| |
Nur's posts with tag: nadakecamuk
Aku ingin melupakanmu. Itu saja. Tapi tak bisa. Masa lalu adalah masa lalu. Mungkin kita bisa melupakan banyak hal dalam hidup ini. Namun bukan yang berkesan. Gimana tidak berkesan? Dua kali kali coba! Kurang apa lagi! Tadi aku diingatkan kembali masa lalu itu. Yah nggak lalu banget sih. ”Mbak, bolehkah saya bicara berdua, soal pribadi!” Aku tahu beliau ini siapa. Jadi aku juga tahu pembahasannya. Masa lalu yang ada di ratusan kilometer dariku. Setelah berkisah. Aku pun berkata: ”Apa yang bisa kubantu, mbak? Apa aku perlu ikut bicara agar semua soal ini selesai.” ”Oh, tidak! Jangan! Saya hanya ingin tahu kronologisnya, dan memberikan kabar sejatinya. Semoga tidak menambah pikiran, mbak.” kata Perempuan yang kuhormati itu. Kata terakhir, tidak menambah pikiran. Malah sesungguhnya menambah pikiran hingga kini. Ya Allah, tiada maksud aku menghancurkan asa seseorang. Tidak pula terbetik menambah hancur hidup seseorang. Karena hidup itu pilihan. Setiap orang harus bertanggungjawab atas setiap pilihannya. Dan aku pun tidak mau berkorban, menghancurkan diriku sendiri serta impianku, demi menyelamatkan sekeping asa yang tertinggal. Tertinggal di dasar hati anak manusia. Aku telah tutup pintu padanya untuk selamanya. Maafkanlah..... semoga Allah memberkahimu, memberikan jalan kebenaran, pemecahan terbaik.......... Sekretariat, 18 Mei Saat mengerjakan tugas ’negara’, pusing, tubuh pegal, demam.. tapi harus dikerjain...
Pintu Yang terbuka.. Aku berdiri mematung dari kejauhan menghadapi dalam ragu dan bimbang membelit. Menatap matanya, menekankan dan membutuhkan kejelasan. Ia memandang dengan menganggukkan kepala. Seraya memintaku mengikutinya. Tangannya yang mengembang mempersilakan seraya membukakan pintu yang aku tidak tahu apa didalamnya. Sirnalah keraguan, aku mengikutinya menuju dunia baru. Selamat datang dunia baru aris…..yakinlah di sini kau akan menemukan dunia gemerlap yang sebenarnya. Dunia sejatimu, seorang yang telah ditetapkan dan dilahirkan dengan ketentuan yang memihakmu…. ……Ilusiku ketika menapak amanah baru……aku terlahir kembali. Dakwah Menjadi poros hidup Aku sudah mendengarnya berulangkali pernyataan ini. Akhir-akhir ini saja aku serasa baru mendengarnya dan memahaminya betul. Dakwah menjadi poros hidup, bukanlah waktu kita dihabiskan untuk keperluan akhirat saja. Ibadah mahdah saja. Atau hanya menasehati orang terus menerus, menjadi pembicara di berbagai forum, meri’ayah berbagai event organizer kegiatan dakwah, menulis opini keislaman, rapat menentukan strategi dakwah, atau hal-hal melulu atas nama untuk kepentingan’dakwah’. Atau juga hanya sebatas mutho’alah buku-buku islam dari mulai akhlak, syariah hingga khilafah. Sesungguhnya dakwah itu maha luas. Menjalin silaturahmi, senyum manis penuh ketulusan, membantu orang lain, meringankan beban orang lain, berkata baik, bersabar setiap ujian, berinfak, melaksanakan tugas piket harian, berakhlak baik, menjalankan amanah apa saja sebaik-baiknya, berbagi makanan atau hal-hal yang dianggap kecil sesungguhnya juga bagian dari dakwah. Setiap tarikan nafas kita diniatkan untuk ibadah. Mengingat Allah dalam setiap aktivitas kita ternyata masuk dalam dakwah. Inilah disebut dakwah adalah poros hidup kita. Sesungguhnya pertemuan dengan miss Nazreen dan Bu Dedeh banyak menghantarkan filosofi dakwah sesungguhnya bahwa dimana pun aku berada, bagaimana orang memandang terhadapku, tak kan menggoyahkan ketetapan hatiku bahwa aku ingin berkontribusi bagi umat dengan apa yang aku bisa dan miliki...inilah poros hidup yang kupilih. Allah memberikan amanah baru yang sangat dekat dengan dunia kerjaku, menulis sebanyak-banyaknya, bertemu orang sebanyak-banyaknya, mengambil berbagai ilmu, ibroh yang luar biasa dari mereka. Bahkan tak kusadari bahwa training penulis di Madina Society bersama mas Farid Gaban, belajar qiroati dengan ustadz Ali, belajar bahasa arab dengan ustadz Syamsudin, nasehat yang banyak dengan Pak Waladan, dan belajar pada guru-guru kehidupan sesungguhnya membuka duniaku yang baru. Berilah aku banyak kesempatan lagi ya Allah, berilah aku waktu... Aku berazzam ya Allah tak ingin melewatkan satu hal pun dengan amanah baruku ini. Satu hal lagi, aku ingin memperbaiki nafsiyahku. Dan Engkau bukakan kesempatan untuk mengikuti kajian jum’at bersama Prof. Kudang Boro Seminar. Ya Allah Subhanallah, beliau ahli IT, komputer, hafidz Quran pula. Semoga Engkau memperkenankan aku untuk lebih dekat dengan orang-orang seperti ini. Orang-orang berilmu yang sangat tawadhlu, sarat pengamalan ilmu, dekat dengan-Mu. Kemarin, Allah mengizinkanku untuk melepaskan amanah yang aku merasa berat memikulnya, tak begitu berminat darinya. Aku banyak belajar dari yang masa silam. Meski kadang ada rasa sesal, karena selama ini kurang optimal. Namun aku harus ridho atas semuanya, karena amanah ini adalah pilihanku. Selamat tinggal masa lalu, amanah lalu, maka ya Allah bukakan pintu-pintu keberkahan untukku... berilah aku amanah-amanah lain yang baru.....yang Engkau ridho dan aku pun ridho atasnya. Senin, 7 April 2008, Alhamdulillah.
Batas hari sekedar malam Batas peluang hanyalah henti Batas sabar adalah mati Berganti hari berganti tantangan Selamat memulai aktvitas hari ini Semoga Allah memberkahi from sms beloved ukhti this morning. 13/10/2007
Istimewanya Kemandirian Wong Ndeso ----Jawaban asal mula keistimewaan dan keluarbiasaan tinta emas sejarah adalah kesederhanaan ---- Diiringi senandung Sebelum Cahaya Letto ku mencoba melemaskan kembali syaraf tulisku. Ku tarik waktu seminggu silam. Saat aku sebentar bertegur dengan sanak di kampung. Hawa panas beredar mengelilingi kami. Hujan tak jua turun. Hawa itu pun menembus kulitku yang sudah terbalut dua kain. Merasuk dalam ubun-ubun di kepala. Oh, gerah. Hanya setahun sekali ku sapa kampung ini. Perubahan menggilas kampung ini rakus. Gaya, persepsi positif, nalar, timbang rasa, moral dan iman kian tercampak. Debu kemiskinan mengepul bersatu debu kemarau, berkelidan debu amoral. Judi menjadi satu gantungan asa untuk meraup untung instan. Pencuri profesi dibenci dimaklumi. Miras pelepas dahaga penat dunia. Klenik tumpuan solusi masalah hidup. Pacaran tumpuan ”mihrab suci” pra nikah. Selingkuh mengintip-intip malu terkuak. Ditambah timbunan pemuda bujang lajang nganggur. Gengsi melakukan pekerjaan ”wong ndeso”. Mencangkul, menggembala, bertani, beternak. Pekerjaan produksi riil yang menghidupkan raga dan sukma. Pekerjaan wong ndeso itulah sejatinya sendi kehidupan. Pensuplay energi (baca karbohidrat, nutrisi) bagi manusia, yakni para guru, wartawan, politisi, saudagar, negarawan, public relation, pemilik hotel, dan sebagainya. Tak sehancur itu kampungku ini sebenarnya, yang kubenci adalah karena semua itu seolah terlazimkan keadaan. Apakah di kampung-kampung lain, desa-desa lain juga mengalami demikian? Aku meruntuk. Yang membuatku lebih teriris karena aku putri daerah ini yang tahu seharusnya kemana perubahan ini dibawa, kini hanya berstatus pendatang. Tak kuasa apa. Ngilu. Ada pun kembali dan menetap di kampung ini samasekali tak pernah terimpikan olehku. Maaf. Di kampung ini pula, di era kebebasan masa kanak-kanakku sanak tetangga sering mencerca hinaku. Maka biarlah aku mengembara, sesekali izinkanlah singgah menengok tempat pusara orang tercinta berada, bunda terkasih. Karna impianku, semoga Allah menjadikan aku bukti kekuasaan-Nya bahwa kejujuran dan kebenaran akan menang diatas semua dusta serta angkara. Aku tak peduli mereka meragukan kemampuan ”wong ndeso” dan menyindirku sebagai orang Jakarta. Aku nyengir saja disindir demikian. Aku bangga sebagai wong ndeso. Samsul Arifin dalam training Umat Terbaik Hidup Berkah memuji wong ndeso sebagai orang yang amanah, bisa dipercaya. Akankah pujian itu masih layak dipatrikan masyarakat desa? Sebab lain, tetap kurasa darah kebebasan seorang gembala ketika sembilan ekor kambing jawa keluarga kuikat di padang rumput kering. ”Coba orang Jakarta bisa tidak mengikat kambing, ” ledek seorang teman pria kecilku.Aku diam dan asyik berkuta dengan pekerjaan gembala. Kenapa malu, bukankah penggembala adalah pekerjaan para nabi. Nabi Musa, Ibrahim, Ishak, Isa, Muhammad dan semua nabi adalah penggembala. Melalui pekerjaan penggembala anak-anak disiapkan untuk tanggungjawab, peka, kebebasan, ketundukan dan kecintaan alam semesta. Kuenyahkan enggan pekerjaan klimis di kantor rektorat sebuah perguruan tinggi . Aku sedang memadu rindu segarnya jadi ’wong ndeso’. Betapa kemandirian wong ndeso itu lebih indah dibanding orang kota yang serba memuja kekuatan uang. Di desa kita bisa mendapatkan segalanya dengan usaha dan dari tangan sendiri. Murni. Sedang di kota semua sedia asal kita punya uang. Tetap kurasakan lembut tiga puluh lebih bulu-bulu anak-anak ayam kampung di samping rumahku. Keriangan anak-anak ayam menelusup berpayung dibalik telapak tanganku. Tak terpikir anak ayam itu, salah satu induk mereka telah menjadi santap makan lusa keluarga kami. Tetap kurasakan kesejukan anugerah Allah berupa delapan pohon mangga berbuah ranum di kebun. Buah petai bergelantungan. Kelapa muda bergerombol mengundang selera. Buah pisang bergelayut tandan. Buah jambu merah yang tak habis kupetik. Singkong menanti dicabut. Ditambah buah rambutan malu-malu menyembulkan bunga calon buah dan pohon nangka menyembulkan nangka muda. Di sela-sela hembusan semilir angin mesra, aku tertegun. Aku bersyukur atas karunia kebun, sawah, ternak yang keluarga kami punya. Karunia sebagai pengisi masa pensiunan Bapak dan klangenan keluarga. Tapi tak semua orang memilikinya. Jika ada yang memilikinya mereka menjadikannya pendapatan utama, yang mudah tersapu deru pasar bebas dunia. Pasar bebas pula mengikis karya pertanian produksi lokal. Memaksa para pemudanya berurban, memilih bekerja di sektor jasa (pendidikan, kesehatan, pariwisata, pemerintahan) yang lebih mapan. Dan aku salah satunya yang tak bisa mengelak. Yah Allah, akankah orang kampung dan desaku tahan akan serbuan pasar bebas itu. Akankah para penggangguran itu memiliki masa depan, bisa bertahan hidup. Pada siapa asa mereka dilayangkan sehingga terpecahkan? Pada siapa para jompo bergantung jika putra mereka menghabiskan waktu-waktunya dalam dekapan canda tawa hampa dan berangan-angan menjadi orang kaya? Mental-mental ’wong ndeso” yang mandiri, pekerja keras, ulet tersulap arus mimpi materi (baca: Kapitalisme). Sukses, bahagia diukur apa pekerjaan dan berapa gaji yang diterima? Derajat seseorang sesuai uang yang dipunyai? Aih ... makin berat Tuhan mimpi kebangkitan peradaban di negeri ini. Jika materi telah menjadi ruh kehidupan bermasyarakat, maka berapa pun harta yang dipunya, tak membahagiakan jiwa dan mampu membangkitkan sebuah bangsa. Manusia hanya akan bergerak dimana harta berada. Manusia seperti robot yang digerakkan uang atau materi. Sejatinya pula, asal muasal kebangkitan dari pemikiran produktif yang mengubah laku dan menginpirasi setiap aksi manusia. Dari situlah munculnya mental serta jiwa kemandirian. Berkuasa atas asanya sendiri bukan dikte bangsa lain. Tulisan ora jelas dan pertama usai libur panjang dari ‘ndeso’.Al Kautsar, 22.00 WIB 23/10/2007.
Istimewanya Kemandirian Wong Ndeso ----Jawaban asal mula keistimewaan dan keluarbiasaan tinta emas sejarah adalah kesederhanaan ---- Diiringi senandung Sebelum Cahaya Letto ku mencoba melemaskan kembali syaraf tulisku. Ku tarik waktu seminggu silam. Saat aku sebentar bertegur dengan sanak di kampung. Hawa panas beredar mengelilingi kami. Hujan tak jua turun. Hawa itu pun menembus kulitku yang sudah terbalut dua kain. Merasuk dalam ubun-ubun di kepala. Oh, gerah. Hanya setahun sekali ku sapa kampung ini. Perubahan menggilas kampung ini rakus. Gaya, persepsi positif, nalar, timbang rasa, moral dan iman kian tercampak. Debu kemiskinan mengepul bersatu debu kemarau, berkelidan debu amoral. Judi menjadi satu gantungan asa untuk meraup untung instan. Pencuri profesi dibenci dimaklumi. Miras pelepas dahaga penat dunia. Klenik tumpuan solusi masalah hidup. Pacaran tumpuan ”mihrab suci” pra nikah. Selingkuh mengintip-intip malu terkuak. Ditambah timbunan pemuda bujang lajang nganggur. Gengsi melakukan pekerjaan ”wong ndeso”. Mencangkul, menggembala, bertani, beternak. Pekerjaan produksi riil yang menghidupkan raga dan sukma. Pekerjaan wong ndeso itulah sejatinya sendi kehidupan. Pensuplay energi (baca karbohidrat, nutrisi) bagi manusia, yakni para guru, wartawan, politisi, saudagar, negarawan, public relation, pemilik hotel, dan sebagainya. Tak sehancur itu kampungku ini sebenarnya, yang kubenci adalah karena semua itu seolah terlazimkan keadaan. Apakah di kampung-kampung lain, desa-desa lain juga mengalami demikian? Aku meruntuk. Yang membuatku lebih teriris karena aku putri daerah ini yang tahu seharusnya kemana perubahan ini dibawa, kini hanya berstatus pendatang. Tak kuasa apa. Ngilu. Ada pun kembali dan menetap di kampung ini samasekali tak pernah terimpikan olehku. Maaf. Di kampung ini pula, di era kebebasan masa kanak-kanakku sanak tetangga sering mencerca hinaku. Maka biarlah aku mengembara, sesekali izinkanlah singgah menengok tempat pusara orang tercinta berada, bunda terkasih. Karna impianku, semoga Allah menjadikan aku bukti kekuasaan-Nya bahwa kejujuran dan kebenaran akan menang diatas semua dusta serta angkara. Aku tak peduli mereka meragukan kemampuan ”wong ndeso” dan menyindirku sebagai orang Jakarta. Aku nyengir saja disindir demikian. Aku bangga sebagai wong ndeso. Samsul Arifin dalam training Umat Terbaik Hidup Berkah memuji wong ndeso sebagai orang yang amanah, bisa dipercaya. Akankah pujian itu masih layak dipatrikan masyarakat desa? Sebab lain, tetap kurasa darah kebebasan seorang gembala ketika sembilan ekor kambing jawa keluarga kuikat di padang rumput kering. ”Coba orang Jakarta bisa tidak mengikat kambing, ” ledek seorang teman pria kecilku.Aku diam dan asyik berkuta dengan pekerjaan gembala. Kenapa malu, bukankah penggembala adalah pekerjaan para nabi. Nabi Musa, Ibrahim, Ishak, Isa, Muhammad dan semua nabi adalah penggembala. Melalui pekerjaan penggembala anak-anak disiapkan untuk tanggungjawab, peka, kebebasan, ketundukan dan kecintaan alam semesta. Kuenyahkan enggan pekerjaan klimis di kantor rektorat sebuah perguruan tinggi . Aku sedang memadu rindu segarnya jadi ’wong ndeso’. Betapa kemandirian wong ndeso itu lebih indah dibanding orang kota yang serba memuja kekuatan uang. Di desa kita bisa mendapatkan segalanya dengan usaha dan dari tangan sendiri. Murni. Sedang di kota semua sedia asal kita punya uang. Tetap kurasakan lembut tiga puluh lebih bulu-bulu anak-anak ayam kampung di samping rumahku. Keriangan anak-anak ayam menelusup berpayung dibalik telapak tanganku. Tak terpikir anak ayam itu, salah satu induk mereka telah menjadi santap makan lusa keluarga kami. Tetap kurasakan kesejukan anugerah Allah berupa delapan pohon mangga berbuah ranum di kebun. Buah petai bergelantungan. Kelapa muda bergerombol mengundang selera. Buah pisang bergelayut tandan. Buah jambu merah yang tak habis kupetik. Singkong menanti dicabut. Ditambah buah rambutan malu-malu menyembulkan bunga calon buah dan pohon nangka menyembulkan nangka muda. Di sela-sela hembusan semilir angin mesra, aku tertegun. Aku bersyukur atas karunia kebun, sawah, ternak yang keluarga kami punya. Karunia sebagai pengisi masa pensiunan Bapak dan klangenan keluarga. Tapi tak semua orang memilikinya. Jika ada yang memilikinya mereka menjadikannya pendapatan utama, yang mudah tersapu deru pasar bebas dunia. Pasar bebas pula mengikis karya pertanian produksi lokal. Memaksa para pemudanya berurban, memilih bekerja di sektor jasa (pendidikan, kesehatan, pariwisata, pemerintahan) yang lebih mapan. Dan aku salah satunya yang tak bisa mengelak. Yah Allah, akankah orang kampung dan desaku tahan akan serbuan pasar bebas itu. Akankah para penggangguran itu memiliki masa depan, bisa bertahan hidup. Pada siapa asa mereka dilayangkan sehingga terpecahkan? Pada siapa para jompo bergantung jika putra mereka menghabiskan waktu-waktunya dalam dekapan canda tawa hampa dan berangan-angan menjadi orang kaya? Mental-mental ’wong ndeso” yang mandiri, pekerja keras, ulet tersulap arus mimpi materi (baca: Kapitalisme). Sukses, bahagia diukur apa pekerjaan dan berapa gaji yang diterima? Derajat seseorang sesuai uang yang dipunyai? Aih ... makin berat Tuhan mimpi kebangkitan peradaban di negeri ini. Jika materi telah menjadi ruh kehidupan bermasyarakat, maka berapa pun harta yang dipunya, tak membahagiakan jiwa dan mampu membangkitkan sebuah bangsa. Manusia hanya akan bergerak dimana harta berada. Manusia seperti robot yang digerakkan uang atau materi. Sejatinya pula, asal muasal kebangkitan dari pemikiran produktif yang mengubah laku dan menginpirasi setiap aksi manusia. Dari situlah munculnya mental serta jiwa kemandirian. Berkuasa atas asanya sendiri bukan dikte bangsa lain. Tulisan ora jelas dan pertama usai libur panjang dari ‘ndeso’.Al Kautsar, 22.00 WIB 23/10/2007.
Menulis adalah kebiasaan kaum cendikia, pemikir, terdidik dan orang besar dunia. Media masa dan jurnalistik tak bisa dipisahkan satu sama lain. Keahlian jurnalistik sangat penting dikuasai oleh orang-orang yang ingin merubah dunia menjadi lebih baik. Dengan kemampuan jurnalistik baik, ia mampu menyajikan dan mengemas subtansi perubahan menjadi sesuatu yang indah, menawan dan menarik, sehingga mempercepat pembentukan opini dan kesadaran umat. Berdasarkan harapan tersebut, Badan Kerohanian Islam Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BKIM-IPB) dan Aliansi Penulis Pro Syariah (AlPen ProSa) bermaksud menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik dengan mengangkat tema “ Taklukkan Dunia dengan Pena" Pelatihan jurnalistik indoor berlangsung indoor, interaktif dan praktek langsung Pembicara 1. Pendi Supendi (Wartawan Suara Islam) “Peran Strategis Media Massa dalam Membentuk Kesadaran Umat” 2. Artawijaya (Wartawan Sabili) “Mengenal Jurnalistik ( dasar- dasar jurnalistik; teknik wawancara dll)” 3. Farid Gaban (mantan wartawan Republika, mantan wartawanTempo dan sekarang Wartawan Kantor Berita Pena Indonesia) “Kiat Menulis Artikel dan Menembus Media Massa" Waktu dan Tempat Kegiatan Kegiatan ini akan diadakan pada hari dan tanggal, Sabtu, 22 September 2007 di Ruang Kuliah H101 Fateta IPB.
Membelah Sahabat Sahabat sejati adalah yang ia tahu masa lalumu, impian masa depan, seluk-beluk dirimu, menerima apa adanya dirimu dalam eka cita. Jika ia pergi, kau merindukannya. Jika kau pergi, ia menunggumu. Ia senantiasa ada tatkala dibutuhkan. Mendoakan tanpa dipinta. Meluruskan saat bengkok. ----me--- Tabiat manusia ingin disayang dan dicinta semua orang. Tabiat ini terbentur oleh sebuah fahma. Yakni makna pemahaman tentang hidup. Adakalanya kita tak terbuka siapa diri kita. Atau terbuka pada orang-orang yang kita percaya bisa menerima apa adanya kita. Dialah sosok sahabat. Hanya pada sahabat, kita merasa nyaman berkata apa pun itu, sebab, kita yakin tak akan ditinggalkan atau dikhianati. Rahasia selalu terjaga. Ia yang menahan diri menertawakan, menghina, mencela buah pikir kita. Memberikan semangat dikala kita tersesat. Yang dengannya kita puas bersama menangis, yang bersamanya kita lega didera derita, yang dengannya kita merasakan suka ria sempurna. Persahabatan terbelah oleh diafragma fahma. Sehingga sosok sahabat sejati jumlahnya bisa dihitung jemari. Dan bukan hendakku, persahabatan kita telah terbelah oleh fahmi yang berbeda.......Adakah yang mau bersahabat denganku? Ucapku dalam diam. Bogor, 27/8/2007 Semoga Allah memberikan sahabat sejati yang jauh lebih baik lagi.
Tengah malam Lagi, tengah malam, sebuah elegi kau ketuk pintu hati Jangan tengah malam, sebab akan sulit melupakan Untaian kata tak bersuara itu mengganggu Dari dia, dirimu, dirinya yang lalu Tuhan, bakar asa ini jika sudah retak Di tepi malam, kulepaskan sesak Membelit Menjerat Jangan ulangi, agar tak berlabuh sesal cinta berjuta kali Biar sua suci dalam jawab pasti Ya Allah, berilah hamba hati yang mudah ridho terhadap sesuatu yang tidak kuinginkan, namun sesuai yang kubutuhkan.
MC2 Berbuah Teapot com Akhir Juni kemarin, selama empat hari, saya minta izin dari kantor mengikuti training multi creative camp (MC2) di Sentul. MC2 ini diseleggarakan Female Reader Consulting Center payung dari majalah Female Reader. Saya salah satu freelance disana . Jangan ditanya soal bonus tulisan. Karena tujuan Female Reader memang bukan bertujuan komersial namun untuk memberikan bacaan alternative bagi muslimah di perkantoran. . Pelatihan ini gratis tis. Semua peserta perempuan. Peserta hanya cukup menyediakan uang transportasi pulang pergi. Tempat dan konsumsi selama empat hari full, dijamin panitia (donatur) yang baik hati. Peserta dimanjakan makan tiga kali dan sesekali snack. Walah di Bogor saja, saya bahkan makan tidak teratur, jarang makan tiga kali. Ini membuat saya kekenyangan. Eits tunggu dulu. Walau kenyang ini seimbang dengan tugas pelatihan yang cukup memeras pikiran. Ada tiga kelompok tim dalam pelatihan ini. Saya masuk tim penulis skenario. Dan menurut ku sih, dibanding tim multimedia, tim penulis majalah, tim penulis skenario paling ekstra. Bagaimana dalam waktu empat hari kami yang awam dunia perfilman membuat script FTV 30 menit. Pelatihan skenario dibagi beberapa tahap, yakni pembuatan sinopsis FTV, sceneplot, lalu dikembangkan script dan terakhir drama. Sedihnya, Sinopsisku tidak masuk daftar untuk ditampilkan. Dari 10 orang hanya 3 yang dipilih. Bukan berarti Sinopsisku kurang bagus (muji sendiri), tapi isinya mirip Maha Kasih atau Hidayah. Walah saya harus musti belajar majalah-majalah gaul agar bisa menjiwai dialog anak muda sekarang. Sinopsis yang terpilih salah satunya berjudul ”SPMB : Supaya Papa Mama Bangga”. Dan saya masuk tim ini untuk mengembangkannya menjadi script dan drama. Tiada jam selain deadline. Setiap satu tugas selesai, dilanjutkan tugas selanjutnya, sampai jam 1 malam. Yang unik dari peserta ini, kami saling berbagai laptop (walau pinjaman), berbagi kamar mandi, cerita dan berbagi tikar. Parahnya, kami juga berbagi virus. he he he. Terpaksa laptopku juga musti di upgrade. Setiap malam kami tidur beralaskan tikar dan karpet tanpa selimut dan bantal. Peserta tidur mirip ikan asin berjajar tak beraturan. Mirip kamp pengungsian benar. Tapi ini tak jadi masalah, kami fokus pada training, sehingga kami menikmati dan selalu bersemangat. Yang membedakan pelatihan multimedia biasa adalah shalat jamaah berjalan teratur, shalat malam dan lirih suara Al Quran menghiasi sela-sela pelatihan. Hari keempat, tibalah penampilan drama dari skenario kami. Di kelompok kami, saya terpilih sebagai sutradara dadakan sekaligus pemain figuran. Seru sekali.....benar-benar deh kalau para perempuan berkumpul kita bisa berekspresi bebas. Dari pelatihan ini kami ingin membuat komunitas baru: Teapot com community. Komunitas ini adalah mirip organisasi biasa, inginnya sih dibuat PH (production House) ^_^. Doakan ya. Teapot com Community adalah wadah calon-calon penulis skenario perempuan yang ingin memberikan dengan sentuhan moralitas, spiritual dalam tayangan film dan sinetron Indonesia sehingga bermakna dan bermanfaat untuk masyarakat. amien. Kenapa perempuan? Karena skenario bisa dibuat di mana pun termasuk diatas tempat tidur dan juga di rumah sembari ibu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga (ini bagi yang ibu RT lho ya). Ditambah, bisa membuka peluang income tambahan keluarga tanpa harus, ia lalai tugas utama seorang ibu. ceile.. mikirnya dah jauh..
Bersyukur Aku… Selama tiga hari penuh (18-20/5), aris mengikuti training Umat Terbaik Menuju Hidup Berkah yang difasilitatori Samsul Arifin, Finalist the Young Marketer versi Majalah Swa tahun 2003-2004 di Jakarta Islamic Center Koja Jakarta Utara. Training ini merupakan pengembangan dari program Find The Magic in You. Traning menggugah, bertujuan menemukan potensi keajaiban dalam diri manusia dan mengembangkannya menuju cita tertinggi. Hari pertama, berjalan agak lambat. Aris mendapatkan pengayaan tentang makna kehidupan. Bagaimana cara mengenal Tuhan, mengimaninya dan menjadikannya sumber energi. Kemudian dilanjutkan dengan materi Magic of spirit ”Hidup adalah pilihan” dan Magic of Spirit ” Bersyukur”. Cara penyampaian fasilitator yang apik membuatku seolah-olah baru kali ini memahami konsep takdir, nasib, ilmu Allah dan qadhla. Hai aris, engkau dimana saja? Sesi ini diakhiri dengan simulasi. Masing-masing peserta diminta menuliskan di handbook apa saja yang akan semakin meningkatkan rasa iman dan syukur kita. Panitia meminta kami membentuk kelompok yang terdiri tiga orang saling tak kenal. Aris satu kelompok dengan Mbak Linda, Kepala Sekolah Islami dari Purworejo dan Bu Sujata asal Malang. Aku menulis deretan rasa syukur yang awalnya tak terbayang bagiku. Aku baru bisa menulisnya 38 poin. Aku mendapat giliran terakhir untuk membacakan poin rasa syukurku. Giliran pertama bu Sujata. Beliau begitu sederhana mengkiaskan rasa syukur. ”Saya bersyukur karena Allah selalu mengabulkan doa-doaku.” Aku meminta beliau mendoakanku khusus. Lalu, giliran mbak Linda. ”Pertama, Aku bersyukur karena terlahir sebagai muslim.” Ya Tuhan, Aris tertohok dengan jawabannya (itu tidak masuk daftar rasa syukurku, ya Allah). ”Aku melihat, secantik apa pun seorang perempuan, sebaik apa pun dia, kalau dia bukan muslim, sungguh saya jauh beruntung karena muslim.” Lalu mbak Linda melanjutkan,” Kedua, Aku bersyukur aku terlahir dengan anggota tubuh sempurna.” Sekali lagi, aku tersentak. Ya Allah, itu pun juga tak masuk daftar rasa syukurku. Aku sering melihat orang cacat, betapa mereka agak sulit menjalani hidup dengan tubuh yang tak lengkap. Aku bersyukur sekali. Ketiga, Aku juga bersyukur, aku terlahir dengan keluarga lengkap. Ada ibu dan bapak. Sedangkan ada beberapa teman tak pernah merasakan kasih bapak dan ibunya, karena telah meninggal sewaktu kecil. Keempat, Aku masih diberi kesempatan hidup. Mbak Linda menerawang dan mulai menceritakan kisahnya yang lain. Aku percaya Allah ada dan selalu membantu hambanya. Aku pernah divonis dokter mengidap kista di rahimku. Dokter bilang rahimku harus diangkat. Aku belum menikah, ada rasa takut juga dalam hatiku bagaimana aku punya anak? Jika rahimku diangkat. Namun, aku percaya dokter adalah manusia. Dia bukan penentu segalanya. Aku memohon pada Allah. Dan saat dioperasi, ternyata rahimku tak perlu diangkat. Allah juga membantuku saat membayar biaya operasi. Jumlah biaya yang harus kukeluarkan adalah Rp 12 juta. Namun aku hanya membayar Rp 1 juta. Padahal aku telah menyiapkan Rp 2 juta. Itu berarti masih ada sisa uang. Pertolongan itu datang dari orangtua murid. Biaya operasiku telah dibayar orangtua murid yang pernah aku ajar. Subhanallah, banyak juga teman-teman yang ikut membantu. Ujarnya dengan berkaca-kaca. Bila pun aku tidak diizinkan memiliki keturunan, Aku bersyukur Allah memberikan banyak anak didik dan teman. Mendengar kisah mbak Linda, rasanya lidahku kelu: ya Allah, aku selama ini belum mensyukuri banyak karunia-Mu. Aku terlalu memandang ke atas seolah selalu dan selalu kurang, tak pernah menakar hal-hal sederhana yang sangat berharga untuk disyukuri. Subhanallah,...... Bersambung
 | Kosong | May 14, '07 2:39 AM for everyone |
Kosong
Pukul 00.00, canda tawa di kamar sebelah membangunkan tidur malamku. Masih separuh waktu. Aku mencoba tidur kembali. Tiba-tiba SMS masuk, mengusik telinga. Walau, Aku tak sempat membacanya lengkap. Aku bisa menerkanya siapa pengirimnya. Maaf bagi pengirimnya. Tanpa sengaja aku telah memencet delete. Yang kutahu di bagian atas tertulis, Mbakku Happy Birthday, Semoga... hilang. Aku tahu, apa maksudnya. Petikan atas SMS itu mengingatkan, hari ini aku telah bertambah usia. Hampir-hampir, aku melupakan tanggal kelahiranku sendiri. Sengaja.
Pagi hari datang, aku tak menyadari, sebuah kado biru terbungkus rapi di atas meja belajar. Sebuah handuk hijau. Aku berterima kasih sekali padamu. Engkau perhatian sekali padaku. Tapi, maaf aku belum cukup terhibur. Aku ingin hadiah istimewa sejak tadi malam dari Tuhanku. Keajaiban. Sejak, sms-mu itu, aku menginginkan hadiah khusus.
Aku seperti dibangunkan dari mimpi panjang. Hari ini, aku tidak ingin menjalaninya. Tanggal ini, aku ingin melupakannya. Tak seperti dulu, aku membuat plan setahun ke depan. Hari ini aku tidak melakukannya. Kukira, aku sedang dilanda rasa putus asa. Banyak target tak tercapai kemarin. Lalu untuk apa ku buat plan lagi. Aku ingin menikmati hidup mengalir, apa adanya. Sederhana. Aku ingin pulang. Tapi aku tak tahu kemana....aku kehilangan jalan. Setelah sekian lama aku menjalaninya.
Satu-satunya yang membuatku sadar dan bertahan, adalah diskusi kecil kami, Minggu sore sebelumnya. ”Hidup itu mahal. Tak ada seorang pun yang mau menukar anugrah hidup dengan apa pun,” ujar mbak Agustin lirih. Maka jangan disia-siakan dan dibiarkan berlalu tanpa kesan.
Senin, 14 Mei 2007.
usiaku bertambah.. aku ingin muda kembali, bilakah tiada mungkin, semangatku ingin dimudakan seperti remaja kemarin sore. Aku ingin sekali....semua doaku dikabulkan. Adakah yang mau mendoakan khusus untukku dengan hati yang tulus, ikhlas, berendah hati.
Kuncup Mawar Biru
Telah lama aku menunggu. Tiga kuncup mawar biru ini mekar. Kemana saja, selama ini, hai Adinda. Aku menunggumu, agar aku segera berpindah ke lain hati. Menuai amanah baru. Insya Allah.
Aku lega, tumbuhnya mawar biru. Subhanallah. Aku menyanyangimu ya Ukhti. Aku bangga sekaligus bahagia, kalian menjadi pengganti. Aku sudah belajar di sini. Aku ingin kakiku segera berlari, belajar sesuatu lain yang sejati.
Tidak! Tidak sama sekali aku tak meninggalkanmu. Bahkan, hati kita makin terikat bukan? Ikatan yang tak semua orang bisa dikaruniai. Ikatan yang dikukuhkan dalam janji ”wallaahi“.
Aku lega sekali. Izinkah Aku pergi Rabbi. Bilakah aku harus pindah dari tempatku menyongsong rezeki di sini, aku akan pergi dengan damai dan ria. Ya Rabb, janganlah kedua tangan yang bertengadah ini turun hampa. Aku telah menunggu lama.
Bogor, 24/4/2007
Alhamdulillah.. tiga mawar pengganti, Subhanallah. Insya Allah
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Bukan karena akan kehilangan seseorang yang pernah mengetuk hatiku
Bukan karena aku masih disini
Di orbit yang sama
Memendam cabikan rindu dan asmara
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Mataku sudah nanar, embun berkabut
Berdesir hatiku pelan terusik kata
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Aku ingin memeluk-Mu,
Bersimpuh dan bertanya pada-Mu
Apa arti hadis ini?
As Sa’ah (Hari Akhir) tidak akan terjadi hingga ... gempa bumi akan sangat sering terjadi.” (HR. Bukhari). “ Ada dua hadits besar sebelum hari hisab ... dan kemudian tahun-tahun penuh gempa bumi.” (Diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA.)
Tuhanku,
Gempa itu, miracle itu
Terpapar tak terhitung
Apakah janji-Mu itu akan segera tiba?
Darahku tersirap ke ubun
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Disambut seru
Jawablah aku,
Apakah Khilafah minhajnubuwah dan Imam Mahdi itu segera tiba?
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Ku lihat darah syuhada berceceran
Bercampur debu-debu
Kalbu suci terpenjara di jeruji besi
Tuhanku,
Hari ini aku ingin menangis
Memohon, darahku halal dalam surga-Mu
Bersama kekasihku dan kekasih-kekasih-Mu
Satu, dari semua bintang
Rabu, 28 Maret 2007
Mendung diantara cerahnya langit biru, ceria diantara kegelapan mega sirus, pergilah......
Sesekali, Es Campur Rasa Kehidupan
Tahukah apa yang bergejolak dua hari ini padaku? Rasanya campur aduk. Mending jika itu es campur yang yahut. Kalau ini apa ya. Berubah dengan sekejap.
Sesekali gembira, karena seorang ‘teman asing ‘ menawariku untuk kerjasama yang aku kira sangat menantang. Aktivitas sosial yang bisa meningkatkan taraf hidup orang yang kurang mampu. Sampai kini harapan itu masih ada. Sayang, tak ada kepastian kabar. Untuk lebih proaktif aku enggan. Aku ingin menanyakan keseriusannya. Apakah dia serius? Semangatku mulai pudar. Tahukah dia? Aku serius. Tawarannya seolah-olah menguak kembali impian terpendam. Suatu saat kelak, aku berharap aku punya rumah singgah bagi orang yang terlantar. Dimana mereka yang singgah dibina secara spiritual, intelektual dan mandiri. Well, apakah ini pepesan kosong? Aku tak tahu, yang pasti impian itu melekat disela-sela ruang kalbu. Menunggu kesempatan tiba. Kapan? Jangan diusik.
Sesekali tersayat, mengutuk.. Yah, sejak kejadian Senin lusa. Seorang mahasiswi Fakalutas Kedokteran Hewan IPB sekitar pukul 3 sore di pintu masuk II dibacok parang oleh dua perampok.. Kisah ini simpang siur, katanya, perampok itu pura-pura menyabit rumput di daerah sepi itu. Versi lain, dua laki-laki mendekati perempuan ini dan terjadilah aksi perlawanan. Khawatir aksinya ketahuan orang banyak, seorang perampok membacok bagian tubuh atas si perempuan. Dengan terhuyung-huyung dan darah berceceran sepanjang jalan menuju Rektorat, ia melaporkan diri ke satpam. Tiba di tempat, ia pingsan.
Aku mengutuknya. Mengutuk perampok yang tak punya rasa belas kasih. Pernahkah dia berpikir bagaimana jika perempuan tak berdaya yang mengalami hal tersebut adalah putrinya, atau adiknya, atau orang ia sangat cintai. Apakah perampok tak pernah berpikir bahwa, suatu saat pun dia akan mendapatkan balasan serupa. Kepedihan yang sama seperti yang dialami si gadis, keluarga bahkan kami dari pihak IPB. Mereka telah menebar energi negatif, maka suatu saat mereka akan menuai.
Takkah ia empati, bagaimana cemasnya kedua orangtua si putri ini. Lebih miris lagi, sehari sebelumnya ada isu, si gadis meninggal dunia. Mendengarnya, hatiku kehilangan rasa. Beku. Setelah diklarifikasi, untung itu sebatas isu. Si gadis masih terbaring sangat lemah di rumah sakit. Ia banyak kehilangan darah. Peristiwa seperti ini baru pertama kali ku dengar terjadi di kampusku.
Sesekali geram, tak habis pikir. Tepatnya Rabu kemarin, seorang professor IPB- bahasa kasarnya- dianiaya pengamen di POM bensin. Tak habis pikir kenapa itu musti terjadi. Jika saja sang profesor setidaknya bersikap sedikit memanusiakan manusia. Benar, mungkin beliau sedang banyak pikiran dan kalut sehingga cuek terhadap pengamen. Membiarkan pengamen tanpa hasil, tanpa senyum, tanpa menoleh, tanpa minta maaf –kalau lagi ndak mau kasih sedekah-, dan tanpa reaksi apa pun. Akibatnya bisa ditebak, pengamen juga manusia. Dia punya naluri baqa’(naluri untuk diakui eksistensinya). Keluarlah sederet kalimat umpatan yang kemudian didengar oleh sang profesor. Terjadilah adu mulut dan ujung-ujungnya gitar pengamen mendarat berulangkali di tangan professor. Darah segar mengucur dari luka robekan sepanjang tujuh sentimeter sang profesor.
Aku pernah melakukan hal serupa, khilaf mencuekkan orang atas alasan tertentu. Aku memilih mendiamkan saja dan membiarkan pengamen mengumpat. Memaklumi keadaanku dan keadaannya. Memaklumi aku lagi tak bisa atau mau kasih uang, aku serius berpikir tertentu dan mencuekkan keberadaan pengamen. Memaklumi, kalau si pengamen mungkin lagi sangat berharap dapat duit dariku. Tapi gagal, harapannya pupus di jalan.
Ekonomi sulit bisa mendorong orang menjadi kurang’waras’. Masalah menumpuk dan depresi juga demikian
Hari-hari suram menanti si pengamen, karena usai menganiaya dia diciduk ke kantor polisi. Pasti juga, ia tak bisa mengamen sebebas yang dulu.
Tiga campuran rasa sesekali itu menambah aroma pikiranku yang sedang nglandrah.
Tambah lagi sesekali sunyi ini menyergap pangkal alam bawah sadarku.
15 Februari 2007, aku lagi suntuk...
Inilah hasil belajar menulisku, ternyata kepuasaan itu semata bukan karena karya kita dimuat atau tidak, lebih dari semua, karena hati kita lega mampu mencurahkan uneg-uneg yang menggerahkan. Usai menulis ini lega dan plong rasanya.
Istilah Umat Islam yang Menyatukan*)
(Tanggapan untuk tulisan Perubahan Arti Istilah Umat Islam Oleh Abdurahman Wahid)
Aris Solikhah, begitu bapak saya memberi nama anaknya yang ketiga. Saya tak pernah mempersoalkan arti nama Aris Solikhah yang merancukan orang. Bagi orang yang berkorespondensi via surat atau email, dan belum bersua atau mendengar suara saya, sering salah menafsirkan sehingga menyebut mas Aris, bapak Aris, atau Bung Aris. Geli saya mendengarnya. Hati ini baru terusik, manakala beberapa teman membuat masygul. Mereka merepotkan diri mencari terjemahan kamus di bahasa arab, inggris dan buku nama anak, demi mengetahui apa makna aris itu. Teman-teman saya penasaran, kenapa betapa teganya, seorang bapak memberi nama anak perempuannya dengan nama aris. Sebuah nama khas laki-laki. Aris dalam bahasa arab berarti pengantin laki-laki. Aris diambil dari aristoteles berarti cerdas. Aris diambil dari aristokrat berarti bangsawan. Atau aris dari istilah haris berarti penjaga dan lembut. Persamaan istilah aris dan haris terjadi setelah ditelusuri bahwa saya berasal dari jawa, dan dalam aksara jawa ( ha na ca ra ka), huruf a di ganti huruf ha. Lalu arti istilah aris yang dimaksud sebenarnya apa?
Akhirnya, demi menghilangkan penasaran yang menggejala, suatu hari saya terpaksa mengajukan pertanyaan pada bapak tentang maksud nama aris. Orangtua yang telah memilihkan nama aris tanpa sepertujuan saya. Bapak tampak aneh melihat saya tak biasanya, bertanya tentang sedalam-dalamnya makna aris. Kemudian beliau menjawab, aris diambil dari kata arsy (sebab lidah jawa sehingga berubah menjadi aris). Arsy adalah tempat paling mulia yakni tempat bersemayamnya Allah. Beliau berharap putrinya ini kelak menjadi orang mulia. Amiin.
Begitu pentingnya arti atau makna dari suatu nama atau istilah, sehingga orang tua tak sembarangan memilihkan dan membuat nama atau istilah bagi anaknya.Sebab, dibalik nama atau istilah ada maksud, petunjuk akhlak, cita-rasa si pemilih dan keyakinan orang yang memilihnya. Montgomery Watt, seorang sosiolog Barat yang memilih spesialisasi di bidang studi Islam, mengatakan nama atau istilah mampu menyingkap pandangan dan konsepsi kelompok-kelompok tersebut terhadap kehidupan sosial dan konsep-konsep terapannya yang mereka setujui bersama.
Kalau ada penyimpangan atau redefinisi arti istilah maka hendaknya dikembalikan pada pemilih asal atau asal mula pemilihan istilah. Redefinisi yang kurang tepat dikhawatirkan menimbulkan kegelian -seperti kegelian saya pada penafsiran penyebutan nama aris-, bahkan sangat dikhawatirkan menghilangkan totalitas maksud sebenarnya dari sebuah istilah atau nama.
Tulisan saya yang tampak remeh temeh di ini, sebenarnya merupakan tanggapan saya terhadap tulisan Bapak Abdurrahman Wahid yang berjudul Perubahan Arti Istilah Umat Islam yang dimuat Media Indonesia 25-26 Januari 2007. Keremehtemehan dan kekurangmutuan tulisan saya menunjukkan amatirnya penulis sekaligus ketidakmampuan penulis menahan gelitikan tulisan Bapak Abdurrahman Wahid yang kapasitas keilmuannya jauh linuweh dibanding penulis. Kata orang ekpresikan rasa tergelitikmu sebisamu, daripada terus menerus menahan gelitikan, membuatmu insomnia. Maka demi menghilangkan rasa gelitik itu saya pun menulis tulisan ini. Saya amat bersyukur dan terima kasih bila Media Indonesia memuatnya.
Menyoal arti nama atau istilah umat Umat manusia, di sepanjang sejarah dan di berbagai wilayah geografis, hidup berkelompok. Masing-masing menyebutkan istilah atau nama tertentu untuk masing-masing komunitasnya. Misalnya contoh nama-nama yang dipergunakan secara nyata dalam bahasa-bahasa Eropa, Arab dan Persia yang memberi arti tentang kelompok orang, berikut kandungan arti kebahasaan yang terdapat pada masing-masing nama tersebut. Dari asas kebahasaan pula, Watt yang dikutip Ali Syari’ati dalam buku Ummah dan Imamah berusaha memperjelas maksud dari pemberian nama untuk masing-masing komunitas tadi. Dari asas kebahasaan itu Watt memperbandingkannya dengan istilah ummah ( baca :umat). Istilah yang di dunia ini, ternyata tidak ada yang mengadopsinya, kecuali umat Islam. Sedangkan nation, akar katanya naitre, artinya bangsa. Pemilik-pemilik nama tersebut menganggap bahwa sifat dasar dan pengikat alamiah yang sakral dan real yang mengikat individu-individu dalam masyarakat yang satu, adalah kekerabatan, ras, dan kesamaan keturunan.
Walau saya orang awam di bidang peristilahan, namun tetap saja merasa aneh dengan pendapat Sidney Johes tentang istilah umat Islam sudah tidak dapat dipakai lagi, dan Sidney menyarankan kita (umat Islam) harus mengenakan arti baru pada istilah keislaman dan kebangsaan yang dimiliki seseorang. Secara realitas umat Islam memang sekarang sedang terbelah identitasnya. Ada yang lebih mengedepankan kebangsaan dirinya tanpa bisa melepaskan persaudaraan dalam talian keagamaan. Ada yang mengganggap kebangsaan diatas segala hal. Ada juga yang berharap terikat dalam satu kekerabatan utuh tanpa tersekat kebangsaan. Melihat kegamangan umat Islam, Sidney Jones alangkah bijaknya jika menekankan kembali makna asal muasal dan magisnya dari istilah Umat Islam. Dan tidaklah tepat, menyarankan umat Islam mengenakan istilah baru sehingga umat islam benar-benar mengalami amnesia. Lupa identitasnya, sejarah agamanya, impian dan bahkan tujuan hidupnya.
Ali Syariati menulis bahwa istilah ummah bersal dari kata ’amma, artinya bermaksud (qashada) dan berniat keras (’azima). Pengertian seperti ini terdiri atas tiga arti yakni ’gerakan’ dan ’tujuan’, dan ’ketetapan hati yang sadar’. Sepanjang kata ’amma itu pada mulanya mencakup arti ’kemajuan’ maka tentunya ia memperlihatkan diri sebagai kata yang terdiri atas empat arti; usaha, gerakan, kemajuan dan tujuan. Seraya tetap mempertahankan keempat makna ini, istilah ummah (umat) secara prinsipil tetap berarti jalan yang terang. Artinya, suatu kelompok manusia yang menuju ke jalan tertentu. Dengan demikian, kepimpinan dan keteladanan, jalan dan tempat yang dilalui, tercakup pula dalam istilah ummah ini. Berpijak pada pengertian serupa itu, maka keturunan, tanah air, pekumpulan, kebersamaan, baik dalam tujuan, profesi berikut perangkatnya, ras, status sosial dan gaya kehidupan, yang dipandang pengikat paling dasar dan sakral antara berbagai individu, tidaklah termasuk dalam hubungan tadi.
Oleh karena itu, keunggulan dan keistimewaan istilah ummah dibanding istilah –istilah lain seperti nation (bangsa), qaum, people (rakyat), race (ras)- adalah karena istilah-istilah ini sama sekali tidak mengandung arti kemanusiaan yang dinamis. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justru merupakan landasan ideologis. Istilah ummah mengandung konsep-konsep berikut: 1) Kebersamaan dalam arah dan tujuan; 2) Gerakan menuju arah dan tujuan tersebut dan 3) Keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif untuk meraih poin 1 dan 2. Disini kita bisa melihat bahwa kita mampu menyerap konsepsi tentang ummah dan immah dari celah-celah berbagai makna yang terkandung dalam lafal tersebut. Dengan demikian tidak mungkin ada ummah tanpa imamah.
Umat adalah manifestasi dari sekumpulan orang yang individu-individunya merasa-oleh ikatan darah dan hidupnya- untuk bergabung di bawah kepemimpinan agung dan tertinggi, yang memikul tanggung jawab terhadap kemajuan dan kesempurnaan individu dan masyarakatnya, serta meyakini adanya keharusan bahwa yang namanya kehidupan itu, bukanlah sekedar eksis melainkan perjalanan tanpa henti, menuju kesempurnaan mutlak dan kesadaran terhadap jati diri yang mutlak. Suatu perjalanan tak terhingga dan peciptaan nilai-nilai luhur dalam bentuknya yang kontinyu. Ia bukanlah kehidupan yang mapan dalam kondisi dan situasi yang mana pun, melainkan suatu transformasi terus-menerus dan berlanjut guna menyempurnakan kemanusiaan. Ia adalah hijrah abadi untuk menjadi diri kita sendiri, mengarahkan kemampuan yang ada pada kedalaman fitrah anak adam, dan menjangkau ketinggian sejauh yang bisa dicapai umat manusia yang beraneka ragam ini. Itulah yang dinamai komunitas muslim yang khas, yang berbeda dengan komunitas manapun di dunia ini, yang memancarkan sinar Islam dalam bentuk agama dan risalah, jalan dan tujuan. Inilah arti istilah umat Islam yang menyatukan beranekaragam seserakan ras, bangsa, latar belakang dan manusia di dunia. Mengingat magisnya arti istilah umat Islam, maka bukankah perubahan arti istilah umat Islam akan membuat manusia –bukan hanya muslim-tak beranjak dari keterpurukan dan menuju kehancuran kemanusiaan? Sungguh saya mengkhawatirkan perubahan arti istilah -yang mungkin dianggap tiada berarti oleh sekaliber Bapak Abdurrahman Wahid-menjadikan seorang anak amnesia pada sejarah dirinya, orangtua dan agamanya. Lalu bagaimana nanti dia bisa berbakti?
*) Oleh ” Aris Solikhah
 | Penari | Feb 2, '07 1:10 AM for everyone |
Penari
Dua tangan meliuk gemulai pelan Jejemari lentik menyerupai nada ketukan Serimpi abad ini diukir diatas tuts Menarikan sederetan arti tersembunyi
Indah, dinikmati dalam lontaran kata Mematahkan prosa kezaliman keangkuhan raga terjungkal di depan mata
Diiringi gending wahyu macapatan Lembut dibalut batik parang biru lurik Mempesona, jawani dan anggun Jiwa-jiwa kasar terpedaya, takluk
Puja-puji semesta alam terumbar Dalam zapin kesyukuran dan kerinduan Sang penari mengakhiri riwayat kemaksiatan
Jum’at 2 Februari 2007
|
|