, Abu Bakar Ba’asyir, Habib Rizieq, Adyaksa Daulth, Imran Wahed (HT Inggris),  Abdul Wahwah (Australia). Hasyim Muzadi tak berkenan hadir karena merasa tak seprinsip. Kadang saya ingin bertanya, bukankah undangan seorang muslim wajib dihadiri.Mengapa ketika saudaranya mengundang tak dipenuhi? Dan Kenapa bila umat non muslim mengundang, beliau menghadiri?  

 

ABB dan Habib Rizieq beda soal, beliau berdua dilarang Mabes Polri untuk berbicara, sehingga beliau berdua memilih secara sadar untuk tidak hadir, namun tetap mengerahkan masanya untuk hadir.  Imran Wahed dan A.Wahwah, pembicara luar negeri ini di deportasi kembali ke negara tepat saat menginjakkan kakinya di bandara Soekarno Hatta tanpa alasan jelas. Apakah kesalahan mereka? Kesalahan mereka adalah menjadi pembicara di sebuah konferensi khilafah yang menjadi harapan bersatunya umat Islam seluruh dunia.

 

 Ada kisah bagaimana, Israel juga ingin menggagalkan pembicara dari Palestina. Namun karena mereka takut untuk melarang. Maka yang dilakukan adalah melarang perusahaan penerbangan untuk tidak mengangkut pembicara ini. Namun atas izin Allah, panitia salah menulis nama. Sehingga pembicara lolos dari deportasi.

 

Adyaksa Daulth yang berkenan hadir, beberapa hari atau sebelum acara ini, dipanggil presiden SBY dan entah kenapa, usai pertemuan itu, beliau tidak hadir menjadi pembicara.

 

Ada kisah-kisah lain yang akan saya simpan di hati, tentang bagaimana upaya penggagalan penyelenggaraan acara tersebut secara hebat. Itu semua karena Allah. Di saat kepala sudah bingung hendak kemana kita meminta pertolongan, Dia yang Maha Kuasa, membantu memberi jalan keluar.Subhanallah.


Blog EntrySedih, ABB tidak akan hadir….Aug 10, '07 1:17 AM
for everyone

Sedih, ABB tidak akan hadir….

 

 Sedih daku membaca hari ini, Abu Bakar Ba’asyir (ABB) tidak berkenan hadir di konferensi khilafah internasional 12 Agustus nanti karena ancaman jika ABB  berbicara maka konferensi itu dilarang.  Namun bagi ABB sendiri, jika beliau datang namun tak berbicara akan ditafsirkan yang enggak-enggak. Beliau memilih untuk tidak hadir.

 

Ah… aku ingin sekali saja melihat wajah teduh beliau langsung dan mendengarkan orasinya. Lelaki tua yang dizalimi hanya karena menginginkan syariat Islam diterapkan di Indonesia, hanya karena beliau berharap keberkahan menyelimuti dunia khususnya Indonesia ini telah memikat hatiku. Aku tahu mungkin  beberapa hal kita berbeda pendapat. Beliau dan aku pun berada di wadah dakwah  berbeda.

 

Aku tidak tahu di balik rona wajah dan keringkihan tubuhnya aku melihat sesuatu yang sangat istimewa. Yah, daku salah satu fans-nya. Bukan karena fisik, tapi di dalam jiwa beliau. Sesuatu yang kulihat berbeda dari manusia biasa dan ulama biasa. Seperti juga Ustadz Rahmat Abdullah (Alm) Semoga Allah memberkahi antum ya Ustadz…suatu saat, saya berharap masih ada masa bersua dengan ustadz

Blog EntryGalau hatiJul 4, '07 4:45 AM
for everyone

Li, aku ingin cerita padamu tentang diriku. Sudah hampir sebulan aku menerima amanah baru dalam dakwah. Li, sungguh berat amanah ini seperti bola panas. Sulit, tapi peluang itu selalu ada. Amanah yang selama ini aku lari darinya ia menghampiri juga. Aku tak bisa mengelak lagi. Mereka mempecayaiku.

 

Li, sejak dulu aku tak bermimpi dan menginginkan amanah ini. Aku ingin menjadi penulis  saja. Terlibat dalam organisasi menulis yang sebentar lagi akan dilaunching. Aku tak mau membuat peta  setiap orang. Mengukur dan menilai prestasi cinta mereka pada dakwah. Aku membencinya. Aku tak suka. Aku pikir itu akan mengurangi waktuku untuk merenung dan menulis. Tapi adakah ketidaksukaanku itu ada artinya. Hal yang kubenci mungkin sebenarnya itulah yang terbaik untukku.

 

 Iyah pada akhirnya aku menerimanya sebagai tantangan, sebagai poin untuk beramal dan poin untuk meng-up grade diri lebih cepat. Wahana pembelajaran agar aku belajar bersabar. Tak cukup disitu Li, aku ditantang untuk selalu membuat konsep baru. Li, kadang aku takut kesepian. Padahal aku sering mengalaminya, kesendirian untuk menahan diri tidak mengeluhkan. Aku butuh teman sharing. Namun pada siapa kukeluhkan riak-riak di kepalaku?

 

Li, akhir-akhir ini aku gelisah, galau, resah dan gundah. Malam-malamku terasa hambar.  Ikhlas, tulus dan sabar itu sulit Li? Sedangkan, tiga hal tersebut kunci dari semuanya. Aku tertohok. Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menikmati malam dan  hidupku. Apa aku kembalikan saja amanah ini? Tapi itu sungguh tidak mungkin. Aku bingung memulai dari mana......


Blog EntryRapuhDec 26, '06 8:51 PM
for everyone

Rapuh

sungguh kuadukan keluh ini

 tertekan jiwaku dengan nafsu

 tertindih kesengsaraan duri-duri kehidupan

 dia menamparku, menggulungku, dalam selimutan kegelapan

tarikan nafasku, tak membuatku kunjung berlari

 aku merana, mengeluh lenguh gaduh

 mengasihani diri, meratapi kehampaan

 menggugat kesepian ditengah gempa rona

 inilah aku, jatuh dalam bungkusan jasmani kukuh

 inilah aku, menderita dimabuk sesal masa lalu bertalu-talu

sungguh kuadukan keluh ini

 harap kasihanilah aku

 terimalah aku, tolelir aku, sayangilah aku,

 atas keterpurukan alam pikiranku

 tubuhku terbelenggu, terantai pekat putus asa

 

 Tidak! Tidak!

tak ada seorang pun bisa membantu

 hanya pilihan diriku sendiri

tidak pula malaikat menolongku

 sebab iman yang rapuh

Tuhan serasa menjauh

ketenangan lenyap

 fitrah terperangkap

 

 Senin (25/6/2006) usai melewati beberapa lembar Al iman wal hayat (iman dan kehidupan karya Yusuf Al Qardhawi) dan Kecerdasan Ruhaniah karya Toto Tasmara.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help