Nur's posts with tag: pembangun jiwa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pembangun jiwa
Blog EntryCoretan KesederhanaanMay 31, '07 12:31 AM
for everyone

Kesederhanaan

Sobat,

Izinkan daku untuk membahas makna kesederhanan kali ini. Puisi kacau balau di tengah malam benar-benar mengusikku. Puisi itu nampak puitis, susunannya tak menarik. Yang mengetuk adalah kedalaman dibalik puisimu yang selalu dikirim tengah malam. Puisi itu mengilhami untuk merekat kata-kata yang kuanggap bernas. Daku bertanya, kegalauan apa yang menimpamu? Apakah daku andil didalamnya?

 

Sobat,

Kesederhanaan hidup bagiku adalah tidak menyerah pada arus. Bukan hidup miskin dan membuka tangan meminta. Kesederhaan adalah hidup apa adanya yang dibangun atas hasil keringat dan kasih Tuhan. Menolak ketakutan dengan tawakal dan usaha. Ini inti kemandirian. Hidup fleksibel, lentur, toleran, moderat berpusat pada idealisme. Yah, idealisme, ini sobat, yang daku coba jadikan timbangan . Meski daku kadang tersiksa dengan idealisme, yang mengajariku untuk bersabar dan menutup mata hijaunya rumput tetangga. Serta ranumnya buah di taman seberang.

 

Sobat,

Kesederhanaan adalah mengupayakan keseimbangan hidup. Seimbang dalam ruhiyah (Spiritual), materi, kemanusiaan (Humanity), dan etika (moral). Jujur pada diri sendiri, mengakui kesalahan dan memperbaiki. Mengupayakan berarti rela terhadap hasil upaya. Sobat, berusahalah walau sekecil kau berbuat. Menanti-nanti permata itu menggelisahkan, memanjangkan angan. Daku sungguh bosan.

 

Sobat,

Sekali lagi kau bertanya tentang kesederhanaan. Kesederhanaan bagiku  adalah berusaha memaafkan masa lalu, memaafkan diri sendiri. Engkau tahu yang tersulit adalah memaafkan diri sendiri. Karena ini seperti halusinasi berulang, yang mencengkeram erat,  kala kita sedang terpuruk. Maafkanlah kesalahan masa lalumu, sobat. Daku juga sedang melakukannya. Bila kesempatan itu masih ada, perbaikilah, mungkin engkau masih bisa mendapatkan madu istimewa. Kelegaan dan hati yang tenang. Atau kau  benar-benar peroleh intan kebahagian sejati yang diidamkan. Tapi peluang itu tak akan terlaksana jika kau tak berani mencoba sekarang. Sederhanakan berpikir dengan bertindak cepat.

 

Sobat,

Masih juga kau medobel kata kesederhanaan. Kali ini daku akan mengulas konsep kesederhanaan cintaku. Bagiku cinta harus memiliki. Mungkin kau akan bilang naif. Karena sering kali orang melontar ’Cinta tak harus memiliki”. Sobat, daku tak sanggup mencinta tanpa memilikinya. Kau tahu, bila daku jatuh cinta dan yakin tak bisa memilikinya. Daku mengulang-ulang doa: ”Ya Allah, jangan biarkan aku jatuh cinta pada sesuatu yang tidak berhak dan tidak layak”.

 

Kenapa harus memiliki? Karena aku akan sangat terluka melihat orang yang kucinta menderita sedangkan daku tak bisa berbuat apa-apa, sementara daku tak punya hak. Bagaimana aku bisa menyentuh tangannya, menghapus air matanya. Perih, sakit, mengiris hatiku. Menurutku, kesiaan saja, mentautkan cinta yang bukan milik kita.

Kesederhanaan cinta adalah menerima apa adanya yang dibingkai ridha Ilahi. Tak kurang tak lebih. Tak menganggumi sehingga kecewa jika tak sesuai selera. Kesediaan mengarungi hidup dengan mutlak menerima ketidaksempurnaan. Sebab, yang disebut kesempurnaan hakiki adalah ketidaksempurnaan yang menembus segala keterbatasan.

Maka, hargailah utuh cinta yang telah dikau miliki. 

 

Sobat, kutulis ini khusus untukmu, gerangan apa yang terjadi padamu? Daku berterima kasih engkau mempercayaiku untuk berbagi puisi hatimu.

 

 

Kamis, 31 Mei 2007,

Untuk pengirim sms misterius tengah malam dua hari berturut-turut. Kenalkanlah dirimu, mari kita bersahabat.

 

 

 


Blog EntrySeni Komunikasi Ideologis pada Kalangan TerdidikMay 29, '07 10:06 PM
for everyone

Diambil dari milis syiar-islam@yahoogroups.com



Seni Komunikasi Ideologis pada Kalangan Terdidik
Oleh : Nopriadi

Staf Pengajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

"Payung untuk semua muslim di dunia?
Menurut saya Khilafah itu utopis!."
"Sulit terbayang bagaimana sistem ekonomi tanpa interest (riba). Perubahan yang membuat chaos!"
"Gerakan anda tidak realistis!"
"Lebih baik lakukan hal yang riil, bangun ekonomi umat, berdayakan mereka dengan pelatihan aplikatif!"
"Kita tidak berada di ruang kosong. Kita hidup di sebuah negara. You tidak realistis."

Anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti di atas? Nada sesumbang ini kerap muncul di tengah optimisme dan gelora semangat seruan kembali pada kehidupan Islam. Sebagian kalangan, terutama kelompok terdidik (educated people), menilai gagasan back to Islam tidak lebih dari sebuah impian, yang akan berakhir menjadi mimpi. Apatah lagi menyatukan muslim seluruh dunia di bawah payung Khilafah Islamiyah ! Gagasan mulia ini, meski didukung argumentasi nash, masih dilihat sebagai visi yang beraroma utopia bahkan sebagian telah memvonis sebagai visi yang utopis. Isyarat keengganan dari sebagian kalangan terdidik akan semakin jelas tatkala khilafah dengan sistemnya yang canggih dikumandangkan sebagai problem solver satu-satunya atas segala problem kehidupan. Mereka sangat sulit menerima(baca: menangkap) opini yang sering digaungkan oleh para duta Islam secara jernih. Padahal opini ini, Islam is the solution with Calipahte and Syariah, adalah penting untuk membangun kepercayaan diri dan optimisme umat agar mau kembali ke pangkuan Islam secara total.

Tulisan berikut bertujuan untuk menganalisis kesenjangan semangat dan kendala komunikasi yang biasa terjadi dengan kalangan terdidik. Dimulai dengan menganalisis faktor penyebab, kemudian menawarkan strategi komunikasi efektif saat berdialog dengan mereka. Perlu dicatat, kalangan terdidik disini adalah kelompok umat yang memiliki tradisi berpikir ilmiah, memiliki metodologi berpikir 'mapan' dan selalu bersandar pada fakta empirik. Mereka adalah kalangan profesional seperti para pakar, dosen, pengamat dan peneliti. Termasuk pula para profesional bisnis, entrepreuner, maupun pejabat eksekutif, yudikatif, legislatif, atau siapa saja yang memiliki pola pikir 'mapan' dalam menyelesaikan problem, baik terkait masalah sosial maupun bidang spesifik yang digelutinya. Secara sosio-ekonomis kalangan ini termasuk masyarakat kelompok menengah ke atas yang posisinya sangat strategis dan signifikan bagi proyek perubahan peradaban.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa diambil manfaat, baik oleh pihak yang terlibat dalam dakwah mulia ini (semoga Allah SWT merahmati anda dalam perjuangan ini), juga untuk kalangan terdidik yang mau mengapresasi semangat dakwah (mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan hidayah-Nya kepada anda).

Kendala komunikasi pertama: Lack of Knowledge

Bagi sebagian kalangan terdidik seruan kembali pada kehidupan Islam dengan khilafah dan syariah terkesan sebagai gagasan bombastis, melebih-lebihkan (hyperbolic) dan produk berpikir meloncat (logical jumping). Kesan ini sering muncul ketika edukasi dan opini kecanggihan sistem Islam diartikulasikan dengan penuh semangat bersamaan dengan paparan bobroknya realitas produk kapitalisme. Biasanya para duta Islam mencoba menawarkan sistem Islam sebagai konsep terbaik, the best among others, dan mencoba mempersuasi dengan argumen syara'. Sering disampaikan bahwa daulah Islam adalah global state yang wajib untuk seluruh muslim di dunia. Khilafah dengan syariatnya mampu menjamin terpenuhinya sandang, pangan dan papan serta pendidikan, kesehatan dan keamanan bagi masyarakat! Sistem ekonomi Islam mampu memberantas kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Sistem pidana Islam mampu mengurangi secara signifikan kejahatan dan kerusakan sosial! Sistem pendidikan Islam tidak materialis, namun mampu membangun kepribadian Islam sekaligus membekali ilmu alat untuk hidup! Islam is the best dan mampu menyelesaikan seluruh problem-problem riil kehidupan! Problem datang, kasih sistem Islam, maka semua akan beres! Pesan dan pola komunikasi seperti ini sering tidak mendapat minat dari kalangan terdidik. Mereka bertambah 'gerah' karena penjelasan-penjelas an seperti ini selain seperti melayang di udara, juga sulit dipahami how to-nya.

Tidak terbayangkan oleh mereka bagaimana gambaran penyatuan negeri-negeri Islam ke dalam satu payung negara khilafah, karena faktanya umat Islam hidup terpisah di lebih dari 50 negara, masing-masing memiliki kepentingan nasional dan problematika spesifik yang complicated. Begitu juga, sulit terbayangkan dalam benak mereka bagaimana ada sebuah negara yang akan bisa menandingi bahkan menundukkan super power dunia Amerika Serikat. Mereka juga sulit memahami bagaimana mungkin negara khilafah kelak dapat menerapkan sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan, seperti masa zaman Umar bin Abdul Azis, padahal realitas umat sekarang berada dalam kemiskinan, dipimpin oleh para koruptor dan di bawah dominasi penjajah kapitalis. Jadi, segala tawaran pictures masa depan berdasar syara', bagi mereka, terkesan tidak lebih seperti khayalan di malam hari, tidak sesuai konteks yang ada sekarang.

Perlu dipahami bahwa persoalan ini sebenarnya muncul karena kurangnya pengetahuan (lack of knowledge) pada kalangan terdidik seputar sistem Islam. Sistem Islam adalah sebuah sistem menyeluruh dan saling terkait (integral and holistic) yang didalamnya ada berbagai sistem: sistem sosial, sistem ekonomi-keuangan, sistem politik-pemerintaha n, sistem pidana-perdata, hubungan internasional dan lainnya. Memahami bahwa Islam menjamin pendidikan terbaik dan gratis bagi masyarakat tidak hanya memerlukan pemahaman tentang sistem pendidikan, namun juga musti paham politik kebijakan ekonomi dan sistem keuangan dalam konteks negara Khilafah. Bila sistem Islam mencita-citakan about zero percent criminality, berarti tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang adilnya sistem uqubat, namun juga perlu wawasan seputar sistem ekonomi, pendidikan dan pemerintahan. Thesis bahwa khilafah dapat menjadi super power dunia dan mampu memukul Amerika tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang konsep amir jihad, wajib militer dan kebijakan industri perang, namun juga perlu wawasan sistem ekonomi-keuangan, konsep hubungan luar negeri, juga kekuatan spritual (al-quwwatu ar-ruhiyah) pada diri umat. Jadi, dibutuhkan tali temali pengetahuan seputar sistem-sistem yang ada agar sampai pada level pemahaman dan bisa mengapresiasi kecanggihan sistem-sistem Islam. Sesuai kaidah berpikir, pemahaman bisa terjadi secara sempurna bila cukup pengetahuan sebelumnya (prior knowledge) yang mendukung. Sayangnya prior knowledge yang cukup biasanya belum terwujud pada kalangan terdidik. Mereka belum memiliki wawasan integral dan holistik tentang sistem Islam. Ini bisa dimaklumi dari kenyataan bahwa mereka belum mendapatkan pembinaan intensif seputar sistem Islam, disamping belum mengakses literatur-literatur yang terkait dengannya. Kondisi lack of knowledge inilah yang membuat mereka mudah terjebak pada vonis dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam sebagai ide bombastis, hyperbolic dan logical jumping.

Maka dari itu duta Islam harus selalu sadar tentang kondisi ini. Sadar bahwa lack of knowledge menyebabkan terjadinya kesenjangan semangat dan dapat menjadi kendala dalam komunikasi. Perlu kesabaran dan trick cerdas dalam melakukan dialog. Pastikan dalam setiap memaparkan suatu sistem Islam terlebih dahulu diberikan prior knowledge yang cukup agar dapat memahami gagasan yang disampaikan. Kesalahan yang sering terjadi adalah para duta Islam terlalu semangat dengan penjelasannya dan lupa kalo orang yang diajak dialog belum terbina dengan wawasan Islam yang bersifat sistemik. Kegagalan menyadari kadar pengetahuan mereka tentang sistem Islam akan berbuah penolakan atau penerimaan setengah-setengah.
Ingat prinsip "first to understand, and then to be understood" , pahami dulu (mereka), baru kemudian anda akan dipahami. Prinsip ini harus dipakai ketika berdialog dalam menyampaikan Islam.

Menyadari bahwa kurangnya prior knowledge tidak berarti memvonis mereka sebagai orang-orang yang kurang wawasan.
Jangan salah paham! Mereka adalah orang-orang terdidik dengan kadar intelektualitas yang sangat baik dan berwawasan luas. Bahkan, wawasan mereka bisa jadi jauh lebih bermutu ketimbang wawasan para duta Islam, terutama seputar bidang keahliannya. Persoalannya hanya pada rumus alam bahwa isi pesan dapat dipahami secara sempurna setelah cukup informasi atau pengetahuan agar pesan itu bisa ditangkap seperti yang diinginkan. Itu saja. Bila mereka sebelumnya tidak dibina dengan sistem-sistem Islam, maka jangan berharap mereka bisa memahami dengan baik dan mudah tentang Islam sebagai satu-satunya problem solver. Islam mampu menyelesaikan secara tuntas terhadap persoalan riiil di tengah masyarakat butuh pembelajaran tentang sistem-sistem Islam. Seorang profesor nuklir masih perlu belajar dasar ilmu fisiologi tentang sistem kardiovaskular untuk bisa memahami mekanisme kerja jantung dan sistem pembuluh darah di dalam tubuh.

Kendala komunikasi kedua: ketidaktahuan tentang konsep (fiqrah) dan metode (thariqah)

Kendala kedua adalah ketika kalangan terdidik belum menyadari sepenuhnya bahwa upaya menegakkan sistem khilafah dilakukan dengan suatu metode yang menjamin terwujudnya cita-cita. Gerakan Islam untuk memperjuangkan ini adalah gerakan dakwah ideologis yang mengemban konsep(fikrah) sekaligus memiliki kelengkapan metode (thariqah) untuk mewujudkan konsep tersebut. Ketidaktahuan akan adanya metode ini akan berbuah sikap pesimis, antipati dan kadang frustasi. Kejelasan metode menjadi sangat penting apalagi untuk sebuah cita-cita atau perubahan besar. Sebuah cita-cita yang tinggi (future condition) biasanya jauh berbeda dengan realitas saat ini (current condition). Jauhnya cita-cita dan realitas menggoda siapa saja untuk bersikap pesimis.
Apalagi kalo ia terlalu terpaku pada realitas sekarang (current conditions centric). Coba bayangkan, apa yang akan dikatakan dan dirasakan oleh seorang pengemis bila anda mengatakan kepadanya bahwa suatu saat ia menjadi seorang konglomerat? Beginilah kira-kira yang dirasakan oleh kalangan terdidik tentang janji khilafah tegak dan janji tentang kecanggihan sistem Islam dalam menyelesaikan problem komplikasi umat. Persoalannya hanya terletak pada tuntutan akan kejelasan metode mewujudkan konsep (cita-cita) tersebut.

Yang bisa meyakinkan mereka bahwa cita-cita besar bisa diraih adalah adanya kejelasan metode, sekaligus strategi, yang menjamin realisasinya. Sebelum itu ada maka cita-cita hanya akan terkesan sebagai angan dan impian yang manis untuk dibayangkan. Misalkan tentang keniscayaan kembalinya khilafah. Bagi sebagian mereka cita-cita tegaknya khilafah adalah out of mind, karena adanya Khilafah berarti perubahan fenomenal dan besar di level global. Sebuah perubahan eskalatif pada kondisi sosial, politik, hukum, budaya, hubungan antar negara dan sendi-sendi kehidupan lainnya. Ini adalah cita-cita tinggi yang berbeda dengan realitas sekarang. Walhasil, bila duta Islam lupa atau tidak bisa meyakinkan mereka tentang keberadaan metode yang canggih (sophisicated method), maka jangan berharap mereka akan menerima, mengapresiasi dan mendukung perjuangan ini.

Kalaulah kemudian ada kalangan terdidik yang setuju dan menerima bahwa khilafah suatu saat akan kembali karena alasan syara', mereka akan tetap kesulitan membayangkan bagaimana cara kemunculannya. Bila mereka gagal memahami bagaimana metode merwujudkannya, jangan berharap mereka bisa menerima secara legowo tentang proyek masa depan ini. Para duta Islam harus bisa meyakinkan mereka bahwa dakwah dilengkapi dengan metode yang jelas, syar'i dan rasional untuk mewujudkan cita-citanya. Bila tidak maka mereka akan berkesimpulan bahwa khilafah membutuhkan waktu yang sangat lama (unlimited time). Implikasinya, mereka akan berpandangan lebih baik melakukan hal-hal yang 'realistis' dan sekarang 'dibutuhkan' oleh umat. Dengan tidak mengurangi apresiasi terhadap ikhtiar perjuangan yang mereka pilih dan InsyaAllah mendapat pahala dari Allah swt, kita dengan sangat terpaksa mengatakan bahwa mereka akan mudah terjebak pada jenis perjuangan yang tidak relevan, bersifat reaktif, temporer dan berubah-ubah orientasinya sesuai dengan berubahnya realitas. Dalam bahasa manajemenya, kaburnya visi dan atau strategi menyebabkan execution yang tidak relevan.

Perlu digarisbawahi di sini, seorang duta Islam tidak cukup hanya mengatakan bahwa khilafah merupakan kewajiban umat Islam. Tidak cukup hanya dengan menjelaskan kehebatan dan ketangkasan sistem Islam dalam menyelesaikan problem manusia.. Juga tidak cukup hanya dengan 'mendongeng' tentang kenangan manis daulah Islam dalam mengatur dunia. Singkatnya, tidak cukup sekedar memaparkan konsep dengan argumen syarí, historis dan tuntutan kekinian. Namun perlu dicatat di sini, mereka harus diyakinkan dengan keberadaan sebuah metode untuk meraih konsep-konsep tersebut. Untuk apa impian indah, kalo tidak tau cara mendapatkannya ?

Para duta Islam harus bisa menjelaskan tentang metode dakwah ini dengan sejelas-jelasnya, dimulai dengan argumentasi syara', penjelasan yang logis dan rasional, serta visualisasi yang jelas dan jernih. Ini dilakukan agar mereka bisa melihat cara dan jalan keluar (wayout) dari realitas sekarang menuju cita-cita yang diharapkan. Sekali lagi, pastikan mereka memahami bahwa gerakan Islam tidak sekedar berbicara tentang konsep yang melangit, namun juga dilengkapi dengan metode canggih yang menjamin tercapainya perwujudan konsep tersebut. Bila Khilafah adalah sebuah konsep hebat -yang juga merupakan kewajiban syar'i, terbukti secara historis, dijamin berhasil oleh nash, dan sekarang masih menjadi cita-cita- maka dakwah adalah proses rekayasa sosial ideologis yang canggih untuk merealisasikannya. Dua hal ini harus tersampaikan kepada mereka dengan jelas tanpa samar: konsep yang jelas dan metode yang relevan dengan kondisi riil kehidupan .

Kendala komunikasi ketiga: campur aduk pembahasan konsep (fiqrah) dan metode (thariqah)

Kegagalan komunikasi juga bisa disebabkan ketika pembahasan antara konsep dan metodenya tidak dipisahkan. Pencampuradukan ini disamping membuat mereka sulit menangkap bahwa gerakan dakwah memiliki metode yang jelas, juga membuat mereka berat untuk memahami dan keluar dari realitas kekinian. Manusia pada dasarnya lebih mudah menangkap realitas yang dihadapi daripada memahami masa depan yang terlampau jauh dari realitas. Untuk itulah, ketika berdiskusi tentang khilafah dan sistemnya, berarti bicara tentang masa depan yang akan diwujudkan. Jangan lupa khilafah memiliki alasan syar'i, landasan historis dan tuntutan kekinian. Tentu ini saja sudah membutuhkan perhatian, konsentrasi dan diskusi yang panjang lebar sampai pada pemahaman yang memuaskan.

Setelah mereka memahami wujudnya Khilafah adalah keniscayaan, dilihat dari tinjauan syar'i, landasan historis dan tuntutan kekinian, baru kemudian mereka sangat perlu mengetahui metode mewujudkannya. Untuk mewujudkannya berarti bicara tentang konsep perubahan sosial ideologis berdasarkan Islam, yaitu dakwah yang sesuai dengan syara'. Konsep social engineering ideologis inipun memerlukan pembahasan yang cukup berat, dilihat dari aspek syara', historis dan juga rasional.

Pencampuradukan pembahasan akan membuat frustasi. Tujuan agar kalangan terdidik tergerak untuk mendukung dan masuk dalam barisan dakwah tidak akan berhasil dengan pembahasan yang campuraduk dan tidak jelas. Harus dipisah antara pembahasan konsep dan metode. Dipisah ini bukan dalam pengertian waktu, hari, jam dsb. Namun, pemisahan ini dalam rangka memberi kerangka berpikir ideologis bahwa konsep dan metode adalah dua hal berbeda yang perlu dipahami. Jadi para pengemban dakwah harus jeli dan bisa memastikan bahwa diskusi yang dilakukan jelas pembahasannya, apakah tentang konsep ataukah tentang metode. Apakah tentang khilafah dengan sistem-sistemnya ataukah tentang dakwah sebagai metode untuk mewujudkannya. Diskusi harus berada pada track yang sama.

Sebagai catatan terakhir untuk kendala kedua dan ketiga ini. para duta Islam dituntut untuk memahami dan berempati dengan kondisi kalangan terdidik yang masih sulit menerima seruan karena faktor ketidakjelasan konsep dan metode. Toh, kenyataan para duta Islam bisa begitu optimis dan yakin dengan perjuangan pengembalian khilafah dan syariat, disamping karena pembinaan iman, juga karena telah mengkaji beberapa kitab yang terkait dengan metode dakwah seperti Takattul li Hizb, Dukhul Mujtama'dan lain-lain. Jadi wajar pemahaman dan pengetahuan yang banyak tentang dakwah, sebagai proses rekayasa sosial ideologis, akan memudahkan kita memahami keniscayaan berdirinya khilafah. Hal ini tidak terjadi pada sebagian besar para kalangan terdidik. Sehingga dibutuhkan kesabaran, pantang menyerah dan selalu mencari strategi efektif untuk menjelaskan metode perjuangan menegakkan khilafah. Penting untuk meluangkan waktu mendoakan mereka agar mudah diberi kepahaman oleh Allah swt.

Kendala komunikasi keempat: terpengaruh pola pikir barat

Kendala keempat yang biasa terjadi adalah bila kaum terdidik sudah terpengaruh atau memakai pola pikir barat dalam menyelesaikan problem kehidupan. Harus diakui, barat saat ini telah berhasil mendominasi tidak hanya secara politik, ekonomi, militer, hukum, budaya namun juga bidang pemikiran. Serangan pemikiran (al-ghazwu'l fikri) atau perang pemikiran (al-harbul fikri) ini dilakukan barat kepada Islam sejak sebelum runtuhnya Khilafah Turki Utsmani sampai sekarang. Tujuannya adalah agar ideologi kapitalis dipeluk oleh kaum muslimin. Bila ini terjadi maka umat akan menerima tsaqofah Barat sebagai kebenaran dan dijadikan solusi atas segala problem kehidupan. Barat akan dijadikan rujukan dan meminjam istilah Amin Rais, umat akan mengalami westomania, penyakit kejiwaan yang menganggap Barat segala-galanya.

Harus dicatat pula Barat sangat serius dengan agenda brain washing ini di negeri-negeri Islam, terutama untuk kalangan terdidik. Barat tidak ragu mengeluarkan dana milyaran dolar melalui berbagai corporate dan fondation yang dimilikinya dan beroperasi di negeri-negeri Islam. Mereka membiayai proyek-proyek penelitian; beasiswa untuk sekolah di luar negeri pada bidang-bidang sosial-politik- ekonomi-budaya- humaniora- agama dan pemikiran; membiayai perubahan kurikulum di perguruan tinggi, pesantren bahkan sekolah dasar; membiayai berbagai produk rancangan undang-undang; mendanai banyak sekali LSM-LSM komprador; masuk dalam bisnis media; dan banyak lagi lainnya. Walhasil, dengan agresifnya proses westoxication (peracunan barat) membuat proses adopsi terhadap pemikiran dan pola pikir barat sudah menjadi gejala umum, terutama pada kalangan terdidik. Perlu digarisbawahi di sini, dengan kerangka pikir (frame of reference) yang sudah terbangun dari ideologi kapitalis barat ini menjadikan mereka sulit untuk 'think outside the box'.

Konsep-konsep Islam akan mudah tertolak karena bertentangan dengan sistem kepercayaan (mafahim, miqyas, dan qanaah) yang telah mereka miliki berdasar ideologi kapitalis. Ini adalah perkara alamiah yang harus disadari. Para duta Islam harus memiliki kesadaran penuh dan tidak reaktif dalam menjelaskan dan merespon sikap mereka. Duta Islam juga harus bisa memahami physiological mechanism pada setiap tahap komunikasi yang terjadi ketika berdialog. Tahapan komunikasi yang umum seperti berikut ini harus dicermati:
1. pesan tentang khilafah atau sistem Islam diterima;

2. pesan disaring dan diberi makna berdasarkan nilai, kepercayaan, dan latar belakang yang mereka miliki, ini adalah tahapan untuk membangun mafhum.

3. pesan akan dievaluasi berdasarkan konsep yang mereka yakini (miqyas);

4. emosi akan ditambahkan karena mereka telah memiliki qanaah tertentu;

5. reaksi akan diberikan atas pesan yang disampaikan.

Harus diingat bahwa mafhum, miqyas dan qanaah yang mereka miliki dibangun dari cara berpikir Barat. Wajar bila kemudian setiap gagasan Islam akan mudah tertolak. Namun, yang penting anda bisa menangkap secara utuh tahapan berpikir dan kondisi psikologisnya tatkala berkomunikasi. Ini penting agar anda bisa mencari momen yang tepat untuk masuk dengan argumen yang cerdas, kuat dan memuaskan, sehingga Insya Allah anda bisa memahamkan, mempengaruhi serta merubah cara berpikirnya.

Usahakan dialog dilakukan secara intensif, dan desain sebuah pola komunikasi egaliter yang masing-masing bisa menyampaikan gagasannya. Pola dialog ini membuat kedua belah pihak bisa menjelaskan konsep dan metode masing-masing secara jelas. Sehingga, dengan persiapan yang sangat matang, para duta Islam dapat menunjukkan secara jelas tentang cita-cita (konsep) dan cara mewujudkannya (metode) untuk realitas sekarang ini (konteks). Dengan pola seperti ini, kalangan terdidik akan mendapat kesempatan untuk melihat, mendengar dan merasakan the beauty of Islam dan cara mewujudkannya. Disamping itu, nanti akan terlihat bahwa penyelesaian selain dengan Islam tidak akan bisa merubah secara signifikan problem yang dihadapi. Pola dialog seperti ini dapat diilustrasikan seperti dua orang yang sedang menunjukkan pohon yang ditanam secara berdampingan. Yang satu dibangun dari akar aqidah Islam, batang-daun adalah syariat, buah adalah manfaat dunia-akhirat yang diraih. Sementara pohon satunya akarnya adalah aqidah campuran atau bahkan sekulerisme, batang-daun adalah sistem sekuler, dan buahnya adalah mafsadat dan sumber problem kehidupan.

Pola saling melihat ini penting agar mereka bisa mendengar dan melihat secara utuh idealisme yang ingin ditransfer dan dipahami. Perlu disadari dialog seperti ini bisa jadi tidak selesai dalam waktu singkat. Namun, harus disadari bahwa kesempatan untuk melihat idealnya sistem Islam adalah fase penting bagi mereka agar dapat menangkap hidayah secara utuh, tanpa terhalang oleh perkara teknis dan emosional yang tidak perlu. Untuk itu pola dialog seperti ini dibutuhkan kematangan konsep, kepercayaan diri, wawasan luas, kecerdasan komunikasi dan persiapan yang serius.

Catatan Terakhir

Dua aspek penting untuk mulusnya persuasi dalam dialog adalah kesan yang harus ditangkap oleh kalangan intelektual. Kesan di sini bukan dalam pengertian dibuat-buat, namun harus secara jujur terekspresi dalam dialog. Kesan pertama adalah dakwah ini merupakan buah atau konsekwensi iman dan kesan kedua adalah para duta Islam merupakan orang yang cerdas, berwawasan, intelek dan terbuka.

Dakwah sebagai buah dari iman dapat dilakukan pertama dengan adanya kesadaran para duta Islam bahwa tugas ini semata-mata karena Allah swt, bukan karena semangat golongan, bukan pula untuk menjajal pengetahuan atau kepuasan intelektual. Kedua, tidak ragu untuk menyitir nash Qurán atau hadits yang relevan dan dengan kadar yang proporsional dalam berargumentasi.

Adapun kesan kedua dapat dimunculkan pertama dengan selalu mengikuti perkembangan baik di level lokal, nasional dan juga internasional. Para duta Islam memahami dengan baik fakta-fakta yang berkembang. Kemudian duta Islam harus banyak belajar seputar ide atau konsep-konsep yang ada, dari Barat atau Timur, terutama sekali konsep yang dipahami oleh para kalangan terdidik. Ini penting agar para duta Islam bisa melakukan dua hal. Yang pertama mampu mendekatkan wawasan yang dimiliki pakar dengan ide-ide Islam. Mendekatkan di sini agar terlihat secara rasional bahwa Islam itu hakekatnya 'hidup' dan mampu menyelesaikan kondisi riil. Yang kedua para duta Islam akan terampil melakukan intifa' terhadap tsaqofah Barat. Intifa' di sini adalah proses pemanfaatan apa yang boleh dimanfaatkan sebagai media pengargumentasian dalam rangka mempertahankan Islam.

Mengingat dakwah pada kalangan terdidik merupakan aktifitas strategis untuk mendapat dukungan terhadap dakwah, maka persiapan serius adalah kuncinya. Hasil memang bukan kekuasaan kita, namun yang bisa dilakukan adalah melaksanakan perintah Allah swt dengan serius dan amanah. Insya Allah dengan ikhtiar sungguh-sungguh dan dilandasi keikhlasan untuk menunaikan amanah dari Allah swt, keberhasilan meraih dukungan para intelektual akan beroleh hasil.
Semoga Allah swt memudahkan urusan ini. Wallahu álam.

source : http://nopriadi. multiply. com/journal/ item/14

 


Blog EntryDaftar Rasa syukur: Aku BersyukurMay 28, '07 10:22 PM
for everyone

Aku Bersyukur……

(Ini daftar rasa syukur  yang bisa kutulis training Umat Terbaik, Hidup Berkah)

Aku bersyukur pada-Mu ya Allah karena:

  1. Alhamdulillh aku dilahirkan di keluarga lengkap (setidaknya aku pernah merasakan belaian kasih kedua orangtuaku)
  2. Alhamdulillah aku dilahirkan di keluarga yang menginginkan pendidikan anak-anaknya yang tinggi (Kini kusadari pontang-pantingnya bapak dan ibu membiayai kami hingga jenjang perguruan tinggi, love u ).
  3. Bapak yang peduli dengan pendidikan anaknya (aku anak perempuan, kadang aku melihat ada bapak yang tak peduli dengan pendidikan anak perempuannya. Aku masih teringat ketika SMP kelas 1, Bapak dengan heroiknya menerjang hujan rintik-rintik dan gelap malam demi membelikanku sebuah buku pelajaran. Waktu itu belum ada listrik. Ketika Bapak yang memanggul gabah sekarung untuk di jual demi membayar SPP waktu aku SMA karena tanggal tua )
  4. Alhamdulillah aku mendapat pendidikan yang layak baik SD, SMP, SMA serta perguruan tinggi (  aku selalu sekolah di sekolah negeri dengan    biaya yang lumayan murah dan terjangkau serta tak merepotkan orangtua. SMPN terbaik di Kecamatan, SMAN terbaik di Kabupaten, salah satu PTN terbaik di Indonesia)
  5. Aku mendapatkan tiket gratis ke IPB di departemen terfavorit (selama ini aku kurang mensyukurinya, departemen ini bukanlah pilihanku bukan keinginanku kendati orang selalu saja memujinya. Di departemen ini baru kusadari, apa pun pilihan hidupku aku harus bertanggungjawab. Yang terbaik adalah bukan kata orang terbaik tapi karena itu pilihanku dan aku menginginkannya).
  6. Aku memiliki otak yang cerdas (menurutku perjalanan hidupku menunjukkan hal itu ^_^/ ini harus muji sendiri nih)
  7. Aku dianugerahi anggota tubuh yang lengkap
  8. Aku kakak adik yang aku cintai dan mencintai
  9. Aku mendapat kerja langsung usia lulus tanpa usiaku (banyak orang yang mengatakan mencari kerja sulit, aku dengan prestasi akademik biasa aja mendapatkan kerja bahkan tanpa aku harus membuat lamarannya. Hal ini membuat aku yakin rezeki itu 100% sudah ditentukan Allah, bukan dipengaruhi faktor semata-mat tingkat pendidikan atau status).
  10. Aku mendapatkan beasiswa waktu kuliah untuk meringankan biaya (Ini juga hal yang bagiku menajubkan, prestasiku sungguh biasa tapi aku mendapatkan beasiswa gudang garam dan sosek hingga lulus)
  11. Aku terlahir sebagai muslim (aku lupa menempatkannya pada posisi satu)
  12. Allah memberikan hidayah agar aku belajar dan memperbaiki diri selalu
  13. Aku mempunyai ijazah Akta 4 untuk mengajar bidang matematika (uang beasiswaku kugunakan untuk kuliah akta 4 saat tingkat akhir sembari kerja part time. Suatu saat, aku berharap mempunyai alternatif mengajar, selain bekerja di tempatku kerja disini. Aku paham ko bekerja itu mubah bagi perempuan, aku ingin tetap prioritas keluargaku nomer satu).
  14. Aku mempunyai pendapatan sendiri (mandiri secara ekonomi, Alhamdulillah kadang bisa bantu orang lain walau Cuma ngutangin he he he).
  15. Aku tidak terbelit hutang yang menghimpit (ada seorang teman hidupnya kurang tenang karena memiliki hutang dimana-mana dan bingung bayarnya).
  16. Aku mempunyai tabungan (tak terlalu banyak tapi aku bersyukur bisa nabung juga ye)
  17. Aku mempunyai teman-teman yang sabar dan baik padaku (aku belajar banyak dari mereka so much).
  18. Aku punya ipar yang baik hati (aku menyayanginya bak saudara kandung, kadang aku melihat ada orang yang punya masalah dengan iparnya yang jahat)
  19. Aku bisa training ini (Ada temanku demi ikut training ini mengutang, aku Alhamdulillah cash bayar Rp 250 ribu. Aku berharap training ini membantuku untuk memperbaiki hidupku).
  20. Aku bersyukur mempunyai kemampuan menulis dan dimudahkan Allah untuk dimuat di media masa. (Aku tak pernah menyangkanya aku bisa menulis, seolah tanganku diberkahi. Aku menulis bukan semata-mata agar dimuat. Aku menulis dengan hatiku, cintaku dan keinginan agar orang berubah lebih baik. Untuk mengisi kesedihanku atas kepergian almarhum ibu16 tahun silam, aku menulis puisi dan tulisan satu buku, sayang aku bakar. Dari situlah kemampuan menulisku terasah. Aku baru menyadarinya sekarang. Menulis adalah hobi dan suatu saat bisa menjadi profesi).
  21. Aku mempunyai cita-cita dan impian indah (Ada orang yang bingung tak memiliki impian atau impian buruk, yang terjadi dia mengisi hidupnya dengan hura-hura, kebingungan dsb. Mimpi membuatku hidup. Menyemangatiku kala aku lalai).
  22. Aku bersyukur memiliki teman-teman kerja yang baik, mereka tak mempermasalahkan keyakinanku. (Sekali lagi ini menambah keyakinanku, Rezeki 100% hak Allah. Dengan busanaku yang komplit rapih muslimah mereka menerima aku apa adanya. Menerimaku yang pro-syariah sekali ).
  23. Aku mempunyai buku-buku sebagai penghibur hatiku (membaca adalah salah satu hiburan kala aku sedih. Buku apa saja, mau novel, komik, nafsiyah, sirah nabiyah, islam, manajemen bahkan politik aku suka)
  24. Tempat kerjaku dekat dari rumah (Gajiku memang dibilang beberapa orang di perusahaan kurang besar, namun aku kira rezeki juga harus dinilai dari sini juga. Aku hampir tak pernah merasakan stress karena terjebak macet menuju tempat kerja, cukup jalan kaki 10 menit dan ngirit ongkos).
  25. aku bersyukur karena aku selalu punya keinginan untuk bergantung asa pada-Mu, berusaha untuk selalu menyerahkan urusan yang tak kumampu pada-MU. (Keinginan ini aku berharap aku bisa memupuknya. Karena aku paham, alangkah celakanya yang menggantungkan harapan pada kemusyrikan dan mencari jalan keluar dengan kemaksiatan. Bagaimana aku bisa hidup tanpa keberkahan dari-MU?).
  26. Aku bersyukur aku mempunyai relasi yang baik atau setidaknya mereka selalu memberi arti bagi hidupku. (Aku yakin orang baik akan mendapat teman baik, orang jahat sekali pun jika dibaiki juga akan melunak).
  27. Aku bersyukur karena aku pembelajar yang cepat. (asal aku tak malas saja he he he)
  28. Aku bersyukur masih bisa membantu orang lain (minimal niat, aku tak ingin merepotkan orang lain, ya Allah aku berharap semoga bisa meringankan beban orang lain).
  29. Aku bersyukur aku tergabung dalam aktivitas dakwah yang insya Allah sahih.
  30. Aku bersyukur karena aku punya keinginan memperbaiki diri terus menerus.
  31. Aku bersyukur, Engkau menutupi aib-aibku di mata manusia. (Ya Allah tutupilah selama-lamanya.)
  32. Aku bersyukur hidup di Indonesia bukan di daerah konflik.
  33. aku bersyukur tinggal di negeri mayoritas muslim
  34. Aku bersyukur, aku tidak khawatir esok mau makan apa? (100 juta penduduk Indonesia miskin, dan aku pernah lihat di tivi busung lapar. Mereka makan singkong mentah, karena tak mampu membeli minyak dan beras.Aku pernah lihat juga orang fakir di daerah kampus yang mencari sisa-sisa makanan di tong sampah).
  35. Aku bersyukur aku menyadari aku dikarunia punya banyak potensi
  36. Aku bersyukur aku mempunyai tempat tinggal walau sementara atau di orang tua (banyak orang yang kehilangan rumah (Lapindo, tsunami Aceh, gempa Yogya))
  37. Karuniamu ya Allah tak bisa kutulis dengan kata-kata lagi.
  38. untuk daftar yang tak tak bisa ditulis karena begitu banyaknya...

Bersambung....


Blog EntryFood For Soul : Cathar PramugariJan 18, '07 1:31 AM
for everyone
Catatan Harian Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung
dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai
pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan
melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat
perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Beijing,
penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah
karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang
berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya
ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai
uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati
baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak
dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan
menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat
duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang,
menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat
duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit,
dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut
apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam
pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan
menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan
minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya
dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman
teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia
mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus
minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam
uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya
minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan
menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir
jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat
meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang
meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra
sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di
Beijing. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk
tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal
dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak
menjenguk putra bungsunya di Beijing, anak sulungnya tidak tega orang tua
tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan
menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Beijing, tetapi ditolak olehnya
karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras
dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya,
ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan
karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri,
katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya
tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan
karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan
hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu
membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau
makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat
pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada
kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut.
Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia
ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata
seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan
terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan
kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan
kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia
hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan
miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya
terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa
menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang
terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat,
sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan
seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima
kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang
paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak
pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini
kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat
baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia
mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh
seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan
terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya
jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah
menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami
dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan
minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai
menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang
berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak
tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya,

perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang
sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari
penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri
apa yang kita dapat.

Blog EntryAnda Adalah Apa yang Anda Baca & TontonDec 14, '06 3:25 AM
for everyone
Anda Adalah Apa Yang Anda Baca & Tonton
by Jamil Azzaini

 
Kehidupan anda lima atau sepuluh tahun yang akan datang sangat ditentukan oleh buku yang anda baca, acara yang anda tonton dan orang-orang yang anda temui. Untuk itu, jangan salah memilih buku dana acara yang anda tonton serta memilih sahabat anda.

Setelah melakukan riset selama 25 tahun di Harvard tentang kehidupan orang sukses, Dr. David McClelland, menyimpulkan: Pilihan Anda akan sebuah “Kelompok referensi” memiliki pengaruh yang paling besar terhadap keberhasilan Anda dibandingkan dengan hal-hal yang lain. Kelompok referensi boleh jadi adalah buku yang anda baca, sahabat akrab anda, dan juga apa yang anda tonton.

Menurut saya buku, sahabat, dan tontonan adalah cerminan diri anda. Bila anda membaca buku yang berkualitas, memiliki sahabat yang berkompetensi tinggi, dan juga menonton tontotan yang berkualitas, hampir dipastikan anda adalah orang yang hidup lebih bahagia dibandingkan kebanyakan orang. Sebaliknya, bila buku yang anda baca adalah buku “murahan”, sahabat anda kebayakan trouble maker, dan tontonan anda adalah acara-acara yang “norak” maka bisa dipastikan anda adalah sosok yang mengalami kesulitan dalam menata hidup anda.

Ketika buku Rich Dad Poor Dad, seri Cash Flow Quadrant yang ditulis Robert T.Kiyosaki beredar luas di Indonesia maka semua orang berlomba ingin pindah kuadran sebagaimana nasehat dalam buku tersebut. Semua ingin berubah dari seorang pegawai menjadi bisnis owner atau investor.

Sahabat saya Hertanto, seorang akuntan, bahkan mendidik keluarganya dengan cara Kiyosaki. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ini berani memasang target keuangan; sebelum usia 45 tahun kehidupannya akan berkelimpahan dengan passive income. Bahkan aktivis Partai Keadilan Sejahtera ini juga ingin pensiun dini dari pegawai negeri. Buku-buku Kiyosaki benar-benar telah memberikan pencerahan baru bagi kehidupan Hertanto. Dan saya yakin masih ada ribuan bahkan mungkin jutaan Hertanto lainnya.

Anda juga pasti ingat film Ghost yang dibintangi Demi Moore. Film ini digandrungi banyak kaum wanita. Setelah menonton film ini banyak para wanita yang meniru potongan rambut Demi Moore seperti dalam film itu, potong pendek.

Kaum lelaki pun tak mau kalah. Setelah menonton film Speed para lelaki meniru potongan rambut Keanu Reeves yang menjadi ”jagoan” dalam film tersebut. Rambut cepak menjadi trend bahkan hingga sekarang.

Tewasnya Reza karena di smackdown teman-temannya semakin menguatkan pendapat saya. Tontonan ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa. Lantas, generasi seperti apa yang kita harapkan bila tontonan yang ada saat ini kurang berkualitas.

Ada tontonan bergaya kekerasan seperti smackdown yang telah menelan korban. Ada tontonan yang selalu mengajarkan berebut harta dan cinta seperti dalam banyak sinetron. Ada tontonan ”klenik” yang ditonton jutaan anak Indonesia. Ada pula tontonan ”gosip” yang selalu mengabarkan tingkah polah dan keretakan rumah tangga para selebritis.

Selain itu, ada pula tontonan yang memberikan fantasi berebut rizki dengan dalih kuis. Jutaan orang miskin hanya bisa ”ngiler” melihat begitu mudahnya para peserta kuis meraup jutaan bahkan milyaran rupiah. Padahal untuk mendapat selembar puluhan ribu, orang-orang miskin yang menonton acara itu harus banting tulang, kepanasan, kehujanan dan banyak meneteskan keringat.

Masihkah kita berharap bangsa ini mampu bersaing di kancah internasional bila tontonan yang disuguhkan tidak bisa dijadikan tuntunan. Waspadalah.. .waspadalah. ...

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Inspirator; Sukses-Mulia, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Blog EntryRenungan : Menikah antara Iya dan TidakNov 30, '06 2:08 AM
for everyone

Artikel ini saya curi dari blog orang lain, bagus saya kira untuk renungan baik yang belum atau sudah menikah. Menikah indah dibayangkan..sulit di jalani, benarkah? Saya ingin sekali mendengar komentar dari teman-teman mengenai hal ini....


Bismillahi rahmanirrahim

Ada sebuah cerita yang menurut saya cukup menggelitik. Tentang seorang teman yang menikah diusia muda dgn temn sekelasnya diperkuliahan , mereka baru semester 3. suatu hari dia ngomong , “waahh kemarin, waktu datang kepertemuan karang taruna , aku disuruh pergi , katanya sekarang aku udah bapak2 jadi kegiatannya…ya yasinan”.

Kami semua reflek tertawa, teman saya itu tersenyum . saya yakin dia sedang tidak mngeluhkan pernikahannya, kami semua tahu bagaimana kondisi mental anak itu, dia hanya berbagi cerita lucu sebagaimana biasa kami lakukan.

Nah, hal2 semacam itu, suatu yang nampak sepele tetapi sesungguhnya “dalam”. Menikah bukan hanya pertalian dua orang, tetapi juga dgn org tua, ipar, keluarga besar juga tetangga2 baru. Pernahkah berpikir tuk menyiapkan mental menghadapi semuanya?

Kemudian tuntutan social lain, semacam, datang ke pernikahan, orang punya bayi, krmatian, dll.

Mungkin ada ynag menjawab,”ah hal itu kan tdk dituntut syar’i. gpp kan klo tdk ikutan sama sekali?”.

Bisa, bisa juga kita mengambil sikap demikian asal kita siap denagn konsekuensinya. Nah paling tdk , mental atau sikap harus tepat harus kita siapkan jika hendak mengambil tindakan berbeda dari apa yang telah lazim dimasyarakat. Karena kita memang tengah berhadapan dgn masyarakat yg materialistis.

“ah, kalau saya mah cuek ajah.”

Sulitt atuh, kecuali kalau kita memutuskan tuk tinggal dihutan , bertetangga dgn singa, harimau, serta binatang2 buas lainya. Dijamin , mereka tdk akan menuntut kita untuk keundangan atau arisan,hehehe, iyahkan????????????

Atau barang kali ada yg menjawab, “ah, kalu saya mah yang penting nikah dulu, nanti kan bisa tinggal numpang ortu.”

Oke, numpang. Boleh saja hal itu dilakukan.

Satu saja yang perlu diingat , bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. Menumpang dirumah siapapun , pasti membuat kita terikat dgn norma2 yang ditetapkan pemilik rumah . jika kita tinggal dirumah org tua sendiri , siapkah kita tuk mendampingi pasangan kita beradaptasi?. Untuk menjelaskan ini dan itu, untuk menjadi jembatan yang baik antara mertua-menantu agar gesekan yang biasa terjadi bisa diminimalkan. Jika kita tinggal dirumah ortu pasangan , siapkah kita menerima paket aturan baru yang bisa jadi 180 derajat berbeda dgn kebiasaan hidup kita?

Lagi pula , meskipun tinggal bersama ortu, apakah sepasang mahkluk Allah yang telah berazzam menikah (menyiapkan tatanan kehidupan dan generasi baru) akan seenaknya “hidup gratis” tanpa sedikitpun membantu (dr sisi materi dan sisi lainnya)?. Lalu, dimana rasa malu harus diletakan?

Jadi, mari sejenak kita sadari bersama, bhw menikah terutama jaman serba duit ini bukan masalah sederhana , dijaman rasul , seorang pemuda miskin seperti ali bisa saja menikah dgn lancar. Karena para sahabat jaman itu memang luar biasa ukhuwahnya. Walimahan dgn sgt sederhaa , mahar dgn cincin besi, tidak menjadi masalah, bahkan ada yang meriwayatkan kalau rumah yg ditempati ali dan istrinya merupakan hibah dari seorang sahabat.

Dijaman rasul menikah dini emang udah biasa, namun kualitas pribadi yang dididik oleh Rasulullah sangat jauh berbeda dgn generasi muda sekarang, jauh…jauuuuuh sekali.

Sekarang????????????

Bukalah mata, jaman sudah berubah , apa yg dilakukan ali memang bisa dilakukan oleh pemuda sekarang , syaratnya sipelaku memiliki kepribadian yg mantap dan mental yg kuat , sekaligus punya sikap hidup yang jelas dan kokoh. Sikap hidup yang jelas dan kokoh akan tercermin dalam mengatasi perbedaan nilai yg diyakini dg yg telah menjadi hukum masyarakat,

Sekarang, mudahkah kita menemukan sosok pemuda atau pemudi yang tangguh????????

Saya yakin tdk, kenapa? Karena mayoritas generasi sekarang adalah generasi manja yang tdk kunjung dewasa, generasi materialisis, generasi instant, tdk suka bekerja keras, tp ingin hidup enak, tdk mau beribadah, tp ingin mendpat imbalan surga terbaik.

Menikah itu bukan urusan mencari yang enak2 dan asyik2 saja. Kalau bahagia adalah yg menjadi tujuan kamu menikah , kalau kamu menikah hanya karena ingin ada yang mau mendengarkan dan meperhatikanmu, ada yang turut menyelesaikan tumpukan masalahmu, maka bersiaplah menelan segunung kecewa.

Karena, jika begitu keinginanmu, sangat mungkin kau juga akan bertemu dgn pasangan hidup yang seperti itu. Karena jodoh emang gak terlalu jauh dg kita. Jika sepasanag anak manusia saling bertemu lalu saling menuntut (menginginkan berjuta kebaikan dipersembahkan oleh sang kekasih hati), bayangkan saja apa yg akan terjadi, sedang dlm majalah ABG ajah tertulis kalau cinta itu memberi bukan menuntutt, nah lhoh.

Bayangan bayangan bahagia , romantisme…. Ngiri sama temen sekampus yang berganteng tangan kemana-mana dg istri/suaminya…. Jika hal tersebut yang menjadi motivator utama…….sy kira itu justru bukan pertanda baik, justru itu menjadi salah satu tanda bahwa kamu belum siap menikah.

Nikah itu, perjanjian agung kita dihadapan Allah , perjanjian bahwa kita siap untuk menerima berbagai amanah baru. Bahasa seremnya kita siap menjalani episode kehidupan yang lebih berat.

So, kesiapan yang harus ada adalah kesiapan tuk menjadi tempat curhat, kesiapan tuk meringankan beban pasanagn, bukan sebaliknya.

Kalau niat menikah sudah bulat, jauhi buku2 yg berbicara ttg romantisme dalam pernikahan, baca saja buku2 yg mengupas kewajiban suami (bagi laki2), dan kewajiban istri (bagi perempuan), jgn terbalik, krn dikhawatirkan akan menimbulkan saling menuntut.

Alhmd sy bersyukur karena telah tahu, bahwa salah satu tugas seorg istri adalah membuat suami agar lebih taat pada ibunya setelah menikah. So, jgn sampai dlm rumah tangga muslim terlontar ucapan,”mas tidak sayang aku yah. Apa2 ibu, kenapa sii selalu mengutamakan kepentingan keluargamu?,”.

Na’udlubillah min dzalik.

Saya teringat cerita salah seorng ustadzah . bagaimana beliau berusaha mengutamakan kepentingan mertuanya. Kalau ada uang , beliau meminta kepada suaminya untuk mendahulukan memenuhi kebutuhan ibunya.

Siapkah kita melakukan itu????????

Siapkah mengalah???????????

Jika menikah karena ingin disayang-sayang, diperhatikan selalu…. Bagaimana jika dalam keadaan lemah dan butuh dukungan psikis , tiba2 ibu mertua malah meminta suami pulang tuk menemaninya sepanjang waktu??

Siapkah untuk berbagi??

Siapkah untuk menjadi bidadari yang selalu tersenyum dlm segala kondisi??

Sedangkan untuk yg mungkin mendambakan seorang bidadari hadir disisisnya. Siapkah menerima kondisi bidadari yg hobi menangis dan merajuk??

Siapkah untuk selalu mengutamakan ibu, sementara sang bidadari terlalu menggoda tuk ditinggalkan semntara?

Jika jatuh cinta berat

Cinta, sebagaimana rasa yang lain , tidak ada yg abadi, yang Maha abadi, termasuk dalam hal cinta,hanya Allah saja .

Trus, cinta abadi dgn manusia ? omong kosong saja tuh, kalau sama ibu yang sudah melahirkan dan byk berkorban untuk kita saja, kita tdk bisa mempersembahkan cinta sejati, maka ……. Apalagi denagn org yg baru dikenal, mana mungkin???

Kalau romeo dan juliet hidup lbh lama , paling2 lama kelamaan juga akan timbul masalah , rebut, cekcok, dan bisa2 saling ganti2 pacar tuh, hehhehe. Kisah mereka seolah olah romantis dan dramastis kan karena tindakan konyol, bunuh diri.

Bayangkan rumah tangga Rasulullah yang mulia saja ada masalah. Kebesaran hati orang-orang didalamnya saja yang bisa merubah semua masalah itu menjadi hikmah luar biasa.

Sekali lagii saya hanya ingin mengajak kita semua realistis, ketika jatuh cinta setengah mati kepada seseorang kemudian niat menikah, tetap pertimbangkan kesiapan kita . mental adalah yg utama . menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk , adalah satu diantaranya. Termasuk menerima sifat dan perilaku yg tak terbayangkan dari orang yang kita cintai.

Ada perkataan dr seorng saudari yg bisa kemudian menyentakan kesadaran .” tiap muslimah hendaknya punya cita-cita dan berjuang tuk meraihnya, jika dalam perjalanan bertemu dgn teman sperjuangan , maka menikahlah, tapi jika tidak, tetap kokohkan diri untuk berjuang.”

Indah sekali, menikah tidak dijadikan sebagai obsesi, sekadar bagian dari episode kehidupan kita.

Masa muda berlalu singkat, kalau tidak digunakan secara tepat, alangkah sayangnya.

Jika nikah telah menjadi tekad, jika semua resiko telah dipertimbangkan , jika mental telah kokoh ditancapkan, maka yakinlah bahwa ada lebih dari sekedar cinta kepada orang yg akan dinikahi. Cinta kepada Allah SWT, kesiapan untk menerima amanah-Nya sepenuh tanggung jawab.

Siap untuk berjalan tegar diatas kerikil dan duri2 yang menghampar disepanjang perjalanan. Siap untuk selalu bersandar pada keMaha Besaran Allah atas apapun yang akan terjadi, siap berjuang tanpa banyak mengeluh kepada mahkluk.

Terakhir, saya mohon maaf kepada sahabat semua jika ada yg kurang berkenan.

Jazimah Al-Muhyi

Yogyakarta


Blog EntryRumah Tulisku : Alpen ProsaOct 15, '06 11:02 PM
for everyone
Dua hari ini, aku ikut training jurnalistik. Entah sudah yang berapa kalikah aku ikut pelatihan jurnalistik sejak kuliah dulu.

Waktu kuliah ada kali ya, 4 kali ikut pelatihan jurnalistik. Setelah lulus, saya ikut pelatihan jurnalistik dibawah mas Harry Suryadi, Beasiswa penulis muda dibawah Jakarta School dan bahkan pernah menyelenggarakan pelatihan Science Writer di IPB.

Namun, pelatihan kali beda dari yang lainnya. Kami dibukakan sesuatu yang kami belum tahu tentang seluk beluk media masa.

Pada akhir acara, kami sepakat membentuk komunitas penulis muda baru Alpen Prosa.

Alpen Prosa adalah kumpulan calon penulis dan penulis yang mempunyai keinginan sama. Merindukan kebenaran, kemenangan dan kejayaan masa depan yang diliputi cahaya.
Arahan kami diawali dengan non fiksi.  Kami ingin menghasilkan karya yang mencerdaskan Ideologis, beda dengan komunitas penulis muda yang telah ada.

Ada banyak harapan, rencana, impian didalamnya.
Alpen Prosa, rumah tulisku, tempatku belajar, tempat harapan karya-karyaku membumi, menghiasi dunia.

Aku yakin suatu saat Alpen Prosa menjadi salah satu komunitas yang mempunyai bargaining position tinggi di Indonesia. Semoga Allah mengabulkannya.


15 Oktober 2006.

Blog EntryKebiasaan Calon Manusia Sukses Ala Supardi LeeOct 11, '06 2:01 AM
for everyone

Kebiasaan Calon Manusia Sukses: Supardi Lee

 

Sabtu (7/10), Salman Consulting menyelenggarakan training gratis selama dua jam bersama Supardi Lee. Siapakah Supardi Lee? Beliau alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB, keturunan Cina-Sunda, mempunyai usaha Mie Tebet dan seabrek bisnis lain. Dilihat dari wajah dan performa tubuhnya, beliau masih muda, usainya berkisar 30-an tahun.

 

Jarang ada training gratis seperti ini, yang ada biasanya training dengan harga yang menguras  dompet. Aku mendaftarkan diri sebagai peserta. Acara molor setengah jam dari jadwal yang ditentukan yakni pukul 13.00 WIB.

 

Supardi Lee membagi ilmu dan pengalamannya pada kami. Aku tertarik dengan tiga kebiasaan calon manusia sukses yang beliau sampaikan.

 

Menurut Supardi Lee, untuk menjadi manusia sukses orang bisa dilihat dari kebiasaan hidupnya. Kalau tiga kebiasaan ini melekat dalam diri orang itu maka dia sudah berinvestasi buat kesuksesan masa depannya. Kebiasaan itu antara lain :

 

  1. Pengetahuan yang Dilakukan
  2. Harga Sukses yang Dibayar
  3. Uang Anda Untuk Apa?

 

Supardi mengingatkan kami untuk tidak menulis dalam catatan kertas, beliau memberikan trik bagaimana semua yang ia ajarkan bisa dingat cepat yakni dengan metode NLP (Neuro Liguistic Program) atau program bahasa otak.  Setiap kebiasaan diatas diikuti gerakan tubuh

 

. Saat mengucapkan ‘pengetahuan yang dilakukan’, kita diminta mengangkat kedua tangan lurus diatas kepala dan menepukkannya . “Harga sukses yang Dibayar”, kita diminta mengikuti tangan beliau yang seakan-akan mengambil uang dari saku di dada dan membayar sesuatu. “Uang Anda Untuk Apa”, saat mengucapkan itu, tubuh kita berputar-putar 360 derajat di tempat.  Itu salah satu metode belajar NLP, dimana bukan hanya otak yang mengingat dan belajar, tapi juga seluruh tubuh ikut belajar. Walhasil, aku mudah bukan mengingatnya dan menuliskannya kemali.

 

Lalu apa maksud kebiasaan tiga tersebut?

 

  1. Pengetahuan yang Dilakukan

 

Maksudnya, ilmu apa pun yang kita peroleh dan pahami hendaknya diaplikasikan atau dilakukan. Tak masalah itu ilmu dari hasil kuliah, seminar, diskusi, training, obrolan, baca buku dan sebagainya.  Aku teringat diriku sendiri, ilmu-ilmu pangan dan gizi sehat yang kuperoleh waktu kuliah jarang diaplikasikan. Aku tahu vitsin nggak bagus buat tubuh, yang kulakukan malah setiap masak, vitsin selalu kutambahkan. Kalau ada yang bilang vitsin nggak bagus, aku beralasan,” Tubuh kita memerlukan minimal 12 mg monosodium per hari.”

 

Atau juga tentang makanan-makanan lain. Yang terjadi kini aku menderita sakit tenggorokan yang tak jua pulih. Sedihnya kalau mau membaca Al Quran di Ramadhan, tidak bisa bertahan lama, suaraku akan hilang.

 

 Tenggorokanku menjadi sensitive terhadap makanan berzat kimia sintetis, siklamat, sakarin, asasp rokok, pewarna makanan, air dingin, gorengan dan lain-lain. Sudah berulangkali aku memeriksakan ke dokter THT, paru-paru, umum dan pengobatan tradisional cina. Hasilnya nihil. So, mungkin inilah hasil pengetahuan yang tak dilakukanku selama ini. Tubuhku tak sukses.

 

  1. Harga yang Dibayarkan

 

Kesuksesan rata-rata sebanding dengan harga yang harus dibayar seseorang untuk meraih suatu goal. Kalau kita ingin mencapai sesuatu siap-siaplah berkorban. Supardi Lee menanyakan satu persatu peserta berapa target pendapatan uang per bulan yang ingin dan rasional bisa diperoleh peserta. Ada yang menyatakan lima ratus ribu, satu juta, lima puluh juta dan satu milyar.

 

Aku mengatakan 20 juta per bulan. Dan aku yakin itu rasional suatu saat bisa teraih. Bila aku ingin mendapatkan 20 juta per bulan, maka energi yang kukeluarkan juga harus minimal seharga 20 juta. Tentu saja tak cukup kerja keras saja, tapi juga ditambah kerja cerdas dan ikhlas.  Kenapa parameternya pendapatan uang per bulan? Karena uang adalah goal yang mudah terukur.

 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendefinisikan rinci apa itu sukses bagi kita. Mungkin bisa jadi jawabannya pengusaha sukses, tergantung sukses menurut kita. Bila ingin menjadi pengusaha sukses, pertanyaan tambahan adalah, pengusaha di bidang  apa? Omset per bulan berapa? Kapan waktu terealisasikan? Apa pengetahuan yang dibutuhkan demi sukse tersebut? Dll. Sukses yang terdefinisi dan bertarget, sangat memungkinkan kita untuk bisa meraihnya.

 

  1. Uang Anda untuk Apa?

 

Kebiasaan penggunaan  uang yang selama ini kita peroleh baik dari orangtua, suami atau gaji hasil keringat sendiri  juga menentukan masa depan kita.

 

Dua pilihan terserah kita, dibelanjakan untuk keperluan leher kebawah atau leher keatas.

 

a.      Leher ke bawah

 

Maksudnya, uang yang kita miliki dibelanjakan untuk meningkatkan penampilan fisik kita seperti baju, perhiasan, pulsa, makanan enak, sepatu, tas, kosmetik dll. Kalau ini yang kita sering lakukan, maka dijamin kesuksesan Anda sulit didapatkan. Kalau pun diperoleh, kesuksesan yang diperoleh bersifat semu. Sebab, kita boros, suka membelanjakan untuk barang konsumtif. Benda-benda tadi suatu saat rusak, sebuah investasi yang merugikan bukan?

 

b.      Leher ke atas

 

Maksudnya, uang yang kita peroleh kita manfaatkan sebesarnya untuk meningkatkan skill, pengetahuan, dan ilmu. Misalnya, uang itu kita investasikan untuk kursus bahasa asing, kursus multimedia, ikut training, seminar, membeli buku yang bermanfaat, dan mempelajari keahlian baru.

 

 Ini investasi menguntungkan, bagaimana pun ilmu itu tak pernah rusak, apalagi kalau kita sering mengaplikasikannya. Sebuah kepuasaan batin  tak terhingga ilmu kita bermanfaat bagi orang lain dibandingkan kepuasaan kita membeli barang-barang mewah untuk mempermak  fisik kita.

 

Aku sendiri terkejut dengan hal ini, selama ini uangku tak tahu kenapa cepat habis. Anggaran membeli buku masih jauh lebih kecil dibanding pulsa HP. Aku salah strategi dalam hidup. Mumpung ada kesempatan perbaiki kebiasaan buruk masa lalu kita. Go Go Go !

 

 

 

 

 

 

 

 


Blog EntryBangkitlah Segera, Setelah JatuhAug 30, '06 1:08 AM
for everyone

Bangkitlah Segera, Setelah Jatuh

 

Pagi itu, seorang teman menghampiriku yang masih bergulung dalam selimut hijau tebal.

 

“Wah.. mbak mirip kepompong hijau, “candanya riang. Aku tersenyum dan menjawab,” Bukan! My soul dan my mind yang sedang menjadi kepompong, sehingga tubuhku pun menjadi kepompong.”

“Maksudnya apa itu mbak?”

“ Jika jiwa dan pikiran terperangkap, tubuh akan lemah dan sakit. Sebaliknya, meski tubuh sakit bila jiwa dan pikiran kita sehat, tubuh kadang tak dirasa sakit. Kini jiwa dan pikiranku tidak sehat. Sehingga tubuhku malas dan menjadi kepompong hijau.”

 

Aku bersyukur mempunyai teman yang perhatian dan baik hati. Dia memahami kebiasaanku dan membiarkanku bangkit sendiri dari pembaringan. Itu menandakan, aku butuh waktu untuk mengendorkan pikiranku. Ini menandakan masalah yang kuhadapi cukup menyita perhatianku.

 

  “ Mbak, jangan kau hitung berapa kali engkau jatuh, tapi segeralah bangkit setiap kali jatuh,” ucapnya tulus. Aku makin tersenyum. Itu adalah ucapakanku sendiri yang pernah aku perdengarkan untuknya. Menghibur dirinya jika dia sedang ‘jatuh’.  Kena deh.

 

Aku percaya apapun yang kita lakukan akan kembali pada diri kita masing-masing. Termasuk ucapan itu. Seperti juga tulisan yang kulempar ke media masa, ke milis, kemana pun juga. Tarian kata yang akan menagih janji kembali, apakah  kamu sudah sesuai dengan apa yang engkau tulis.

 

Kadang aku lelah berdebat di milis, kadang aku lelah untuk menulis, lelah berbicara, kadang lelah untuk berucap, lelah mengeluarkan kata-kata. Adakalanya Aku lebih menyukai makna, diam dan mengamati sesuatu dengan tajam. Menjahili teman-temanku atau menggulung diri di selimut hijau tebal. Tetapi.. buku karya Hernowo ’Andai Buku Seperti Pizza’ menginspirasiku. Dengan makin aku menulis, berkata, berbicara, berucap, sebenarnya itu akan membentuk pola hidup kita. Kita menemukan gairah hidup, mendewasakan, mencerahkan, dan memaksa kita maju.

 

Hingga kini aku tak percaya bahwa aku bisa begitu dewasa saat menulis. Kadang begitu pula dalam berbicara. Ketika aku merasa bisa mandiri memecahkan masalahku dengan manusia, ketergantungan pada Tuhanku kian menguat. Ini sebuah korelasi tak terbantahkan.  Aku butuh energi tempat sandaran terkuat yang bisa diandalkan.

 

Ungkapan motivasi temanku pun hari itu bisa memacuku lebih. Saat aku berjumpa dengan si burung emas. ” Mbak, saya tak menyangka mbak bisa berkata demikian pada beliau. Mbak Hebat!”  Kata hebat itu malah mengejutkanku. Aku sendiri sangat terkejut dengan diriku bisa mengendalikan diri saat menghadapi situasi tak mengenakkan itu. 

 

Kenapa aku bisa, karena itu yang kuinginkan. Aku menjawabnya dengan hatiku, perasaanku, jiwaku dan keyakinanku. Aku sebenarnya penakut. Dalam sebuah artikel di Suara Merdeka orang penakut itu bagus.

 

 ”Orang pemberani yang berbekal rasa takut, itulah kehati-hatian. Orang penakut yang berbekal keberanian itulah menjadi tekad. Baik pemberani maupun penakut, berakibat buruk bila berdiri  sendiri-sendiri. Kepada si penakut, keberanian menasehatkan bahwa sumber yakut cuma dua: sesuatu yang tidak pernah terjadi dan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Jadi mau takut atau tidak ya percuma. Kepada si pemberani, ketakutan menasehatkan, keberanian yang cuma berujung bahaya, adalah ketololan.”

 

 

Seringkali bukan, kini kita mampu melakukan sesuatu yang dulu kita anggap tidak mampu.  Atau sesuatu diluar jangkauan kemampuan kita. Itulah tekad bagiku.

 

Inti semuanya adalah keyakinan dan pikiran kita. Kalau kita yakin mampu, pasti deh kita bisa meraihnya. Jangan meremehkan kemampuan diri sendiri dengan berkata aku tidak mampu. Bohong! Itu hanya kamu tidak yakin. Tidak mau saja melakukannya. Kamu takut menghadapi bayang-bayang yang belum tentu terjadi. Atau bahkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Lalu segeralah bangkit setelah jatuh.. berapapun engkau jatuh. Hidup memang untuk jatuh bangun.

 

 Kontemplasi...... Akhir Agustus 2006,

Aku jatuh lagi untuk sekian kali. Tapi Aku ingin bangkit segera


Blog EntrySampaikan Kepada Para Wanita...........Jun 29, '06 2:01 AM
for everyone

Sampaikanlah kepada para wanita

 

Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

 

Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.

 

Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.

 

2 rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

 

Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad

 

Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.

 

Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.

 

Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 maalaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

 

Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

 

Wanita yang memerah susu binatang dengan "bismillah" akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

 

Wanita yang menguli tepung gandum dengan bismillah", Allah akan berkatkan rezekinya.

 

Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.

 

Wanita yang menjaga solat, puasa dan taat pada suami, Allah akan mengizinkannya untuk memasuki syurga dari mana-mana pintu yang dia suka.

 

Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

 

Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

 

Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.

 

Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka maalaikat-maalaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.

 

Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

 

Jika wanita memicit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.

Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.

 

Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

 

Hadis nabi mengenai wanita:
Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki.Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

Wallahua'lam..

kiriman teman

 

 


Blog EntryRencana Allah itu Indah (renungan)Jun 29, '06 1:58 AM
for everyone

Aku tetap saja suka email ini : kiriman dari seorang teman

RENCANA ALLAH PASTI INDAH
 
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain.Aku yang sedang bermain di
lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.
 Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelaikain. Tetapi
aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawahadalah benang ruwet.Ibu dengan tersenyum
memandangiku dan berkata dengan lembut:
 
"Anakku,lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu
menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu
akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan
kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."Aku heran,
mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu
Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian,
aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari
kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. " Waktu aku
lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga
yang INDAH,dengan latar belakang pemandangan matahari
yang sedang terbit,sungguh INDAH sekali. Aku hampir
tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku
lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.Kemudian ibu
berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan
kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain
ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola,
ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya
dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang
ibu lakukan.
 
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan
bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau
lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam
kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya
hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam,
mengapa tidak semuanya memakai warna yang
cerah?"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu
teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan
pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan
memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di
pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang INDAH
dari sisiKu. "Subhanallah...
Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat INDAH
Allah dari 
keruwetan hidup di dunia ini.Semoga Allah berkenan
menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam
hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam
perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu.
 
jazakallah khairan kadzira
Amin
Safe

 

<